
Perceraian
Seperti suara pemberitahuan gempa dan tsunami, kata kata itu menggema di telinga Salma.
Dengan perasaan hancur Salma pun menatap tajam ke arah suaminya dan Nadia.
prok...prokkk....
Salma bertepuk tangan sambil menatap tajam ke arah Satria dengan suara lantang diapun menjawab
"BAIK JIKA ITU KEPUTUSANMU, SAYA SALMA NURAZIZAH MENERIMA DENGAN IKHLAS TALAK YANG DIJATUHKAN OLEH KAMU. SEKARANG KAMU BEBAS MELAKUKAN APAPUN YANG KAMU MAU. HAHAHA SELAMAT SEKARANG KAMU MENDAPATKAN WANITA MURAHAN YANG SUATU SAAT AKAN MEMBUAT SAKIT HATI YANG BERLIPAT GANDA BAHKAN MEMIKIRAN RASA SAKITNYA KAMU TIDAK AKAN BISA, SAKING PEDIHNYA. KAMU BOLEH BERKATA BURUK TENTANG AKU TAPI KAMU HARUS INGAT SETIAP PERBUATAN BAKAL ADA BALASANNYA, DAN SEMOGA KAMU BERUNTUNG TIDAK MENDAPATKAN AZAB YANG SANGAT PEDIH. MULAI SEKARANG SAYA AKAN MEMBAWA ANAK ANAK PERGI SEJAUH MUNGKIN BAHKAN DALAM KHAYALANMU SAJA TIDAK AKAN PERNAH MENEMUKAN KAMI. DAN JIKA SUATU SAAT PENYESALANPUN DATANG MAKA SEKALIPUN KAMU BERSUJUD, SAYA SALMA NURAZIZAH JANGAN HARAP MAU KEMBALI KEPADAMU DAN SAYA TIDAK AKAN SUDI JIJIK RASANYA HARUS KEMBALI KEPADAMU. JIKA WAKTU ITU DATANG SAYA HANYA BISA MENGUCAPKAN "SELAMAT ITULAH AKIBAT DARI KEBODOHANMU DAN SILAHKAN MENIKMATINYA"!"
"HAHA DAN SEMUA ITU TIDAK AKAN PERNAH TERJADI, SAYA SATRIA DIRLANTA TIDAK AKAN PERNAH MENYESAL SAMPAI KAPANPUN ATAS KEPUTUSAN SAYA SENDIRI. JUSTRU KAMU YANG AKAN MENYESAL KARENA SUDAH MENINGGALKAN RUMAH INI. KAMU TIDAK AKAN BISA HIDUP TANPA HARTAKU KAMU TIDAK PUNYA SIAPA SIAPA UNTUK BERLINDUNG. SAYA YAKIN SETELAH KELUAR DARI RUMAH INI KAMU AKAN MENJADI GELANDANGAN YANG MENYEDIHKAN BAHKAN ANAK ANAKMU JUGA AKAN SEPERTI SEORANG PENGEMIS. CUIHHHH JANGAN HARAP SAYA AKAN MEMOHON KEMBALI PADAMU ITU SANGAT MUSTAHIL. SAYA TAMPAN MASIH MUDA SEORANG PENGUSAHA SUKSES AKAN MUDAH MENDAPATKAN PEREMPUAN MANAPUN YANG SAYA MAU DAN KAMU...SUDAH TUA, JELEK, MISKIN, JANDA BERANAK TIGA PULA!" tunjuk Satria ke arah muka Salma yang memerah menahan amarah akibat perkataan Satria.
Salma tidak membalas perkataan Satria, tanpa berbicara sepatah katapun lagi ia berlalu keluar dari kamar itu.
Rahma dan Zian masih diam terpaku melihat pertengkaran kedua orang tuanya.
Dengan air mata berlinang Rahma maju ke hadapan ayahnya.
"SAMPAI KAPANPUN SAYA TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN KESALAHAN AYAH KARENA SUDAH MENYAKITI HATI BUNDA!". ucap Rahma. Lalu Rahma pergi keluar menyusul ibunya.
"DAN SATU LAGI AYAH, AYAH TIDAK AKAN PERNAH BISA MENEMUKAN KAMI BERADA. JIKA SUATU SAAT KAMI BERTEMU MAKA ANGGAPLAH KITA TIDAK PERNAH SALING MENGENAL. SAYA MEMBENCI AYAH S E L A M A N Y A!" ungkap Zian.
Zian yang biasanya hanya diam, tapi kali ini dia mengungkapkan kebencian kepada ayahnya.
Setelah mengungkapkan kebencian kepada ayahnya Zian pun berlari mengejar Kaka dan Bundanya.
Setelah kepergian mereka, tubuh Satria ambruk ke atas lantai sambil memukul mukul kepalanya.
Arghhhhhhhhhhh....
Argh...............Argh....raung Satria.
"SIAL KENAPA JADI BEGINI" Satria berteriak frustasi.
Melihat keadaan suaminya, Nadia langsung menenangkannya dengan memberikan pelukan hangatnya.
"Sudahlah Mas! Jangan bersedih lagi, sekarang masih ada aku yang akan selalu menyayangi dan mendampingimu, biarkan mereka pergi toh buat apa mempertahankan mereka jika merekanya ingin pergi, sekarang kita mulai kehidupan baru Mas membesarkan anak kita, saya yakin pasti kita akan bahagia" bujuk Nadia.
Satria mendongak menatap isterinya kemudian berkata.
