Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
10. Pertengkaran


__ADS_3

☆Vote and commenting☆


     Setelah pertemuanku dengan Angel siang tadi, aku sangat kepikiran dibuatnya. Aku gelisah. Apa mungkin dia akan menemui Temmy lagi? Atau mereka sudah bertemu tanpa sepengetahuanku? Ah tidak mungkin. Temmy tidak mungkin melakukannya. Kecuali... dia berbohong di belakangku.


Saat itu sudah pukul 10 malam. Aku ingin menghubungi Temmy, tapi aku ragu. Bisa saja Temmy belum bertemu dengan Angel. Bagaimana jika dia sampai tahu aku bertemu dengan mantannya itu? Apa reaksinya?


Aku berusaha tenang. Aku lalu masuk kedalam selimut, berharapa cepat tidur dan beban pikiranku berkurang tapi, ARRGGGHHH!!! bathinku makin kacau.


Akhirnya aku mengambil ponselku dan menghubungi Lena saja. Dengan cepat Lena mengangkat panggilanku.


"Iya, ada apa,Git?"suara itu menyahutiku dengan nada yang malas, seperti baru bangun tidur. Tapi itu bukan suara Lena, melainkan suara seorang lelaki yang aku kenal.


"KAK ERIK?"ujarku kaget. "Kok kak Erik sih?"tanyaku lagi.


"Ngapa elu yang angkat sih, *****? Sini sini."hardik Lena


"Lah? Kebetulan ponselnya di kepala gua."ujar Erik.


Terdengar suara gaduh diseberang sana. Erik dan Lena sedang berduan?


"Hallo, hallo.."suara Lena memanggilku.


"Iya,kak?"


"Sorry,Git. Tadi yang angkat si peak Erik. Kenapa?"katanya santai. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi justru aku yang canggung.


"Aku ganggu nggak?"


"Nggak. Kenapa emangnya?"


"Aku mau curhat. Boleh?"


"Boleh. Apa?"


"Ini soal Angel, kak."


"Ha? Kenapa lagi sama tuh anak?"


"Tadi siang dia nemuin aku ke kampus kak."


"Kok bisa? Tahu dari mana dia tuh kampus lu?"


Lena terdengar kesal.


"Aku juga nggak tahu, kak. Cuma ak-"


"Ok, gua ke rumah lu sekarang. Biar enak bahasnya." ucapnya memutus omonganku.


"Jangan kak. Biar aku aja yang ke rumah kakak, ya?"


"Yakin? Ini udah malem loh?"


"Nggak apa-apa kak. Ya sudah, aku kesana ya?"


"Ok. Hati-hati ya?"


"Iya."


Setelah menutup sambungan telepon, aku pun langsung menyambar jaketku yang ada diujung ranjang. Tak lupa aku juga mengambil kunci motor yang ada diatas meja belajarku. Aku dengan hati-hati membuka pintu kamar, agar ibu tidak terbangun.


Aku melangkah keluar sambil berjinjit, sehingga tidak begitu menimbulkan suara. Sesampainya diluar rumah, ku keluarkan motor dengan mendorongnya, lalu aku nyalanya saat berada diujung gang rumahku.


Setelah hampir 20 menit berkendara, akhirnya aku sampai juga di rumah Lena.


Diluar pagar, ada seorang satpam yang berjaga. Begitu dia melihatku, dibukakannya pintu pagar untukku.


Aku masuk kehalaman rumah Lena. Lampu di ruangan tamunya ada yang baru saja dinyalakan. Aku cepat-cepat melangkah kedepan pintu utama.


Sekali aku mengetuk pintu, sudah ada sosok Lena disana yang sudah membuka pintu.


"Lu baik-baik aja kan? Yuk masuk."ujarnya menyambutku. Ku lihat, Lena hanya menggunakan tanktop dan hotpant, rambutnya digulung-gulung saja, tidak keruan.


Dia mengantarkan aku duduk di sofa panjang di ruang tamu, dia ikut duduk disebelahku.


