![Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]](https://asset.asean.biz.id/tentang-kita--dan-dia---on-going-.webp)
☆Voting and commenting☆
Demi menjaga hubungan kami, Temmy rela mengganti nomor telponnya dengan yang baru. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi diantara kami. Lebih tepatnya, agar Angel tidak bisa menghubunginya lagi.
Aku bahagia telah berbaikan dengannya. Jadi kami memutuskan untuk pergi menonton malam ini.
Aku memilih baju-baju terbaikku,yang akan aku pakai saat kencan dengan Temmy. Ku bongkar semua pakaian dari lemari sehingga kamarku begitu berantakan, pakaianku berserakan di tempat tidur dan lantai.
Aku berdiri didepan cermin, mencocokkan baju yang akan ku pakai nanti.
"Aduh Gusti, berantakan pisan iyeu, neng? Kayak kapal pecah."celetuk Ibu, saat melihat kamarku yang berantakan akibat baju-bajuku yang berserakan.
Aku tertawa kecil, "Ya maaf. Habis bingung mau pake baju apa malam ini."kataku malu.
"Oo..''Ibu duduk disisi ranjangku. "Pergi kemana?"tanyanya.
"Nonton."sahutku, masih sibuk memilih baju.
Ibu tersenyum senang. Dia lega aku sudah berbaikan dengan Temmy.
"Ibu seneng liat kalian akur begini. Semoga ke depannya nggak ada kejadian seperti ini lagi, ya?
Aku diam sejenak. Ku hentikan aktivitasku di depan cermin.
Aku berbalik badan, lalu mendekati Ibu.
"Iya, Bu."aku memeluk Ibu. "Ini juga salah Gita. Harusnya Gita dengerin penjelasan Temmy lebih dulu sebelum menuduh dia."
Ibu mengusap-usap rambutku, "kalau ada masalah, kalian harus selesaikan secara dewasa dan kepala dingin. Kalau nggak, nanti kalian sendiri yang akan rugi."
"Iya, Bu. Gita paham."
Obrolan kami terganggu, ketika ponselku berdering. Ada panggilan masuk dari Temmy.
"Ibu tinggal dulu ya."
Aku mengangguk. Ibu kemudian keluar dari kamar.
"Aku jemput sekarang ya?"kata Temmy, saat telpon sudah tersambung.
"Oke. Jangan telat ya?"
"Oke, Princess."
Setelah saling menutup telpon, aku buru-buru berdandan. Karena rencananya kami akan menonton di bioskop, aku memilih pakaian tebal seperti sweater rajut dan celana jeans, yang dipadu padankan dengan sepatu kets.
Setelah merasa puas melihat penampilaku di cermin, aku keluar kamar dan menunggu Temmy di ruang tamu untuk menjemputku.
Kemudian...
Hampir 30 menit aku menunggunya, tapi Temmy belum juga muncul.
Lalu satu jam, belum ada kabar.
Lalu 1,5 jam, masih tanpa kabar.
Aku gelisah. Tidak biasanya Temmy setelat ini jika sudah janjian bertemu. Aku sudah mengiriminya pesan tapi belum di balas-balas juga, lau aku coba menghubunginya tapi nomornya tidak aktif.
Aku berdiri-duduk-berdiri-dan-duduk lagi, melihat kalau-kalau mobil Temmy sudah ada di depan pagar rumahku.
Tapi nonsense. Kemana sebenarnya Temmy?
Aku berharap dia baik-baik saja.
Ku lirik jam di tangan, sudah hampir pukul sembilan malam.
"Kamu kemana sih?"gumamku cemas.
Lalu ponselku berdering, sebuah panggilan masuk dari Dito.
Aku pun menjawabnya.
"Iya, Mas? Ada apa?"tanyaku
"Kamu sibuk nggak?"
"Anu mas... sebenarnya ada urusan sih tapi..." aku menghentikan kalimatku. Aku ingin bilang akan pergi bersama Temmy malam ini, tapi Temmy sendiri belum terlihat batang hidungnya.
"Mau kencan, ya?"
"Mmm, gitu deh."
"Gini, Mas cuma mau kasih tahu aja kalo mobilnya udah bisa diambil. Di antar malam ini juga boleh kok. Ibu ada di rumah kan?"
"Ada kok, Mas. Cuma apa nggak ngerepotin? Nanti aku bisa ambil sendiri kok."
