
***
Setelah kepergian Salma bersama anak anaknya membuat relung hati Satria mulai merasakan kehilangan.
Walau bagaimanapun Salma merupakan cinta pertama Satria dan sudah menemani dirinya bertahun tahun lamanya.
Namun perasaan kehilangan selalu ditepisnya karena menurut Satria ini bukan rasa kehilangan tapi belum terbiasa aja.
Dan Satria yakin lama kelamaan semuanya akan baik baik saja.
Memang seminggu ini Satria merasakan kebahagiaan karena melihat keakraban Nadia dan Ibunya.
Karena bujuk rayu Ibunya akhirnya Nadia menempati kamar utama rumah itu yang selama ini ditepati oleh Salma dan Satria, sekarang Nadia menjadi satu satunya ratu di rumah Satria.
Namun Satria tidak bisa mengelak atau membantah kata kata Ibunya.
Namun akhir akhir ini setelah kebahagiaan yang dirasakannya baru seminggu, Satria mulai merasakan keanehan.
Nadia sudah mulai menunjukkan sisi gelapnya, seperti yang terjadi pagi ini.
"Sayang ko baju Mas lecek banget, emang ga disetrika dulu gitu?" Teriak Satria.
Tiba tiba Nadia muncul di hadapan Satria sambil memegang cat kukunya.
"Ya udahlah Mas pake itu aja, mau pake baju aja pake ribet segala" ketus Nadia.
"Bukannya gitu Nadia! Mas kan sekarang mau bertemu klien masa bajunya lecek gini kam Mas jadi malu".
"Alahhhhh pake malu segala, ya kalau malu setrika aja sendiri atau suruh aja tuh bi Sumi!" Bantah Nadia tak kalah ketusnya.
Arghhhhh...
Geram Satria, dengan wajah kesalnya dia terpaksa memakai baju kantornya dengan keadaan kusut karena kalau menyetrika dulu Satria pasti akan terlambat ke kantornya.
Setelah memakai pakainnya dengan lengkap, tanpa banyak bicara lagi Satria turun untuk sarapan.
Setelah sampai di meja makan Satria mengerutkan keningnya karena tidak ada sedikitpun makanan di atas meja.
Memang selama ini keuangan dapur di atur oleh Ibunya sesangkan Nadia mengatir kebutuhan bulanannya.
Sedangkan bi Sumi telah dipecat dua hari yang lalu oleh Ibunya dengan alasan menghemat keuangan.
Padahal selama Salma mengatur keuangannya tidak pernah mengeluh pemborosan uang untuk menggaji bi Sumi.
Bahkan walaupun ada bi Sumi, Salma selalu mengurus rumah tangganya dengan baik.
Mulai dari menyiapkan pakaian kerjanya yang sudah rapih dan wangi telah siap di atas kasur, serta sarapan pagi yang sudah tersedia di meja makan, mereka akan selalu beekumpul di meja makan dengan celotehan candaan anak anaknya.
Arghhhhh...
Satria menghela nafas kasar, tapi sekarang semua itu hanya menjadi bayangan saja boro boro ada kehangatan dalam keluarga yang ada hidup mereka sekarang walau satu atap tapi mengurus hidup masing masing.
Ibunya yang selama ini memegang keuangan Satria bertingkah semakin menjadi jadi, uang Satria bukannya digunakan untuk keperluan dapurnya malah dihamburkan dengan segala ambisinya.
Yang bisa dilakukan Nadia selama ini hanya memenuhi kepuasan di atas ranjang saja mungkin karena masih muda.
Sedangkan mengurus suami dan rumah tangganya jauh berbeda dengan Salma, yang difikirkan Nadia hanya meminta uang dan belanja sesuka hatinya.
Arghhhhh...
Memikirkan hal itu membuat hati Satria menjadi geram, karena dia yang bekerja keras tapi mereka yang menghabiskannya tanpa memikirkan keadaan Satria.
Kalau mengingat hal seperti itu baru Satria menyadari bahwa Salma memang perempuan terbaik yang pernah dikenalnya.
Tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur, Satria harus siap menghadapi segala konsekuensi dari pilihannya.
Satria masih duduk termenung di atas meja tanpa sarapan.
__ADS_1
Tuk tuk tuk...
Suara sepatu pentopel menggema di ruangan itu, terlihat dengan sexynya Nadia menuruni tangga dengan memakai pakaian seragam kantor.
"Kamu mau kemana Nad?" Tanya Satria
"Ya kerja lah emang mau ngapain lagi, sudah seminggu aku cuti loh Mas sekarang Nadia mau kembali bekerja".
"Kalau bisa kamu berhenti kerja Nad, kan kamu lagi hamil seharusnya kamu lebih fokus mengurus keluarga saja".
"Hahaha kamu itu lucu deh Mas, kan Ibu yang selalu mengharapkan menantunya bekerja, ya tentu saja saya bekerja karena gak mau diaebut benalu seperti yang Ibu katakan pada mbak Salma".
"Janga berbicara buruk tentang Ibu Nadia, bagaimanapun dia itu Ibuku!".
"Emang Nadia fikirin, gak penting banget mikirin tua bangka yang serakah itu, masa keuangan dipegang semua dan saya sebagai isterinya hanya diberikan jatah sesuai keinginannya, seharusnya keuangan di rumah ini saya yang ngatur soalnya sekarang sayu ratunya bukan si tua serakah itu".
"CUKUP NADIA KAMU JANGAN BERANI BERANI MENGHINA IBUKU! KALAU SAYA MENDENGAR LAGI KAMU MENGHINA IBUKU KAMU AKAN MENYESAL". bentak Satria.
"CUIHHHH KATAMU MENYESAL, GAK AKAN, SORRY YA SAYA BUKAN SALMA SI BODOH ITU YANG DIAM SAJA KETIKA DI HINA OLEH IBUMU, JIKA ITU TERJADI SAY GAK AKAN SEGAN SEGAN MEMUKUL IBU ITU YANG SERAKAH!".
Plak....
Suara tamparan menggema diruangan itu, sehingga membuat wajah Nadia memerah akibat dari kerasnya tamparan itu.
Plak...
Nadia kembali membalas tamparan suaminya dengan sekeeas mungkin.
"KAMU SUDAH BERANI MENAMPAR SAYA SATRIA, JANGAN HARAP SAYA AKAN DIAM SAJA DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU. SUDAHLAH SAYA CAPE NGOMONG SAMA SUAMI BODOH KAYA KAMU". Nadia mengehntakkan kakinya pergi meninggalkan Satria yang semakin meradang.
Arghhhh....
"Sial...
Sial...
"Kenapa lagi kamu Satria?" Tiba tiba Iriani datang menghampiri Satria. Terlihat Iriani merenggangkan otot ototnya pertanda baru bangun tidur.
"Sudahlah Bu, Satria lagi gak mau bicara sama siapapun, bukannya disuguhi sarapan pagi malah disuguhi kelakuan menantu kesayangan Ibu" geram Satria.
"Kirain ada apa, ya udah kalau tidak ada sarapan ya tinggal pesen aja apa susahnya sih, Ibu malas kalau masak karena di rumah juga Ibu tidak terbiasa memasak kan ada pembantu yang mengurusnya". Enteng Iriani seakan bicara tanpa beban.
"Lalu saya harus makan apa Bu? Sudah baju kusut begini tidak mendapatkan sarapan, teeus saya bekerja mati matian buat apa?" Ketus Satria sambil berlalu pergi dengan segala kekecewaannya.
***
Di ruangan kantor terlihat sepasang kekasih sedang merasakan kenikmatan dunia.
Ya itu dia Nadia dan Dilan sesang beecumbu seperti biasanya.
Setelah pertempuran itu selesai, mereka mengenakan pakaiannya kembali sehingga rapih kembali seakan tidak terjadi apapun.
Tapi Dilan merasakan keanehan setelah berhubungan badan dengan Nadia, karena sudah lama mereka tidak berhubungan badan seharusnya keadaannya lebih menikmatinya.
