![Tentang Kita (Dan Dia) [On Going]](https://asset.asean.biz.id/tentang-kita--dan-dia---on-going-.webp)
☆Voting and commenting☆
"Gimana kalo jam tangan aja?"kataku pada Temmy, mengenai ide hadiah apa yang cocok kami berikan pada Lena. Saat itu aku dan Temmy tengah berada di galeri jam tangan.
Kami sudah berpindah-pindah dari galeri satu ke galeri yang lainnya tapi tak ada satupun barang yang sreg dihati kami.
Temmy menggeleng tak setuju. "Dia udah banyak koleksi jam. Gimana kalo tart cake?"ujarnya.
"Memangnya dia lagi ulang tahun apa?"tanyaku agak kesal "Yang lain dong."
Aku menaruh jam tangan yang baru saja ku pegang tadi.
"Kita lempar aja tart cake ke muka dia. Seru nggak?"
Aku malah kesal dengan ide konyolnya itu. Bagaimana tidak, sudah hampir dua jam kami keliling mall hanya untuk mencari kado buat Lena yang sedang sidang skripsi hari ini.
"Jangan cari gara-gara ya. Kita udah cukup lama keliling mall loh."
"Dari awalkan aku udah bilang 'kita ajak makan aja', tapi kamu nggak mau."
"Kak Erik udah siapin itu semua. Kita cuma butuh kado sekarang."
Aku mulai mengomel tidak karuan. Lalu aku keluar dari galeri dengan cepat.
Temmy pun menyusulku dengan kebingungan.
"Gimana kalo make-up?"ia bertanya sambil menggandeng tanganku.
Aku melirik padanya seraya tersenyum, "Nggak buruk. Ayo?"
Kami berdua akhirnya membeli seperangkat alat make-up saja. Dan karena sidangnya Lena digelar jam dua siang ini, aku dan Temmy memutuskan untuk pergi kekampusku.
Di lobi parkiran...
"Semoga kak Lena suka ya sama kadonya."ucapku.
"Pasti. Sekali-kali biar dia dandan. Biar Erik nggak kecantol cewek lain."
"Pikiran anda jahat."
Temmy tertawa. Lalu dia berlari kecil kearah mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk ku.
__ADS_1
"Silahkan masuk, tuan putri."
Aku masuk ke mobil sambil tersipu malu.
"Thank you."ujarku.
Setelah menutup pintu mobil dibagianku, Temmy juga bergerak kearah pintu kemudi dan bermaksud masuk tapi pandangannya tertahan disatu sudut. Dia sedang melihat sesuatu yang membuat matanya tak berkedip sekalipun.
"Tem?" aku memanggil namanya hingga beberapa kali, namun Temmy tak merespon apapun.
Aku mengikuti arah padangan Temmy, aku tak melihat sesuatu yang aneh disana.
Aku lalu memutuskan untuk keluar dari mobil dan mendekatinya.
"Sayang?"panggilku sekali lagi.
Kali ini, Temmy langsung tampak tersadar setelah aku menyentuh pipinya.
"Kamu kenapa? Lagi liatin apa sih?"tanyaku penuh rasa penasaran.
Temmy menggeleng pelan dan tersenyum kecut.
Tangannya mengusap-usap kepalaku.
"Beneran?" ucapku tak yakin.
"Suwer." Temmy menciumi dahiku. "Pergi yuk? Nanti telat."
Aku hanya menurut perintahnya tanpa menaruh rasa curiga apapun.
Tapi diperjalanan menuju kampus, Temmy terlihat agak melamun, sesekali dia menggigit bibir bawahnya dengan gelisah.
"Nanti malam jadikan?"aku mencoba membuka obrolan.
Temmy belum merespon. Aku memilih diam kembali. Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa, tapi aku urungkan.
Beberapa saat kemudian, kami pun sampai kekampus.
Kami naik lift menuju lantai tiga, dimana Lena sedang menggelar sidang skripsinya.
Disana juga sudah ada Erik dan beberapa teman mereka yang sedang menunggu Lena.
__ADS_1
☆☆☆
Malam perayaan kelulusan telah tiba. Seperti biasa, hanya kami berempat saja yang merayakannya malam ini.
"Kayaknya ada yang kurang deh."ujar Lena. Dia melihat-lihat hidangan di atas meja dapur.
"Minuman kaleng?"sahutku serasa tak bertenaga, sambil menata buah dipiring.
Ia mengedipkan matanya, "That's right!" katanya.
Ia lalu membuka kulkas, mengambil empat buah kaleng minuman. Kemudian, dia bertanya menu apa lagi yang kurang, tapi aku tak menjawabnya. Aku hanya melamun, memikirkan sikap Temmy siang tadi.
"Git? Woi,GITA."suara Lena sangat nyaring masuk kelorong telingaku. Gendang telingaku hampir berdarah dibuatnya.
Aku menghentikan perkerjaanku.
"I-iya, kak? Kenapa?"
"Harusnya gua yang nanya kenapa."
Lena berkacak pinggang seakan-akan ingin mengintrogasiku. "Ada apa sih diantara kalian? Lagi berantem?"
Aku menggeleng. Lalu mulai menata buah kembali.
"Kami baik-baik aja kok."ujarku seraya mendesah berat.
Lena tampaknya penasaran, tak semudah itu bisa mengelabuinya.
"Sini..,"dia mencengram pelan kedua pundakku. "Nggak usah bohong deh, ekspresi lu udah kebaca. Cerita ke gua ada apa."
Aku kembali menggeleng, "Nggak apa-apa, kak. Mood aku lagi error aja."
Dahi Lena mengeryit, dia tak begitu yakin.
"Ada masalah apa sama Temmy? Dia apain elu?"
Baru saja aku ingin mengelak dari kecurigaan Lena, tiba-tiba Erik sudah muncul di belakang kami.
"Sudah siap belum? Laper nih."
Lena mendengus kesal. "Sabar oncom, lagi disiapin ini."
__ADS_1
Aku merasa lega, setidaknya Erik sudah membuatku aman untuk sesi tanya jawab ini.