![Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]](https://asset.asean.biz.id/tentang-kita--dan-dia---on-going-.webp)
☆voting and commenting☆
Setelah mengumpuli laporan praktikum akhir, aku langsung bergegas pulang ke rumah dengan mengendarai motor jenis beat.
Jarak antara kampus dari rumahku hanya sekitar sepuluh menit-an saja, namun karena ingin cepat sampai ke rumah, aku mengebut dengan cepat dan menjadi hanya lima menit-an saja.
Begitu sampai di depan pagar rumah, aku langsung turun dari motor, dan masuk kehalaman rumah.
Ku lihat mobil Ibuku sudah terparkir di garasi, berarti Ibu sudah pulang kerja.
Ibuku seorang guru PNS di sebuah sekolah dasar. Letak sekolah tak begitu jauh dari rumah, hanya berjarak sekitar lima belas menit-an saja. Terkadang jika aku tidak ada jam kuliah, Ibu memintaku mengantarkan ke sekolah.
Kami hanya tinggal berdua. Ayahku sudah meninggal karena penyakit jantung setahun yang lalu.
Aku, memutar ganggang pintu pintu utama sambil bersenandung kecil.
Ceklek!
Suara pintu terbuka.
Aku menginjakkan kakiku kedalam rumah. Suasananya didalam begitu sepi.
Yah, sejak Ayah meninggal dunia setahun lalu, rumah ini terasa kosong. Suara Ayah yang cerewet dan berisik, biasanya yang mengisi tiap sudut ruang rumah kami.
Aku menghela nafas berat. Harusnya aku sudah terbiasa akan suasana sepi begini tapi tetap saja aku tidak bisa menepis perasaan duka ini hingga sekarang.
"Bahagia banget kayaknya? Habis dapat undian berhadiah, ya?"celetuk Ibuku yang muncul dari dapur. Dia sempat mendengar aku bersenandung tadi.
Aku menoleh pada Ibu, "Iya, Bu. Hadiahnya cowok."jawabku asal.
Ibu tertawa kecil. Dia melangkah menuju meja makan bundar yang terletak di tengah dapur. Dapur dan ruang tengah yang hanya terpisah oleh hordeng kain transparan, sehingga ruang makan terlihat jelas dari ruang tamu.
Aku mengikuti ibu. Ku sibak kain hordeng itu sambil menghela nafas lagi.
Ibu tersenyum kearahku.
"Kamu teh tumben pulangnya awal?"tanya Ibu dengan logat sundanya yang lembut. "Pasti dosennya bosan liat kamu, ya?"sambungnya lagi.
Aku tertawa kecil. Ku dekati sebuah kursi didepan meja itu, kutarik keluar dari bawah meja dan duduk.
"He-eh, Bu. Katanya Gita teh bikin pusing di kelasnya." jawabku juga asal-asalan. Aku mencopot ransel yang masih melekat di punggungku, lalu ku letakkan di atas meja.
Ibu yang sambil memotong tahu, menatapku dengan penasaran. "Kenapa bisa gitu?"tanyanya.
"Terlalu cantik katanya."ujarku yang disambut tawa oleh Ibu.
"Anak Ibu teh emang cantik pisan. Tentu aja ngikut Ibunya."seloroh Ibuku penuh semangat.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Ibu.
"Jadi jam berapa kalian berangkatnya?"tanya Ibu di sela-sela kesibukannya. Ibu bertanya mengenai rencana liburan kami ke kota Batu sore ini. Sehari setelah Temmy berniat mengajakku liburan barsama Erik dan Lena, aku sudah meminta ijin pada Ibu. Dan Ibu mengijinkan aku pergi selagi itu bersama Temmy dan asal kami bisa saling menjaga diri.
"Palingan jam 1 siang, Bu."sahutku.
Lalu, ponselku yang ada di saku jaket denimku bergetar, ada sebuah pesan masuk dari Temmy. Senyumku semakin lebar.
Melihatku tersenyum saat menerima pesan, Ibu berdehem agak keras.
"Senyum senyum sendiri. Awas giginya sampai kering."katanya menggoda.
"Apaan sih, Bu. Oh ya, Bu, kita berangkatnya jadi jam sebelas ini."
"Ooh, mungkin takut macet kali ya?"
"Mungkin, kan waktu weekend gini orang biasa kesana lebih awal. Buat menghindari kemacetan."
"Ya sudah atuh siap-siap, ini kan sudah hampir jam sebelas siang."
"Nggak apa-apa nih, Gita tinggalin ibu pergi?"godaku.
