
Murkanya Iriani
***
Danu masih saja menyaksikan pertengkaran hebat antara kedua orang tuanya, namun Danu tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mau dibilang memihak salah satu orang tuanya, karena bagaimanapun mereka adalah orang tua yang harus dihormatinya.
"EMANG YA KAMU IRIANI SUDAH TUA BUKANNYA INSAF MALAH KELAKUANMU SEMAKIN MENJADI-JADI, TOLONG HARGAI SARAN DARI SUAMIMU ITU. DAN KAMU DARI DULU SAMPAI SEKARANG BAHKAN KITA HIDUP UDAH 50 TAHUN LEBIH TAPI KAMU SAMA SEKALI TIDAK PERNAH MENDENGARKAN SARAN DARI SAYA SEDIKITPUN, KAMU SELALU MELAKUKAN APAPUN YANG KAMU MAU" terdengar Dilan mengeluarkan unek-uneknya dengan berapi-api karena sudah berpuluh-puluh tahun ia pendam kekecewaannya terhadap isterinya.
"YA IYAH LAH SAYA BISA MELAKUKAN APA SAJA YANG AKU MAU KARENA SAYA BERKUASA DIKELUARGA INI. KARENA SAYA JUGA KETURUNAN ORANG KAYA YANG TIDAK BOLEH ADA SATU ORANG PUN MERENDAHKAN HARGA DIRI SAYA TERMASUK KAMU, KAMU HARUS INGAT JIKA BUKAN AYAH SAYA YANG MENGANGKAT DERAJATMU KAMU BUKANLAH SIAPA-SIAPA HANYA SEORANG GELANDANGAN, KAMU SAYA ANGKAT DERAJATNYA SEHINGGA MENJADI PENGUSAHA SUKSES SAMPAI SEKARANG ITU ADALAH BERKAT JASA KELUARGA SAYA, SEDANGKAN APA YANG BISA KAMU BANGGAKAN HAH? KAMU HANYA KETURUNAN ORANG KAMPUNG, MISKIN PULA YANG DERAJATMU JAUH LEBIH RENDAH DIBAWAH TELAPAK KAKI KELUARGAKU. MAKANYA KAMU PANTAS MEMBELA MATI-MATIAN SALMA KARENA DERAJATMU SATU LEVEL DENGAN DIA. CUIH...SEKARANG KAMU SO SO AN MENCERAMAHI SAYA" amarah Iriani semakin menggebu-gebu tanpa memikirkan perkataannya sudah menusuk jantung Dilan yang masih terkejut dengan apa yang diucapkannya.
Mata Dilan semakin nyalang melihat kelakuan Iriani yang sudah berani menginjak-nginjak harga dirinya.
Tanpa basa-basi Dilan melangkah ke hadapan Iriani sambil menatapnya dengan tajam.
Dengan tatapan tajamnya Dilan memandang lekat isterinya itu, dan dia berfikir ternyata orang yang selama ini dinikahinya bahkan setengah abad lebih dirinya menjadi suaminya, semua kebusukannya sekarang terpampang jelas dimatanya.
Lalu Dilan pun berkata
"OKE, Memang saya akui, keluargamu yang mengangkat derajat saya sehingga saya menjadi seperti sekarang ini, tapi kamu harus ingat perusahan Dirlanta itu saya yang rintis dari nol sampai sekarang menjadi salah satu perusahaan terbesar di kota ini, dan apa yang kamu lakukan? Kamu tidak pernah sekali memberi konstribusi terhadap perusahaan itu justru kamu malah asik-asikan dengan duniamu sendiri bahkan kamu tidak segan-segan menghambur-hamburkan uang hasil kerja keras saya. Apakah saya pernah protes? Apakah saya pernah mengeluh? Apakah saya pernah mengambil uang yang menjadi hak kamu? Apakah saya pernah mengeluh ketika waktumu lebih banyak dihabiskan dengan rekan sosialitamu itu tanpa memperdulikan keluargamu? Jawabannya TIDAK. karena itu semua saya lakukan demi menghargai keluargamu yang telah memberi modal kepada saya, bahkan ketika kamu lebih memilih tinggal bersama Satria dan memanjakan pelakor itu saya tidak pernah keberatan hanya memberi saran jangan suka ikut campur urusan rumah tangga Satria itu saja" ucap Dilan pelan tapi kata-katanya menusuk sampai ke jantung Iriani.
