Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
15. Doubel Date


__ADS_3

☆Voting and commenting☆


Aku dan Temmy sedang berada disuatu bioskop sebuah mall. Seperti rencana, kami akan menonton film bersama.


Temmy menggandeng tanganku sejak turun dari mobil di parkiran tadi.


Aku begitu senang, dia seperti tidak ingin melepaskan tangaku barang sebentarpun.


Kami berdua duduk disebuah kursi panjang yang ada ruang tunggu di depan pintu ruang teater. Kami sedang menunggu pintu ruangan teater untuk dibuka.


"Nggak sabar mau nonton."ujarku pada Temmy. Aku melihat dua tiket bioskop yang ada di tanganku, dengan tersenyum girang.


"Katanya, filmnya romantis banget loh? Aku udah liat review-nya di youtube."sambungku lagi.


"Oh ya? Viral banget dong ya?"tanya Temmy, sambil memegang tiket yang sedang ku pegang.


"Dalam seminggu sudah 600-an ribu orang yang menonton, loh. Fantastik banget kan?"


"Oh ya?"


"Iya. Ini sudah minggu kedua dan sudah hampir satu juta penonton loh?"


Tidak bersemangat seperti diriku, Temmy hanya memasang wajah datar. Yang aku tahu, Temmy memang tidak begitu suka dengan film genre romance, dia lebih suka genre action atau horror. Tapi karena film ini adalah sebagai permintaan maafnya-karena gagal menonton kemarin, mau tak mau Temmy menuruti keinginanku.


"Nanti juga kamu suka kok. Sekali-kalilah biar kamu tahu yang namanya romantis."


Temmy langsung menatapku dengan ekspresi heran. "Emang aku nggak romantis?"ucapnya, merasa di remehkan.


"Dikit. Makanya nonton ginian biar tambah romantisnya."


"Aku kalo romantis entar kamunya yang melayang. Aku bilang 'i love you' doang kamu-nya langsung mimisan."


"Idih, bilang gitu doang mah biasa. Dah kenyang."


"Ini lagi rame loh. Mau aku cium di sini?"


"Berani?"


"Siap takut."


Aku menggeleng cepat. Khawatir kalau Temmy beneran nekat.


"Awas ya. Ini di tempat umum."kataku mengacam.

__ADS_1


Temmy tertawa kecil. "Tadi nantangin?"


"Cuma becanda, bambang."


Aku lalu memutar pandanganku di sekeliling ruangan. Begitu ramai. Peminat film ini begitu banyak. Kebanyakan pengunjung memang dari kalangan anak-anak muda.


Namun sesaat kemudian, mataku berhenti di satu sudut. Aku seperti melihat sosok orang yang sangat aku kenal. Tapi aku kurang yakin dengan apa yang aku lihat.


Meskipun suasana saat itu ramai, tapi wajah itu sudah aku hapal, tak mungkin aku salah mengira.


"Sayang? Liatin apa-an sih?"tanya Temmy, seraya menekan-nekan pipiku dengan telunjuknya.


"Itu... Aku kayak liat Mas Dito deh."ujarku tanpa mengalihkan padanganku.


"Dito?" Temmy tampak berfikir. Mengingat nama yang tak asing di telingannya. "Oh, Dito yang waktu itu? Yang guru itu, kan?"


"Iya."sahutku. Aku lantas menoleh pada Temmy, "Tapi apa iya kalo itu dia?"


Tiba-tiba Temmy jadi tampak bad mood. Dia mendesah berat.


Tapi aku tidak menyadari hal itu. Aku hanya fokus melihat sesuatu yang membuatku penasaran.


"Kita kesana yuk?"kataku lalu menarik tangan Temmy. Temmy hanya menuruti saat aku menyeret tangannya untuk menemui sosok yang aku kira Dito itu.


"Mas Dito?"seruku, begitu kami dekat dengan sosok itu.


Dia memang Dito. Dan ada seorang gadis cantik yang sedang berdiri disampingnya. Apa mereka sedang kencan seperti kami?


Dito pun tak menyangka bila kami akan bertemu disana.


"Gita?"gumamnya sedikit kaget.