"Kayak sama siapa aja, Ta. Mas nggak merasa keberatan kok. Ya udah, Mas antar kesana ya. Dan... selamat kencan ya."
__ADS_1
"Thanks ya, Mas. Sudah mau aku repotin lagi."
"Hehe, iya. Mas tutup dulu ya?"
"Iya, Mas."
Fyuh, aku merasa tidak enak sama Dito. Dia terlalu baik padaku. Dan aku selalu saja merepotkannya.
Dan sambil menunggu kedatangan Temmy, aku sekalian saja menunggu Dito mengantarkan mobilku.
Tapi aku masih khawatir pada Temmy. Dia kemana sih?
Aku tidak ingin berandai-andai lagi. Aku takut kejadian itu terulang kembali. Aku tidak ingin mengambil kesimpulan yang salah. Bisa-bisa semuanya jadi kacau. Aku harus berfikir positif. Ok, positif!
Selang beberapa menit kemudian, Dito pun tiba di rumahku, dengan mengendarai mobil milik mendiang Ayahku.
Mobil itu sepertinya sudah beres, mesinnya tidak tergepoh-gepoh lagi seperti orangtua yang berjalan dengan satu tongkat.
Aku lantas memanggil Ibu. Tak lama Ibu pun keluar menghampiriku.
"Loh, nak Dito. Repot-repot sudah membawakan mobil itu."ujar Ibu ramah.
"Nggak apa-apa, Bu. Kebetulan bengkelnya mau libur dulu, jadi mobilnya harus di ambil deh."
"Makasih ya, nak Dito. Oh ya, masuk dulu, biar Ibu buatkan minum."
"Makasih, Bu. Tapi saya langsung pulang aja."
"Yakin?"kataku.
Dito tersenyum. "Iya."
Aku tertawa meledeknya. Bagaimana bisa dia pulang, sedangkan kesini saja dia pakai mobilku. Apa dia mau jalan kaki?
"Aman, Mas naik ojek yang ada didepan gang kok."ucapnya seperti tahu apa yang sedang aku fikirkan.
Aku menatapnya dengan tatapan tidak enak hati. Dito sudah berbaik hati mengantarkan mobil itu, tapi dia sendiri pulang naik ojek? Aku ingin mengantarnya pulang tapi bagaimana kalau Temmy juga datang disaat yang bersamaan? Atau tidak mungkin jika Ibu yang mengantarkannya pulangkan?
"Aku yang antar, deh. Boleh nggak?"
Aku menawarkan bantuan spesial padanya. Mungkin aku nekat mengantarnya pulang padahal ini adalah malam kencanku. Tapi tidak apa-apa, toh Temmy bisa menungguku beberapa menit saja di rumah selagi aku mengantar Dito pulang. Lagipula jarak waktu antara rumah Dito dengan rumahku cuma sekitar 5 menitan saja.
Dito terlihat ragu. "Tapi kamu kan ada ken-"
"Udah, jangan bawel. Ayo!" aku merampas kunci mobil yang ada di tangan Dito.
Sebelum masuk kedalam mobil, dia meminta kunci itu padaku dan dia kembali menjadi 'supir' ku malam itu. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Diperjalanan pulang ,Dito bertanya mengenai kuliah ku. Sudah mau KKN? Kapan rencananya? Apa ada yang bisa dia bantu? Oalah Mas, Mas. Kamu terlalu baik.
"Sabtu ini berangkat, Mas."jawabku.
"Lusa dong?"
Aku mengangguk.
"Lama nggak?"
"1 bulan 8 hari."
"Wah, enak dong ya? Cepet. Beda sama jaman Mas KKN dulu."
"Emang berapa lama?"kataku, mulai tertarik untuk bertanya.
"Hampir 2 bulan."
"Idih, nggak kebayang gimana capeknya."
Dito tersenyum. Dia membawa mobil dengan pelan.
"Oh ya, biar service mobil berapa?"tanyaku tiba-tiba.
Dito langsung memasang wajah kesal.
"Apanya?"sahutnya cuek.
"Mobil inilah. Biayanya berapa? Duit Mas Dito biar aku ganti deh."
"Kamu ini... Nggak usah aneh-aneh."tegasnya.
"Loh? Aku nggak enak loh, Mas."
"Sudahlah. Bukan hal yang merepotkan kok. Jadi jangan di bahas lagi ya?"
"Makasih ya, Mas. Aku merepotkan lagi."