Namun, walaupun begitu yang namanya Iriani sudah diliputi kesombongan dan keangkuhan sedari kecil sehingga kata-kata itu ia anggap seperti angin lalu.
Setelah mendengar ungkapan panjang lebar ayahnya, Danu semakin tau bahwa selama ini Ayahnya sebenarnya menderita, tapi karena masih menghargai Ibunya Ayahnya tetap diam dan mengikuti semua keinginan Ibunya.
Tapi kali ini Ibunya sudah keterlaluan merendahkan harga diri Ayah, sehingga Danu pun menjadi geram.
"Sudah dong Bu, kenapa sih Ibu selalu ungkit masa lalu ayah! Emang kurang baik apa coba Ayah selama ini terhadap keluarga kita, Ayah sangat bertanggung jawab kepada keluarga bahkan dia rela tidak tidur demi anak dan isterinya bisa makan. Tapi apa yang Ibu perbuat? Ibu sama sekali tidak pernah menghargai jerih payah Ayah bahkan Ibu selalu merendahkannya. Saya sebagai anak Ibu sangat kecewa dengan perilaku Ibu yang tidak pernah memikirkan kebahagiaan keluarga tapi justru lebih mengedepankan ego Ibu sendiri. Danu kecewa sama Ibu, lebih baik Danu pergi dari rumah ini mencari suasan baru" ucap Danu dengan segala kekecewaannya terhadap Ibunya. Setelah itu Danu melangkah pergi keluar rumahnya tanpa tujuan yang jelas yang penting menurutnya untuk sekarang ini akan menenangkan dirinya dulu dari suasana memanas keluarganya.
"DANU! DANU! BERHENTI KAMU JANGAN JADI ANAK DURHAKA, SUDAH DIBESARKAN DENGAN BAIK TAPI TIDAK TAU BALAS BUDI, DASAR ANAK TIDAK TAU DIUNTUNG. YA UDAH KALAU KAMU MAU PERGI, PERGI SAJA KALAU BISA GA USAH KEMBALI LAGI. KARENA SAYA TIDAK BUTUH ANAK DURHAKA SEPERTI KAMU" Iriani masih berteriak memaki Danu, namun sayang sekali orang yang menjadi objek kemarahannya sudah menghilang dihadapan mereka berdua.
__ADS_1
"CUKUP IRIANI, KAMU SUDAH SANGAT KETERLALUAN! BUKANNYA SADAR MALAH SEMAKIN KERAS KEPALA. TADINYA SAYA AKAN MEMPERTIMBANGKAN KEPUSTUSAN SAYA. TAPI MELIHAT TINGKAHMU YANG SEMAKIN MUAK, MEMBUAT SAYA TIDAK RAGU LAGI MENGAMBIL KEPUTUSAN INI" bentak Dilan yang semakin geram terhadap isterinya.
"APA MAKSUD KAMU? KEPUTUSAN APA YANG SEDANG KAMU RENCANAKAN?" jawab nyalang Iriani.
"OKE SAYA AKAN KATAKAN SEJUJURNYA, SAYA MEMPUNYAI WANITA SIMPANAN YANG LEBIH MUDA DAN DENGAN SEGERA SAYA AKAN MENIKAHINYA. BIAR KAMU PUAS SEKALIAN!" ejek Dilan.
"A-APPPPA" gugup Iriani yang tidak percaya akan kejujuran suaminya.
Brughh...
Irianipun ambruk sambil memegang dadanya yang semakin sesak.
Tiba-tiba ada orang yang berteriak memasuki ruang keluarganya.
"APPPPA?" teriak Satria.
Dilan dan Iriani pun menoleh ke arah sumber suara yang sedang berteriak.
"APA MAKSUD AYAH?"
