Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
21. Masih Ingin Berjuang (2)


__ADS_3

☆Voting and commenting☆


"Hotel?"Adnan, sang Ketua berfikir setelah aku menanyakan apakah ada hotel di sekitaran sini.


"Itu mah nggak ada,Git. Tapi kalo penginapan sih ada. Pas di depan gapura masuk desa. Kenapa?"


Dengan agak malu-malu aku mengatakan perihal Temmy yang akan mengunjungiku malam ini. Aku tidak ingin dia langsung pulang ke kota. Karena beberapa kilo meter dari desa ke kota tidak ada lampu penerangan jalannya, itu sangat berbahaya sekali bagi Temmy.


"Ah, mau nginep bareng cowok lu, ya?"godanya.


Aku menempelkan jari telunjukku didepan bibirku,


"Sstt! Bukan gitu. Penginapan itu cuma buat dia aja."


"Masa? Nggak mau berduaan?"


"Dibilangin bukan gitu."sungutku kesal.


Tak berapa lama Ari dan dua orang rekan KKN-ku yang lainnya berjalan terburu-buru didepan kami membawa beberapa buah pipa paralon, terpal dan lainnya untk bahan proker kelompok kami. Rencananya proker utama kelompok kami akan membuat sebuah kolam ikan aquaponic dan kolam terpal, agar masyarakat pesisir yang biasa melaut dapat membudidaya ikan di darat. Dan tentu saja di kelompokku ada mahasiswa ahli dari fakuktas perikanan.


"Sudah lengkap semua kan?"Adnan bertanya. Mereka semua mengangguk mengiyakan.


"Ok. Jadi kita mulai rabu depan ya? Karena senin-selasa fokus proker individu dulu."ujar Adnan.


"Siap boss."seru kami serempak.


☆☆☆


Hari telah memasuki senja. Matahari berangsur-angsur pergi meninggalkan langit warna jingga. Angin berhembus kencang dari arah timur laut.


Malam ini tibalah acara adat tahunan desa yang akan dimulai pukul 8 malam.


Kami telah bersiap-siap sejak awal, agar datang tepat waktu meski pun lokasinya cukup dekat dari posko kami.


Dan karena kami adalah mahasiswa sekaligus tamu, jadi kami sepakat untuk memakai baju PDH (Pakaian Dinas Harian) KKN saja. Biar kelihatan mahasiswa bangetlah, hehe.


Meski pun memakai baju PDH, aku juga harus berdandan sedikit, mengingat Temmy akan menemuiku malam ini.


Kabar terakhir dari Temmy bahwa dia sudah tiba diperbatasan desa, dan mungkin dia akan tiba pukul sembilan malam atau lewat dari itu. Its okay, aku akan sabar menunggu.


Detik berganti menit dan menit berganti jam. Sudah hampir pukul delapan malam, tiga puluh menit lagi acara akan di mulai. Suara musik khas jawa terdengar sampai ke posko.


Kami semua pun pergi ke tempat diadakannya acara dengan berjalan kaki saja.


Hanya butuh waktu sekitar dua menit saja kami akhirnya pun sampai di tempat acara.


Dari jarak sedekat itu kami dapat merasakan suasana meriah acara yang padahal hanya diadakan di sebuah desa.


Banyak warga desa yang hadir disana, bahkan ada beberapa turis yang ikut hadir disana.


Kami terpesona. Ini benar-benar mengagumkan. Seperti sebuah festival musimam. Banyak diantara mereka yang memakai baju adat khas desa itu, sebuah panggung hiburan tembang sinden dan musik dangdut, dan belum lagi sebuah perahu berukuran cukup besar yang terbuat dari pelepah pisang dan bambu-didekorasi sedemikian uniknya yang nanti akan dihanyutkan ke laut.


Kemudian, datang seorang lelaki paruh baya berpakaian dinas dengan blankon di kepalanya dan di dampingi oleh seorang wanita muda cantik yang berusia sekitar 20-an tahun, memakai kebaya kutu baru beludru menghampiri kami.


"Selamat datang, adik-adik KKN. Terimakasih sudah sudi mampir kesini."kata lelaki yang ternyata adalah seorang Kepala Desa itu. Dia berbicara dengan logat jawa medok yang lembut.


Kami tersenyum agak canggung. Kami sangat merasa terhormat diperlakukan begini.


"Terimakasih kembali, pak. Karena sudah mau menerima dan mengizikan kami untuk KKN di desa bapak. Penduduk di sini juga sangat ramah kepada kami."ujar Adnan tanpa canggung sedikit pun.


