
Bab 23
"Mah! Dengarkan papah dulu jangan mengambil kesimpulan seperti itu!" Satria mencoba memegang tangan isterinya tetapi Salma menepisnya secara halus.
"Sudahlah Satria tidak usah menjatuhkan harga dirimu dihadapan perempuan tak tau diri itu! Salma sudah memberikan izin untuk kamu berpoligami, ya sudah lanjutkan saja kamu akan bahagia mempunya isteri dua seharusnya kamu bersyukur!"
"Tapi Bu"
"Sudahlah percaya pada Ibu, kamu akan bahagia karena kamu sudah menjadi laki laki baik yang mau bertanggung jawab kepada Nadia, dengan menikahinya kamu sudah menebus kesalahanmu!"
Satria tidak bisa berkata apapun lagi seakan bibirnya kelu, tapi sekarang perasaannya menjadi dilema antara isteri dan bertanggung jawab.
Tanpa banyak bicara Salma pergi lagi ke lantai atas, tak lama kemudian ia menyeret sebuah koper yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Sebelum melangkah ke arah mereka, Salma menghampiri kamar anak bungsunya.
Tak lama Salma pun keluar lagi sambil menggendong anak bungsunya serta membawa tas perlengakapan anaknya.
Dirasa keperluannya sudah cukup, Salma pun menghampiri mereka yang masih tercengang melihat apa yang terjadi dihadapannya.
"Pah, jika memang kamu bersikukuh mau menikahi Nadia silahkan saja mamah tidak keberatan! Namun mamah lebih baik pergi daripada harus dimadu, mamah akan menenangkan fikiran dulu untuk memikirkan masa depan rumah tangga kita".
"Tidak usah mencari mamah lagi, karena mamah yakin ditempat baru akan merasa aman". Lanjut Salma lagi sambil menyeret langkah kakinya keluar rumah.
"Mah! Mah jangan tinggalin papah, jangan ambil keputusan disaat marah kita bicarakan dulu baik baik, papah gak mau kehilangan kalian berdua tapi papah juga sebagai laki laki harus bertanggung jawab atas kesalahan papah dan papah gak mau bayi yang ada dalam kandungan Nadia lahir tanpa mengenal sosok ayahnya".
Jleb...
Kata kata suaminya membuat sesak dada Salma kembali terasa, tapi Salma berpura pura kuat dan tidak menunjukan ekspresi kesedihannya.
Dengan wajah datarnya Salma pun angkat bicara.
"Sudahlah pah! Kamu akan bertanggung jawab menikahi Nadia sebagai menebus rasa bersalahmu silahkan! Tapi kamu harus fikir fikir dulu apakah tindakkan papah itu tidak akan membuat mamah sakit hati?".
"Sudahlah Salma jika kamu mau pergi ya pergi saja jangan menjadi ratu drama, harusnya kamu bersyukur mempunyai suami yang mau bertanggung jawab atas kesalahannya" Iriani menyambar ucapan Salma, takutnya Satria berubah fikiran jika terus diracuni pemikirannya oleh Salma. Fikirnya.
Salma memandang mereka satu persatu, dan tanpa banyak bicara lagi ia melangkahkan kakinya ke luar rumah dengan membawa serta anak bungsunya yang masih tertidur di pangkuannya.
"Mah! Mah" Satria mencoba ingin mengejar isterinya tapi sebelum itu terjadi Iriani memegang tangan Satria.
"Sudahlah Satria jangan sedih gitu! Kan sekarang sudah ada Nadia yang akan menggantikannya, Salma itu cuma menggertak kamu supaya tidak jadi menikahi Nadia. Cih..dasar wanita munafik mau menipu kita eh ternyata dia sendiri yang kalah. Pasti Salma akan menyesal dan kembali merengek meminta belas kasihanmu, Ibu yakin itu"
"Dan kamu Satria sebagai laki laki harus tegas jangan sampai terpedaya oleh kelicikan isterimu, ingat itu!".
