
Bab 17 Kenikmatan Sesaat
Dalam bab ini terdapat adegan 21+ jadi mohon para pembaca bijak dalam membacanya. Yang tidak suka boleh di skip!
Brakkk...
Tanpa Arga sadari mobil yang dikemudikannya oleng menabral pembatas jalan akibat menghindari tabrakan dengan truk.
Karena keasikan bertelepon ria dengan Rendy sehingga fokus Arga terbagi tidak kejalanan lagi.
Arga terkejut ketika dari arah berlawanan sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi ingin menabrak mobilnya sehingga dengan repleks Arga membanting setirnya sehingga menabrak pembatas jalan dan akhirnya mobilpun terpental beberapa meter dari jalan.
Disisa kesadarannya Arga masih memikirkan Salma.
"Mbak dimana kamu? Maaf aku tidak menepati janji untuk selalu menjaga dan melindungimu, dimanapun mbak berada semoga bahagia, selamat tinggal!".
Mata Arga terpejam hanya gelap gulita yang dirsakannya.
"Ga ga, jangan bercanda" panik Rendy yang mendengar kejadian benturan keras itu.
Ponselnya tiba tiba terputus, Rendy pun dengan panik cepat melacak keberadaan Arga melalui GPS.
Tanpa basa basi Rendy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang sudah terlacak melalui ponsel pintarnya.
Setelah sampai di tempat kejadian kecelakaan Arga, Rendy pun gegas turun dari mobilnya.
Di sana sudah nampak banyak sekali kerumunan orang orang yang ingin melihat kejadian tersebut.
Dengan paniknya Rendy mendekat ke mobil yang terbalik.
"Permisi permisi!, ini teman saya tolong selamatkan dia!, Tolong panggilkan ambulance secepatnya" panik Rendy yang terus berusaha membuka pintu mobil Arga yang rusak.
Manik mata Rendy menatap sosok yang ada di dalam mobil dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan berlumuran darah.
Tak lama mobil Ambulance telah sampai ditempat kejadian tersebut, tanpa basa basi para perawat yang dibantu warga mengeluarkan Arga dari dalam mobilnya.
Setelah berhasil mengeluarkannya, tubuh Arga diletakan di atas blankar dan langsung dimasukan ke dalam mobil ambulance.
Rendy mengikuti dari belakang mobil ambulance itu yang membawa tubuh Arga ke rumah sakit.
"Kamu harus bertahan Ga!, Saya yakin kamu masih kuat, kamu hutang cerita sama saya Ga" guman Rendy.
Setelah sampai di rumah sakit, blankar yang membawa tubuh Arga yang terbujur kaku langsung didorong masuk ke dalam rumah sakit.
"Dok Dok! Selamatkan teman saya apapun caranya" panik Rendy.
"Baik pak, tolong tenang dulu! Kami akan mengatasi pasien dengan semaksimal mungkin, tolong bapak tunggu di luar!" Perintah Dokter.
"Baik pak, tolong ya pak, kasih perawatan terbaik!" Harap Rendy.
"Baik pak kami akan usahakan".
Tak lama Arga pun di bawa ke ruangan IGD untuk diperiksa keadaannya.
Diluar ruangan Rendy tidak merasa ada ketenangan sedikitpun dia mondar mandir dengan raut wajah yang sangat gelisah.
Dia berharap teman baiknya itu dapat diselamatkan.
***
Dilain tempat, setelah melabrak Satria ketiga perempuan itu akhirnya pergi keluar dari rumah itu dengan masih dipenuhi amarah.
Terutama Nadia yang merasa kecewa karena tidak bisa menghasilkan apapun. Dan dia bertekad akan merencanakan sesuatu agar Satria terjerat kembali terhadap jebakannya.
"May, Nin tolong antar saya ke Mall aja ada kebutuhan yang harus aku beli!" Perintah Nadia.
"Baik Nad, eh maaf ya aku dan Nina tidak bisa menemani kamu berbelanja. Sorry ya masih ada keperluan mendadak nih!". Ucap Maya.
"Ga papa May, makasih yang sudah membantu saya suatu saat pasti saya akan membalas budi kalian berdua"
"Kaya dengan siapa aja kamu Nad, kita ini sudah sahabatan sejak lama jadi sudah kewajiban kita untuk saling membantu". Nina ikut menyampaikan pendapatnya.
