Terjebak Cinta Sesaat

Terjebak Cinta Sesaat
Bab 31 Penyesalan Iriani


__ADS_3

***


Di perusahaan Dirlanta terlihat Nadia celengak celinguk mencari keberadaan seseorang.


"Om kemana sih? Biasanya ga pernah telat gini kalau masuk kantor" Nadia mengehala nafas secara kasar.


"Huh...kan aku kangen sam Om, kenapa sih Om selalu membuat aku tidak bisa melupakan Om?. Walaupun aku akui perbedaan usia kita itu sangat jauh tapi sosok Om itu sudah mengalihkan seluruh duniaku" guman Nadia sambil tersenyum tipis membayangkan kilasan tentang kejadian yang sudah mereka lakukan selama ini.


Kepada Satria, Nadia juga sekarang sudah mulai merasakan perasaan cinta kembali setelah melihat perubahaan pada dirinya.


Nadia merasakan sentuhan dan belaian Satria mulai dari semalam sampai pagi membuat jiwanya melambung tinggi.


Dan Nadia pun bertekad tidak akan melepaskan keduanya, karena keduanya mempunyai kelebihan masing-masing.


Biarlah untuk sekarang ini Nadia akan menjalankan perannya dengan baik, di samping menjadi isteri yang baik kepada Satria, tetapi juga menjadi selingkuhan yang mengesankan bagi Dilan. Nadia akan menjalankan keduanya dengan profesional karena itu keahliannya merayu dan menjerat suami orang.


Nadia merasa bangga pada dirinya karena sudah membuat semua lelaki tunduk padanya. Nadia membayangkan perjuangan untuk menaklukkan Satria.


Dan setelah semuanya dilakukan sesuai rencana dan berjalan sesuai harapannya, Nadia semakin angkuh karena sudah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


Apalagi untuk menaklukan Satria, Nadia banyak sekali melakukan berbagai cara untuk menaklukannya, dan untungnya jalan Nadia dipermudah dengan bantuan Ibu dari Satria.


Dan yang membuat Nadia semakin jumawa, karena sekarang ia sudah bisa mendapatkan Satria seutuhnya tanpa harus berbagi dengan orang lain.


Saingannya Salma sudah kalah telak dan memilih pergi dari kehidupan Satria sehingga membuat Nadia semakin berada di atas awan.


"Aduhhhh...kemana sih Om ko belum ada kabar sekalipun, sekarang sudah siang sosoknya masih belum nongol juga. Apa aku harus tanya ya ke karyawan lain? Bener iya saya harus nanyain ke mereka siapa tau mereka tau alasannya Om Dilan belum masuk kerja" guman Nadia.


Nadia pun menanyai beberapa karyawan yang kebetulan lewat dihadapannya, tapi semua karyawan yang ditanyainya mengatakan tidak tau, bahkan mereka juga merasa heran tidak biasanya Direkturnya terlambat datang ke perusahaannya.


Nadia semakin cemas karena orang yang ditunggu-tunggu belum hadir juga, untuk melakukan pekerjaannya pun seakan enggan karena penyemangatnya belum berada di sampingnya.


***


Setelah tiba di kantornya Dilan, Dilan langsung turun dengan suasana yang masih merasakan amarahnya kepada Iriani isterinya.


Walaupun diperjalanan menuju ruangannya banyak para karyawan yang menyapanya, karena kondisi ya sedang tidak bersahabat, Dilan hanya melewati mereka begitu saja dengan wajah datarnya.


Dilan pun masuk ke dalam lift menuju ruangannya di lantai atas.


Ting...


Setelah lift terbuka, Dilan dengan langkah tegapnya berjalan penuh keyakinan menuju ruangannya.


Ketika tiba di depan ruangannya Dilan melihat Nadia hilir mudik seperti setrikaan dengan wajah cemasnya.


"Kamu kenapa Nad, bulak balik di situ?" Tanya Dilan dengan wajah datarnya.


Nadia pun berbalik ke arah suara yang mengagetkannya.


"Alhamdulillah Om, akhirnya datang juga, tadinya Nadia cemas tidak biasanya Om terlambat datang ke kantor" manja Nadia sambil tangannya mencoba menggapai tangan Dilan.


"Hus...jangan begitu Nad! Ini masih di luar ruangan loh, nanti gak enak di liat karyawan lainnya" ucap Dilan sambil mengibaskan tangannya yang hampir saja digenggam oleh Nadia.


Tanpa banyak bicara Dilan memasuki ruangannya dengan perasaan kesalnya. Setelah tiba di ruangan kerjanya Dilan pun duduk di kursi kebesarannya sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.


Huh...

