
Bab 21 Dua Sisi
***
"Pa-pah ga tau mah ini bekas gigitan apaan, tiba tiba ada bentol bentol merah kaya gini" gugup Dilan.
"Kenapa gugup gitu si Pah?, Mamah marah karena Papah tega bohongin Mamah, kenapa gak bilang kalau Papah terkena alergi seafood. Kan sudah Mamah bilang jangan makan makanan laut seperti itu bisa bisa alergi papah kambuh!" Khawatir Iriani.
Dilan pun menghela nafas lega isterinya tidak menaruh curiga padanya.
"Eh iya mah bener banget, tadi waktu papah meeting dengan klien banyak hidangan laut jadi papah gak bisa menolak karena menghargai klien papah, jadi terpaksa Papah ikutan makan juga".
"Ya udah pah, cepat mandi gih!"
"Iya siap Mah"
Dengan perasaan lega Dilan pun memasuki kamar mandi sambil bersenandung ria.
Setelah mereka selesai makan malam, Dilan dan Iriani kembali ke kamarnya untuk membahas soal Satria.
"Pah! Mamah tuh sebenarnya kesal banget sama Satria, sudah jelas jelas isterinya berkhianat eh malah terus di bela".
"Hus jangan nuduh sembarangan Mah, nanti bisa jadi fitnah".
"Cindy sudah melihat langsung Salma selingkuh Pah, katanya dengan berondong. Tapi kalau menurut Mamah sih bagus supaya Satria segera mengusir Salma dari rumah itu, Mamah sudah muak dengan kelakuan so polos isterinya itu, tapi kayanya Satria juga selingkuh deh Pah, kata Cindy, dia mendengar sudah terjadi pertengkaran Satria dan perempuan itu. perempuan melabrak Satria menuntut pertanggung jawaban".
"Hahaha Mamah sih setuju Satria selingkuh, biar Salma tau rasa emang enak dikhianati oleh suaminya. Biar perempuan kampungan itu menangis darah, laki laki seperti Satria Mamah yakin masih laku siapa sih yang tidak mau sama laki laki yang tampan dan kaya. Beda dengan Salma yang sudah tua pasti mana bakal ada yang mau sama janda beranak tiga. Hahaha".
"Kenapa sih Mah? Selalu ikut campur urusan mereka. Biarlah mereka itu hidup dengan tenang. Bukannya kita sebagai orang tua akan ikut bahagia juga kalau mereka bahagia?".
"Ck...Papah itu masih belum mengerti kemauan Mamah yang menginginkan punya menantu yang cantik, muda, cerdas, berpendidikan, dan wanita karir, supaya tidak hanya ongkang kaki saja di rumah menunggu belas kasihan suaminya, kan ga ada salahnya sih pah isteri juga membantu ekonomi keluarga tidak menjadi benalu bagi suaminya".
"Kalau gitu apa bedanya dengan Mamah, kan Mamah juga cuma di rumah, kegiatannya selain menghamburkan uang Papah cuma jalan jalan malah sekarang tambah lagi selalu ikut campur urusan keluarga anak kita".
"Ih Papah malah nyalahin Mamah, beda atuh Pah jangan samakan Mamah dengan Salma, kalau Mamah kan wanita terhormat yang kaya raya sedangkan Salma sudah miskin yatim piatu lagi, derajatnya jauh beda lah" gerutu Iriani.
"Terserah Mamah lah, Papah sudah cape menasehati Mamah tapi tidak ada satupun nasehat Papah yang mengetuk pintu hati Mamah, sekarang terserah Mamah mau melakukan apapun asal jang menyesal dikemudian hari" geram Dilan yang sudah tidak peduli lagi sama isterinya yang keras kepala.
Dilan pun merebahkan dirinya di atas ranjang dan memejamkan matanya.
***
Sudah satu bulan perselingkuhan Dilan dan Nadia berlangsung, dalam satu bulan itu sudah tidak terhitung lagi mereka melakukan hubungan intim tanpa memakai pengaman sekalipun.
Hubungan intim mereka paling sering dilakukan di ruangan kantor Dilan, karena bagi mereka tempat itulah yang dirasa aman.