Fikiran Satria menjadi kosong dan tidak bisa berfikir secara rasional. Tanpa mengungkapkan sepatah katapun ia pergi menaiki anak tangga untuk mengurung diri di dalam kamarnya.
__ADS_1
Iriani melirik kepada Nadia lalu ia berkata
"Tuh kan tante bilang juga apa, pasti Satria lebih mendengarkan perkataan Ibunya dari pada isterinya, jadi kamu tenang saja tante pastikan Satria akan menikahimu".
"Sebelum Satria betul betul menikahimu, tante akan terus mendampingimu bahkan tante akan tinggal di rumah Satria untuk sementara waktu, gimana menurut kamu Cin?" Tanya Iriani sambil melirik ke arah Cindy yang masih diam membisu.
"Aku sih setuju aja mah lebih baik kita tinggal di sini sementara waktu untuk menjaga Nadia, dan juga harus terus meyakinkan Kakak supaya secepatnya menikahi Nadia" saran Cindy meyakinkan ibunya.
"Kalu kamu Nad?"
Perasaan Nadia susah untuk diungkapkan dengan kata kata, rasa bahagia nya menyelimuti hatinya karena rencananya berjalan dengan mulus bahkan dengan mudahnya sudah membuat Salma pergi keluar dari rumahnya sendiri yang selama ini tempat menaunginya.
Walaupun Nadia sudah membuat banyak drama bahkan sampai mau membunuh dirinya sendiri itu tidak menjadi masalah, karena pada akhirnya Nadia lah sebagai pemenangnya.
"Makasih Tan, Nadia ikut semua yang tante sarankan" ucap Nadia sambil memeluk Iriani.
"Nah gitu dong ini baru calon mantu idaman, tidak sia sia tante membela kamu mati matian dan menyingkirkan perempuan itu dari kehidupan Satria" Iriani membalas pelukan Nadia dan menyunggingkan senyuman kemenangan.
***
Diperjalanan Salma tidak henti hentinya menangisi keadaannya yang menyedihkan, suami yang sangat dipercayainya justru kembali menorehkan lukanya.
"Bunda, kenapa menangis?" Tanya Ucu anak ketiga dari pernikahannya bersama Satria.
"Bunda tidak menangis ko sayang cuma mata Bunda kelililan debu saja" Salma meyakinkan anak bungsunya.
"Ya udah Bunda jangan menangis lagi ya, kan sekarang ada Ucu yang akan menjaga Bunda" ungkap anak berusia 4 tahun itu.
Mendengar ungkapan anaknya hati Salma pun semakin teriris, dia mengucapkan syukur karena sudah dikarunian ketiga anaknya yang sholeh dan sholehah serta cerdas.
"Makasih sayang, Bunda tidak akan pernah menangis lagi ko" haru Salma sambil mendekap erat anaknya.
Sekarang tujuan Salma adalah mencari tempat ngontrak sementara sambil mencari pekerjaan untuk menghidupi anak dan dirinya.
Karena Salma yakin suaminya tidak akan memberikan nafkah sepeserpun karena sudah ada Ibu mertuanya yang mengatur semua pengeluaran uangnya.
Sekarang Salma merasa menyesal akhir akhir ini karena merasa kebahagiaannya beserta suaminya sudah kembali harmonis sehingga mengembalikan ATM yang selama ini telah dipercayakan suami kepadanya untuk mengelola keuangannya.
Karena Salma hanya ingin mengelola keuangannya dari jatah bulanan yang diberikan suaminya.
Salma tidak tau akan terjadi kejadian seperti ini, sehingga dia sangat menyesal kalau tau akan terjadi seperti sekarang tentu tidak akan mengembalikan kekuasaan penuh pada suaminya untuk mengelola keuangan keluarganya.