Sementara Erik muncul dari lantai atas, memakai boxer longgar dan kaos oblong. Dia duduk dihadapan kami.


Aku merasa tidak enak, karena sudah mengganggu aktivitas keduanya.


"Coba cerita. Si Angel bilang apa ke elu?"celetuk Lena.


Aku melirik Lena, bingung harus mulai cerita dari mana.


"Udah, cerita aja. Jangan dipendam. Atau mau cerita berdua doang? Gua tinggalin nih?"kata Erik mencoba memberi pengertian.


Aku menggeleng pelan, "Jangan kak. Aku nggak apa-apa."


"Ayo cerita."kata Lena sedikit mendesakku. Mungkin dia juga penasaran.


Aku mendesah pelan, seolah-olah yang aku ceritakan adalah hal yang berat.


"Angel bilang dia mau ambil Temmy kak."


"Hah? Apa-apaan tuh anak? Dia kira Temmy itu barang apa? Seenaknya aja main gondol." Lena begitu berang. Wajahnya terlihat kesal.


"Terus, dia bilang apa lagi?"tanya Erik


"Aku kurang yakin sih kak. Cuma dia bilang nggak yakin Temmy bakal serius sama aku. Maksudnya apa ya, kak?"


"Maksudnya 'Temmy cuma main-main sama elu', gitu?"ujar Erik, sedikit bingung.


Aku menggeleng, "Aku kurang paham kak. Dia ngomong seolah-olah Temmy itu masih sayang sama dia."


Emosiku mulai labil. Nafasku begitu terasa sesak.


"Selama ini, aku juga nggak begitu tahu soal masalalu Temmy. Aku cuma tahu kalo dia dicampakan sama Angel.


Aku cuma berfikir kalo masalalu, ya cuma masalalu, nggak harus saling dipertanyakan. Tapi kehadiran Angel barusan buat aku jadi nggak tenang.


Apa yang kalian tahu soal masalalu Temmy dan Angel? Aku mau tahu, kak."


Lena merangkul kedua pundakku dan berusaha menenangkanku. Wajah Erik juga terlihat tidak enak padaku.


"Lu tenang dulu ya, Git."


"Aku harus tahu, kak. Please?"kataku memohon.


Lena dan Erik saling berpandangan. Mereka ragu harus mengatakan apa padaku.


Lena mendesah pelan.


"Angel itu nggak baik, Git. Dia cewek terkejam yang pernah gua kenal." Lena mulai bercerita.


"Awalnya kita kira dia itu cewek yang baik. Dia nggak pernah berantem sama Temmy, dia juga terlihat sopan.


Hampir 2 tahun mereka pacaran. Temmy itu sayang banget sama dia. Sampai-sampai apapun yang di inginkan Angel, pasti Temmy kasih. Lu tahu kan? Temmy itu anak tunggal, pewaris perusahaan bokapnya? Apapun bisa Temmy kasih ke dia. Dan sampai akhirnya Angel kepergok oleh Temmy, kencan bareng bos pemilik tambang batu bara. Lu bayangin dong, anak SMA sama om-om gimana? Gua aja masih kesel banget kalo ingat kejadian itu."


Aku hanya diam. Aku perlahan-lahan tahu sekarang cerita sebenarnya seperti apa.

__ADS_1


"Jadi Angel nggak lanjutin sekolah. Kabarnya dia nikah sama om-om batu bara itu dan tinggal di luar negeri."


Erik melanjutkan cerita Lena.


"Keluarga Temmy marah besar. Mereka nggak mau Temmy berhubungan lagi sama tuh anak. Makanya Temmy depresi banget."timpal Lena.


Aku ingat, pertama kali mengenal Temmy, wajahnya tidak seriang sekarang. Dia selalu terlihat murung. Awalnya aku ragu untuk dikenalkan padanya karena tatapannya saja membuatku sudah ragu. Tapi baik Erik atau pun Lena terus mendesakku untuk mencoba lebih dekat lagi dengan Temmy. Hingga pe-de-ka-te kami yang kedua bulannya, kami akhirnya resmi jadian. Temmy terlihat begitu sangat menyukaiku.