Nadia merasakan perubahan di tubuhnya, akhir akhir ini, setiap pagi ia merasakan rasa mual yang luar biasa mengganggu aktivitasnya.
Padahal Nadia sudah bekerja dari bulan lalu, tapi sekarang Nadia merasa gelisah takut sesuatu akan terjadi dalam kehidupannya sehingga mengacaukan rencananya.
"Duh gimana nih, seandainya saya hamil dan Om Dilan tidak mau bertanggung jawab".
"Om Dilan sih hiper banget hampir setiap hari mengajak berhubungan intim, nggak pake pengaman lagi. Tapi tunggu tunggu jika saya hamil berarti ini anugerah buatku, hahaha iya bener? Saya bisa mengeruk harta Om Dilan dan juga bisa mempergunakan kehamilan ini untuk menjebak Satria. Pasti mereka akan percaya soalnya saya kan pernah tidur bareng dengannya walau di paksa sih" Nadia tersenyum licik karena kemenangan sudah ada di depan matanya.
Dalam bayangan Nadia, dia akan menikah dengan Satria yang lebih muda dari Dilan, tapi juga bisa mengeruk harta Dilan dengan sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Dan tanpa fikir panjang Nadia pergi ke sebuah apotek untuk membeli alat tes kehamilan.
Setelah kembali dari apotek, Nadia memasuki kamar mandi untuk menggunakan alat tes kehamilan itu.
"Yesss, akhirnya aku hamil. Hahahaha hamil membawa berkah, tetap tumbuh ya anakku sayang walaupun ayahmu sudah tua, tapi mamah lagi berusaha menjadikan pria yang lebih muda menjadi ayahmu" Nadia tertawa terbahak bahak saking bahagianya.
"Oke kita beraksi sayang" Nadia tersenyum licik sambil mengelus perut ratanya.
***
Pergantian Bulan pun telah berlalu dan sebulan penuh itu keluarga Satria merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa.
Kesempatan itu digunakan keluarga Satria untuk lebih dekat lagi dengan keluarganya.
Salma pun merasa suaminya telah banyak perubahan, sikapnya yang selalu memanjakan isteri dan anaknya membuat Salma bersyukur keluarganya kembali harmonis.
Dan dalam sebulan itu, mertua dan adiknya sudah tidak datang lagi ke rumah Salma, sehingga Salma bisa bernafas dengan lega.
Seperti di pagi hari ini dengan suasana keluarga yang hangat mereka sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"Pah, Mamah bersyukur akhir akhir ini keluarga kita mendapat kebahagiaan, mudah mudahan kebahagiaan ini tetap menghampiri keluarga kita" Salma membuka obrolan sambil menyajikan sarapan kepada anak dan suaminya.
"Iya Mah, Papah juga bahagia banget bisa membahagiakan kalian semua, karena kalian semua duniaku, jika dunia hancur maka Papah tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Papah".
"Mudah mudahan Allah Swt selalu melindungi keluarga kita dari segala mara bahaya" harap Salma lagi.
"Aamin Yaa Robbal 'Alamiin" ucap Satria.
Tingnong...
Tingnong...
Tak lama Salma pun membuka pintu untuk melihat tamu yang datang di pagi hari.
Hampir saja Salma terkejut meilhat tamu yang berkunjung kerumahnya.
"Assalamualaikum Bu, Cin apa kabar?" Sambut Salma.
"Cih, tak usah basa basi, sampai kapanpun saya gak sudi punya menantu seperti kamu" ketus Iriani.
"Sudahlah mbak jangan so akrab dengan kita, saya juga gak sudi punya kakak ipar seperti mbak" sinis Cindy.
Salma tak menghiraukan ucapan mertua dan adik iparnya.
"Silahkan masuk Bu, Cin!"
Tanpa rasa hormat ke tuan rumah mereka langsung memasuki ruang tamu.
"Siapa sih sayang? Yang bertamu pagi pagi begini". Tiba tiba Satria datang menghampiri Salma.