Ibu melirikku dengan tatapan tajam. Ia mengambil sayur diwadah baskom yang akan dipotong berikutnya sambil balas menggodaku.
"Kalau Ibu yang ikut, bisa-bisa Temmy nempel terus ke Ibu. Dia kan lebih sayang sama ibu ketimbang kamu."
Aku hanya tersenyum. Benar kata Ibu, kalau Ada Ibu saat kami liburan entah bersama keluarganya atau kami bertiga saja, Temny selalu menempel pada Ibu. Katanya Ibuku sudah seperti Ibunya sendiri. Dan aku akan cemberut seharian dibuatnya.
Aku tersipu malu, jadi ku letakkan ponselku diatas meja.
"Sini Gita bantuin, Bu. Ibu kan sudah kerja seharian juga di sekolah"ujarku menawarkan bantuan.
Ibu menggeleng tanda menolak.
"Kamu siap-siap aja dulu. Ibu mah sudah biasa."katanya.
"Nggak apa-apa nih? Gita nggak nawarin bantuan dua kali loh, ya?"ucapku menggodanya.
"Iya, iya."katanya menyakinkan.
Aku bangun dari kursi, mengambil ponsel serta ranselku kemudian bergeser dari meja.
Sebelum pergi, aku mencium pipi Ibu terlebih dahulu.
Ibuku seorang guru PNS di sebuah sekolah dasar. Letak sekolah tak begitu jauh dari rumah, hanya berjarak sekitar lima belas menit-an saja. Terkadang jika aku tidak ada jam kuliah, Ibu memintaku mengantarkan ke sekolah.
Kami hanya tinggal berdua. Ayahku sudah meninggal karena penyakit jantung setahun yang lalu.
☆☆☆
Hari ini langit di kota Batu sedang bersahabat. Cuaca cerah berawan dengan suhu 29 derajat. Meskipun di tengah hari dengan sinar mentari yang menusuk mata lewat celah jendela yang terbuka, hawa dingin begitu jelas terasa.
Brrrr! Aku sedikit menggigil dibuatnya. Cepat-cepat aku menurunkan kaca jendela mobil dan saling menggesek-gesekkan kedua telapak tanganku.
Melihat tindakkan ku begitu, Temmy yang duduk disampingku menarik kedua tanganku lalu menggenggamnya erat.
"Biar hangat."ujarnya seraya tersenyum, membuatku tersipu malu.
Erik yang berada dikursi depan bersama Lena, memutar sebentar kepalanya ke belakang, "Ciee cieee... romantis amat pak."celetuk Erik sambil mengemudi mobil.
__ADS_1
"Mau dong diromantisin sama Temmy."timpal Lena, yang juga menoleh kearah kami.
"OGAH!"hardik Temmy spontan. "Lu kan punya laki."lanjutnya.
"Tahu nih anak, nggak bersyukur amat punya laki seganteng gua." Ujar Erik tak terima. Tangannya tetap fokus menyetir.
"Lu mah nggak bisa romantis kayak Temmy dan Gita. Hari jadian kita aja sering lupa, beb." Lena protes jadi tak terima.
"Marahin aja, Len." CelotehTemmy mengompor-ngompori.
"Gua romantis, lu kira ada mau. Pas gua diem, lu minta diromantisin. Kacau otak lu."
"Sikat Len, masa lu mau kalah."
Temmy tertawa heboh melihat percekcokan sepasang kekasih itu. Dia pun tidak henti-hentinya menjadi kompor diantara mereka. Aku hanya diam melihat tingkah ketiga sahabat itu.
Temmy, Erik dan Lena sudah bersahabat sejak masuk SMA. Mereka sangat dekat seperti saudara.
Pada akhirya persahabatan antara Erik dan Lena berubah menjadi cinta. Keduanya sudah berpacaran hampir enam tahun lamanya.
Lena juga merupakan senior tingkah akhir dikampusku. Kami mulai akrab saat dia menjadi asisten dosen dan pengawas di jam praktikum kampus.
Dia dan Erik memang sama-sama berisik namun saling melengkapi satu dan yang lainnya.
"Mending kita ke Cangar aja yuk? Biar otak lu bedua jadi rileks."kata Temmy, setelah Erik dan Lena berhenti mengoceh.
Lena berseru kegirangan. "Asik, ayok deh. Gua juga udah lama nggak kesana."
"Gua sih oke-oke aja."timpal Erik.
"Gimana, Git?" Ujar bertanya padaku.
Aku mengangguk. "Aku ngikut kalian aja."jawabku.
"Ok. Sudah diputuskan. Kita ke Cangar besok!"seru Lena sedikit berteriak.
"Sumpah, Rik. Peliharaan lu berisik banget."
