Terjebak Cinta Sesaat

Terjebak Cinta Sesaat
Bab 29 Murkanya Dilan


__ADS_3

***


Di kediaman Dilan Dirlanta terlihat para penghuninya sedang melakukan sarapan pagi dimeja makan, sayang sekali Cindy tidka ikut bergabung dengan alasan takut terlambat datang ke kampus sehingga dia bergegas pergi meninggalkan rumahnya.


Di meja makan berkumpul hanya tiga orang saja yaitu Dilan, Iriani, dan Danu.


"Yah, katanya ada hal penting yang akan Ayah sampaikan, emang ada apaan Yah?" Danu membuka obrolannya.


"Nanti aja, selesaikan sarapan kalian dulu, baru setelah itu kita berkumpul di ruang keluarga". Jawab Dilan datar sambil mengunyah makanannya.


"Emang ada hal penting apa sih Pah, ko kayanya serius banget" tanya Iriani penasaran.


"Udah nanti aja, sekarang habisin dulu sarapannya!" Jawab Dilan dingin.


Iriani sudah mempunyai beberapa pertanyaan dibenaknya tapi tidka bisa di ungkapakannya takut membuat suaminya marah.


"kira-kira ada apa ya? Tidak biasanya pagi begini Papah mau bicara seserius itu, padahal keadaan rumah tangga kita baik-baik saja" guman Iriani dalam hati sambil terpaksa memasukkan makanannya dengan perasaan campur aduk.


Apalagi Iriani melihat dari semalam wajah suaminya datar tanpa ada senyuman sedikitpun.


Biasanya semarah apapun suaminya tidak pernah mengabaikannya, tapi dari semalam sampai pagi ini suaminya tetap menampakkan wajah datarnya.


Iriani melirik ke arah suaminya yang sedang mengunyah makanannya sama seperti dirinya tidak menunjukkan rasa kenikmatannya.


Tiba-tiba Danu menyimpan piringnya yang sudah ke westafel untuk mencucinya dan memberitahukan ayahnya.


"Yah, Danu sudah selesai sarapannya, Danu akan menunggu di ruang keluarga aja!". Danu pun berlalu pergi meninggalkan orang tuanya.


"Hem" Dilan hanya menjawab dengan kata hem saja tanpa mau bicara panjang lebar.


Setelah selesai menghabiskan sarapannya Dilan pun berlalu pergi dari hadapan Iriani tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Tak lama Iriani pun sudah menyelesaikan sarapannya, kemudian dia membereskan sisa makanannya yang masih banyak tersisa di piring suaminya dengan perasan masih yang sulit diartikan.


Setelah mereka berkumpul di ruang keluarga dengan duduk saling berhadapan, suasana menjadi diliputi aura ketegangan.


Dilan menatap wajah Iriani dengan tatapan yang sangat tajam "sekarang kamu sudah puas Mah?".


Iriani pun tidak mau kalah menatap tajam suaminya "apa maksud Papah? Mamah ngga ngerti".


"Jangan pura-pura nggak ngerti Mah, coba katakan pada papah apa yang kamu dapatkan setelah menghancurkan rumah tangga Satria?" Tegas Dilan.


"Oh itu, hehe kirain ada serius apa sih pah, dari tadi Mamah sampai dag dig dug segala loh sampai tidak enak makann, eh ternyata cuma menanyakan rumah tangga Satria, Papah ini gimana sih gak ada bahas yang lain lagi?" Jawab Iriani dengan wajah tanpa dosanya.


Melihat muka isterinya yang tidak nampak penyesalan, membuat Dilan menjadi murka.


Brakkk


Dilan memukul meja dengan sekeras mungkin sehingga membuat Danu dan Iriani terlonjak kaget.

__ADS_1


"APA KAMU BILANG HAH, CUMA?. IRIANI KAMU SADAR NGGAK KAMU ITU SUDAH MENGHANCURKAN RUMAH TANGGA SATRIA DAN DENGAN WAJAH TIDAK BERDOSANYA KAMU MALAH MENEYEPELEKAN MASALAH INI, DIMANA NALURI KANU SEBAGAI SEORANG IBU HAH, DIMANA?" bentak Dilan yang sudah menahan kemarahannya sejak tau biang kerok rumah tangga Satria hancur, bahkan Dilan sudah mengetahui menantu dan cucu kesayangannya di usir dari rumahnya.


Untung saja waktu itu Dilan ditelepon bi Sumi sebelum dipecat oleh Iriani, sehingga bi Sumi menyempatkan diri memberi tahukan Dilan.


Soalnya bi Sumi tau Salma adalah menantu kesayangannya. Sebagai balas budi kepada keluarga Dilan yang sudah baik kepadanya jalan terakhir sebelum pergi ke kampung halamannya bi Sumi mebyempatkan dulu menceritakan keadaan rumah tangga Satria yang hancur akibat ulah pelakor dan isterinya.


Mendengar semua itu membuat Dilan menjadi sangat murka, untung saja pas Iriani pulang ke rumahnya ketika waktu hampir malam, sehingga Dilan mencoba menahan api kemarahannya semalaman dan inilah puncaknya.


