![Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]](https://asset.asean.biz.id/tentang-kita--dan-dia---on-going-.webp)
☆Voting and commenting☆
Usai menonton film tadi, rasanya aku tidak ingin terburu-buru pulang kerumah. Apalagi malam ini adalah saat terakhir aku bersama dengan Temmy sebelum berangkat KKN besok pagi.
Ternyata Temmy juga memikirkan hal yang sama denganku. Dia tidak ingin menyia-nyiakan malam ini berlalu begitu saja.
Kami berdua singgah ke sebuah bukit yang terletak di pinggiran kita.
Jika melihat sedikit kebawah, maka aku seperti melihat ribuan bintang yang berkerlipan, terhampar di antara pepohonan. Begitu sangat indah. Aku seperti berada diatas awan.
"Jadi, ini yang kamu sebut bukti bintang? Kayak film Dealova?"ujarku pada Temmy seraya tersenyum.
Kami berdua tengah duduk di atas hood kap mobil, sambil menikmati sejuknya malam.
Temmy tersenyum padaku. Di rangkulnya bahuku dan di rebahkannya kepalaku di dadanya.
"Ini tempat romantis yang pernah aku datangin bersama kamu."kata Temmy.
"Oh ya? Berarti kamu sudah kesini sebelumnya dong?"
Temmy begitu ragu untuk menjawabku.
"Ya.. pernah. Dulu"kata Temmy akhirnya.
"Sama Angel?"
Temmy melirikku dengan heran. Dia menyentuh daguku, dan mengangkatnya. Aku tahu kalau Temmy akan tersinggung bila aku ungkit nama mantan pacarnya itu, tapi aku hanya ingin melihat reaksinya.
"Kamu masih marah, ya?"ucapnya lembut.
Aku membalas tatapannya dengan ekspresi yang polos. Seperti tidak perduli dengan apa yang baru saja aku lontarkan padanya.
"Marah?"tanyaku.
"Ya, soal An-" Temmy menghentikan kalimatnya. Dia tidak ingin menyebut nama Angel di depanku.
Dia mengelus-elus pipiku. "Please. Jangan rusak momen kita malam ini, ya?"
Aku tersenyum gemas mendengar ucapannya barusan. Dia seolah-olah sedang menatap seraya mengancamku dengan suara lembutnya itu.
Aku lalu mencubit pinggangnya dengan gemas.
"Bilang apa barusan? Merusak momen?"
Temmy menggeliat kegelian saat aku mencubit pinggangnya. Hampir saja ia terjatuh ke tanah sebelum aku terlambat menarik lengannya.
"Tuh kan? Hampir aja."ujar Temmy, menahan tawa.
Aku hanya cengengesan.
Temmy menghentikan tawanya. Dia memandangku dengan serius. Perlahan, dia menarikku kembali kedalam pelukannya.
Aku juga membalas pelukan itu dengan melingkari kedua tanganku di pinggangnya.
"By the way, kenapa sehabis nonton kamu langsung minta pulang? Pasti kamu cemburu ya sama Mas Dito?"tanyaku sambil menggodanya.
Tak perlu menunggu waktu lama, Temmy langsung menjawabnya dengan gamblang.
"Iya, aku cemburu banget. PUAS?"
"Aku sama Mas Dito kan nggak ada apa-apa. Kami cuma deket doang."
"Deket doang? Yakin? Dulu, kita juga awalnya 'Cuma Deket Doang', habis itu jadian. Iya kan?"
Aku berusaha mengatubkan bibirku dan menahan tawa. Aku senang bila menggodanya begini, aku suka melihatnya cemburu padaku. Dia tampak menggemaskan.
"Tapi kan kita udah liat, kalo Mas Dito ada gebetan tadi?"
"Baru gebetan? Bukan pacar, kan?"
"Ya.. dulu kita juga 'Gebetan Lalu Jadi Pacar."
__ADS_1
Temny sangat geram gemas padaku. Dia mencubit pipiku dengan cukup keras. Aku meringis kesakitan.
"Aku seneng kamu cemburu gini. Tapi Mas Dito bukan orang yang harus kamu cemburui. Dia memang baik sama aku dan Ibu. Dia itu cuma anggap aku adik."