"OH BELUM JELAS YA, OKE SAYA AKAN JELASKAN KEMBALI BIAR KAMU FAHAM. SAYA SUDAH MEMPUNYAI WANITA SIMPANAN YANG LEBIH MUDA DAN CANTIK BAHKAN DIA SEDANG MENGANDUNG ANAK AYAH, DAN SECEPATNYA AYAH AKAN MENIKAHINYA, JELAS KAN? APA MASIH KURANG JELAS?" jawab Dilan yang sorot matanya tak kalah tajam dari tatapan Satria dan Iriani.
Pranggg...
Iriani meraung sambil melemparkan benda yang ada disekitarnya.
Pranggg...
Argh....
__ADS_1
"DASAR LAKI-LAKI KURANG AJAR BERANINYA MENGHIANATI SAYA, BAHKAN SUDAH MENGHAMILI WANITA MURAHAN ITU, DASAR B******N, B******K, AWAS YA JANGAN HARAP SAYA AKAN MEMBIARKAN DIA MEMASUKI RUMAH INI!" Iriani berteriak histeris sambil melemparkan semua benda yang ada didekatnya.
"AYAH! APAKAH AYAH SADAR DENGAN APA YANG AYAH LAKUKAN, AYAH ITU SUDAH MENYAKITI HATI IBU, INGAT UMUR AYAH SUDAH TUA TIDAK PANTAS BERBUAT SERENDAH ITU. SEHARUSNYA AYAH MIKIR SEBELUM MENJADI PENGHIANAT DALAM KRLUARGA. BAHKAN DEMI PELAKOR ITU AYAH TEGA MEMBENTAK IBU YANG SUDAH BAIK SELAMA INI. SEHARUSNYA AYAH ITU LEBIH MENDEKATKAN DIRI KEPADA TUHAN BUKANNYA MENJADI ORANG YANG BERPRILAKU BURUK" teriak Satria, yang tidak terima Ibunya di selingkuhi.
Mendengar ucapan Satria, Dilan menatap kedua sosok yang berada di hadapannya. Lalu kemudian berkata sambil bertepuk tangan.
PROK
PROK...
"HAHAHA, KAMU GAK SALAH TUH MENCERAMAHI AYAH, APAKAH KAMU TIDAK INSTROPEKSI DIRI SATRIA BAGAIMANA KELAKUANMU ITU, EMANGNYA AYAH TIDAK TAU HAH, JANGAN MUNAFIK JADI ORANG SUDAH JELAS-JELAS KELAKUAN KAMU LEBIH RENDAH DARI PADA BINATANG EH MALAH SIBUK MENCARI KESALAHAN AYAH. HAHAHA SATRI SATRI LUCU SEKALI KAMU. APAKAH KAMU TAU APA YANG DIKATAKAN IBUMU KETIKA TAU KEBUSUKANMU. OKE AYAH JELASKAN YA SUPAYA KAMU MIKIR. IBUMU BILANG BIARKAN SAJA SATRIA SELINGKUH KARENA LAKI-LAKI ITU BEBAS MEMILIH PEREMPUAN YANG LEBIH BAIK, BIAR SAJA POLIGAMI KARENA SEMUA ITU TIDAK DILARANG, LEBIH BAIK SELINGKUH DENGAN YANG LEBIH MUDA DARIPADA TERUS MENYIMPAN PEREMPUAN TUA. NAH GITU YANG IBUMU AJARKAN PADA AYAH DAN SEKARANG AYAH MENURUTI KEMAUAN IBUMU APAKAH AYAH SALAH?" Cibir Dilan sambil melirik ke arah isterinya yang diam mebisu seakan membenarkan perkataannya.
Jleb....
Kata-kata ayahnya kena banget bahkan sampai masuk ke relung hati Satria. Kilasan kejadian yang menyakitkan pun terus terlintas difikiran Satria sehingga membuat rasa penyesalanpun kembali hadir.
Satria diam menunduk di hadapan ayahnya tanpa bisa membantahnya sedikitpun.
