![Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]](https://asset.asean.biz.id/tentang-kita--dan-dia---on-going-.webp)
☆Voting and commenting☆
"Sorry ya, Git. Gua nggak bisa ikut nganterin lu berangkat KKN."sesal Lena di seberang telpon. Dia menelponku setalah aku menghubungi Ibu di rumah.
"Iya, kak, nggak apa-apa kok. Ada Temmy yang nganterin. Lagian kakak juga nggak di Surabaya."kataku memaklumi ketidakhadiran Lena lantaran sedang pergi berkunjung kerumah orangtua Erik di Jakarta.
"Gara-gara Erik tuh, ngajak pergi mendadak." ujarnya sedikit mengomel. Aku tertawa kecil mendengar ocehannya itu.
"Namanya juga persiapan mau melamar, kan? Jadi-"
"Apa? Melamar siapa?"Lena tampaknya terkejut dengan ucapanku barusan. Aku juga tidak kalah terkejutnya dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Aku ceplosan.
Aku memukul kepalaku karena merasa bodoh sudah mengatakan sebuah rahasia penting dari Erik.
"Git? Gita?"Lena memanggil namaku berkali-kali. Aku belum berani menyahutinya. Aku takut salah bicara lagi.
"Kak?..."akhirnya aku mulai berani bicara kembali.
"Kalo aku bilang ini, kakak harus harus janji dulu ya? Jangan kasih tahu kak Erik."
"Apaan? Gua penasaran?"ujar Lena tak sabaran.
"Tapi janji dulu."pekikku.
"Iya, gua janji. Kasih tahu ke gue. Cepetan!"Lena mendesakku.
Aku menghela nafas panjang. Mungkin sudah waktunya rahasia ini aku ceritakan. Ceilehh.
"Kak Erik sebenarnya mau melamar kakak. Tapi aku nggak yakin, ini ada hubungannya dengan kunjungan kalian kesana atau nggak. Yang jelas-"
Penjelasanku sontak saja terputus saat ku dengar Lena menjerit kegirangan dari seberang telpon.
"KYAAAA! Sumpah lu? Ini beneran? Serius? *****, gua pengen terjun dari jendela, sumpah."
Aku tertawa kecil. Aku turut senang bila kenyataanya demikian. Tak seperti aku dan Temmy-yang menunda untuk menikah sebelum lulus kuliah, Lena malah ingin dinikahi cepat setelah lulus SMA bertahun-tahun lalu.
"Kurang ajar lu ya,Gita. Main rahasia sama gue."
Lena mengecilkan volume suaranya, takut ketahuan sama Erik yang sedang berada di ruang tamu.
"Kapan kira-kira Erik bilang gitu sma lu? Apa lagi yang dia bilang?"
"Sebelum kita merayakan ulang tahun Temmy di Bali."
"HAH? Itu kan satu tahun yang lalu? Oh my God!?"
"Tapi sebulan lalu juga kak Erik memang ada rencana mau ajak kakak ke rumah orangtuanya di Jakarta. Disana dia mau membahas hubungan kalian lebih lanjut."
Lena semakin kegirangan. Rupanya rencana Erik untuk melamarnya memang sudah terniat sejak lama, namun baru tahun ini akan terealisasi. Orangtua Erik dan Lena juga sangat dekat. Sehingga mereka selalu mendesak Erik dan Lena untuk cepat menikah, mengingat keduanya sama-sama anak tunggal.
"Wah, muka gua panas banget rasanya."
"Selamat deh kak. Moga lancar ya? Eh, tapi jangan bilang kalo aku yang kasih tahu kakak ya? Nanti malah nggak suprise."
"Iya. By the way, apa Temmy juga tahu rencana Erik?"
"Nggak. Katanya Temmy ember. Jadi cukup kami berdua doang yang tahu."
Lela tertawa renyah, "Haha. Sip, gua pura-pura amnesia aja ke Erik."
Setelah pembahasan yang cukup panjang, kami berdua saling mengakhiri panggilan telpon. Aku tersenyum lega. Aku merasa turut berbahagia untuk mereka berdua. Sahabatku juga kakak bagiku.
Tak lama setelah itu, Temmy juga menelponku.
Aku langsung sumringah.
"Tadi lagi telponan sama siapa? Lama banget."suaranya terdengar merengut manja dan kecewa.
"Kak Lena. Tadi lagi ada masalah yang di bahas."
"Soal apa?"
"Kepo? Ada deh."
Temmy berteriak gemas diseberang telpon. Aku sampai menjauhkan ponsel dari telingaku.
"Aku kangen banget sama kamu. Kasih kabar juga nggak."pekik Temmy.
