Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
17. Berangkat KKN


__ADS_3

☆Voting and commenting☆


Pukul 06.30 pagi, Temmy mengantarku ke halte bis, karena aku akan pergi melaksanakan KKN bersama rekan-rekanku.


Lokasi tempat kami KKN terletak di sebuah daerah pesisir pantai yang jaraknya kurang lebih tujuh jam dari kota, jadi kami berangkat sepagi mungkin untuk menghindari macet dan malam.


Sebenarnya ada beberapa orang yang ingin menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai lokasi KKN, tapi karena terlalu beresiko dan mencegah perpecahan sesama anggota, maka kami sepakati dengan menaiki bis saja.


"Kalo udah sampai, kabari ya?"kata Temmy, setelah memasukan koperku kedalam bagasi bis.


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Aku pasti kangen banget sama kamu."katanya lagi. Temmy lantas menciumi dahiku yang tertutup poni.


Dari dalam bis, beberapa kepala rekan KKN-ku keluar dari jendela bis. Mereka menyoraki aku dan Temmy.


"Eh buset, gua ngiri bro."


"Ya Allah, aing jomblo."


"Jiwa jomblo-ku meronta-ronta!"


"Nggak usah nangis,Git, cuma sebulan kok. Haha"


Temmy menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dia tertawa malu tengah di goda oleh teman-temanku tersebut.


"Anggap aja mereka sedang mengheningkan cipta."ujarku pada Temmy.


Aku kemudian menghela nafas berat.


Aku menggenggam erat sabuk ransel di bahuku. Rasanya sedih harus berpisah dengan Temmy hari ini. Aku ingin pulang saja dengan Temmy.


"Aku juga bakal kangen banget sama kamu."kataku pelan. Seolah aku sedang berbisik padanya.


Temmy tersenyum. Diletaknya telapak tangannya di atas kepalaku, lalu dia mengusap-usap rambutku.


"Baik-baik di sana ya? Jaga kesehatan. Aku sayang kamu."

__ADS_1


Ahh, aku jadi meleleh dibuatnya. Rasanya aku tidak ingin pergi.


"Aku juga sayang kamu."balasku.


Lalu, terdengar suara bis sudah di nyalakan, para penumpang sudah masuk kedalam bis kecuali aku.


Sebelum di tegur oleh supir bis, aku pun buru-buru naik dalam bis tanpa menoleh kebelakang lagi.


Aku duduk tepat disamping jendela. Perasaanku campur aduk.Aku semakin sedih.


Hingga akhirnya roda bis bergerak maju, meninggalkan halte dengan perlahan.


Kepalaku memutar melihat Temmy yang sedang melambaikan tangannya padaku. Dia masih disana.


Aku ingin melompat keluar dari bis. Aku ingin memeluk Temmy.


Pak supir, tolong hentikan bisnya?!!bathin menjerit.


Dan... Tanpa aku sadari-diantara barisan bis, ada sosok Dito yang tengah duduk didalam mobilnya yang sedang melihat kepergianku dari jauh.


☆☆☆


Sepanjang perjalan aku hanya diam sambil melihat-lihat photo-ku dan Temmy dari galery layar ponselku. Sesekali aku menyahuti omongan teman-temanku. Mereka bercerita tentang keluarga, cinta dan patah hati. Aku dan ketiga rekan KKN ku duduk di kursi paling belakang. Sedangkan enam orang lainnya masing-masing terpisah duduk di kursi paling depan dan tengah. Dan selagi menunggu sampai di tempat tujuan, kami sedikit bercerita biar tidak garing.


"Gue dulu juga sempat pacaran kok, tapi putus. Gara-gara nyokap pacar gua cerewet. Katanya nih ya "baru mahasiswa, pasti masih minta makan sama orangtua. Lulus dulu deh baru kesini lagi."celoteh seorang temanku bernama Fadil, mengenai kisah cintanya.


Aku kaget mendengarnya, antara kasihan dan lucu.


"Turut berduka cita ya, Dil?"kata Gea pada Fadil. Seraya tertawa kecil.


"Elu masih mendingan sih, disuruh balik pas udah lulus. Lah? Gue? Di minta putus sama bokapnya, langsung disamperin ke kampus bro."ujar temanku yang bernama Ari.


Kami bertiga menahan tawa mendengar isi ceritanya.


"Yang kamu langsung galau dan nggak ikut quiz di kampus?"tanyaku. Padahal aku sudah tahu ceritanya seperti apa. Bahwa Ari pernah didatangi langsung oleh Ayah pacarnya dulu. Orang itu meminta Ari untuk putus hubungan dengan anaknya karena anaknya sudah di jodohkan dengan orang lain.


Ari memasang wajah sok sedih, padahal dia sudah lama move on dan punya pacar lagi.

__ADS_1


"Tapi ujung-ujungnya mantan dia nggak jadi nikah. Eh malah nelpon minta balikan."ujar Fadil sambil tertawa keras, sehingga penumpang bis yang yang lainnya menoleh sinis kearah kami.


Bahkan ketua KKN kami pun memberi kami lebel berisik. Dia merasa terganggu karena sedang enak-enak tidur di kursi paling depan.


"Suara lu di kontrol, ******."Ari mengumpat pelan.


Fadil lantas menutup mulutnya dan mengangguk.


"Tapi masih mendinglah, mantan ngajak balikan. Lah? Gue? Digantung, udah kayak jemuran basah."ucap Gea, tak mau kalah.


Fadil spontan melanjuti cerita Gea. "Nah, si Gea paling tragis nih. Nggak ditembak-tembak tapi disuruh jaga hati."


ujarnya lantas kembali tertawa keras. Sehingga penumpang lainya kembali menoleh kearah kami. Ari pun buru-buru menyumpal mulut Fadil dengan gumpalan koran, yang entah darimana ia dapat.


"Sstt!"ketua KKN juga kembali menegur kami. Tidurnya terganggu.


Aku dan Gea saling menunduk. Sedangkan Fadil meronta-ronta dengan mulut penuh koran.


"Huaawas huwe hwabis. Hepashin!"pekik Fadil yang bermakna 'Nafas gue habis. Lepasin!' sambil memukul-mukul lengan Ari.


"Hah? Lu bilang apa?"tanya Ari seraya mendekatkan telingannya pada Fadil.


"Huawaas."kata Fadil lagi.


"Hah???"


Fadil menunjuk-nunjuk kearah mulutnya dengan jari telunjuk. Ari yang mulai faham, menarik ujung gumpalan koran tersebut keluar dari mulut Fadil.


Nafas Fadil terengah-engah karena sesak.


"Bilang dong yang jelas."ucap Ari tanpa wajah bersalah sedikitpun.


"Sialan lu. Hampir aja gue mati kehabisan nafas. Gua belum nikah woi!"hardik Fadil seraya mengusap-usap mulutnya.


"Anjay, kok mulut gua rasa garam, ya?"


Kami bertiga tertawa sambil menutup mulut. Ada-ada saja ulah mereka bilang sedang berkumpul.

__ADS_1


__ADS_2