
***
"NGAPAIN LAGI KAMU KE SINI?" Teriak Satria.
"Hehehe santai dong bang, suruh duduk dulu ke!" Ucap Nadia dengan santai.
"Siapa perempuan ini Satria?" Tanya Iriani.
"Perempuan ini yang hampir menghancurkan rumah tangga aku Bu" tunjuk Satria.
"Apa? Jadi perempuan ini selingkuhan kakak itu, tapi kalau dilihat lihat cantik juga masih muda lagi kayaknya cocok deh dengan kakak" ucap Cindy.
"Betul banget kamu Cin, Ibu lebih setuju perempuan ini menjadi menantu Ibu, kayanya baik, cantik, cerdas, berkelas masih muda lagi, udah lah Sat jangan munafik gitu deh!" Bujuk Iriani.
Mendengar ucapan mereka berdua membuat Satria semakin geram, sambil memegang tangan isterinya Satria berujar
"Bu, Cindy! sudahlah baik menurut kalian belum tentu buat Satria, Satria sudah yakin dengan pilihan Satria. Masa sudah beedampingan berpuluh tahun harus dibuang begitu saja demi perempuan yang belum jelas" kesal Satria.
"Perkenalkan Tan, saya Nadia dan saya pacar anak Tante" yakin Nadia.
"Cukup Nadia! jangan coba coba mengaku yang bukan milik kamu, apakah gak malu mengejar lelaki beristeri?, Sudah ditolak masih saja mengejar ngejar dimana harga dirimu sebagai wanita? Apa jangan jangan harga dirimu sudah tergadai hah?" Bentak Salma yang sudah geram melihat tingkah laku Nadia.
Akhirnya Salma yang dari tadi diam mengingkapkan kekesalannya.
"Hei mbak! Aku tau suami kamu sudah beristeri, tapi seandainya dulu dia tidak mengeluarkan jurus gombalannya untuk merayuku pasti aku juga tidak akan meladeninya. Tapi kenyataannya memang suami mbak itu bukam tipe suami setia ya gitu deh mengobral cinta ke setiap wanita" beber Nadia dengan gaya angkuhnya.
"CUKUP NADIA! KAMU SUDAH BANYAK OMONG KOSONG YANG MEMBALIKKAN FAKTA, SAYA TIDAK SERENDAH ITU. DAN SAYA SUDAH BILANG BEBERAPA KALI SAYA SUDAH TIDAK SUDI LAGI MELIHAT WAJAHMU YANG LIAR ITU" tunjuk Satria.
"HEY BANG!, SEKARANG AJA KAMU BILANG JIJIK KARENA SUDAH PERNAH MENIDURIKU, TAPI WAKTU KAMU BILANG CINTA KAMU GAK SADAR SUDAH MERAYUKU BAHKAN KETIKA TIDUR BERDUAPUN KAMU MENIKMATINYA, DASAR MUNAFIK" jawab Nadia tak terima.
"APPPA?" teriak Iriani.
"Jadi kamu sampai segitunya Satria, sampai menidurinya segala, wow katanya cinta mati pada isterimu eh ternyata cuma omong kosong belaka. ternyata kamu pura pura saja mencintai isterimu hanya untuk mendapatkan kepercayaannya, kalau Ibu jadi Salma sudah pergi meninggalkan laki laki macam kamu tukang selingkuh lagi".
"Dan kamu Salma mau aja dirayu untuk memaafkannya! Sudah jelas jelas suamimu selingkuh menghianati pernikahannya masih saja dipertahankan, cih. Dan kamu Satria Ibu tau kamu sebenarnya sudah jijik sama isterimu itu cuma karena ada anak jadi kamu pura pura peduli iya kan?" Lanjut Iriani.
"Astagfirulloh bu! Bisa tidak jangan memperkeruh suasana, bukannya memberi solusi malah menyudutkan Satria". Ucap Satria lesu.
"Kalau menurut Ibu sih, mending kamu dengan Nadia, buang saja isterimu yang tidak berguna itu! Emang kamu gak mau punya isteri yang masih muda cantik lagi, ibu tau kamu sebenarnya kamu suka" bujuk Iriani.
"TIDAK BU, SEKALI TIDAK TETAP TIDAK" bentak Satria penuh emosi.
__ADS_1
"Aduh kakak ini bagaimana sih sudah jelas Ibu mendukung kamu dengan Nadia, eh jarang loh ada orang tua yang mendukung anaknya berselingkuh, seharusnya kakak bersyukur". Timpal Cindy.
"CINDY KAMU TUH JADI ADIK GA TAU DIRI BANGET!" tunjuk Satria.
"Pah sudah lah gak usah diladenin" bujuk Salma.
Tiba tiba Nadia berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memperlihatkan ke semua orang yang ada di ruangan itu.