"Kampret lu, Tem."semprot Lena kesal.
Aku hanya tersenyum simpul menyaksikan kegilaan mereka.
Cangar adalah pemandian air panas yang terletak di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Terletak di dalam kawasan Taman Hutan Rakyat R. Cangar memiliki sumber mata air panas yang berasal dari Gunung Welirang.
Sesekali ku alihkannya pandangan keluar jendela. Terlihat ramainya pedagang kaki lima yang menjajakan dagangnya serta beberapa turis baik lokal maupun asing yang terpesona akan keindahan tempat itu, sedang membeli dan mengobrol ramah.
Kurang lebih 1,5 jam kami melalui pejalanan, akhirnya kami tiba di sebuah Villa mungil yang mengarah keatas bukit.
"Welcome to my Villa , guys?"seru Erik, yang lebih dulu keluar mobil. Lalu disusul Lena, Aku dan Temmy.
Aku sangat takjub melihat bangunan villa mungil itu. Villa itu memiliki dua lantai dan halamannya pun juga luas.
Aku takjub bukan berarti ini pertama kalinya aku mengunjungi sebuah villa.
Dulu sekali, Temmy dan keluargannya juga pernah mangajak ku dan keluargaku berlibur ke villa pribadi keluargannya ke puncak. Bahkan villa itu sangat mewah dan artistik.
"Warnanya kok berubah, beb? Bukannya dulu warnanya coklat ya?"tanya Lena. Dia agak heran kenapa warna cat villa itu yang dulunya coklat, kini berwarna orange cerah.
"Bagus kok. Keliatan asri malah."kata Temmy memuji perubahan warna cat villa itu.
Temmy membuka bagasi mobil, dia mengeluarkan barang-barang bawaan kami berserta persediaan makanan yang kami beli diperjalanan tadi.
"Tapi aku suka warna yang lama."ujar Lena seraya memanyunkan bibirnya.
"Nanti kita ubah warnanya yah?"kata Erik mengelus pipi kiri Lena.
"Woi, Patrick! Bantuin gua sini."teriak Temmy sedikit kesal.
Erik menoleh pada Erik sambil cengengesan.
"Baiklah, Spongesbob, aku datang."sahut Erik menirukan gaya bicara Patrick diserial kartun Spongesbolob Squarpant.
Kemudian kami masuk kedalam villa. Villa keluarga Erik begitu terawat dan bersih. Tidak ada satu debu pun yang menyapa kami.
"Ruangannya bersih kok."kataku, yang sudah duduk di sofa kayu panjang. Lalu di susul oleh Temmy
"Villa ini emang di rawat. Namanya Pak Banyu, dia sering kesini tiap dua minggu sekali untuk membersihkan villa."ucap Erik.
Pantas sangat bersih, pikirku.
"Ah, gua lupa. Disini kamarnya cuma ada dua. Jadi-"
"Lah? Bukannya ada tiga ? Gua kan pernah kesini sebelummnya sama lu dan Lena."tanya Temmy dengan raut wajah heran.
"Emang ada tiga. Cuma satunya dijadiin gudang. Wc nya mampet. Jadi tinggal dua."
"Ya nggak apa-apa dong kalo dua aja. Aku kan bisa sekamar sama kak Lena dan Temmy sama kak Erik."ujarku memberi pendapat.
Temmy mengangguk tanda setuju. Tapi Erik justru mengibaskan tangannya, tanda menolak.
"No, no, no! Gua sudah pasti sekamar sama Lena dan elu sama Temmy."
HAH??!!!
Baik aku mau pun Temmy saling bertatapan shock.
"Gila lu. Gua sama Gita mana per-"
"Please, ya? Lu nggak usah protes. Gua tuan rumah disini."
Erik dan Lena pergi kelantai atas dan meninggalkan kami berdua dibawah.
Aku bergeming. Jantungku berdegub kencang.
Sekamar bedua dengan Temmy? Malam ini?
Melihat kegelisahanku itu, Temmy tersenyum.
"Kamarnya ada dilorong sana."kata Temmy menunjuk sebuah kamar yang terletak dilorong yang menghadap teras halaman belakang.
__ADS_1
"Kamu tidur dikamar. Biar aku tidur di sofa."
"Kita tidurnya pisah? Mm.. maksudnya nggak apa-apa gitu tidur diluar? Kan dingin."
"Nggak apa-apa sayang. Kamu pasti nggak nyaman kalo berdua."
"Iya sih."
Aku tersenyum simpul. Tapi perasaanku agak sedikit kecewa. Memang selama bersama Temmy, kami tidak pernah tidur sekamar jika sedang liburan kemana pun. Tapi entahlah, hanya saja kali ini aku merasa ditolak.
