![Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]](https://asset.asean.biz.id/tentang-kita--dan-dia---on-going-.webp)
☆Voting and commenting☆
Kami berangkat ke Cangar sekitar pukul 8 pagi. Udara begitu sangat dingin, jalan berembun yang licin, juga kabut yang mengaburkan pandangan mata, begitu jelas terasa.
Lena dari tadi hanya bersenandung riang, dia sudah tidak sabar tiba di pemandian air panas.
"Habis dari Cangar, kita ke Jatim Park, yuk?!"ujar Lena bersemangat. Dia ingin menghabiskan liburan akhir pekan sebelum maju sidang minggu depan. Biar tidak setres katanya.
"Gua sih ayo-ayo aja."sahut Erik. "Kalian gimana?"
Sebelum menjawab, Temmy melihat kearahku.
"Gimana?"tanyanya padaku.
"Aku ngikut aja."kataku.
"Ok, sudah fix ya? Pokoknya gua mau ke Jatim Park 1,2 dan 3."
"IYA!"ucap kami bertiga kepada Lena bersamaan.
Akhirnya kami pun sampai ditempat tujuan setelah perjalanan kami yang memakan waktu kurang lebih satu jam.
Begitu mobil terparkir ditempat parkiran, Lena lebih dulu keluar dari mobil dengan terburu-buru.
"Kebelet lu?" Erik berseloroh.
Lena menoleh sesaat, "Beli shampoo, peak."sahutnya santai.
Lena ternyata membawa perlengkapan mandinya, jadi dia memutuskan untuk membeli semua disana.
Aku menyusul langkah Lena.
"Lu mau nggak?" Lena menawariku belanja di warung kecil itu.
Aku menggeleng pelan, "Makasih, tapi aku bawa perlengkapan mandi kok, kak."ujarku.
"Ok deh kalo gitu"
Usai belanja, kami pun membeli tiket masuk kekolam.
Kami pergi menuruni bukit kecil di kawasan Cangar, yang dibawahnya adalah lokasi pemandian air panas itu beradan.
Jalannya sedikit landai dan licin akibat lumut, hampir saja aku tergelincir tapi untungnya Temmy dengan sigap memegang lenganku.
Hawa dibawah tetap terasa dingin, dari sana aku dapat melihat gumpalan awan putih yang seperti asap menempel diantara pepohonan.
Pengunjung dihari minggu memang sangat padat sehingga aku jadi ragu untuk mandi disana.
Begitu tiba dibawah, Erik dan Lena langsung melompat kedalam air.
"Aku nggak mandi aja deh."kataku pada Temmy.
"Kenapa?"
"Rame banget, lagi nggak mood."
"Disebelah sana ada kolam khusus cewek kok. Mau aku antar kesana?"
__ADS_1
Aku menggeleng pelan, "Nggak deh, Tem. Aku rendaman kaki aja. Nggak apa-apa, ya?"
Temmy mengangguk mengiyakan.
Dan tepat didepan Lena dan Erik, aku duduk ditepi kolam dan memasukakan kakiku kedaam air.
Hmm, rasanya sangat hangat dan menenangkan.
Temmy pun melakukan hal yang sama sepertiku.
"Loh? Nggak berendam?"tanyaku
"Males. Disini aja."jawabnya santai.
Hampir satu jam kami disana, akhirnya kami pun memutuskan untuk ke lokasi berikutnya, yaitu Jatim Park 1. Kami berkunjung ke Museum Tubuh. Temmy dan Erik bertingkah konyol disana.
Kami juga mengabadikan momen itu dengan mengambil photo bersama.
satu jam setelahnya kami ke Jatim Park 2 tepatnya di Aquarium. Dan berikutnya ke Jatim Park 3 sesuai permintaan Lena, itu adalah lokasi terakhir yang kami kunjungi. Karena tenaga kami sudah hampir habis karena berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lainnya.
Di Jatim Park sendiri terdapat berbagai jenis replika atau patung binatang purba seperti Dinosaurus, Kingkong dan masih banyak lagi. Disana juga terdapat wahana Kereta Lima Zaman yang menelusuri Zaman Permian, Triassic, Jurassic, Cretaceous dan Ice Age.
"Semangat dong guys!"seru Lena, tampaknya dia tetap bugar dan semangat setelah berjam-jam yang kami lalui.
"Ini terakhir ya, beb? Sumpah, lutut gua udah lemes."keluh Erik.
"Yah. Padahal entar malam pengin ke BNS."ratap Lena memanja. BNS adalah singkatan dari Batu Night Spectacular. Yang mana banyak sekali wahana permainan yang membuat jantung mau copot keluar.
"Nggak deh nggak,"Erik protes. "Bisa modar gua."
"Ini yang terakhir. Gua capek, sumpah." Temmy juga mulai mengeluh kelelahan.
"Next time deh, kak."kataku.
"YEEH!" Erik dan Temmy berseru kegirangan karena aku mendukung mereka.