Nasi sudah menjadi bubur begitu menurut pemikiran Salma, bagaimanapun sudah terjadi, Salma hanya mendoakan suaminya tidak bertindak gegabah sehingga mereka tidak memanfaatkan keuangan suaminya.
Setelah lama berkeliling mencari kontarakan, akhirnya Salma menemukan kontrakkan itu walaupun sangat jauh tidak layak dibandingkan dengan istananya.
__ADS_1
Tapi Salma bersyukur sekarang sudah ada tempat tinggal sementara untuk menampung hidup anak dan dirinya.
Satu tujuan Salma sekarang yaitu segera mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
***
Dilain tempat terlihat Arga sedang duduk di atas sofa sambil memikirkan nasib Salma.
Setelah dirinya sembuh seminggu yang lalu Arga pun sudah diperbolehkan pulang oleh dokter setelah dinyatakan sembuh total.
Setelah lama merenung, akhirnya Arga mengingat sesuatu dan langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum Ren! Gimana tugas yang aku berikan sebulan yang lalu sudah kamu dapat informasi detailnya?" Cerocos Arga tanpa basa basi.
"Waalaikumsalam,,haha Arga Arga bukannya nanyain kabar ke, balah langsung menanyakan tentang Salam" heran Rendy.
"Saya sudah gak sabar mau mendengar kabarnya Ren, terus terus gimana infonya?"
"Hahaha sabar dulu dong sayang! Slow jangan terburu buru, tenang saja saya sudah mengumpulkan informasi yang sangat aktual tajam dan terpercaya" goda Rendy.
"Cih...sayang sayang palalu peang. Jijik tau. Kaya selogan berita di TV aja" kekeh Arga.
"Tenang! saya kirim sekarang juga melalui email ya, pokonya semuanya sudah terangkum dengan baik, dan saya pastikan kebenarannya" yakin Rendy.
"Makasih sayang, kamu memang sahabat terbaikku, tidak sia sia saya punya sahabat seperti kamu ternyata ada gunanya juga" lanjut Arga.
"Cuihhhh,,katanya jijik dipanggil sayang tapi sekarang malah kamu yang memanggil aku sayang, hati hati loh nanti beneran sayang" kekeh Rendy.
"Gak bakalan itu, saya terlalu senang mendengarnya, cepat kirimkan segera email nya saya sudah tidak sabar membaca informasinya!" Perintah Arga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Oke saya kirim sekarang nih, kalau gitu udah dulu ya. Assalamualaikum!
"Waalaikumsalan, makasih Ren!".
Tak lama sebuah notifikasi pertanda sebuah email masuk ke ponsel Arga, Argapun tidak lama membukanya.
Klik...email pun terbuka.
"Salma merupakan anak yatim piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan, setelah beranjak dewasa ada seorang pria dari keluarga pengusaha kaya yang meimnangnya namanya Satria, dia mempunyai kakak bernama Danu dan adiknya bernama Cindy. Awalnya pernikahan mereka bahagia namun akibat kebencian ibu mertua dan adik iparnya sehingga rumah tangga mereka sekarang berada diujung tanduk. Satria bekerja diperusahaan Satalma group yang menjabat sebagai Direktur. Satria pernah menghianat isterinya dengan sekretarisnya dan penghianatan itu didukung penuh oleh ibunya, dan sekarang di kabarkan mereka akan melangsungkan pernikahan keduanya. Karena tidak mau di madu Salma akhirnya pergi dari rumah itu dengan membawa anak bungsunya"
"Apa? Jadi Satria tega menghianati mbak Salma dan malah mau menikahi pelakor itu, dasar laki laki brengsek berani menyia nyiakan berlian demi emas imitasi, tapi pergi kemana kamu mbak?" Gerutu Arga.
"Pokonya saya harus menemukan mbak Salma dengan cara apapun, perasaan mbak Salma sekarang ini pasti hancur lebur" tekad Arga.
Bersambung...
__ADS_1