Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
23. Perpisahan


__ADS_3

☆Voting and commnting☆


Beberapa buah koper baru saja di angkut keluar oleh seorang satpam dari kamar Dito. Di kamarnya, Dito sedang mengepak sisa barang dalam sebuah koper kecil yang akan dia bawa berangkat ke Paris sebentar lagi.


"Sudah semua, Dit?" Mama masuk ke dalam kamar yang pintunya tak di tutup.


Dito menoleh sebentar dan tersenyum. "Iya, Ma."sahutnya.


Mama duduk di sisi ranjang. Melihat barang-barang yang sedang di masukan oleh anaknya itu ke dalam koper kecil tadi.


Lalu matanya beralih pada buffet minimalis di pinggir ranjang-yang mana photo ku masih terpajang di atasnya.


"Tidak mau kamu bawa?"tanya Mama.


Dito mengikuti arah pandang sang Mama. Dito menggeleng. Dia menutup kopernya dan mulai menarik resleting koper tersebut.


"Sudah menelpon Gita?"


"Buat apa? Dia sibuk?"


"Pamit."


"Nggak perlu, Ma. Dia udah tahu Dito pergi hari ini."


Mama menoleh pada Dito, "Apa kamu sedang melarikan diri?"


Tangan Dito berhenti menarik resleting koper seketika. Dia tertohok dengan pertanyaan Mama barusan.


Haruskah dia akui bahwa dia memang sedang ingin melarikan diri? Perasaannya selalu saja mengekangnya.


"Dit? Melarikan diri bukan jalan terbaik. Mau seberapa jauh pun kamu berlari, itu tidak ada gunanya kalau hati kamu masih terikat dengan Gita. Malah itu akan semakin menyiksa bathin kamu."


Dito menghela nafas. Dia kembali menarik resleting koper hingga ke ujung. Dito masih belum merespon.


"Dit?"panggil Mama lirih.


Dito bangkit dari duduknya, melangkah pergi mengambil paspor yang ada meja rias.  Dia berdiri persis di depan cermin, sembari menatap nanar bayangan dirinya di sana.


"Siapa bilang aku melarikan diri, Ma? Aku cuma ingin membantu Papa menerus kan bisnis keluarga. Cuma itu."


"Bukan karena menghindari Gita? Dit, Mama tahu siapa kamu. Jangan bohong sama Mama."


Dito kembali diam. Tiba-tiba perasaannya terasa sakit lagi. Dia menggenggam kuat buku paspor di tangannya.


Mama beranjak dari duduknya dan mendekati Dito.


Dia berdiri tepat di samping kanan Dito.


"Dulu kamu sering menolak pergi ke Paris karena ingin menjadi guru. Tapi itu hanya alasan supaya kamu bisa bersama Gita. Sekarang kamu sendiri yang meminta pergi ke Paris dengan alasan ingin melupakan Gita. Apa kamu yakin ini akan berhasil?"


Dito bergeming.


"Apa ini yang kamu harapkan?"


Wajahnya Dito menekuk ke bawah, bola matanya mulai berkaca. "Bantu Dito, Ma."ucapnya parau.


"Jangan memaksa pergi jika tidak yakin. Kamu hanya akan semakin menderita."


Langsung saja Dito berbalik badan dan memeluk Mamanya.


Dia menangis sesegukan dan kencang. Seperti anak kecil polos yang permennya habis di ambil orang.


"Bantu Dito, Ma. Tolong yakin kan aku supaya bisa lepas dari bayang-bayang Gita."


Mama membelai lembut punggung Dito.


"Semuanya tergantung kamu. Mau lepas atau tetap bertahan. Mama hanya bisa berdoa pada Tuhan agar kamu di berikan jalan yang terbaik."

__ADS_1


"Apa aku bisa, Ma?"ujar lirih seraya menahan tangis.


☆☆☆


Usai menyerahkan salinan draf proker individuku tentang 'Pelatihan Penyusunan Perencanaan Pembangunan Desa',


di kantor desa, aku kembali ke posko seorang diri. Sedang yang lainnya ada yang masih melanjutkan proker individu kemarin dan ada juga yang sedang mengerjakan laporan di posko.


Aku tidak langsung masuk ke dalam, aku memilih duduk di kursi kayu panjang yang ada di teras posko.