Namun kali ini lain, Dilan curiga seakan ada jejak yang sudah menggauli pacarnya, karena Nadia sudah tidak seenak dulu.
"Loh sayang ko malah melamun" Nadia memulai obrolannya.
"Ah engga sayang Om cuma kangen aja sama kamu, kemana aja sih kamu cutinya lama banget, kan Om jadi kangen!" Jawab Satria sambil mencolek dagu Nadia.
Nadiapun tersipu malu.
"Kan Nadia sudah bilang mau pulang kampung dulu untuk menemani Ibuki yang sesang sakit".
"Oh gitu ya,, terua keadaan Ibumu sekarang gimana?"
"Oh..sekarang Ibu sudah agak mendingan sih makanya Nadia cepat balik lagi ke sini, karena sangat merindukan Om".
__ADS_1
"Kalau gitu sama Om juga rindu sama belaian kamu sayang, eh gimana kalau besok kita jenguk Ibumu di kampung kayanya Om kangen deh suasana kampung" ajak Dilan.
Wajah Nadia menjadi panik terlihat wajahnha memucat karena takut kebohongannya terungkap.
"Oh ga-ga perlu Om terima kasih sudah ada niatan menjenguk Ibuku, tapi itu ga perlu karena sekarang Ibu sudah sembuhx gugup Nadia.
"Oh ya udah kalau begitu lain kali aja kita menjenguk ibumu".
"I-iya Om".
***
Waktu pun menjelang malam, Dilan kembali ke kediamannya dengan wajah cerianya. Karena sudah mendapatkan lagi kepuasan dari wanita simpananannya walau rasa ada yang berbeda.
Dilanpun masuk ke dalam rumahnya, dan sudah seperti biasanya rumah dalam keadaan sepi karena isteri dan anaknya yang cewek lebih memilih tingal di rumah Satria.
Awalnya Dilan kecewa dengan keputusan Iriani, tapi karena sudah terbiasa jadi kekecewaan itu sekarang sudah sirna, karena Dilan rencananya akan menikahi Nadia secepatnya dan membawa ke kediamannya sebagai isteri ke dua.
Dilan sudah mulai muak kepada Iriani yang lebih memilih mengurusi rumah tangga Satria ketimbang mengurus dirinya.
"Nu Ibumu belum pulang?"
"Belum yah, kan sudah biasa Ibu gak pulang ke rumah palingan pulang ke sini cuma sebentar lalu pergi lagi".
"Ya udah sekarang telepon Ibumu, karena Ayah mau bicara penting sama kalian!"
"Baik yah" ucap Danu.
Tak lama Danu pun menelepon Ibunya untuk meminta pulang karena Dilan ayahnya mau ngomongin sesuatu hal penting.
***
Ceklek pintu terbuka, terlihat Satria menatap tajam ke arah perempuan yang sudah membuka pintu kamarnya.
Setelah pintu terbuka, Nadia memasuki kamar mereka dengan anggunnya tanpa sedikitpun memikirkan Satria yangs edang marah.
"DARI MANA SAJA KAMU JAM SEGINI BARU PULANG"
"Ya kerjalah emang dari mana lagi" ketus Nadia.
"YAKIN KAMU PULANG KERJA BUKAN KELUYURAN GAK JELAS HAH?" Satria membentak Nadia dengan muka marahnya.
"HEI SATRIA, EMANGNYA SAYA CEWEK APAAN HAH, SUDAH JELAS JELAS ISTERI PULANG KERJA DALAM KEADAAN CAPE BUKANNYA DISAMBUT DENGAN BAIK MALAH DIBENTAK BENTAK GA JELAS, SEDIAKAN AIR HANGAT KE, DASAR SUAMI POSESIF" cibir Nadia tak terima dirinya dibentak Satria.
Nadia sudah gak peduli dengan kemarahan Satria, karena menurutnya Dilan lebih baik dan lembut memperlakukannya.
Dulu memang Nadia terobsesi untuk mendapatkan Satria, tapi setelah mendapatkannya perasan yang tadinya menggebu kini hilang secara sirna.