__ADS_1
Aku tertawa. Namun sedikit menyesal karena tidak memberi kabar pada Temmy bahwa aku sudah tiba di lokasi KKN. Sebelumnya, aku hanya menelpon Ibu dan setelah itu kak Lena yang langsung menghubungiku sehingga aku tidak sempat untuk menelpon Temmy.
"Iya, maaf. Lagian pas dateng juga kita beres-beres posko dulu. Pas kelar aku nelpon Ibu dulu. Eh nggak nyangka kalo kak Lena yang nelpon setelah itu."
"Aku kira kamu udah lupa kalo punya pacar."
"Ih, apaan sih? Ya nggak lah, sayang. Ngawur deh."
Temmy terkekeh. Dia melayangkan ciuman jauh untukku. Aku tersenyum geli.
"Kok nggak di bales ciumannya?"
"Nggak ah, malu. Ada temen di sini."ujarku berbohong. Padahal aku sendirian di kamar. Sementara teman-temanku sedang asyik mengobrol di luar dan ada juga yang tengah pergi belanja ke toko.
Temmy mendesah berat. "Kangen."celetuknya.
"Aku juga kangen banget sama kamu. Padahal ini malam minggu."
"Oh iya? Tadi aku hampir aja dandan terus mau ke rumah kamu. Eh pas di depan pagar aku baru sadar kalo kamu lagi pergi KKN."
Aku tertawa. Aku tahu dia hanya bergurau, tapi itu membuatku bahagia. Aku jadi ingat saat Temmy pergi KKN dulu, dia setiap saat selalu menelponku. Semua kalimat yang dia ucapkan selalu berulang-ulang, "Aku Kangen Banget Sama Kamu", membuatku menjadi meleleh dan pastinya merindukannya kembali.
Andai dia tahu kalau sekarang aku ingin sekali memeluknya. Sangat ingin. Jantungku berdetak kencang tiap mendengar suara lembutnya yang bilang rindu padaku.
"Sabar, ya?"kataku lirih.
"Nggak bisa. Beneran kangen."
Aku menghela nafas. Ku utak-atik galeri ponselku. Aku mengiriminya photo terbaruku siang tadi.

Begitu notifikasi pesannya berbunyi, Temmy langsung membukanya.
Dia tertawa melihat tampilanku dalmm photo yang memakai helm tua.
"Tukang ojek dari mana tuh?"
"Enak aja tukang ojek. Itu tukang antar pizza, pak."
"Nggak ah, photo lama. Yang baru dong?"
"Nanti tambah kangen?"godanya.
"Oh, gitu?"aku kembali mengiriminya sebuah photo. Dalam photo itu, kedua mataku menyipit, seperti melihat sesuatu yang silau.
Temmy kembali tertawa. Semua potret diriku tidak ada yang keruan.
"Udah ah, photoku jelek."
"Emang jelek."
"Kok mau?"
"Nggak tahu. Kamu pelet , ya?"
"Dih, mending aku pelet Chrish Hemsworth."
"Gantengan juga saya, Bu?"
Aku kembali tertawa.
Lalu, aku menoleh kearah pintu kamar yang terbuka, para tiga orang gadis masuk sambil meneteng belanjaan pribadi mereka. Aku menghentikan celotehku pada Temmy sesaat.
"Nih, titipan lu. Pas, nggak ada yang kurang."ujar Gea, seraya menaruh satu buah plastik yang berisi titipan belanjaanku.
"Ok. Thanks ya?"kataku pada Gea. Gea hanya membalas dengan senyuman.
"Lagi banyak orang, ya? Apa kita udahan dulu telponananya?"ucap Temmy.
Aku masih rindu padanya, tapi benar juga, tidak mungkin aku telponan dengan suasana yang cukup ramai begini.
"Maaf ya? Next time deh."
__ADS_1
"Iya. Kamu janga kesehatan ya. Jangan kebanyakan begadang."
"He-em."
Temny melayangkan ciuman jauh lagi dan membuatku tersenyum geli.
"Bye!"
Kami berdua pun sama-sama menutup telpon.
☆☆☆
Dito termenung di kamarnya. Di duduk bawah ranjangnya dengan menggenggam sebuah figura photo berukuran 4R.
Dilihatnya figura itu dengan sayu. Matanya tampak sembab, seperti habis menangis.
"Aku kangen banget sama kamu,Ta."suaranya bergetar, menahan tangisan. Ternyata rindu ini, bukan hanya rinduku pada Temmy, tapi juga rindu Dito kepadaku.
Ceklek
Bunyi pintu dibuka.
Dito mengangkat kepalanya, melihat tamu yang masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Ternyata adalah Mamanya.
Dito menunduk kembali, membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Tangannya masih memegang figura tadi.
