Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
12. Kegelisahanku


__ADS_3

☆Voting and commenting☆


"Git? Lu dimana? Kita ada rapat soal KKN nanti siang. Elu datang,kan?"


Suara itu milik ketua KKN-ku. Sudah beberapa kali dia menelponku pagi ini, memastikan agar aku datang ke gazebo fakultas untuk membahas program KKN kami.


"Hari ini aku nggak bisa dateng, Nan. Ada urusan. Maaf banget ya?"kataku memberi alasan. Entah berapa alasan yang sudah aku berikan padanya.


Terdengar suara desahan berat di seberang sana. Ini sudah kali keduanya aku tidak hadir rapat di gazebo fakultas untuk membahas program lanjutan KKN kami. Padahal menurut jadwal, kami akan berangkat hari sabtu untuk survey lokasi.


Aku menutup sambungan telpon. Aku mengehembus nafas berat. Kejadian kemarin membuat aku tertekan. Dadaku terasa sakit. Ingin rasanya aku menangis lagi.


Selama dua hari ini, aku hanya mengurung diri di kamar.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk. Aku bergeming.


Tok tok tok


Suara pintu kembali diketuk. Aku masih bergeming.


"Neng? Ibu masuk ya?"ujar Ibu dari luar kamarku.


Aku masih tetap bergeming.


Ceklek


Suara pintu kamarku terbuka. Ibu masuk ke kamarku. Ibu berjalan pelan kearahku sambil membawa nampan berisi makanan. Ibu lalu meletakkan nampan itu di atas meja belajar disampingi ranjangku. Kemudian langsung duduk disisi ranjangku. Dilihatnya aku duduk membungkuk sambil memeluk kedua lututku.


"Neng?"Ibu memanggilku. Aku belum merespon.


Ibu mengusap-usap rambutku, "Dari kemarin kamu ngurung diri dikamar. Makan juga nggak. Ibu teh khawatir sama eneng."


Aku masih konsisten untuk diam. Ibu mendesah pelan. Dia begitu sedih melihat kondisiku saat ini. Tapi Ibu tidak ingin mencampuri urusan asmaraku dengan Temmy. Dia ingin kami menyelesaikannya dengan kepala dingin.


Waktu Temmy menemuiku kemarin-untuk minta maaf dan menjelaskan semuanya, aku tidak keluar dari kamar sekalipun. Ibu hanya meminta Temmy untuk kembali lagi bila keadaanku sudah stabil.


Bahkan telpon dan pesan dari Temmy juga ku abaikan. Aku membencinya.


"Kenapa nggak dengerin dulu penjelasan Temmy? Biar dia meluruskan kesalahpahaman kalian,neng.


Kamu kan belum dengar semuanya dari Temmy. Tapi kamu teh malah ngusir Temmy dari rumah. Coba atuh neng bicarakan baik-baik. Jangan sampai kamu juga akhirnya menyesal."


Air mataku mulai keluar lagi. Dalam hitungan detik, aku terisak-isak. Tubuhku sedikit berguncang karena menangis sesegukan.


Ibu dengan cepat menarik tubuhku rebah dalam dadanya.


Dia mengusap-usap punggungku.


Dalam kesedihanku yang dramatis itu, tiba-tiba dari luar rumah, terdengar suara pencetan bell berkali-kali.

__ADS_1


"Saha eta?"gumam Ibu. Sambil menenangkanku, Ibu merebahkan tubuhku di rajang.


"Sebentar ya, neng. Ibu periksa dulu."kata Ibu. Aku tidak menjawab. Aku berangsur masuk kedalam selimut.


Ibu kemudian keluar kamar untuk memeriksa siapa gerangan tamu yang memencet bell rumah tadi.


Saat pintu di buka, ternyata tamu itu adalah Dito.


"Siang, Bu."suara lembut Dito memberi salam.


Ibu tersenyum.


"Siang, nak Dito. Ada apa ya?"kata Ibu, sembari membuka lebar pintu, mempersilahkan Dito untuk masuk.


"Ah, nggak usah, Bu, makasih. Saya kesini cuma mau antarkan dokumen yang ketinggalan aja."ucapnya begitu sopan.


Dito mneyodorkan sebuah map kuning pada Ibu, yang berisi dokumen penting dari pihak komite sekolah. Rupanya map itu tertinggal di ruang rapat kemarin sore.


Ibu terlihat kaget. Dia menerima map tersebut.