"Bang, akhirnya hasil dari perbuatan kita itu membuahkan hasil, bang Satria memang luar biasa benihnya sangat subur sekali, makasih bang Nadia bahagia banget" ucap Nadia sambil memperlihatkan senyum liciknya.
"APA? KAMU HAMIL!" teriak Salma.
Salma tak kuasa menahan air matanya, kemudian dia berlari menaiki anak tangga untuk memasuki kamarnya dengan perasaan hatinya yang hancur lebur.
"Beneran kamu hamil, sayang? Jadi tante akan punya cucu lagi dong, yaa ampun tante bahagia banget sudah lama mau menimbang cucu dari perempuan idaman tante, kamu harus menjaganya dengan baik sayang".
"Tapi kamu gak usah khawatir sayang tante dan Cindy akan selalu menjagamu, pokonya dengan tante dijamin semuanya akan baik baik saja".
"Dan kamu Satria! Sebagai laki laki kamu itu harus tegas dan jangan jadi laki laki pengecut karena berani berbuat berani juga bertanggung jawab! Kamu faham kan maksud ibu?"
"Iya kak, kamu itu jangan jadi seorang pengecut tidak ada dalam kamusnya keluarga terhormat Dilan Dirlanta lepas dari tanggung jawab, pokonya apapun yang terjadi kamu harus menikahinya!".
Arghhhhhh....
Kepalanya seakan terbelah memikirkan itu, disisi lain ada isterinya yang sangat dicintainya tapi tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya.
"Kamu yakin itu anak saya Nad?"
"Ya ampun bang, buat apa aku bohong, tentu ini anak kamu karena hanya kamu satu satunya laki laki yang pernah tidur denganku" yakin Nadia.
"Udahlah Sat! Ibu setuju ko kamu menikahi Nadia sebagai bukti tanggung jawabmu, emang kamu mau anak ini lahir ke dunia ini tanpa ada sosok ayah di sampingnya?".
"Tapi bagaimana dengan isteriku bu, pasti Salma sangat kecewa dengan masalah ini apalagi sampai dia dimadu, pasti Salma akan menolak mentah mentah dan membenci Satria".
"Alahhhhhh udah deh jangan fikirin isterimu dulu, sekarang yang harus kamu fikirkan itu bagaimana nasib anak kamu dan Nadia, Ibu kasihan sama Nadia masa punyak anak tapi tidak punya suami".
"Tapi Bu, Satria tidak mau poligami. Satria sangat menyayangi isteriku, Satria tidak tega menyakitinya".
"Sudah lah kak, emang kalau tidak menikahi kak Nadia, kakak tidak menyakitinya? Kan kak Nadia juga sama harus dijaga bagaimanpun juga dia sedang mengandung anak kakak".
"Gini aja Sat! Apabila Salma tidak mau dimadu dan tidak merestui kamu berpoligami ya ceraikan saja dia apa susahnya sih?, Kan kamu tidak rugi sama sekali hilang isteri yang sudah tua eh mendapatkan perempuan yang lebih segala galanya dari dia, masalah anak kan Nadia juga akan memberi keturunan sebagai generasi penerus keluarga kita".
__ADS_1
"Maaf Bu, Satria gak bisa berpoligami karena takut tidak bisa berbuat adil dan Satria sudah janji pada isteriku untuk tidak menyakitnya lagi".
Hiks hiks...
"Kamu tega bang sama Nadia, padahal Nadia sudah berbesar hati dengan ikhlas menjadi isteri kedua mengenyampingkan harga diri sebagai perempuan demi anak kita, tapi abang malah tega tidak mau bertanggung jawab. Lebih baik Nadi mati". Pura pura Nadia sambil mengeluarkan sebuah gunting yang sudah direncanaknnya dengan matang.
"Nadia! Jangan gila kamu semuanya bisa dibicarakan dengan baik!" Panik Satria.
"Satria kamu tega ya melihat Nadia dan anak kamu menderita? Coba deh fikirkan sedikit saja nasib keduanya jangan karena egomu kamu menyia nyiakan perempuan sebaik dia, pokonya ibu tidak mau tau kamu secepatnya harus menikahi Nadia. TITIK" perintah Iriani.
"Bu-bukan begitu Bu, tapi kan permasalahan ini bukan hanya Satria saja, isteriku juga harus dilibatkan dalam masalah ini dan juga Satria gak mau memaksa Salma supaya mau dimadu, mendengar suaminya menghamili perempuan lain saja pasti sekarang hatinya sangat hancur apalagi sampai suaminya mau berpoligami gak kebayang bagaimana perasaan isteriku bu" iba Satria.
"Kamu tuh cuma memikirkan perasaan isterimu saja Satria tapi kamu tidak pernah memikirkan perasaan Ibu, Nadia dan adik kamu, kamu egois Satria! Apa susahnya sih kamu berpoligami dalam agama juga tidak dilarang kok asal berbuat adil. Emang kamu tidak memikirkan nasib Nadia dan anaknya?".