Mungkin kerana dia sudah terbiasa berbicara di depan banyak orang dan bertemu beberapa tokoh penting. Maklum dia dulu pernah menjabat sebagai ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yaitu organisasi mahasiswa intra kampus yang merupakan lembaga eksekutif di tingkat pendidikan tinggi.


Mengenai lokasi di adakannya KKN, ini adalah ide dari kerabat Adnan. Dia merekomedasikan desa ini sebagai tempat yang strategis untuk menyalurkan berbagai proker karena menurutnya di desa ini banyak sekali potensi-pontesi alam mau pun manusianya yang perlu dikembangkan. Meskipun berada di daerah pesisir yang jauh dari kota, namun desa ini juga banyak di lalui oleh kapal-kapal barang sehingga banyak orang singgah untuk sekedar istirahat. Ditambah lagi warga desanya banyak yang sudah mengerti teknologi modern.

__ADS_1


"Iya. Maaf kalau ada yang dirasa kurang berkenan, maklumlah desanya dipinggiran laut sekali. Moga-moga kalian betah dalam melaksanakan titah kampus kalian."


Kami mengangguk.


Mataku tertuju pada Fadil, entah karena terlalu terpana dengan kecantikan wanita muda disamping bapak Kepala Desa itu, sehingga membuatnya untuk memberanikan diri bertanya sambil malu-malu.


"Pak? Ini anaknya ya?"


Baik Kepala Desa mau pun wanita muda tadi saling berpandangan dan tersenyum malu-malu. Sedangkan Adnan dan yang lainnya melotot pada Fadil. Kenapa dia bertanya demikian? Apa dia tidak tahu siapa wanita itu? Sebagian dari kami mengatubkan mulut rapat-rapat menahan tawa.


Aku yang berada persis di samping Fadil lantas menyenggol-nyenggol lengan lelaki sengklek itu. Berharap dia mengerti kode dari ku.


"Salah pertanyaan."kataku bisik-bisik.


"Ah?"wajah Fadil tampak bingung dengan maksudku. Dia benar-benar telmi (telat mikir).


"Ehem."Ari berdehem agak keras. "Bloon-nya kumat dah nih anak."suara Ari tertahan geram di mulutnya.


Melihat tingkah kami, membuat lelaki paruh baya tadi kembali tersenyum, kali ini senyumnya mengeluarkan suara.


"Oh. Ini istri saya. Namanya Cendrawasih."ia memperkenalkan identitas wanita tersebut.


"Oh." Fadil mengangguk polos. Kemudian dia terlonjak kaget.


"HAH?"Fadil yang baru saja mengetahuinya begitu sangat terkejut. Dia menundukkan kepala karena malu dan merasa sudah lancang bertanya.


"Yo wis, mari kita duduk, sebentar lagi acara akan dimulai. Monggo?"ucap Kepala Desa.


Kami di arahkan menuju kursi yang terletak berdampingan dengan Kepada Desa dan jajarannya. Benar-benar tersanjung.


Sebelum memasuki acara, pertama-tama acara di buka dengan kata sambutan oleh Kepala Desa tentunya, pembacaan doa, kemudian dilanjutkan dengan Tari Reog. Tarian yang sangat epik ini dibawakan oleh beberapa wanita dan pria, terdiri dari delapan orang yaitu empat lelaki dan empat wanita.


Tarian ini termasuk salah satu tarian yang memiliki durasi lama. Sambil menikmati acara kami disuguhi berbagai hidangan lezat dan menggugah selera.


Dan sebelum acara ditutup, para warga mendorong perahu yang terbuat dari pelepah pisang dan bambu tersebut hanyut ke laut.


Itu merupakan wujud doa keselamatan bagi pelaut dan rasa syukur atas harta melimpah yang telah disuguhkan dari Sang Pencipta pada warga setempat.


Perlahan, usainya acara maka pulanglah semua warga kembali ke rumah masing-masing


Adanan yang habis berpamitan dengan Kepala Desa, datang menemui kami.


"Ok gaes, kita balik."ujar Adnan sambil berjalan lebih dulu.


Kami pun mengekori langkah Adnan.


Drtt drttt drtttt


Ponselku bergetar menerima pesan. Sambil jalan, aku menbuka pesan yang ternyata dari Temmy.


[Almost there ♥️]


Aku tersenyum. Lalu berhenti melangkah. Aku memanggil pelan nama Adnan.


"Apa?"katanya seraya mendekat.