Pikiranku rasanya kacau sekali, ada saja hal mengganjal yang tengah aku fikirkan.


Kemudian, lamunanku buyar ketika ponselku berdering menerima panggilan dari Lena. Begitu telponnya ku jawab Lena langsung menceramahiku karena aku sulit dihubungi beberapa hari ini. Lalu aku jelaskan mengenai kondisi tower kemarin.


"Bikin khawatir aja lu, Git. Kirain kenapa."


"Towernya cuma satu di sini jadi maklum aja ya, Nyonya Patrick." Kataku menggodanya. Sebisa mungkin aku menyamarkan suara ceriaku.


Lena langsung tersipu malu. Dia begitu sangat bahagia sekarang. Dia katakan padaku bahwa  Erik dan keluarganya telah datang melamar kemarin. Ia menjerit kegirangan.


"Rencananya kita akan menikah dua bulan lagi."ujar Lena.


"Selamat ya, Kak. Aku turut seneng untuk kalian."


"Thanks. Oh ya, Lu mau jadi brides maids gua nanti nggak?"


Aku berfikir sejenak. Kalau aku bilang tidak, pasti Lena akan kecewa tapi kalau aku terima, aku sendiri kurang percaya diri. Aku belum pernah menjadi brides maids sebelumnya.


"Mau?"tanya Lena lagi.


"Emm, iya deh."sahutku ragu.


"Ok. Tenang, lu nggak sendirian. Ada Temmy yang bakal jadi groomsmen kok."


Temmy? Sudah hampir satu minggu aku tidak berkabaran dengannya. Telponku tidak pernah di angkat setelah kami gagal bertemu di pantai malam itu. Pesanku juga tidak pernah di balas. Ada apa sebenarnya?


Dan baru saja aku hendak menanyakan soal Temmy pada Lena, tapi dia keburu menutup telpon.


"Nanti gue hubungin lagi ya, Git? Ada urusan bentar."


"Mm."kataku lirih. Sambungan telpon pun berkahir.


Mendadak aku melow. Aku merasa seperti di jauhi oleh semuanya. Pertama, Temmy tiada kabar. Kedua, Dito pergi ke Paris lalu sekarang Lena dan Erik akan segera menikah, aku di tinggalkan dalam kegusaran.


Bagaimana denganku? Adakah yang mengerti masalah hatiku sekarang?


Ku tundukkan kepala, air mataku langsung tumpah. Kenapa aku menangis lagi? Kenapa aku sangat cengeng?


"Nangis aja sampai perasaan lu lega."tegur suara seorang lelaki padaku. Merasa ketahuan, cepat-cepat ku hapus air mataku dan mendongakkan kepalaku-melihat si pemilik suara.


"Adnan?"gumamku lirih. Adnan tersenyum padaku. Kemudian ia duduk di sebelahku. Dia baru saja keluar dari dalam posko.


"Jangan di pendam. Nggak baik buat mental lu."


Aku menoleh ke samping. Agak malu juga ketahuan menangis begini. Apalagi Adnan adalah lelaki yang sangat peka. Dia pasti sudah tahu masalahku.


"Nangis aja, jangan di tahan."katanya lagi.


"Berisik."sahutku ketus. Aku mulai berhenti menangis


Dia tersenyum simpul. Dia tidak tersinggung atas ucapanku tadi.


"Dalam suatu hubungan itu memang harus ada rasa pahitnya. Yang manispun bisa jadi hambar. Kita bisa membuat kisah tapi kita nggak bisa mengatur cerita kita."


"Begitu?"tanyaku tanpa menoleh padanya. Aku masih malu untuk menoleh.


"Ya... berdasarkan pengalaman pribadi sih begitu. Jadi gua sedikit paham situasi lu."

__ADS_1


Aku menoleh pada Adnan, seperti tertarik mengenai argumennya. "Cinta segi tiga?"tanyaku lagi.


Dia kembali tersenyum. Kali ini tampak malu-malu. Dia cukup ragu mengatakannya. Matanya menatap lurus ke depan.