"Sudahlah sayang, jangan melakukan hal bodoh itu lagi kasihan anak kamu yang tidak berdosa itu, tante pasti akan membuat anak tante menikahi kamu!" Bujuk Iriani sambil mengambil gunting yang masih dipegang oleh Nadia.
"Beneran tante mau bantu Nadia mendapatkan keadilan?makasih tante Nadia sayang banget sama tante dan Nadia janji akan berbakti sama tante"
"Iya tante percaya ko, kamu memang calon menantu idaman, tante akan bahagia sekali jika kamu menjadi menantu tante dan memberikan keturunan penerus keluarga Dirlanta".
"Sudahlah Satria kali ini kamu nurut perintah ibu jika tidak mau menjadi anak durhaka, pokonya apapun yang terjadi kamu harus menikahi Nadia!" Final Iriani.
Untung saja kejadian diruang tamu itu tidak diketahui kedua anak Satria karena Rahma dan Zian sudah pergi ke sekolah diantar bi Sumi.
Bi Sumi sangat faham dengan situasi yang memanas sehingga tidak mau dilihat anak majikannya, maka dia inisiatif untuk mengantarnya ke sekolah menggunakan angkutan umum, karena kebetulan Satria tidak bisa mengantarnya akibat sedang menghadapi masalah.
Dan Satria juga tidak masuk kantor, akibat terjadinya perdebatan panjang itu, Satria sampai lupa jam kerjanya.
"Nah sekarang juga Kakak temui mbak Salma beritahukan dia bahwa Kakak akan bertanggung jawab dengan menikahi Nadia, menurut Cindy kakak gak perlu izin berpoligami deh kan sebagai kepala keluarga kakak pemegang seluruh keputusannya!".
"Mas Satria gak perlu datang meminta izin kepadaku, karena ucapan Cindy memang benar bahwa suami sebagai kepala memegang seluruh keputusannya tanpa meminta pendapat isterinya" tiba tiba Salma bersuara sambil melangkah menuruni anak tangga dengan langkah kaki yang tegas tidak terlihat jejak kesedihan sedikitpun.
"Mah?"
"Kamu tidak perlu khawatir pah, jika keputusan papah tidak bisa dirubah untuk tetap menikahi perempuan itu silahkan saja mamah merestui kalian, karena bagaimana pun mamah menolaknya tetap saja papah akan lebih mengikuti saran Ibu dan adikmu, mamah sudah ikhlas pah mungkin ini taqdir yang harus dijalani, dan kamu Nadia jika kamu memang mencintai suamiku jagalah dia dengan setulus hati jangan sampai kamu sia siakan, karena siapa tau diluaran sana banyak juga yang mengincar Mas Satria, dan satu lagi Pah ambilah keputusan itu berdasarkan hati nurani bukan karena paksaan dari orang lain, karena apapun keadaannya kita yang akan menjalaninya bukan orang lain jadi kita tau mana yang terbaik buat kita, mamah cuma berpesan turutilah perintah ibumu supaya papah tidak jadi anak durhaka, tidak usah memikirkan perasaan mamah karena dari atas mamah sudah mendengar tidak ada ketegasan papah dalam masalah ini, tidak ada pembelaan untuk diri sendiri sehingga tidak mampu memberi jawaban yang tegas dalam masalah ini, dengan dalih pertanggung jawaban dan takut Nadia dan anaknya terlantar sehingga berani mengorbankan keluarga demi kebahagiaan semu padahal sudah jelas isterimu yang sudah mendampingimu dari titik terendah sampai sekarang ini bahkan sudah memberikan tiga anak".
"Memang poligami itu tidak dilarang tapi bagi mamah sebagai kaum yang lemah tidak mau berbagi dengan wanita lain, mendengar suami sudah berkhianat bahkan sampai menghamili wanita lain saja perasan mamah sudah hancur lebur, bagaimana sampai di madu mendengar kata itu saja air mata sudah tidak bisa menetes lagi saking kepedihan yang tidak dapat terobati, apalagi kata itu menjadi kenyataan tidak dapat dibayangkan rasa sakitnya, oleh sebab itu mamah sudah memikirkan dengan matang dan kepala dingin, dengan berat hati mamah mengambil keputusan akan menyerah saja".
"Sekarang mamah menyerahkan tanggung jawab rumah ini kepada kalian semua, mamah hanya akan membawa adik bungsu saja, mamah akan pergi sejauh mungkin dan tak akan pernah mengganggu kalian lagi terutama mengganggu keluarga Dirlanta, cuma satu pesan mamah pah, jaga kaka dan abang Z sayangi mereka. jika menanyakan kemana bundanya terserah kalian mau menjawab dengan alasan apa".
"Dan untuk kamu Nadia! Dampingi suamiku dengan baik kamu harus ekstra sabar karena Mas Satria itu terkadang labil pemikirannya, dan kalau kamu mencintainya maka cintai juga anak anaknya".
__ADS_1
Bersambung...