"Gimana Satria kamu bisa menjawab Ayah hah? Memang Ayah akui Ayah b*****k telah menghianati Ibumu, tapi apakah kamu pernah menanyakan alasannya kenapa? Ayah sudah muak melihat kelakuan ibumu yang semakin angkuh. Bukannya sadar malah memaki-maki Ayah jika diberi saran. Yang membuat Ayah murka, karena Ibumu sudah beraninya menghancurkan rumah tangga kalian bahkan dengan hasutannya kamu berani mencampakkan anak dan isteri kamu, padahal kamu tau Ayah sangat menyayangi mereka. Ibumu malah lebih membela pelakor dan menyanjungnya setinggi langit padahal sudah jelas perbuatannya tidak bisa dibenarakan oleh hukum manapun karena sudah merebut milik orang lain, dan buruknya Ibumu malah melindunginya dengan dalih kasihan kalau perempuan itu melahirkan anak tanpa seoranh ayah, terus apakah Ibumu tidak kasihan kepada isterimu yang sudah jelas-jelas mempunyai tiga anak dan telah mendampingi kamu selama ini dalam keadaan suka dan duka. Tapi apakah nurani Ibumu tersentuh? Jawabannya tidak .bahkan tidak ada raut penyesalan sedikitpun walau sudah menghancurkan rumah tangga kalian. Seakan Ibumu bangga dengan perbuatannya. Dan tentang Ayah yang selingkuh, awalnya tidak ada niatan sekalipun bahkan Ayah sudah mencoba untuk mengabaikannya namun karena godaan wanita muda itu membuat Ayah juga jatuh ke dalam buaiannya, kamu tidak bisa menyalahkan Ayah karena waktu itu ketika membutuhkan kasih sayang Ibumu, eh Ibumu malah menetap dirumah kamu untuk membela hak pelakor itu dan Ayahpun tanpa ragu berselingkuh sebagai jawaban atas kekecewaan pada ibumu. Dan sudah hampir dua bulan lebih kami menjalani hubungan dan sudah beberapa kali Ayah juga menidurinya sampai dia dinyatakan hamil, dan sebagai laki-laki yang harus bertanggung jawab sesuai yang selalu Ibumu katakan maka Ayah berniat menikahinya. Karena Ayah tidak mau anak Ayah terlahir tanpa mengenal sosok Ayahnya. Namun tadinya sempat berfikir ragu untuk menikahinya karrna masih memikirkan perasaan Ibumu, tapi setelah mendengar dan melihat kelakuan Ibumu yang sama sekali tidak pernah menghargai keberadaan Ayah, maka dengan keyakinan penuh, mau ada izin atau tidak tetap Ayah akan menikahinya, semoga kamu dan Ibumu tidak keberatan tentang keputusan Ayah. Ya udah silahkan kalian renungkan dulu perbuatan kalian lalu instropeksi diri. Setelah fikiran kalian tenang baru boleh menjawabnya! Ya udah kalau gitu Ayah pergi ke kantor dulu untuk mengurus berkas yang sudah menumpuk walapun sudah terlambat tapi tidak apa-apa dari pada tidakbmasuk sama sekali." Tutur Dilan panjang lebar tanpa ada sedikitpun yang ditutupinya.
Setelah kepergian Dilan, suasanan di ruangan itu menjadi hening. Karena masing-masing mereka memikirkan kilasan balik yang sudah terjadi.
Apalagi Satria, setelah mendengarkan ungkapan Ayahnya membuat pemikirannya semakin terbuka bahwa dirinya sudah gagal menjadi ayah dan suami.
Sedangkan fikiran Iriani melayang memikirkan perkataan suaminya yang sudah membuat dadanya semakin sesak.
Iriani berfikir, dia tidak boleh begitu saja menyalahkan suaminya karena bagaimanapun dirinyalah sumber dari malapetaka keluarganya.
Menyadari hal itu, Iriani semakin menyesal atas semua perlakuannya terhadap suaminya, dan sekarang sebelum terlambat dia bertekad akan memperbaiki rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk.
__ADS_1
Akhirnya Iriani mengajak Satria mendatangi kantor suaminya untuk meminta maaf sebagai awal dari memperbaiki rumah tangganya.
Bersambung...