Ah bodoh, apa yang sedang aku pikirkan? Sadarlah Gita. Temmy bukan type lelaki mesum.
"Kenapa? Mau berduan?"kata Temmy menggodaku.
Aku menolak pelan pundaknya. "Nggak usah ngarep."
Kemudian, aku bangun dari dudukku dan mengambil beberapa kantong plastik di lantai yang berisi makanan mentah untuk ditaruh di kulkas
"Kita taruh di kulkas aj dulu, nanti sore baru dimasak, ya."kataku
"Nanti mau di bantuin nggak?"ujar Temmy yang membantuku membawa belanjaan itu kedapur. Karena dia sudah paham seluk beluk di villa itu
"Nggak usah deh. Mending kamu mandi aja dan tidur."
Temmy hanya mengangguk menuruti ucapanku.
Setelah manaruh semua belanjaan didalam kulkas, aku pun bermaksud keluar dapur lebih dulu, namun langkahku terhenti saat Temmy memeluk pinggangku dari belakang.
Aku sedikit kaget karena pelukan yang tiba-tiba itu.
"Malu ah, nanti dilihat sama kaka Erik dan kak Lena loh."ujarku terbata-bata.
Tapi Temmy tak menghiraukan ucapan ku barusan. Malah disemakin mengencangkan pelukannya. Dia menopang dagunya diatas pundakku. Membuat tengkukku merinding.
"Bentar aja. Cuma sepuluh detik kok."suaranya terkesan manja.
Dalam hati, aku menghitung waktu mundur sepuluh detik sesuai permintaan Temmy.
"Aku sayang kamu."ucapnya lembut dikupingku.
Aku hanya diam menikmati pelukan itu.
"Git, aku-"
"Ok, time over!"aku melepaskan paksa tangan Temmy yang melingkar dipinggangku. Sudah sepuluh detik bahkan lebih.
"Kok udahan sih? Baru juga mau ngomong." Temmy mulai protes.
Aku berbalik badan kearahnya, "kan udah sepuluh detik. Masa mau nambah."jawabku.
Raut wajah Temmy berubah jadi muram.
"Hhmm."sungutnya lemas.
Aku tertawa pelan. Lalu ku cubit hidungnya yang mancung.
"Waktu kitakan masih banyak, sayang. Jangan muram gitu ah."
Temmy mengangguk pasrah, masih dengan ekspresi wajah yang sama.
☆☆☆
Hari sudah mulai senja, aku dan Lena mulai memasak makan malam didapur.
"Git, saos cabenya dikit aja ya? Soalnya Erik nggak suka pedes."kata Lena.
Aku menagngguk, "Temmy juga nggak terlalu bisa makan pedes kok, kak." sahutku.
Di tengah kesibukanku mengoseng kangkung, tiba-tiba Lena mengejutkanku dengan sebuah pertanyaan konyol.
"Lu sama Temmy pernah ngapain aja sih, Git?"
"Maksudnya?"
"Iya... seperti 'itu'."
"Apaan sih, kak? Nggak paham."
Lena mendesah pelan. Dia berhenti memotong daun seladanya dan menoleh padaku.
"Polos banget sih lu, Git. Maksud gua 'itu' tuh yang gituan loh. Suami dan istri."
Tenggorokanku serasa di jajali seganggam cabe, hingga aku terbatuk-batuk. Lena tertawa renyah.
"Loh? Belum pernah ya?"tanyanya lagi.
Aku mematikan kompor. Kebetulan oseng kangkungku sudah matang.
Tiba-tiba Erik muncul dan memiting leher Lena dengan lengannya.
"Jangan meracuni otak si Gita. Dia masih polos."ujarnya
"Ihh, apaan sih, beb. Lepasin."
"Maaf ya, Git. Pacar gua ini emang sengklek. Kita kan udah lama kenal. Lu jangan masukin ke hati ya?"
"Iya, kak, nggak apa-apa kok."
Erik melepaskan tangannya dari leher Lena. Lena berdehem.
"Lu mau bunuh gua apa?"kesalnya.
"Hehe, maaf, kelepasan."
"Temmy mana?" tanyaku.
"Oh, tadi dia lagi telponan sama mertua lu. Nanyain kabar kali."
Hanya tersenyum.
__ADS_1
Kami pun lalu menyiapan makanan malam diatas meja.
Dan begitu selesai makan kami bersenda gurau sesaat, lalu menjelang tengah malam kami memilih untuk tidur karena besok pagi kami akan pergi ke Cangar.