__ADS_1


Dilan membuang nafas kasarnya, ia masih merenungkan kejadian tadi pagi yang membuat emosinya memuncak.


Tadinya Dilan tidak akan pernah jujur terhadap isterinya tentang penghianatannya bahkan sampai niat menikahinya.


Namun karena Iriani terus memancing emosinya bahkan selalu merendahkannya membuat amarahnya pun memuncak dan kalimat itu dengan refleks keluar dari mulutnya.


Sebenarnya perasaan Dilan ke Nadia tidak sebesar kepada Iriani, walaupun sifat Iriani keras kepala selalu merendahkannya tapi kalau harus jujur Dilan sangat mencintainya.


Bagaimana perasaan itu akan hilang ketika mereka sudah berumah tangga lebih dari setengah abad, namun keadaan yang membuat Dilan harus menghianati rumah tangganya yang sudah dibina selama itu.


Kalau dibilang menyesal, jawabannya iya. Dilan sangat menyesal telah menghianati keluarganya, namun nasi sudah menjadi bubur Dilan tidak bisa membalikkan keadaan utuh seperti semula.


Apalagi sekarang dengan kenyataan Nadia hamil akibat perbuatannya, membuat dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya apapun resikonya.


Dilan tidak mau anak dalam kandungan Nadia yang tidak tau apa-apa menjadi korban akibat kelakuan buruk orang tuanya.


Oleh sebab itu Dilan akan mencoba berbuat adil kepada Iriani dan Nadia, walaupun tanpa restu sekalipun. Dilan akan segera menikahinya walau hanya secara siri.


Huh...


Dilan menghembuskan nafas secara kasar lagi, sebenarnya Dilan ke kantor bukan untuk melakukan pekerjaannya tapi mencoba untuk menenangkan fikirannya.


Karena menurut Dilan kantor adalah rumah keduanya yang bisa menenangkan fikirannya, menurut Dilan dari pada pergi ke tempat yang tidak jelas lebih baik ia duduk santai di kantornga.


Grep...


Tiba-tiba ada tangan merangkul bahunya dengan bibirnya tepat di telinganga berbisik.


"Om dari tadi ko melamun terus, malah mengabaikan Nadia? Lagi ada masalah apa Om?.


Dilan pun melirik ke arah sumber suara.


"Oh..kamu Nad!, bikin Om kaget aja. Engga ko ga ada apa-apa" jawab Dilan sekenanya.


"Jangan bohong Om, Nadia tau ko pasti lagi ada masalah ya? Soalnya tidak biasanya wajah Om yang tampan ini ditekuk seperti itu" Nadia mencoba menggoda Dilan dengan manjanya.


"Ah engga Nad, Om lagi baik-baik aja, mungkin sedang tidak enak badan kali" jawab Dilan.


Nadia pun tidak mau terus memojokkan pertanyaan Dilan yang sedang tidak mau menjawab pertanyaannya.


Akhirnya Nadia punya ide untuk membuat pacarnya itu tidak bete lagi, tangan halus Nadia memijit-mijit kepala Dilan dengan lembutnya.


Kecupan-kecupan ringan pun Dilan rasakan di setiap inci wajahnya, yang membuat Dilan memejamkan matanya.


Perasaan amarah dan kesal yang sempat hadir sebelumnya seakan sirna karena sentuhan Nadia.


Sekarang perasaan Dilan menghata setelah diperlakukan seperti oleh Nadia, dan sentuhan inilah yang membuat Dilan kecanduan terhadap Nadia dan sulit untuk melepaskannya.


"Emang kamu ya, bisa aja bikin Om itu tidak bisa berpaling dari kamu, karena selalu buat Om bahagia. Makasih sayang!" Ucap Dilan dengan tangannya menyentuh tangan Nadia.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Nadia merasakan auara kebahagiaan, karena sudah bisa mengendalikan keadaan pacarnya itu.


Nadia pun merangkulkan tangannya ke bahu Dilan sambil membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Dilan merinding.


"Sama-sama sayang, kan tujuan aku ada di sini itu untuk membuat hati kamu menjadi nyaman dan melupakan semua masalah yang ada" goda Nadia sambil mengecup bibir Dilan.


"Iya sayang...makasih ya kamu memang perempuan yang paling pengertian yang Om kenal, Om makin sayang sama kamu deh" Dilan pun membalas kecupan mesra Nadia di bibirnya.

__ADS_1


Nadia pun memutarkan badannya dan menghadap ke arah Dilan dengan tatapan lembutnya.


Tiba-tiba Nadia duduk di pangkuan Dilan sambil mengalungkan tangannya di bahu kokoh Dilan.


***


Setelah beberapa saat Iriani merenung akhirnya dia kembali berdiri dari berlututnya, lalau dia mengarahkan pandangannya ke sekitar ruang keluarganya.