"Eh ada Ibu, apa kabar Bu?" Tanya Satria sambil mencium tangan ibunya.
"Alhamdulillah baik Sat, gimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah sekarang baik baik saja bu, malahan Satria bersyukur keluargaku menjadi lebih harmonis" Satria menjawab dengan yakin.
__ADS_1
Akhirnya ke empat orang itu duduk di kursi ruang tamu rumah Satria.
"Ada apa Bu?, tumben mampir ke sini?" Tanya Satria memulai obrolannya.
"Kenapa?, kamu gak suka ya Ibu datang ke sini?, Jangan kurang ajar kamu! Bagaimanapun rumah ini milik ibu juga karena rumah anak rumah orang tua juga" Iriani menjawab dengan ketusnya.
"Bukan begitu Bu, Satria senang jika ibu mau mampir ke rumah Satria".
"Baguslah kalau gitu" ketus Iriani.
"Terus maksud Ibu datang ke sini ada apa?, Biasanya Ibu tidak akan mampir ke rumah Satria jika tidak ada hal penting yang perlu dibahas?". Tanya Satria lagi.
Salma diam membisu mengamati obrolan serius suami dan ibunya.
"Kamu masih tetap mempertahankan isteri benalu mu itu? Kenapa sih kamu gak sedikit pun mematuhi perintah Ibu?".
"Bu, sudah lah jangan ungkit lagi masalah itu, kami sudah bahagia masa Ibu gak mau kalau anaknya bahagia bersama keluarganya". Kali ini Satria menjawab dengan tegas.
"Ibu pasti bahagia jika anak ibu bahagia tapi bukan dengan Salma Satria, Ibu akan sangat bahagia jika Ibu punya menantu ideal impian Ibu". Iriani menjawab pertanyaan Satria sambil melirik ke arah Salma.
Mendengar ucapan Ibu mertuanya yang sangat frontal membuat hati Salma sakit bagaikan tersayat sembilu.
Salma tetap diam membisu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Salma sudah biasa dengan penghinaan ibu mertuanya.
"Bu, apa Ibu ga cape selalu membenci isteriku tanpa alasan yang jelas?, Hargai dengan pilihan Satria Bu walau hanya sediktpun, Satria sudah bahagia dengan pilihan Satria" sedih Satria.
Hati Salma menjadi lega mendengar pembelaan suaminya. Dan Salma semakin yakin bahwa suaminya akan menepati janjinya.
"Pokonya sampai kapan pun Ibu gak akan bosan menyuruh kamu membuang isterimu itu, titik!" Sarkas Iriani.
Ugh...
Satria menjadi geram akan tingkah laku ibunya, tetapi Satria tidak bisa berbuat apa apa takut menyakiti hati ibunya.
"Kenapa sih Bang? Gak nurut perintah Ibu sedikit pun. Kurang baik apa Ibu sama Abang yang ingin anaknya mendapatkan yang terbaik?" Cindy ikut menimpali.
"Sudah lah Cindy! Kan sudah Abang bilang jangan ikut campur urusan Abang kamu itu masih kecil yang tidak tau apa apa!" Satria menatap adiknya dengan tajam.
Ck...
Cindy pun berdecak kesal terhadap Satria, tapi sekarang tidak mau melawan perkataan kakaknya takut tamparannya melayang di pipinya.
Tiba tiba bi Sumi datang menghampiri mereka yang sedang berdebat.
"Maaf Pak mengganggu, di luar ada seorang perempuan yang ingin bertemu dengan Bapak" jawab bi Sumi.
"Siapa bi?" Tanya Salma.
"Em...itu bu perempuan yang waktu itu pernah datang ke rumah ini dengan sahabatnya tapi sekarang dia sendiri". Jawab bi Sumi.
Deg...
Satria dan Salma terlonjak kaget, pasti tebakannya tidak salah perempuan itu adalah Nadia pelakor tidak tau diri.
"Hai, boleh saya bergabung!" Tiba tiba Nadia dengan gaya angkuhnya berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"KAMU! NGAPAIN LAGI DATANG KE SINI?" Teriak Satria.
Bersambung...