Aku berdalih sebisa mungkin. Karena aku tidak ingin Temmy terlalu cemburu pada Dito yang baik hati itu. Aku juga tidak mau menceritakan padanya bahwa dulu Dito pernah menyatakan perasaannya padaku dan mau menungguku kapanpun. Tapi itu dulu, baik aku maupun Dito sekarang memang murni dekat layaknya saudara.
Temny mengusap-usap pipiku, lalu menciumi ubun-ubun rambutku.
"Aku pasti kangen banget sama kamu."katanya lirih.
Aku menengadahkan wajahku padanya. "Aku juga."
Dia menoleh padaku, "Kalo nggak sibuk, sering-sering kasih kabar ya? Nanti aku mati kangen, loh"ucapnya agak manja.
"Siap, Boss."
"Mmm, nanti kalo ada waktu, aku juga bakalan tengokin kamu kok. Janji!"
"Beneran?"aku sumeringah.
Temmy mengangguk.
"Janji?"aku mengacungkan jari kelingkingku di depan wajahnya.
Temmy tersenyum, lalu menjempit jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya.
"Aku janji."katanya tanpa ragu.
Mungkin karena ini momen terakhir kami untuk berdua sebelum aku pergi KKN besok, jadi aku benar-benar ingin menikmati malam ini bersama Temmy seutuhnya.
Aku terterbawa suasana. Jadi, tanganku seperti bergerak sendiri menarik pelan leher baju Temmy untuk mendekat kearahku.
Temmy tidak tampak heran ataupun bingung, dia malah mendekat dengan sendirinya.
Wajahnya mendekat tepat didepan wajahku. Dan perlahan, bibirnya menyentuh bibirku. Kami berciuman.
☆☆☆
Dito menaruh kedua tangannya di atas setir mobil yang mesinnya tidak menyala itu. Dia tampak gusar. Sementara Monika, dia begitu tampak sedih. Tapi dia memaksa untuk tersenyum.
"Jadi," Monika melirik Dito, "Itu yang namanya Gita?"
suaranya terdengar santai, walau raut wajahnya tidak selaras dengan nada bicaranya.
Dito belum menjawab. Dia menghembuskan nafasnya dengan berat. Kemudian dia mengangguk pelan.
"Iya."jawabnya singkat.
Monika mengalihkan pandangannya ke depan mobil.
"Iya, aku ngerti kok. Wajar aja kalo kamu sesuka itu sama dia. Dia anaknya ramah terus lucu. Kalo aku jadi kamu, aku juga bakalan susah lupain dia. Apalagi dia cinta pertama kamu, kan?"
Dito diam. Perasaannya jadi tidak enak terhadap Monika.
Di berfikir, kenapa dia harus menyetujui kencan buta itu dari orangtuanya kalau dia sendiri belum siap membuka hati untuk orang lain.
Kencan buta yang sudah hampir berkali-kali dia terima dari orangtua, rekan kerja bahkan temannya, dan berkali-kali pula di tolak mentah-mentah olehnya. Dia tidak ingin urusan asmaranya diikutcampuri oleh orang lain.
"Kamu jangan nggak enak hati gitu sama aku,Dit. Kita kan sebelumnya pernah ketemu juga. Aku nggak apa-apa kok."
"Aku minta maaf."ujar Dito lirih. Dia masih merasa bersalah.
Monika kembali menatapnya dan tersenyum. "Bukan salah kamu, kalo kamu belum bisa move on dari Gita. Perasaan itu emang nggak bisa dipaksa apalagi dibuat-buat. Disini, yang harusnya sadar diri itu ya aku."
Dito lantas menoleh pada Monika, dengan tatapan sendu.
"Aku minta maaf. Aku udah coba buat pengalihan hati dengan menerima kencan buta ini. Aku udah coba sebisa aku tapi aku tetap nggak bisa. Aku bahkan berfikir ini nggak akan berhasil."
Melihat Dito yang tertekan oleh perasaannya sendiri, membuat Monika jadi iba. Gadis itu menepuk-nepuk pelan pundak Dito.
"Kalo kamu emang cinta sama Gita, perjuangkan, Dit."
__ADS_1
Dito menggeleng pelan. Dia memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Memperjuangkan seperti apa? Itu nggak mungkin, Mon. Aku sadar posisiku dimana."