"Bisa dibilang gitu sih. Dulu, gue juga pernah suka sama seseorang tapi nggak berani nembak. Gua takut di tolak. Apalagi itu cinta pertama gue. Gue cuma bisa liat dia dari jauh, itu... udah buat gue seneng. Dia suka sama seseorang tapi nggak di anggap, dan yang yang bikin gue kesal kenapa dia mau bertahan sama cowok seperti itu. Tapi gue nggak punya hak buat ngatur dia mau sama siapa aja." Adnan menghentikan kisahnya sejenak. Dia menghela nafas ringan.


Aku cukup kaget mengetahui kisah cintanya dulu seperti apa. Aku tidak begitu akrab dengannya jika di kampus karena kami memang beda kelas. Kami hanya bertemu sesekali dan saling menyapa begitu saja.


Akupun baru tahu bahwa lelaki yang tidak banyak bicara namun selalu bersikap dewasa ini ternyata mempunyai kisah cinta yang pahit.


Aku sedikit penasaran, jadi aku bertanya saja.


"Terus, selanjutnya gimana? Kamu berhenti suka sama dia?"


Adnan tidak langsung menjawab. Dia menundukkan wajahnya ke bawah. "Masih suka."ujarnya lirih.


"Mmm. Sejak kapan?"


Adnan mengangkat wajahnya dan kembali menatap lurus kedepan.


"Sepertinya... 2 tahun? Atau lebih. Entah, gue nggak ingat sejak kapan gue suka sama dia nggak bisa berhenti buat suka sama dia. Waktunya begitu cepat."


"Apa kamu masih ingin berjuang buat dia?"


Adnan menggeleng pelan. Wajahnya tampak begitu tidak yakin.


"I dont know. Gue cuma ngikut alur . Dan mungkin setelah itu gue bakalan memilih untuk mundur di waktu yang tepat."


Aku menghela nafas dan diam.  Kisah yang di ceritakn oleh Adnan begitu tidak asing bagiku. Menunggu dan berjuang, itu hal yang menyakitkan. Persis seperti Dito yang menunggu dan terus berjuang tapi perasaannya justru tidak terbalaskan.


"Hei, Adnan?"panggilku. Adnan spontan menoleh.


"Apa menurut kamu seseorang begitu sangat egois kalo ingin mempertahankan dua hati? Satu hati untuk pasangan dan satu hati seorang teman yang perhatian pada kita?"


Dahi Adnan mengerut, antara heran dan penasaran.


"Perasaan mana yang lebih kuat?"tanyanya.


"Maksudnya?"


"Lu mempertahankan pacar lu karena lu sayang, kan? Dan lu juga nggak mau kehilangan teman baik lu, karena  keduanya sangat berarti buat lu.


Tapi coba lu rasain, siapa di antara mereka yang selalu ada saat elu butuhkan?"


Pertanyaan Adnan membuatku jadi bingung. Perasaan siapa  yang lebih kuat? Aku tidak bisa menjawabnya. Aku sendiri tidak yakin.


Temmy adalah pacarku, aku sangat menyayanginya dan Dito adalah orang selalu ada saat aku butuhkan. Jujur, aku tidak ingin kehilangan keduanya. Apa aku egois?


"Apa aku egois?"kataku, tepat seperti apa yang aku fikirkan.


Adnan tersenyum bersuara, dia paham maksudku bahwa aku sulit menentukan pilihan untuk memilih antara pacar atau teman baikku.


"Bukan salah lu kalo nggak bisa membalas cinta seseorang. Dan nggak salah juga kalo ada yang ingin berjuang. Hanya aja, jangan terlalu mementingkan perasaan sendiri, sampai lu lupa perasaan orang lain."ucap Adnan dengan lemah lembut namun terkesan tegas.


Aku menundukkan wajahku lagi. Jadi, secara harfiah aku memang egois? Aku hanya memikirkan tentangku dan Temmy tanpa pernah mengerti perasaan Dito.


Lalu aku mengangkat wajahku yang dengan cepat sudah kembali basah karena air mata.


Adnan tersenyum padaku, kemudian dia melanjutkan kalimatnya. "Semua keputusan ada di tangan lu. Tapi yang harus lu ingat, jangan pernah memberikan harapan hanya karena elu kasihan. Itu lebih egois, Git."


Aku menatap Adnan dan mengangguk seraya tersenyum dalam tangis.


"Thanks, Nan. Aku sedikit lega."


Dia balas tersenyum. "Gue juga lega. Secara nggak langsung gue malah curhat. Thanks ya, Git?"ujarnya.


Aku hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2