Mau tak mau Jatim Park 3 adalah tujuan akhir liburan kami.
☆☆☆
Sehabis mandi, aku menelpon Ibu untuk memberi kabar bahwa aku baik-baik saja, dan besok kami akan kembali ke Surabaya.
Setetah menutup telpon, aku keluar kamar untuk mengambil minum.
Tapi niatku terhenti saat aku melihat Temmy sedang tidur di sofa. Tubuhnya menekuk seperti seekor kucing yang kedinginan. Dia hanya memakai bantal sofa dan tidak ada selimut yang menutupi tubuhnya.
Ku lihat diatas dinding-tepat diatasnya, sebuah Ac menyala.
Aku menghela nafas panjang. Kemudian aku kembali masuk ke kamar mengambil selimutku yang tebal dan membawanya untuk Temmy.
Aku menbungkukkan badanku, ku hamparkan selimut itu ditubuh Temmy. Aku berhati-hati agar Temmy tak terbangun olehku.
Kemudian aku menjongkokkan badanku kearahnya.
Kusentuh wajahnya yang terlelap dengan hati-hati.
"Pasti kemarin kamu kedinginan banget ya?"ucapku seolah berbisik.
__ADS_1
Aku lalu mendekatkan wajahku ke arahnya dan bermaksud menciumi pipinya tapi sialnya Temmy terbangun dan langsung mengarahkan bibirnya di bibirku.
Aku terhenyak. Secepat kilat aku terduduk mundur.
"Bikin kaget aja tahu nggak? "omelku dengan suara yang hampir berbisik, karena takut Lena dan Erik terbangun.
Temmy malah tersenyum nakal padaku. Dia menepuk bantal yang ada dikepalanya, isyarat agar aku tidur bersamanya.
"Nggak. Jangan macem-macem."ujarku dan berniat akan pergi. Tapi dengan jarakku yang sedekat itu dengannya, membuat Temmy mampu meraih pergelangan tanganku hingga membuat aku tersentak ke sofa.
Begitu aku terduduk di sofa, Temmy langsung memeluk pinggangku erat. Namun aku tidak berontak.
"Malam ini aja. Please?!"pintanya dengan suara pelan yang lembut. Maksud Temmy adalah tidur di satu sofa dengannya bukan melakukan hal yang aneh.
Aku hanya diam. Tapi tidak menolaknya. Perlahan aku masuk kedalam selimut yang sama dengan Temmy. Dan berbaring di lengannya.
Kini posisi kami tengah berpelukan, begitu erat dan terasa hangat.
"Kalo kedinginan... kenapa kemarin nggak masuk kekamar aja?"tanyaku lirih.
Sebelum menjawab pertanyaanku, Temmy terlebih dulu mengangkat kepalanya dan menempelkannya di pipiku.
"Takut kamu nggak nyaman."jawabnya.
Tangannya memeluk pinggangku semakin erat. Perlahan, kepalanya turun ketengkukku dan menciumnya.
Itu membuatku merinding, tapi aku hanya diam.
"Kamu wangi."katanya lembut.
"Kamu suka aromanya?"
"Apapun dalam diri kamu... semuanya aku suka."
Dia kembali menciumi tengkukku sekali lagi, lalu tangannya yang memeluk pinggangku tadi merayap kewajahku.
Tangan itu memutar lembut wajahku kearah wajahnya.
Mataku berkedip-kedip saat kami saling berpandangan dalam jarak yang sangat dekat.
"Tem?"aku memanggil namanya pelan. Firasatku mengatakan bahwa Temmy akan melakukan hal 'itu'.
Dan benar saja, tanpa banyak bicara lagi, Temmy langsung menghujani bibirku dengan bibirnya. Bibirnya sangat lembut. Aku tetap terdiam tanpa ada niat untuk membalas ciuman itu. Mataku tertutup, menikmati untuk beberapa detik lamanya.
Sampai akhirnya, ciuman Temmy beralih ke leherku lalu berpindah ke dadaku.
Aku terhenyak. Mataku terbuka dan langsung saja menahan pundak Temmy. Sehingga Temmy menghentikan 'aksi'-nya dan menatap heran padaku.
"Ini nggak baik."ujarku lirih. Aku memang menikmatinya tapi aku takut untuk hanyut terlalu jauh.
"Maaf, Git. Aku nggak bermaksud begini."kata Temmy terbata-bata.
"Iya, aku paham. Ada kalanya kita sedang berdua dan ingin menikmatinya. Aku juga mau melakukan 'itu' tapi rasanya aku belum siap."
"Aku minta maaf, ya, Aku nggak bisa menahan diri."
"Maaf ya, sayang. Aku membuat kamu menahan diri begini."
__ADS_1
Aku membelai mesra pipi Temmy.
Aku tahu, jika melakukan 'itu' adalah dosa buat kita tapi tetap saja aku hampir tidak bisa mengelaknya tadi. Aku hanya tersadar terlalu cepat.