Terlihat di kursi Satria masih duduk sambil termenung, membuat Iriani merasa iba akan keadaan putranya.


"Sat! Maafin ibu ya? Karena akibat hasutan Ibu kamu sampai tega menceraikan isterimu bahkan mengusir mereka dari kehidupanmu". Lirih Iriani.


Sekarang Iriani baru sadar bahwa yang dilakukan selama itu adalah perbuatan dzolim terhadap anaknya.


Apalagi setelah mendengar pengakuan suaminya yang sudah menghianatinya bahkan sampai ada niatan untuk menikahinya, membuat dada Iriani semakin sesak jika memikirkan tentang hal itu.


Sekarang Iriani merasakan apa yang dirasakan Salma menantunya, bahwa penghianatan itu sangat menyakitkan dan menyesakkan dada.


Apalagi sampai suaminya membagi cintanya membuat Iriani tidak dapat lagi membayangkan bagaimana rasa sakitnya.


Dengan lelehan air mata Iriani merutuki perbuatannya terhadap Salma dan suaminya, sekarang ia berjanji akan memperbaiki semuanya sebelum terlambat.


Jadi ia berharap Dilan masih bisa membatalkan rencananya untuk menikahi pelakor itu.


Dengan cara apapun Iriani akan mempertahankan rumah tangganya yang sedang di ujung tanduk.


Harapannya sekarang hanya dua, rumah tangga dirinya dan rumah tangga anaknya kembali utuh seperti semula walapun sekarang akan sulit sekali mengembalikannya.


Namun dia berfikir bagaimana nasib Nadia ke depannya, karena bagaimanapun Nadia adalah kesalahannya. Jika dirinya tak membantu Nadia masuk ke keluarga Satria mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Udahlah Bu, jangan disesali lagi toh semuanya sudha terjadi" jawab Satria dengan wajah datarnya.


Hiks...


Hiks...


"Ibu menyesal sekali Sat, karena kebodohan Ibu tidak hanya rumah tangga kamu saja yang hancur, tapi rumah tangga Ibu juga hampir berantakan" sesal Iriani sambil menundukkan wajahnya karena sudah tidak sanggup lagi memandang wajah anaknya yang diliputi kesedihan dan penyesalan.


"Terus kita harus bagaimana Bu? Isteri dan anakku telah aku usir ke jalanan, bahkan mereka itu tidak punya sanak saudara, dimana sekarang mereka tinggal Satria juga tidak tau, apakah mereka makan atau tidak Satria juga tidak tau, kalau memikirkan hal itu membuat dada Satria sakit bu karena sudah gagal menjaga mereka, Satria merasa menjadi laki-laki brengsek yang ada di dunia ini" raung Satria sambil memukul-mukul kepalanya.


"Sat! Sekali lagi maafin Ibu ya? Ini semua salah Ibu, seandainya waktu bisa diputar Ibu akan lebih mendengarkan nasehat dari Ayahmu, tapi sekarang semuanya sudah terlanjur, Ibu sangat sangat menyesal. Dan Ibu berjanji seandainya kalian bisa bersama lagi Ibu akan memperlakukan Menantu dan cucu Ibu dengan sangat baik, Ibu tidak akan mencampuri urusan rumah tangga kalian lagi, karena Ibu tidak tega melihat kamu harus menderita akibat perbuatan Ibu" Iriani menangis pilu sambil memeluk Satria.


Satria tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya terus meratapi kebodohannya, dan diapun berjanji akan mendapatkan mereka kembali dengan cara apapun, dan Satria akan melakukan segalanya demi kebahagiaan mereka sebagai penebus kesalahannya.


"Bu! Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Satria sambil menap lekat ibunya yang bemata sembab.


"Sekarang Ibu akan pergi ke Kantor ayahmu dan akan meminta maaf kalau perlu Ibu akan memohon ampunan supaya Ayahmu memaafkan Ibu" jawab lirih Iriani.


"Apakah Ibu yakin akan pergi dan meminta maaf kepada Ayah?" Tanya Satria lagi.


Iriani menjawab dengan penuh keyakinan "Ibu sangat yakin Sat, pokonya hari ini juga Ibu akan pergi ke kantor Ayahmu dan meminta maaf. Mudah-mudahan setelah melewati kejadian ini rumah tangga Ibu masih bisa dipertahankan".


"Baik kalau begitu, Satria ngikut saran Ibu dan aku akan menemani Ibu pergi ke kantor ayah".


"Makasih Nak,bentar ya Ibu siap-siap dulu sekaligus akan memesan makanan kesukaan Ayahmu" ucap Iriani sambil berlalu dari hadapan Satria.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2