"Apa kamu akan berhenti sampai disini aja?"
Dito sedikit ragu untuk menjawabnya, "Mungkin."
"Bukannya kamu secinta itu sama Gita?"
"Tapi harus gimana lagi? Aku cuma berharap Gita bahagia dengan apa yang sudah dia pilih."
"Dan kamu hampir gila selama bertahun-tahun menahan perasaan kamu ke dia."
"Lantas aku harus berbuat apa? Merebut Gita dari pacarnya? Aku sudah cukup berjuang. Dan aku harus berhenti detik ini juga."suara Dito sedikit meninggi. Emosi sedikit terpancing.
Monika terdiam.
Untuk beberapa saat, keduanya kembali saling terdiam.
Dito perlahan merebahkan punggungnya ke sandaran kursi. Kepalanya terasa berat untuk berfikir. Perasaannya juga menjadi tidak keruan.
"Mustahil buat aku bisa bersama Gita. Rasanya aku hampir gila tiap kali membayangkan Gita. Semua isi kepalaku dipenuhi tentang Gita."ucap Dito kemudian. Suaranya memelan dan melembut kembali. Tapi terkesan sendu.
Monika tidak langsung menggubris perkataan Dito. Dia memilih untuk diam dulu. Dia merasa sangat kasihan pada Dito. Menurutnya perasaan Dito harus diselematkan.
"Tiap Gita tersenyum, aku juga bahagia, kalo dia menangis, aku juga bakalan sedih. Aku pantang melihat ekpresi Gita. Itu menular ke aku.
Aku emang nggak bisa menghindar dari rasa ini. Ini seperti kutukan buat aku. Mungkin kutukan ini akan berlaku seumur hidup."
"Dito?" gadis berlengsung pipi itu memanggil pelan nama Dito. Dito menoleh. Dilihatnya gadis itu tersenyum padanya.
"Perjuangkan, kalo itu memang yang harus kamu lakukan.
Selesaikan dan patahkan kutukan itu."
Dito menggigit bibir bawahnya, dia terlihat ragu.
Dia tersenyum.
"Mantranya terlalu kuat. Aku nggak bisa."
"Apa kamu mau terperangkap disana selamanya? Kamu yang mengutuk diri kamu sendiri dan terjebak terlalu dalam."
"Jika ini kutukan, maka aku berniat terperangkap disana selamanya."
"Sama halnya kamu bunuh diri."
Dito menghembuskan nafasnya perlahan. Dia memejamkan matanya dan mengusap-usap wajahnya.
Bunuh diri? bathinnya bertanya. Iya, mungkin. Tapi ini bukan hanya sekedar bunuh diri.
"Dit?"
"Sudahlah, Mon. Jangan merasa kasihan sama aku. Aku yang sudah memilih jalanku sendiri."
"Siapa yang nggak kasihan sama kamu?"suara Monika agak meninggi. Dia akhirnya kesal juga karena kepasrahan Dito.
"Kamu dan perasaan kamu harus diselamatkan. Mulut kamu memang bilang nggak peduli, tapi hati kamu? Apa kamu nggak merasa punya kesempatan untuk memperjuangkan cinta kamu? Apa kamu nggak mau mencoba lagi?"
"Dengan menjadi orang ketiga?"Dito menatap tajam.
"Dit? Cinta itu bukan hanya tentang dua orang. Tapi juga bisa untuk tiga orang dan seterusnya. Kita jadi orang ketiga bukan karena ingin merusak suatu hubungan, tapi kita harus menemukan jawaban kenapa kita bisa ada diantara mereka. Itu aja."
Monika diam sejenak. Ia mengambil nafas dan menghelanya perlahan. Nafasnya sedikit terengah-engah karena mengeluarkan suara yang keras.
"Perasaan ini bukan kita yang kehendaki, Dit. Semua mengalir dengan sendirinya.
Sama halnya kayaknya aku. Aku hampir menjadi orang ketiga antara kamu dan Gita."
Dito tak berkata apa-apa. Dia hanya memaksa tersenyum, kemudian menggeleng.
__ADS_1
"Aku memutuskan untuk menyerah sekarang."kata Dito akhirnya.