"JAWAB HAH KENAPA?"


Mendapatkan bentakkan pertama kalinya dari suaminya, Iriani bukannya merasa bersalah tapi justru semakin menantangnya bahkan membuat Dilan semakin murka.


"IYA EMANG SAYA YANG MEMBUAT RUMAH TANGGA SATRIA HANCUR, DAN SEKARANG SAYA... SANGAT... SANGAT PUAS SUDAH MEMBUAT SATRIA MEMBUANG ISTERINYA YANG TIDAK BERGUNA ITU, BAHKAN SATRIA LEBIH MEMILIH PELAKOR ITU YANG LEBIH MUDA DAN CANTIK DAN SAYA SANGAT SETUJU SEKALI. DAN KAMU TIDAK USAH MARAH-MARAH SAMA SAYA. SEHARUSNYA KAMU IKUT BAHAGIA KELUARGA KITA TERBEBAS DARI PARA BENALU ITU. DAN KAMU HARUS TAU SEBELUM MEREKA BERCERAI SATRIA SUDAH MEMBUKTIKAN BAHWA DIA SUDAH TIDAK MENGINGINKAN SALMA LAGI DENGAN CARA MENGHIANATINYA BAHKAN SATRIA SUDAH TEGA MENGHAMILI PELAKOR ITU. SAYA CUMA MEMBANTU MENDAPATKAN HAK PELAKOR ITU KARENA SAYA TIDAK MAU CUCU YANG LAHIR DARI MENANTU IDAMAN SAYA TERLAHIR TANPA AYAH, MAKANYA SAYA MEMBANTU MENYELESAIKAN MASALAH RUMAH TANGGA SATRIA. SEKARANG KAMU MALAH MENYALAHKAN SAYA HAH" bentak Iriani dengan tatapan matanya yang berapi-api.


Plakkkkkkkkk.....


Plakkkkkkkkk.....


Suara dua kali tamparan menggema di ruang keluarga.


"KAMU MEMANG WANITA TAK TAU DIRI YANG PERNAH SAYA TEMUI, SAYA SEMAKIN MUAK MELIHAT WAJAH TUA KAMU YANG DILIPUTI DENGAN KEBENCIAN. DARI DULU SAYA SELALU MENURUTI SEMUA PERKATAANMU DAN MENGABAIKAN SEMUA PERILAKUMUBYANG SUDAH DI LUAR BATAS. TAPI KELAKUAN KAMU KALI INI SUDAH SANGAT KETERLALUAN DEMI MEMBELA PELAKOR BAHKAN KAMU MEMBANTUNYA UNTUK MENDAPATKAN HAKNYA KAMU TEGA MEMBUAT SATRIA MEMBUANG ANAK DAN ISTERINYA YANG SELAMA MENDAMPINGINYA,,,HAHAHA SEPERTINYA OTAK KAMU SUDAH BERMASALAH IRIANI TEGA MENGHANCURKAN KELUARGA SATRIA YANG SEDANG BAIK-BAIK SAJA. DIMANA OTAK KAMU IRIANI, HAH!" tunjuk Dilan tepat di wajah Iriani yang memerah.


Mendengar keributan orang tuanya dengan alasan yang baru Danu ketahui membuatbia angkat bicara.


"Bu, kan sudah dari dulu Danu dan Ayah bilang jangan usah ikut campur urusan keluarga Satria. Kenapa sih Ibu tidak mau mendengarkan saran kami? Malah perilaku Ibu semakin menjadi-jadi. apalagi sekarang Ibu sangat keterlaluan sudah berhasil menghancurkan rumah tangga Satria. Bukannya menyesal malah dengan bangganya Ibu malah marah-marah kepada Ayah yang sudah mengingatkan Ibu" bela Danu kepada Ayahnya.


Mendengar Danu menceramahinya bukannya membuat Iriani sadar malah semakin murka.


"IRIANI! CUKUP KAMU MENGHINA SALMA, SEBENARNYA APA MASALAH KAMU SAMPAI BENCI SEGITUNYA. PADAHAL SALMA TIDAK PERNAH BERBUAT JAHAT KEPADAMU WALAUPUN KAMU SERING MERENDAHKANNYA. SUDAH TUA BUKANNYA TAUBAT, INGAT UMUR IRIANI! Mata Dilan semakin tajam menatapnya karena siterinya bukan sadar malah menantangnya.


Melihat keadaan yang semakin memanas Dani akhirnya mencoba mebelepon Satria, siapa tau dia bisa meredakan kemarahan orang tuanya.


Karena sumber dari pertengkaran mereka adalah dari Satria itu sendiri yang sudah menceraikan Salma bahkan anak-anaknya pun menjadi korban kekejaman Satria.


Sehingga perbuatan Satria membuat ayahnya murka, sebenarnya Danu juga merasakan kejengkelan terhadap sikap Satria yang labil tapi sebagai kaka Danu harus bisa menyelesaikan masalah keluarganya dengan kepala dingin.


***


Diperjalanan Satria melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata karena mengemudikannya dalam keadaan kacau balau.