Wanita paruh baya itu menghela nafas berat, merasa prihatin dengan kondisi sang anak yang demikian.
Di dekatinya Dito, lalu ia duduk diatas sisi ranjang. Tangannya membelai lembut rambut Dito.
"Ikhlaskan, Dit. Gita mungkin bukan takdir kamu."katanya lirih. Dito bergeming.
"Mau sampai kapan kamu begini? Apa kamu tidak paham-paham juga? Gita itu milik orang lain. Ikhlaskan, nak."
Mama Dito mulai ingin menangis. Seperti anak kecil polos yang permennya habis di ambil orang. Dia tidak sanggup melihat anaknya bercengkrama dengan kesedihan. Tiap kali merasa sedih atau bimbang, Dito selalu saja menangis. Dengan alasan dan nama yang sama.
Padahal sebelum mengenai cinta dan wanita, Dito adalah anak yang periang. Tak pernah dilihatnya anak tunggalnya itu menangis hingga sesegukan dalam jangka waktu yang lama apa lagi sesering ini.
Namun dia tidak ingin menyalahkan aku-yang sudah membuat Dito demikian, menurutnya, adakalanya orang akan menjadi gila karena cinta dan wanita.
Ia beringsut kebawah, duduk disebelah Dito kemudian menarik Dito kepangkuannya. Dito masih menangis, namun berusaha menahannya.
"Dit?"dia kembali membelai lembut rambut Dito.
"Cinta itu bagai bunga mawar, kalau kamu menggenggamnya terlalu kuat, maka tanganmu akan terluka oleh durinya. Jangan memaksa sesuatu atas nama perasaan, gunakan logika kamu. Ini hanya akan membuat kamu menderita."
Dito masih diam. Tapi tangisannya mulai berhenti.
Di usap-usapnya potret diriku di figura yang terhalang oleh kaca bening.
Mamanya tersenyum simpul. Lalu diambilnya figura tersebut dengan perlahan dari tangan Dito. Dito hanya membiarkannya.
"Dia anaknya lucu. Mama senang sekali sama Gita. Mama dulu berharap kalau dikasih anak lagi sama Tuhan, Mama mau anak perempuan seperti Gita. Tapi sayangnya, Mama cuma bisa punya kamu, dan Mama sangat bersyukur akan hal itu. "
Dito masih belum respon juga. Mama melanjutkan lagi ceritanya.
"Waktu kamu lahir, kamu tidak menangis. Papamu sampai panik gara-gara matamu masih terpejam. Lalu Papamu meluk kamu sambil memberi nafas buatan, berharap kamu segera membuka mata. Beberapa menit Papamu melakukannya, tapi kamu belum juga membuka mata. Dokter bilang kamu kritis. Papamu akhirnya menangis sambil memeluk kamu.
Dan Puji Tuhan, akhirnya kami mendengar suara tangisan kamu untuk pertama kalinya. Kamu menangis sangat kencang, sampai Papamu tertawa girang. Dari saat itu, kami berjanji akan membuat kamu selalu bahagia, apapun kondisinya."
Mamanya menghentikan ceritanya sebentar, dia menyeka butir bening yang mengambang dimatanya. Dia meletakkan figura tadi disampingnya.
"Tapi Mama malah melanggar janji itu, kamu justru sering menangis. Mama merasa gagal sebagai orangtua. Maafkan, Mama."dia mulai mengeluarkan pelan suara tangisannya.
"Tolong kamu jadi Dito seperti dulu. Mama tidak sanggup lihat kamu begini."
Dito merasa terenyuh mendengar kisah dari sang Mama. Perlahan, dia bangun dan merebahkan kepalanya di atas pundak sang Mama.
Sebagai anak tunggal, Dito memang kerap dimanja oleh kedua orangtuanya hingga sekarangpun, namun Dito adalah anak yang mandiri, dia tidak ingin terlalu bergantung pada materi orangtuanya.
Kemudian, pada saat yang bersamaan, masuklah sang Papa ke kamar, dengan senyuman hangat.
Dihampirinya kedua ibu dan anak itu, ia turut duduk disamping Dito. Tangannya menepuk-nepuk pelan pundak Dito.
"Anak Papa, tidak boleh cengeng. Ini bukan akhir dari segalnya. Papa yakin, suatu hari nanti, kamu akan menemukan seseorang yang bahkan tidak bisa tidur sebelum melihat wajah kamu."seloroh sang Papa, dengan bergurau. Mamanya tertawa kecil mendengar lelucon itu.
Dito tak berkata apa-apa, namun wajahnya tampak menyungging senyum kecil. Setidaknya, dia mulai sedikit tenang.
__ADS_1