"Aku balik ke posko-nya agak telat ya? Temmy udah deket soalnya."kataku malu-malu.


Dia tersenyum tampak menggodaku, "Ciee, yang mau ketemuan, hehe. Ok. Tapi jangan malem-malem, nggak enak sama warga. Lu paham kan?"


Aku mengangguk.


"Dia tahu kalo lu di pantai?"

__ADS_1


"Tahu. Aku udah share maps ke dia."


"Ya udah kalo gitu. Hati-hati, ya?"


Adnan dan yang lainnya pergi meninggalkan aku sendiri di pantai.


Aku berjalan mendekati kursi acara tadi-yang belum disimpun, yang masih tergeletak disana. Laku aku duduk diantara kursi tersebut sembari bersenandung kecil. Sesekali aku menggesek kedua telapak tnaganku untuk membuatnya hangat. Anginnya dingin sekali. Bajuku tidak terlalu tebal untuk menghalau hawa dingin.


Berada di pantai sendirian tidak membuat aku cemas sedikitpun. Karena masih ada cahaya lampion yang masih menyala dari sisa acara tadi. Juga ada beberapa rumah warga disekitar pantai yang lampu rumahnya masih menyala.


Aku mengecek jam di ponselku, sudah hampir pukul dua belas malam. Aku berharap Temmy cepat datang. Aku bisa mati membeku kalau terlalu lama terkena angin disini.


Kemudian aku beranjak dari kursi, melangkah menuju tepi pantai yang sedang air pasang. Aku memejamkan kedua mataku. Berharap Temmy segera datang dan memelukku agar hangat.


Benar saja, dengan di iringi suara debur ombak aku seperti merasakan kehangatan dari sebuah pelukan. Benar-benar hangat. Aku tersenyum merasakan dua buah tangan yang melingkari pinggangku. Lalu ku buka mataku, ku lihat tangan itu tengah erat memelukku.


Akhirnya Temmy datang juga, bathinku.


"Harusnya kamu datang lebih cepat, biar aku nggak kangen terus."ujarku.


Aku lantas bermaksud berbalik badan hendak melihat wajah Temmy. Pelukan tadi juga agak melonggar sehingga aku bisa memutar badanku. Namun aku terkejut begitu tahu siapa sosok yang sedang memelukku itu.


"Mas Dito?"


Aku bengong sesaat. Bagaimana bisa dia kemari? Kemana Temmy? Kenapa harus Dito?


Aku melepaskan diri dari pelukan itu, aku melangkah mundur.


"Maaf bikin kamu kaget."kata Dito.


"Mas ngapain ada disini? Maksudnya kok bisa Mas kesini?"


"Ibu kamu yang kasih tahu aku kalo kamu KKN disini, Ta. Dan aku melacak keberadaan kamu pake maps."


HAH?! Sampai segitunya? Aku bengong.


"Kenapa nggak bilang kalo mau kesini?"


"Mau kasih surprise."


Iya, kehadiran Dito yang mendadak itu begitu membuatku surprised.


Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Haruskah aku senang atau sedih di datangi seorang lelaki tampan di pantai? Tapi lelaki itu bukan yang aku harapkan.


Aku mau Temmy.


"Aku kangen banget sama kamu, Ta."


Dito datang mendekati ku, aku pun melangkah mundur lagi namun aku telat menghindar saat kedua tangannya mencengkram lembut leherku sembari mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Mas-"


Ucapanku terputus ketika Dito telah menempelkan bibirnya di bibirku. Hanya menempelkan saja, tapi itu membuatku terkejut dan terdiam sesaat. Mataku melotot.


Aku sangat marah bercampur bingung. Di saat Dito menarik bibirnya dariku, saat itulah aku berniat hendak memakinya tapi hal itu tidak jadi aku lakukan lantaran Dito keburu merebahkan kepalanya di pundakku.


"Loh? Mas?"aku mendorong dadanya agar menjauh dariku. Tapi Dito tidak bergerak juga. Terdengar suara nafasnya tersengal-sengal seperti habis lari marathon saja.


Aku memasang gaya kuda-kuda, berusaha menahan beban tubuh Dito.


Aku mulai sadar Dito tengah pingsan saat tubuhnya terjatuh lunglai diatas hamparan pasir pantai.


Aku masih bingung, namun jadi panik. Segera saja aku mengguncang-guncang tubuh Dito.

__ADS_1


Apa dia kelelahan setelah perjalanan jauh kesini tanpa istirahat? Atau dia memang sedang sakit?


__ADS_2