"Makanya kita deketin elu sama Temmy, gua yakin kalo elu bisa bikin Temmy semangat lagi."uajr Lena


"Itu bener, Git. Gua bersyukur Temmy ketemu sama lu. Gua nggak bisa bayangin gimna jadinya Temmy kemarin."


"Jangan lu anggap bacotannya si Angel. Dia cuma pengen merusak kebahagian kalian doang. Percaya sama gua."


"Iya, Git. Kami dan Temmy sudah lama berteman, jadi kami paham betul watak Temmy seperti apa. Dia nggak semudah itu ninggalin lu cuma demi si Angel."


Aku mengangguk, meyakinkan diriku, setidaknya aku merasa sedikit tenang.


☆☆☆


     Aku membuka kedua mataku. Rasanya sangat berat. Aku lalu melakukan peregangan ringan dalam posisi tidur.


Mataku berputar-putar mengamati sudut ruangan kamar.


Ah benar, ini bukan kamarku. Aku ingat tadi malam, sehabis curhat aku bermaksud pulang tapi Lena menahanku, dia khawatir jika terjadi sesuatu padaku dijalan. Jadi, dia memintaku untuk menginap saja malam itu. Tapi aku lupa memberitahu Ibu.


Kemudian, hidungku kembang kempis, mencium parfum yang sangat aku kenal aromanya. Ini aroma parfum Temmy. Aku tersenyum. Mungkin aku masih setengah sadar, sehingga aku berkhayal mencium aroma parfumnya.


Namun, aku tersadar bahwa aku tidak sedang berkhayal, ketika ada sebuah tangan yang melingkar dipinggangku, membuatku sedikit kegelian.


"Pagi, sayang."suara itu lembut menyapa.


Aku terbelalak. Aku melompat dari ranjang karena kaget.


"Temmy?"ujarku, saat posisiku sudah berdiri di samping ranjang.


Temmy tersenyum dibalik selimut.


"Kok kamu bisa ada disini?"


"Dipanggil Erik kesini."jawabnya polos.


Melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan itu, aku yakin kalau Lena dan Erik belum menceritakan isi curhatanku semalam padanya.


"Nggak boleh ya? Kan sama pacar sendiri?"


Aku mendekatinya. Lalu kucibit pipinya.


"Boleh. Cuma jangan bikin kaget terus dong. Kebiasaan."omelku.


Temmy lantas berbaring di pangkuanku. Dia menempelkan wajahnya di perutku. Membuatku agak geli.


"Jangan ah. Geli."


"Nggak mau."


Tiba-tiba Erik datang tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Kami berdua menoleh kearah pintu.


"Ups! Gua ganggu ya?"


"Banget. Pergi lu sana."kata Temmy mengusir.


"Sarapan dulu yuk? Keburu dingin."


"Iya, kak. Habis ini kami turun kok."


"Habis apa? Habis buat anak?"


Erik dengan cepat menangkis serangan itu.


"Nggak kena. Weeekk"ledeknya seraya menjulurkan lidahnya.


"Gua kebiri lu lama-lama."


"Selow bro selow. Ok, gua kebawah dulu. Lu pada lanjut dah." Erik pun akhirnya pergi.


Aku membujuk Temmy untuk turun kebawah tapi dia masih ingin bermanja padaku. Namun dia juga bertanya mengenai keberadaanku dirumah Lena.


"Ada urusan dikit. Biasa cewek."kataku sebisa mungkin bersilat lidah.


"Oh."


"Cepatan."


"Hmm, iya."


Temmy bangun dari pembaringannya dengan sangat lunglai.


Aku menyuruhnya untuk turun lebih dulu, karena aku harus membasuh muka dikamar mandi.


Temmy mencium ubun-ubun rambutku sebelum menghilang dibalik pintu.


Aku pun pergi kemar mandi yang ada dikamar itu.