"Oh iya? Ibu teh lupa bawa. Makasih ya nak Dito. Untung kamu teh bawain buat Ibu. Ini mah penting pisan."


Dito hanya tersenyum. Lalu, matanya melirik ke dalam, seperti sedang mencari sesuatu.


"Gita masih di kamarnya."celetuk Ibu. Dia seperti tahu isi kepala Dito.


Dito yang merasa ketahuan langsung tersipu malu.


Ibu mendesah pelan. Wajahnya berubah sedih.


Mendengar ucapan Ibu barusan, Dito penasaran, jadi dia bertanya.


"Kenapa begitu, Bu?"


"Masalah anak muda. Berantem."


"Bisa saya ketemu Gita, Bu?"


Ibu tampak ragu.


"Ibu harap Gita mau nurut ya sama kamu? Tolong bujuk Gita untuk makan."kata Ibu akhirnya.


Dito mengangguk. Ia kemudian masuk kedalam rumah dan menuju kamarku bersama Ibu. Kini mereka tengah berdiri di depan pintu kamarku.


Awalnya dia cukup ragu untuk mengetuk pintu kamarku.


Ia berfikir sejenak. Kemudia dia mulai mengetuk sambil memanggil namaku.


Aku tidak menyahut. Dito menoleh pada Ibu, dia keheranan.


Dito kembali mengetuk pintu kamarku, aku tetap tidak menyahut.

__ADS_1


Dito menghembuskan nafas perlahan. Dan tanpa mengetuk pintu lagi, Dito langsung saja membuka pintu kamarku dengan hati-hati.


"Git? Ini Mas Dito. Mas boleh masuk nggak?"tanya Dito.


Tidak ada jawaban. Dito lantas menatap pada Ibu lagi, seolah meminta izin untuk masuk ke kamarku.


Ibu mengangguk pelan, tanda mengiyakan.


"Bujuk Gita untuk makan ya? Ibu takut Gita sakit."pinta Ibu sebelum Dito masuk kedalam kamarku.


Dito mengangguk. Lalu dia masuk ke dalam kamarku yang pintunya telah terbuka.


Dia melangkah pelan ke arahku. Di lihatnya makanan di nampan tadi belum tersentuh sama sekali.


Dia duduk di sisi ranjangku.


"Ta? Hei?"suara lembutnya yang khas, memanggilku.


"Mas tahu kamu dengar. Keluar dulu dong."


Aku belum merespon. Aku mulai menangis lagi. Aku berusaha menahannya agar tidak menimbulkan suara.


Tapi Dito tahu bahwa aku sedang menangis karena tubuhku sedikit berguncang di balik selimut. Aku mulai sesegukan lagi. Aku tidak bisa menyembunyikan tangisku lagi.


Dengan cepat, Dito menarik selimutku. Aku sedang menutup wajah dengan kedua tanganku.


"Ta?"ujarnya, lalu menyentuh ubun-ubun rambutku.


"Gita?"Dito menyentuh tanganku, menariknya dari wajahku dengan hati-hati. Wajahku sangat basah akan air mata. Mataku bengkak karena menangis terlalu sering.


"Lihat sini," Dito menyentuh wajahku. "Mas nggak tahu masalah kamu seperti apa. Tapi kamu jangan terlarut dalam tangis begini. Ini nggak baik buat mental kamu."


Melihatku yang menangis, Dito lantas lebih mendekat padaku. Dia membantuku untuk duduk. Disandarkannya punggungku pada kepala ranjang. Lalu menutupi tubuhku dengan selimut. Aku hanya diam saja.


"Ta? Kamu baik-baik aja kan?"tanya Dito, tampak khawatir.


Aku hanya diam. Kamarku kembali hening.


"Kalo kamu nggak nyaman, mas bakal pergi kok."ujar Dito, setelah kami berdiam beberapa detik lamanya.


Melihatku yang tidak menjawab juga, Dito akhirnya memutuskan untuk pergi saja.


Tapi begitu dia telah di dekat pintu, aku memanggil namanya dengan lirih.


"Mas Dito."ucapku. Dito memutar badan ke arahku.


Aku tidak berkata apa-apa lagi, aku kembali menangis dengan kencang.


Dengan cepat Dito menghampiriku.


Dia mendekapku ke dalam dadanya.

__ADS_1


"Temmy jahat, Mas."kesahku padanya.


Dito tidak berkata apapun. Dia hanya memelukku erat.


__ADS_2