Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]

Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]
9. Benar-benar Menyebalkan


__ADS_3

☆Voting and commenting☆


Kurang lebih satu minggu lagi Temmy dan Erik akan menggelar sidang skripsinya. Aku juga sudah mulai sibuk mempersiapkan pembekalan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) dengan beberapa rekanku yang berbeda fakultas.


Karena kami merencanakan KKN di desa, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Temmy selama satu bulan lamanya, persis saat aku PKL (Praktek Kerja Lapangan) dulu selama tiga minggu lamanya. Karena prosesnya lama, itu pasti akan membuatku rindu pada Temmy.


Aku menelpon Ibu, yang sedang berada di sekolah. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan pulang agak telat, sebab banyak hal yang harus dibahas menganai rencana KKN kami.


"Gue duluan ya? Nanti kabari kalo ada yang info penting."kata salah seorang temanku, yang juga merupakan rekan KKN ku.


Saat itu kami tengah berkumpul di gazebo belakang perpustakaan kampus, didekat fakultas Hukum.


"Ok, nanti di kabarin."sahut lelaki yang merupakan ketua di KKN.


Aku juga pamit diri untuk pergi.


Niat awalnya aku hendak pulang. Tapi saat tiba diparkiran khusus motor, ada seorang wanita yang menghampiriku.


Aku kaget melihatnya. Dia ternyata adalah Angel.


"Kamu?"


"Hai! Masih ingat gue kan? Kita sebelumnya pernah ketemu di toilet mall, loh?"


Aku bengong, apa yang harus aku lakukan? Mengabaikannya? Atau meladeninya saja?


Gadis iu tersenyum ramah padaku, seperti saat pertama kami bertemu di toilet tempo hari.


"Bisa kita bicara sebentar?"tanyanya.


Aku sepertinya tidak punya pilihan lain selain meladeninya.


Kami berdua pun memutuskan untuk mampir di sebuah cafe kecil yang berada di depan gerbang kampus.


Kini, kami berdua sudah saling duduk berhadapan. Aku tampak kikuk, sementara Angel terlihat santai saja.

__ADS_1


"Mau pesan sesuatu?" dia sedang menawariku, tapi aku hanya menggeleng.


"Ayolah, nggak perlu sungkan. Gue nggak gigit kok."


Aku menatap datar padanya. Tak ada ekspresi. Tapi dalam hati aku merasa kesal. Mungkin karena dia adalah mantan pacarnya Temmy.


Menurutku dia sangat cantik, modis dan berkelas. Pantas Temmy hampir gila saat di tinggal pergi olehnya, kataku membathin.


Aku menghirup napas, lalu membuangnya perlahan. Aku seperti sedang berurusan dengan dosen killer.


"Langsung saja keintinya!"ujarku kemudian.


Sebelum menjawabku, terlebih dulu Angel menaikan sebelah tangannya diatas meja. Jari-jarinya mengetuk meja, seperti sedang menekan tuts-tuts piano.


"Bisa? Gue ambil balik Temmy?"katanya dengan tenang tanpa ragu sedikit pun.


Duarrr!!


Aku langsung emosi dibuatnya. Apa-apaan ini?


"Kamu sedang ngigau? Jangan berharap lebih."ucapku akhirnya. Nada suaraku jadi ketus padanya.


Angel tersenyum simpul. Wajahnya tampak tenang saja. Itu membuat aku kian kesal.


"Tidak mudah kan bersama Temmy?"


"Apa?"


"Sudah beberapa tahun berlalu, apa lu pernah nanya soal keseriusannya sama lu? Apa pernah dia bilang akan nikahi lu? Pernah?"


"Jujur, aku nggak paham apa yang kamu maksud. Tapi yang jelas, aku dan Temmy baik-baik aja. Kami bahagia."


"Lu yakin?"


"Iya. Bahkan sangat yakin. Kami sepakat akan menikah setelah lulus."

__ADS_1


"Begitu?"


Dia menarik tangannya. Melipat kedua tangannya di dada.


Dia menatap remeh padaku. Senyumnya juga sangat licik.


"Lu nggak ada niat buat nanyain hal yang sama ke Temmy?"


"Soal apa?"


"Tentang hubungan kalian. Lu itu terlalu naif ya, Git?"


Mataku terbelalak saat dia menyebutkan namaku tadi.


Dari mana dia tahu namaku? Dan juga aku baru sadar kenapa dia bisa menemui aku di kampus. Tahu dari mana?


"Kamu stalking aku? Sebegitu tahunya kamu soal aku."


"Aku tahu segalanya. Bukannya itu menakjubkan?"


"Tujuan kamu sebenarnya apa? Temmy?


Angel mengangguk pelan. "Sudah jelaskan?"ujarnya.


Mulutku sedikit ternganga karena jengkel. Perempuan ini benar-benar ular. Wajahnya berbanding terbalik dari sifatnya.


Bagaimana bisa dia hendak merampas Temmy yang jelas-jelas adalah pacarku?


Perlahan, Angel berangsur dari duduknya. Meraih tas tangannya yang ada di atas meja.


"Kalo ada waktu kita ngobrol lagi ya?"katanya, sebelum pergi meninggalkan aku dan juga kekesalanku.


Kurang ajar! Dia menemuiku hanya untuk mengatakan hal konyol itu? Kau kira Temmy paketan barang yang semudah itu kau ambil dari ku? 


Aku benar-benar kesal.

__ADS_1


__ADS_2