Ku basuh wajahku sambil berharap masalahku akan hilang detik itu juga.


Aku melihat pantulan bayangan wajahku di cermin, sangat memprihatinkan.


Wajah itu seakan-akan dipenuhi oleh beban yang sangat berat. Aku menghela nafas panjang.


Tuhan, semoga masalahku cepat berakhir, bahtin bergumam.


Lalu aku keluar dari kamar mandi dan bermaksud untuk menyusul Temmy ke bawah. Tapi saat sudah hampir keluar pintu, aku mendengar suara deringan ponsel.


Aku berbalik badan, melirik setiap sudut.


"Kayak dering ponsel Temmy deh?"gumamku penasaran.


Aku yakin sumber suara itu berasal dari atas ranjang. Aku lalu mendekati ranjang, mencari-cari suara dering ponsel tersebut.


Suaranya begitu dekat, tapi aku tidak menemukannya.


Jadi aku mengibas selimut, mencari didalamnya, tak ada juga. Suara dering itu juga sudah berhenti.


Tapi aku terus mencarinya lagi.


"Kemana sih?"ujarku mulai kesal.


Beberapa saat dering itu terdengar lagi. Asalnya dari bawah bantal. Aku mengangkat bantal yang dipakai oleh Temmy tadi. Ketemu!


"Pasti dia lupa bawa ponselnya."


Jadi aku genggam ponsel itu ditanganku. Aku berniat memberikannya pada Temmy. Dan baru saja aku akan melangkah lagi, ponsel di tanganku kembali berdering.


Sebuah panggilan masuk.


Namun hanya nomor baru yang ku lihat, tidak ada namanya.

__ADS_1


Aku berfikir untuk menjawab panggilan itu, tapi kesannya tidak sopan, ini adalah ponsel Temmy.


Panggilan itu mati lagi.


Akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamar dan memberikan ponsel itu kepada pemiliknya saja.


Ketika berada di anak tangga pertama, ponsel itu berdering lagi, dari nomor yang sama.


Aku jadi penasaran ingin manjawabnya. Awalnya aku hanya iseng ingin menggeser screen call-nya tanpa niat untuk menjawab. Tapi apesnya, aku justru menggesernya sungguhan. Aku panik. Panggilan itu sudah tersambung.


"Temmy? Lu dimana?"


Suara wanita samar-samar terdengar diseberang telepon.


Aku semakin penasaran. Suara itu tidak begitu asing ditelingaku.


Ku tempelkan saja ponsel itu di telingaku.


"Aku kangen. Bisa ketemu lagi?"


Kata suara itu lagi dengan manjanya.


Hah? Aku terperanjat. Apa ini suara Angel?


"Jangan bilang ... kamu lupa apartemen aku dimana."


Jantungku berdegub kencang. Aku benar-benar shock.


Apa maksud ucapannya barusan? Ketemu lagi? Di apartemen? Apa mereka sudah pernah bertemu lagi sejak kemunculan Angel?


Panggilan itu secepatnya aku akhiri.


Aku mengutak-atik ponsel Temmy yang tidak terkunci itu.


Ku periksa segala pesan dan panggilan masuk.


Ketemu. Ada beberapa panggilan dan pesan masuk ditanggal yang sama saat Temmy mengantarku kerumahnya tempo hari. Bahkan ditanggal hari ini pula, ada panggilan dan pesan yang masuk dari nomor yang sama.


Aku tidak membaca semua pesan yang masuk. Tapi aku yakin kalau mereka sudah sering bertemu tanpa sepengetahuanku.


Tak terasa air mataku jatuh sangat banyak. Pipiku telah basah dalam hitungan detik. Wajahku terasa panas.


Disaat yang bersamaan, Temmy datang dari bawah tangga.


Terheran-heran melihatku menangis terisak.


"Sayang? Kamu kenapa?"kata Temmy seraya mendekatiku.


Sangking kesalnya, spontan aku mendorong tubuhnya hingga menjauh dariku. Temmy terlihat kebingungan.