"Iya, nggak apa-apa."ujarnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Menit berikutnya, aku iseng menanyai kisah cinta Dito saat masih kuliah. Karen setahuku, Dito adalah type orang yang tertutup mengenai kisah asmaranya. Awalnya dia malu ingin menceritakannya tapi karena aku memaksanya, akhirnya Dito pasrah dan menjawabnya.
"Nggak ada."katanya singkat, padat dan jelas.
"Hah? Nggak ada gimana?"
Aku tidak yakin. Orang seganteng ini nggak punya pacar atau gebetan di kampus? Nonsense.
"Iya.. emang nggak ada."ujarnya, diselingi dengan tawa kecil.
"Bohong?"tuduhku.
"Suwer. Kuliah ya kuliah aja, buat apa mikirin pacaran."
Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Lalu menggodanya, "Yakin? Tapi waktu itu Mas nembak aku. Ingat nggak?"kataku.
Dito panik seketika. Dia sampai tidak konsetrasi menyetir kemudi, sehingga mobil hampir hilang kendali untuk sesaat. Dito mengerem mendadak.
Baik aku maupun Dito sama-sama kaget. Terlebih aku yang tidak memakai sabuk pengaman.
"Tadi itu... Hampir...?"ucapku lemas. Jantungku mau copot rasanya.
"I-iya. Hampir aja."sahut Dito pelan.
Kami saling berpandangan, lalu tertawa bersamaan.
"Jangan lakukan hal ini lagi. Berbahaya."ujar Dito, berusuaha menahan tawanya.
"Habis Mas Dito lucu sih. Bikin gemes mau di isengin."
Dito lalu menjalankan mobil kembali. Beberapa saat kemudian, kami sudah sampai di depan rumah Dito.
Rumahnya cukup besar dengan halaman rumah yang luas.
"Buru-buru ya? Nggak mau mampir?"Dito bertanya, tapi sedetik kemudian dia menepuk pelan dahinya karena lupa bahwa aku ada kencan denga Temmy.
"Oh iya, lupa. Kamu kan lagi ada kencan." Ujarnya.
Dito tersenyum simpul. Dia lalu keluar dari mobil.
"Hati-hati ya, Ta?"
"Iya. Sekali lagi makasih ya , Mas? Besok-besok aku traktir deh."
Dito hanya mengangguk. Aku bergeser ke kursi kemudi dan akhirnya pergi meninggalkan Dito.
☆☆☆
Begitu aku terbangun dari tidurku, aku langsung memeriksa ponselku yang berada disamping bantalku. Berharap ada kabar dari Temmy. Karena begitu pulang mengantarkan Dito semalam, Temmy belum juga memberiku kabar. Jadi aku menunggu hingga terlelap.
Ku lihat ada lebih dari sepuluh panggilan masuk dan beberapa pesan singkat dari Temmy. Waktu panggilan dan pesan yang masuk tercantum pukul tiga malam. Aku kaget. Dengan buru-buru aku pun menelpon Temmy.
"Hallo, sayang?"suara Temmy di seberang sana. Aku merindukan suara ini.
"Kamu kemana aja sih semalam? Aku telpon nggak diangkat."omelku.
"Tadi malam pas mau kerumah kamu, ponsel aku jatuh. Terus screen-nya pecah deh. Dan kebetulan juga aku servis mobil ke bengkel dulu."
"Oh gitu ya? Aku kira kamu kenapa-napa. Syukurlah. Aku khawatir banget."
"Maaf ya. Aku lupa nelpon kamu lewat nomor rumah. Jadi buat kamu nunggu."
"Nggak apa-apa. Se-nggaknya aku tahu kalo kamu baik-baik aja."
"Ok, dan sebagai permintaan maaf, nanti malam aku jemput, gimana?"
"Kemana?"
"Kemana aja yang kamu mau."
"Ok. Aku yang tentuin ya?"
"Iya. Mau kemana?"
"Nonton."
"Film yang kemarin?"
"Iyalah. Filmnya lagi booming banget. Kak Erik sama Kak Lena udah pada nonton. Katanya filmnya bagus banget loh."
"Ok. Jam berapa?"
"Jam enam?"
"Baiklah, my princess."
Aku tersenyum. Aku ingin malam segera tiba. Aku ingin bertemu dengan Temmy karena mengingat lusa aku sudah berangkat KKN selama satu bulan lebih. Itu juga berarti bahwa aku tidak bisa melihat Temmy menggelar sidangnya. Aku dilema.
__ADS_1