Satria terus memukul-mukul setir mobilnya sambil menggeram menahan amarah akibat perbuatannya.


Bahkan rasa penyesalannya pun sekarang berada di puncaknya, dia tidak akan pernah memaafkan semua orang yang pernah terlibat dalam kehancuran rumah tangganya.


Satria terus berkeliling kota membelah jalanan kota dengan maksud mencari keberadaan Salma dan anaknya.


"Pokonya bagaimanapun caranya Papah harus menemukan kalian sayang, maafin Papah yang sudah buta membuang berlian demi emas rongsokan. Seandainya waktu itu Papah tidak terbuai hasutan Ibu dan Cindy mungkin tidak akan terjadi seperti sekaranga ini. Maafin Papah juga sayang yang sudah labil, padahal Mamah sudah memberi kesempatan kedua kepada Papah tapi itu semua tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya malah terjebak cinta sesaat" gerutu Satria sambil mencengkram setirnya dengan kuat.


Dretttt...

__ADS_1


Drettt...


Ketika dalam keadaan panik, Satria mendengar getaran ponselnya pertanda ada oranh yang menghubunginya.


"arghhh sial...siap sih yang menelepon tidak tau yah, saya dalam keadaan kesal,,arghhhh". Geram Satria.


Setelah melihat nama yang menghubunginya, Satria dengan terpaksa menggeser tombol hijau untuk menerimanya.


"Hallo, Sat! Kamu dimana?" terdengar suara Kakanya yang sedang panik.


"Iya Mas,, ada apa sih? Aku lagi dijalan mencari isteri dan anak-anakku" ketus Satria.


"Hahaha...apa? Kamu gak salah tuh bukannya kamu sudah membuangnya ya, bahkan demi membela pelakor itu kamu dengan teganya mengusir mereka yang berhak atas rumah itu,,dimana hati nurani kamu Satria? Kamu menghilangkan jasa Salma yang begitu besar buat kamu, dia rela direndahkan oleh Ibu demi mempertahankan kamu, bahkan dia rela hidup susah dan mendampingi suami yang labil kaya kamu, bahkan dia rela meninggalkan rumah dan perusahaan hasil kerja keras kalian berdua. Tapi dengan tidak tau malunya kamu Satria setelah berhasil malah menikmatinya dengan pelakor itu, sebenarnya kamu itu masih punya otak kagak Satria" geram Satria.


Jleb...


Mendengar perkataan kakaknya, membuat dada Satria semakin sesah dan menimbilkan penyesalan yang tiada tara.


"Iya Mas iya, aku ngaku salah dan menyesal, makanya sekarang dengan cara apapun aku akan mencari kemanapun asal mereka bisa ditemukan, dan setelah ketemu walaupun dengan bersujud sekalipun aku akan melakukannya Mas asal mereka mau memaafkan kebodohanku" isak Satria pilu sehingga membuat Danu tidak tega mendengarnya.


"Mudah-mudahan kamu itu betul-betul menyesal Sat, bukan hanya pura-pura saja kepada Mas. Soalnya Mas sangat sayang kepada adik ipar dan keponakan Mas. Tapi kamu harus ingat Sat, jangan ulangi lagi perbuatan bodohmu itu, sekarang kamu harus lebih tegas kepada siapapun yang akan menghancurkan rumah tanggamu!"


"Baik Mas, sekarang Satria akan lebih dewasa dan lebih tegas lagi tidak akan mengecewakan lagi kalian semua. Terimakasih Mas sarannya sekarang hati aku menjadi lebih lega"


"Iya sama-sama adikku, Mas Mendo'akan kalian semua supaya cepat berkumpul kembali menjadi keluarga yang bahagia" ucap tulus Danu.


"Amiin Yaa Robbal 'Alamiin".


"Eh Mas, ada apa sih menelepon Satria tadi kedengarannya sangat panik sekali?" Tanya Satria.


"Eh iya hampir lupa, pokonya sekarang kamu harus secepatnya pulangbke rumah Ayah Sat, soalnya Ayah dan Ibu lagi bertengkar hebat".


"Apa, serius Mas? Oke kalau begitu Satria secepatnya ke sana" panik Satria yang langsung membelotkan mobilnya menuju ke arah rumahnya.


"Serius Sat, pokonya kamu cepat ke sini, dan jangan hati-hati di jalan jangan ngebutn" perintah Danu.


"Baik Mas, kalau gitu saya akan ke sana sekarang juga"


Tut...


Tut...


Satria menutup ponselnya. Dan dengan tidak mengurangi kecepatan Satria melajukan mobilnya dengan kencang.


Satria masih berfikir, ada apa dengan orang tuanya tidak biasanya mereka bertengkar.


Selama yang Satria tau, Ayahnya lah yang selalu mengalah kepada Ibunya. Ayahnya sering menutup mulutnya ketika Ibunya sedang mengomel.


Bahkan walaupun Ayahnya tau watak Ibunya yang keras kepala, tetap saja Ayahnya selalu mengalah karena sangat mencintai Ibunya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2