![Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]](https://asset.asean.biz.id/tentang-kita--dan-dia---on-going-.webp)
☆Voting and commenting☆
Beberapa hari berikutnya, sikap Temmy sudah kembali seperti biasanya. Hanya saja tidak 100%.
Siang itu, Temmy menjemputku pulang dari kampus, setelah aku melaksanakan ujian semester.
"Mama pengen ketemu, kangen katanya."kata Temmy disela-sela obrolan kami. "Kita langsung kerumah aja gimana?"katanya lagi.
Aku mengangguk. "Ayo, kangen juga beberapa minggu ini nggak ketemu."ujarku.
"Ok, kita ke rumahku dulu ya? Habis itu kita ketemu calon mertua aku, hehe."
Aku hanya tersenyum. Syukurlah, meski pun dia sering melamun akhir-akhir ini tapi setidaknya dia bisa bersikap normal padaku seperti biasanya.
Kami pergi munuju ke rumah Temmy. Diperjalanan, aku tak banyak bicara, Temmy pun demikian.
Dia seperti sedang memendam sesuatu dan aku tak tahu itu apa.
Aku ingin bertanya tapi takut Temmy tersinggung, jadi aku biarkan saja. Mungkin dia sedang puber ya kedua kalinya, pikirku.
Tak lama, kami pun sampai di rumah Temmy. Mamanya yang muncul didepan pintu langsung menyambut dan memelukku.
"Lama banget kamu mampir? Mama kangen tahu."ujarnya agak menggerutu padaku.
Aku tersenyum simpul, "Maaf, Ma. Aku banyak kegiatan di kampus."jawabku.
Aku pun dipersilahkan masuk.
"Ibu kamu apa kabar? Sudah lama Mama nggak ketemu."
Ujarnya, saat kami telah duduk di sofa ruang tamu.
"Baik, Ma. Ibu sibuk di sekolah seperti biasanya. Nanti aku bawa Ibu kesini kalau ada waktu ,ya."
"Ide bagus. Biar keluarga kita makin dekat ya."
Aku hanya tersenyum.
__ADS_1
Mama Temmy beranjak dari sofanya, dia pergi kedapur untuk membawakan aku air minum. Aku hanya mengangguk.
"Tuh, Mama seneng banget pas ada kamu."ujar Temmy, yang duduk disampingku.
"Namanya juga lama nggak ketemu, kan?"
"Iya. Keburu Mama ngomel-ngomel minta dianterin ke rumah kamu."
Aku tertawa pelan mendengar perkataan Temmy yang mulai cerewet. Aku lega melihatnya begini.
Aku ingin memastikan lebih dalam lagi perihal sikapnya waktu di lobi mall. Tapi mungkin waktunya kurang tepat, karena saat aku hendak bertanya, tiba-tiba saja ponselnya berdering, ada panggilan masuk.
Dia memberi isyarat padaku untuk menunggu selagi dia sedang mengangkat telpon.
"Halo?"
Hanya sepatah kata itu saja yang aku dengar dari mulut Temmy, dia menjauh pergi dariku.
Tidak biasanya dia menjaga jarak bila ada yang menghubunginya.
Disaat yang bersamaan, Mama Temmy datang dari dapur membawakan dua buah gelas yang berisi Orange Juice kesukaanku dan Temmy. Temmy juga datang menghampiriku.
"Sayang, aku pergi dulu ya, bentar aja kok. Ada urusan."katanya begitu buru-buru. Dia meraih segelas Orange Juice yang baru saja dibawa oleh Mamanya itu, dan meneguknya cepat.
"Kemana? Gita kamu tinggal sendirian?" Mamanya mulai protes.
"Kan ada Mama yang nemenin."ujarnya sambil tersenyum lebar.
"Ngapain?"tanyaku.
Dan saat itulah, wajah Temmy berubah kebingungan.
"Mm, a-ada urusan. Sama Erik."
Aku mengangguk saja. Temmy akhirnya pergi.
☆☆☆
__ADS_1
Selesai mandi, aku duduk di meja riasku. Ku lihat pantulan bayanganku dicermin, wajahku tampak sedih dan muram.
Aku mencopot handuk yang melekat diatas kepalaku sambil menggosok-gosokkan rambutku untuk dikeringkan.
Tak berapa lama, ponsel ku berdering, sebuah panggilan masuk.
Aku pun beranjak dari meja riasku dan meraih ponsel ku.
Panggilan itu dari Temmy.
"Hai."suara Temny di seberang. Suaranya terdengar tetap riang.
"Iya. Ada apa?"tanyaku agak lemas, lalu duduk diatas ranjang.
"Maaf ya buat kamu jadi nunggu lama di rumah."kali ini nada suaranya lirih, dia seperti menyesal.
"Nggak apa-apa kok. Toh diantar sama supir juga."
"Tetap aja aku nggak enak, loh. Tadi siang aku harus temani Erik kekampus, soalnya jadwal sidang skripsi kita tabrakan jadi harus atur ulang jadwal."
Iya aku tahu, selain bersahabat, Temmy dan Erik adalah teman satu kampus juga. Dan 2 minggu lagi mereka akan menggelar sidang.
Tapi bukan itu masalahnya. Aku tidak yakin apa motifnya sehingga Temmy berbohong padaku, yang jelas aku kecewa.
Siang tadi, saat Temmy meminta izin untuk bertemu Erik dikampus, aku langsung mengirim pesan pada Erik, apa benar dia mengajak Temmy untuk bertemu atau tidak.
Wajah panik Temmy tadi siang lah yang membuat aku curiga ada sesuatu yang aneh padanya. Masa hanya bertemu denga Erik dia tampak gelisah? Itu tidak masuk diakalku. Apalagi sejak kejadian di lobi mall, Temmy bersikap sangat aneh.
"Mmm, Tem, aku-"
Belum selesai omonganku, Temmy sudah memotongnya dengan cepat.
"Sayang, nanti aku telpon lagi ya? Erik nelpon nih."
Aku sedikit kesal dibuatnya tapi tetap saja aku mengiyakan dan menutup telpon.
Ada apa sebenarnya?
__ADS_1