Setelah sampai disebuah mal, akhirnya Nadia turun dan melambaikan tangannya ke kedua aahabtnya itu.
"Hati hati!"
__ADS_1
"Oke Nad, kita pergi dulu ya, daaaah!" Ucap Maya dan Nadia Serempak sambil melajukan mobilnya meninggalkan Nadia seorang diri.
Setelah kepergian sahabatnya, Nadia masuk ke sebuah mal niat sebenarnya bukan untuk berbelanja kebutuhan tapi untuk mencari mangsa.
Karena Nadia sadar kebutuhannya banyak sedangkan keuangannya sudah tidak stabil karena sudah tidak bekerja lagi yang otomatis sumber kuangannya berkurang.
Harapan satu satunya sumber keuangannya yaitu dari pria jebakannya. Nadia kecewa karena hasil dari menjebak Satria tidak mendapatkan apa apa justru malah banyak masalah yang didapatkannya.
Dan kali ini Nadia harus bisa menjebak pria lagi untuk mendapatkan banyak uang supaya dapat dijadikan modal mengejar Satria lagi.
Wajah Nadia sumringah ketika dari kejauhan melihat seorang pria ber jas yang sedang berjalan sambil melakukan panggilan telepon.
"Ini saatnya beraksi, walau pria itu kelihatan sudah tua tapi masih gagah dan kelihatannya tajir juga. Huh pasti mudah mendapatkan pria seperti itu, saya akan berikan kehangatan ranjang yang luar biasa sehingga menjadi kecanduan" guman Nadia dengan semirik senyum liciknya.
Brukk...
Tiba tiba Nadia bertabrakan dengan pria itu, sehingga ponselnya jatuh ke lantai.
"Eh maaf pak, gak sengaja!"
Nadia memohon maaf kepada pria itu sambil merunduk untuk mengambil ponselnya.
Nadia sengaja memperlihatkan belahan dadanya yang sedikit terbuka ketika membungkuk.
Pria itu mencoba memalingkan wajah karena risih jika terus menatapnya.
"Iya ga papa!"
Ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya.
"Maksih!" Lanjutnya lagi.
"Ya sama sama pak, perkenalkan nama saya Nadia"
Nadia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pria itu, setelah berjabat tangan Nadia tidak segera melepaskan tanga pria itu tapj justru malah merekatkan tangannya sengan erat.
Pria itu nampak terkejut dan langsung melepaskan tangannya dengan kasar saking terkejutnya.
Karena pria itu melepaskan tangan Nadia dengan kasar tanpa disadari tubuh Nadia terhempas dan langsung terjerembab ke atas lantai karena tidak sempat menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Aw"
Brukk...
"Kakiku sakit, aduh tolong pak!"
Pria itu terkejut ketika melihat kejadian itu dia langsung mendekati Nadia.
"Maaf maaf aku gak sengaja, apa yang sakit?" Panik pria itu.
"Oh iya perkenalkan nama saya Dilan"
Ternyata pria itu Dilan papahnya Satria yang kebetulan berada di mal tersebut untuk melakukan meeting dengan klien tepatnya di restoran yang terdapat di dalam mal tersebut.
Dilan langsung memegang kaki Nadia, yang kelihatannya seperti terkilir.
"Aww sakit pak, iya itu kayaknya yang sakit jangan jangan kaki saya terkilir pa"
"Iya bener kayanya terkilir, gimana kalau kita ke dokter aja" ajak Dilan.
"Oh gak perlu pa, tolong anterin ke rumah saya aja!" Pinta Nadia.
"Oh iya, baik!"
Karena merasa bersalah Dilan langsung menyetujui untuk mengantarkan Nadia ke rumahnya sebagai penebus atas kesalahannya.
"Tapi maaf pak, kayanya saya tidak bisa berjalan deh" rengek Nadia.
"Oh gak masalah, saya akan menggendong kamu"
Tak lama Dilan pun menggendong Nadia ke dalam pangkuannya.
Didalam gendongan Nadia menyeringai licik, bahkan dia tidak segan segan mengalungkan tangannya ke leher Dilan.