Karena Nadia sudah jengah melihat tingkah laku Satria yang semakin ke sini membuat dirinya jengkel.
Nadia tau Satria masih mencintai mantan isterinya itu, buktinya setiap kali berhubungan badan Satria tanpa sadar selalu mendesahkan nama isterinya, sehingga itu membuat Nadia sakit hati dan kecewa.
Sekarang Nadia sudah tidak peduli lagi kepada Satria walaupun akan menceraikannya, karena menurutnya masih ada Dilan yang akan menikahinya.
tanpa basa basi Satria mendorong tubuh Nadia ke atas kasur dan mengungkungnya.
"PUASKAN AKU SEKARANG, KARENA KAMU CUMA BISA MEMUASKAN SUAMI DI ATAS RANJANG, SAYA SANGAT MENYESAL SUDAH MENIKAHI KAMU, DAN MEMBUANG ISTERI BAIKKU, TAPI SEMUA ITU SUDAH TERJADI MULAI SEKARANG KAMU HANYA MENGIKUTI SEMUA KEINGINANKU. HAHAHA".
"TIDAK..SAYA TIDAK MAU,, LEPASKAN SAYA SATRIA!"
"APA KAMU BILANG SAYA HARUS MELEPASKAN WANITA SEPERTIMU YANG SUDAH BERANI MELAWAN SUAMIMU SENDIRI, DULU KAMU YANG NGEJAR NGEJAR SAYA BAHKAN KAMU BERHASIL MENGHANCURKAN RUMAH TANGGA SAYA. JADI SEKARANG MAU TIDAK MAU KAMU HARUS NURUT SEMUA PERKATAAN SAYA DAN SATU LAGI SAYA AKAN MENCABUT FASILITAS YANG SAYA BERIKAN. KAMU SEKARANG HANYA JADI PEMUAS NAFSUKU SAJA TANPA SEPESERPUN NAFKAH SAYA BERIKAN INGAT ITU!". Bentak Satria.
"CUIHHHH SAYA GAK PEDULI, KALAU KAMU MEMANG MEMBENCI SAYA CEPAT CERAIKAN SAYA SEKARANG JUGA"
"HAHAHA GAK AKAN JANGAN HARAP, SEBELUM SAYA PUAS MENYIKSA KAMU, KARENA KAMU SUDAH MENGHANCURKAN RUMAH TANGGA SAYA BAHKAN MEMBUAT ISTER DAN ANAK ANAKKU PERGI MENINGGALKAN SAYA. TADINYA SAYA FIKIR SETELAH DITINGGALKAN SALMA KEHIDUPAN SAYA AKAN LEBIH BAIK TAPI JUSTRU KEADAANNYA SEMAKIN MEMBURUK, PERUSAHAAN YANG SAYA RINTIS DARI NOL SEKARANG TERANCAM BANGKRUT KARENA MASALAH KEUANGAN. KARENA KALIAN PARA BENALU YANG SUDAH MENGHAMBURKAN UANG HASIL KERJA KERASKU. TAPI KALIAN TIDAK PEDULI PERASAN SAYA JANGANKAN MENGURUS SAYA HANYA MENYEDIAKAN SARAPAN PAGI PUN GAK PERNAH"
"JADI SEKARANG KAMU MENYALAHKAN SAYA HAH! ENAK SAJA INI SEMUA BUAH DARI KEBODOHANMU. PERUSAHAANMU BANGKRUT ITU AKIBAT DARI KELALAIANMU BUKAN SALAH SAYA. KAMU AJA YANG BODOH SUDAH JELAS JELAS SALMA ITU ORANG BAIK EH MALAH KAMU BUANG. KAMU LEBIH MENURUTI HASUTAN IBUMU YANG SERAKAH ITU. HAHAHA SEKARANG KAMU MENYESAL? BAGUSLAH KALAU BEGITU KARENA MEMANG KAMU LAKI LAKI LABIL YANG TIDAK PUNYA PRINSIP!"
__ADS_1
Bersambung...