"Wow! Mas lagi kencan?"aku menggodanya. Dia tersipu malu dan diam saja.


Aku melirik gadis yang berdiri disebelahnya itu, dia tersenyum ramah padaku. Aku lalu mengulurkan tangan ku padaya, "Gita."ucapku menyapanya.


Dia menyambut tanganku, "Monika."balasnya agak malu.


"Dan ini Temmy."ujarku, memperkenalkan sosok Temmy. Temny hanya tersenyum simpul.


"Hai, apa kabar?"ucap Dito pada Temmy. Tapi menatap Dito dengan tatapan yang dingin. Dia seperti tidak suka pada Dito.


"Baik."jawab Temmy singkat.

__ADS_1


"Kita pernah ketemu deh kayaknya. Waktu di pemakaman ayahnya Gita , kan?"kata Dito. Temmy hanya mengangguk.


Suasana canggung antara dua lelaki. Tapi aku tidak menyadari hal itu. Aku terlalu sibuk dengan gadis yang baru digandeng oleh Dito tersebut.


"Nggak nyangka deh kita bisa ketemu di sini. Ini ya Yang namanya Double Date?"seruku, sangat bersemangat.


Baik Dito maupun Monika tampak malu-malu.


Tak berapa lama, terdengar suara pemandu bioskop dan ruang teater pun telah dibuka.


Temmy menarik tanganku menuju pintu antrian. Sehingga aku tidak sempat berpamitan pada Dito dan Monika.


Dan beberapa saat, tibalah giliran tiket kami yang di sobek oleh petugas penjaga pintu teater, kami berdua pun masuk kedalam ruangan.


Bisa di bayangkan, kan? Suasana di dalam ruang teater yang remang dan berisik. Jika tidak hati-hati melangkah, bisa-bisa tersandung dan terjatuh ditangga.


Letak kursi kami terletak dibagian kiri dan berada ditengah-tengah. Karena baru kami yang mengisi bagian disitu, sehingga jalannya tidak begitu sesak. Kami duduk dengan luwes dan nyaman.


sepuluh menit sebelum film di putar, ada beberapa jeda iklan yang ditanyangkan. dua orang petugas molling (mobile selling) popcorn dan minuman keliling berteriak ramah menjual popcorn yang di gendong di depan dadanya.


Dan dari sekian banyaknya pengunjung yang masuk keruang teater, tak ada satu pun yang memesan kursi di barisan kami.


Ya sudah, ini sudah takdir. Kalau aku hanya duduk berdua di barisan ini dengan pacarku. Hihihi.


Tapi aku terlalu excited, sampai aku menyadari bahwa ada dua orang pengunjung yang letak duduknya juga di barisan kami.


Aku sangat terkejut lagi pas tahu mereka adalah Dito dan Monika. Kebetulan yang sangat sempurna sekali.


Berbeda denganku, Temmy masih saja memasang wajah datar saat melihat Dito.


"Kita ini beneran Double Date,deh?"seru agak berteriak karena suara berisik iklan dari layar proyektor.


Dan kebetulan juga kalau kursi yang di pesan Dito dan Monika adalah kursi yang berada di sebelah kami. Aku mempersilahkan Dito dan Monika untuk duduk.


Dan begitu tahu bahwa Dito yang duduk lebih dulu di sampingku, Temmy langsung bangun dari kursinya lalu menarik pelan tanganku. Awalnya aku kira ada apa, tapi ternyata dia ingin bertukar posisi denganku. Dia menyuruhku untuk duduk di kursi bagiannya tadi.


Namun aku agak bingung juga. Kenapa?


Kini dia duduk bersebelahan dengan Dito. Sedangkan aku dan Monika masing-masing posisi menghimpit para lelaki ini.


Selama permutaran film, aku sangat hanyut dan menikmati setiap momennya. Begitu menyentuh perasaanku. Sementara Temmy, sesekali hanya tersenyum padaku dan menggenggam erat jemariku.


Lalu Dito dan Monika, tidak banyak yang mereka bicarakan, mereka sibuk menikmati film. Mungkin mereka masih canggung satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2