Walaupun Dilan merasa risih tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.
__ADS_1
Setelah memasukan Nadia ke dalam mobilnya, tanpa basa basi Dilan melajukan mobilnya ke rumah Nadia setelah menanyakan alamatnya.
Setelah sampai di rumah Nadia, Dilan kembali menggendong Nadia dan masuk ke dalam rumahnya.
"Langsung saja pak, bawa saya ke kamar, biar langsung istirahat!".
"Ba-ik" gugup Dilan karena merasa risih seorang pria dan wanita mau masuk ke kamar yang sama.
Setelah memasuki kamar Dilan membaringkan Nadia di atas kasurnya.
"Makasih pak!"
"Iya sama sama Nad, emm kamu saya tinggal ga apa apa kan?"
"Bisa aku minta tolong pak, tolong temenin sebentar aja ya sampai tukang urut datang".
"Oh baiklah tapi cuma sebentar kan?".
"Iya pak"
Setelah pembicaraan itu Dilan menjadi salah tingkah karena tidak tau harus berbuat apa.
Nadia pun menangkap kegelisaha Dilan sehingga diapun berbicara.
"Pak boleh minta tolong lagi?, Sebelum tukang urut aku datang kalau bisa tolong urut dulu kaki aku pak, soalnya makin kesini makin sakit" Nadia pura pura merintih kesakitan.
Karena masih merasa bersalah Dilan pun tidak banyak bicara langsung memegang kaki Nadia dan mencoba mengurutnya.
Nadia menyeringai licik dan akan menjalankan aksinya.
Nadia meyuruh Dilan untuk mengambil handuk yang ada di dalam lemarinya.
Dilan pun mengehentikan urutannya dan langsung menuruti perkataan Nadia.
Setelah handuk ditangan Nadia, tanpa rasa malu Nadia membuka celana ketatnya didepan Dilan sehingga hanya menampakan ****** ********.
Melihat itu Dilan semakin gugup dan mencoba memalingkan pandangannya. Nafasnya semakin memburu.
Walaupun pandangan menghindar, tapi naluri kelelakiannya pun tidak bisa di tahan, apalagi Dilan sudah jarang sekali mendapatkan kehangatan dari isterinya karena alasan sudah tua.
Padahal untuk seusia Dilan masih bisa melakukan hubungan suami isteri itu karena masih terlihat gagah.
"Pak, lanjut lagi!"
Nadia sudah melilitkan handuknya di pinggangnya. Nadiapun merebahkan kembali tubuhnya ke atas ranjang sambil memejamkan matanya.
Tangan Dilan pun kembali mengurut kaki Nadia secara perlahan. Entah disengaja atau tidak handuk Nadia tersingkap sehingga mahkota Nadia menyembul keliatan.
Dan ternyata dengan sengaja Nadia membuka ****** ******** untuk memancing gairah Dilan.
Melihat itu Dilan pun menelan ludahnya dan nafasnya semakin tidak teratur.
Tangan Nadia terulur untuk memegang tangan Dilan dan dengan secepat kilat telah membawanya ke gundukkan mahkota Nadia.
Nadia mencoba meremaskannya tangan Dilan ke atas mahkotanya.
Dilan pun tidak sempat mengelak, malah secara alamiah ikut meremasnya.
Seperti gayung bersambut, Nadia merasa jebakannya berhasil dan dengan secepat kilat Nadia memeluk Dilan supaya menindih tubuhnya.
Dilan pun menikmatinya tanpa berfikir jernih, dan akhirnya hubungan intim itupun terjadi.
Nadia memberikan servis yang sangat memuaskan bagi Dilan supaya menjadi candunya.
Jiwa muda Dilan pun seakan kembali lagi setelah mendapatkan kepuasan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Dret dretttt..
Terdengar suara ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
Untung saja kepuasan mereka telah selesai, dan Dilanpun sedang bersandar di ranjang Nadia tanpa sehelai benang sedikitpun.
"Angkat pak!" Perintah Nadia.
"Oh gak penting Nad" jawab Dilan sambil menyimpan kembali ponselnya.
__ADS_1
Dilan tidak mau mengangkat teleponnya setelah melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
Bersambung...