"Ada apa, Gita?"


"Kamu bohong sama aku, Tem. Aku sudah tahu semuanya."


Aku membentak Temmy untuk pertama kalinya. Aku dikuasai oleh amarah.


Temmy tampaknya masih kebingungan dengan sikapku.


Erik dan Lena yang mendengar suara bentakkan ku tadi, berlari kelantai atas.


"Bohong soal apa?"Temmy bertanya. Dia masih tidak paham maksudku. Atau dia hanya berakting?


"Ini," aku menunjukkan ponsel itu padanya. "Bisa kamu jelasin ke aku?"


Seketika raut wajahnya berubah jadi panik.


"Kamu ketemuan sama Angel di belakang aku? Sejak kapan? Apa lagi yang kamu rahasiakan dari aku, hah?"


"Ada apa ini? Tem? Git?"tanya Lena yang baru saja tiba didepanku.


"Kakak tanya langsung aja sama dia."


Aku menangis sejadi-jadinya. Lena mendekatiku dan memelukku.


"Ada apa ,Tem?"tanya Lena melirik kearahku dan Temmy secara bergantian.


Temmy masih terlihat panik. Dia mengusap-usap tengkuknya dengan gusar.


"Ngomong, Tem." Erik mendesak Temmy untuk berbicara.


Bukannya menjawab pertanyaan kedua sahabatnya itu, Temmy justru mendekatiku.


"Aku mohon, kamu dengerin aku dulu. Ini nggak seperti bayangan kamu."


"Nggak. Bukti di ponsel kamu sudah cukup kuat. Kamu diam-diam ketemu sama Angel. Di apartemen."


Sontak saja, Erik dan Lena memandang kearah Temmy.


Temmy terpojok dalam situasi yang serius itu.


"Tem? Jadi elu sudah ketemu Angel sebelumnya?"Lena bertanya.


"Apa maksudnya, Tem?"Erik menimpali.


"Ini cuma salah paham. Sayang. Aku mohon kamu dengerin aku dulu."


"Nggak. Kamu pembohong. Kamu dan Angel bertemu tanpa aku tahu. Pantas aja Angel terlihat santai waktu bicara sama aku dikampus. Jadi kalian sudah saling menghubungin dari kemarin? Kamu di apartemen bareng dia,kan?"


Aku terus memaki Temmy. Aku meluapkan segala kekecewaanku padanya.


Temmy terdiam, raut wajahnya masih kebingungan. Dia sendiri tidak mengerti apa yang tengah aku ucapkan mengenai kedatangan Angel di kampusku kemarin.


"Kamu sudah ketemu Angel?"dia bertanya padaku, seolah tidak mengetahui apapun.


"Kenapa lu rahasiakan ini dari kita sih, Tem?"ujar Lena.


"Gua nggak ngerti kenapa Angel datang ke kampus dan nemuin Gita. Gua nggak tahu soal ini?" Temmy berusaha membela dirinya.


"Lu nggak tahu soal ini?" Erik bertanya balik.


"Gua nggak tahu, suwer." Temmy berusaha mendekatiku lagi. "Sayang, please. Kamu dengerin aku dulu. Kita sedang salah paham. Ini nggak seperti yang kamu kira."


Aku menggeleng. Ponsel Temmy yang aku genggam tadi terjatuh ke lantai. Aku lalu melepaskan diri dari pelukan Lena.


"Jangan temui aku lagi."


Secepat mungkin aku berlari menghindari Temmy.


Di belakangku, aku mendengar suara derap kaki yang mengejarku.


Aku pulang kerumah dengan motor yang aku kendarai semalam.


Aku masih menangis hingga tiba di rumah. Didepan pintu, ada Ibu yang menungguku dengan wajah yang sangat cemas.


"Ibu..." aku langsung menubrukkan diri kedalam pelukan Ibu.


"Kenapa, neng?"

__ADS_1


Aku tidak menjawab. Aku hanya menangis sejadi-jadinya.


Aku merasa dada ini sesak sekali.


__ADS_2