"Baiklah kita akan mulai hidup baru, saya tidak akan pernah menyesal kehilangan mereka jika masih ada kamu. Kita harus berjanji kita akan hidup bahagia selamanya". Satria membalas pelukan isterinya.
***
Setelah sampai di kontarakannya, mereka pun turun dari kendaraan yang ditumpanginya.
Kesedihan Salma sudah tidak terlihat lagi karena buat apa menyesali yang sudah terjadi.
Sia sia saja menangisi seorang penghianat, sehingga memikirkan hal itu membuat Salma semakin tegar.
"Sayang, tunggu di teras dulu ya? Bunda mau ajak adik kalian yang Bunda dtitipkan ke tetanga Bunda".
"Baik Bund".
Setelah Salma kembali dari tetangga yang dititipkan anaknya, terlihat sekarang Ucu sudah ada dalam gendongannya.
Terlihat wajah polos anak itu sangat ceria tanpa beban.
__ADS_1
"Yuk sayang sekarang kita masuk, untuk membereskan barang Bunda dan adik kalian". Ajak Salma kepada anak anaknya.
Setelah dirasa persiapannya sudah selesai. Mereka ber empat keluar dari kontrakkan Salma.
Tidak lupa Salma mengembalikan kunci kontarakannya sekaligus pamit kepada pemiliknya.
Salma memesan taksi online untuk mengantarkannya ke tempat terminal Bus menju kampung halaman orang tuanya.
Kebetulan Salma sudah mengetahui sejak lama tau keberadaan kampung halaman orang tuanya.
Dia bertekad kembali ke kampung halaman orang tuanya untuk membuka lembaran baru dan melupakan kesedihannya.
Walaupun orang tuanya sudah tidak ada tapi Salma yakin di sana dia akan merasakan ketenangan bersama anak anak nya.
Untung saja Salma sudah mengantisipasi dengan membawa tabungan yang ia simpan selama ini sehingga total uangnya yang fantastis sampai terkumpul Rp. 500jt lebih, karena Salma selama ini hidup sebagai ibu rumah tangga yang tidak boros seperti kebanyakan isteri pengusaha lainnya. Sehingga dari situlah Salma selalu dituduh suka menghambur hamburkan uang oleh mertuanya.
Dari pada menghamburkan uangnya untuk keperluan yang serba mewah, Salma lebih suka menyimpan uangnya di salah satu Bank ternama.
Dan inilah hasilnya, tabungan Salma yang terkumpul banyak serta tidak lupa Salma membawa beberapa koleksi perhiasan pribadinya.
Rencananya tabungan dan perhiasan Salma diperuntukkan membuka usaha baru bersama suaminya untuk menambah pundi pundi rupiahnya.
Dan bagusnya lagi Satria tidak mengetahui isterinya menyimpan uang sisa belanja bulanannya untuk ditabung. Sehingga Salma merasa aman.
Tadinya Salma akan memberi tahu suaminya sebagai kejutan setelah tabungannya mencapai milyaran rupiah.
Tapi rencana itu semua cuma angan belaka karena sekarang biduk rumah tangganya sudah karam.
Diperjalanan tiba tiba taksi yang ditumpanginya mogok.
"Maaf mbak kayanya mobil saya mogok lagi jadi saya tidak bisa mengantar mbak ke tempat tujuan" sesal supir taksol.
"Ya udah ga papa Pak! Saya akan memesan taksol lain" Ucap Salma sambil keluar membawa anak anaknya.
"Sebagai permintaan maaf, mbak ga perlu membayar saya"
"Oh ga perlu pak, saya masih ada uang ko tenang aja, Bapak pasti butuh uang untuk menafkahi keluarga!" Ucap Salma.
"Oh ya udah terima kasih banyak mbak, semoga mbak bersama anak anak mbak suatu saat nanti akan mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan!" Pungkas supir taksol.
"Aamiin YRa".
***
Setelah mendengar informasi bahwa Salma pergi meninggalkan keluarganya, Arga tidak sedikitpun tinggal diam.
Setiap pulang kerja dia menyempatkan berkeliling jalan ibu kota untuk sekedar mencari keberadaan Salma.
Dan selama seminggu ini Arga semakin kecewa karena sampai detik inipun dia sama sekali tidak pernah menemukannya.
Arga sudah putus asa karena usahanya selama ini sia sia, sehingga membuat dirinya semakin frustasi.
Arghhhhh....
"Kemana saja kamu mbak? Apakah sekarang mbak baik baik saja?" Guman Arga.
"Eh itu siap ya?, waktu hampir gelap begini masih duduk dipinggir jalan sambil bawa anak anaknya pula lagi, apa gak kasihan anaknya kedinginan". Gerutu Arga.
Mobil Arga semakin mendekat ke arah mereka, sehingga setelah sampai dihadapan mereka mata Arga terbelalak kaget seolah tidak percaya apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Dengan perasaan bercampur aduk Arga bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri mereka.
"Ya ampun mbak! Beneran ini mbak Salma?, Alhamdulillah Ya Allah telah mempertemukan kami, mbak! selama ini saya mencari keberadaan mbak. Saya sangat khawatir pas waktu mbak pergi meninggalkan aparteman saya" haru Arga.
"Iya bener aku Salma. Arga!, Ini beneran kamu? Mbak gak nyangka bisa bertemu lagi"
Perasaan Argapun merasa bahagia bertemu dengan wanita impiannya.
Kemudian Arga melirik ke tiga anak kecil yang sangat menggemaskan.
"Hai, sayang! Perkenalkan nama Om Arga, kalian manis manis sekali" Arga mencoba memperkenalkan diri kepada anak Salma.
Kemudian Arga menghampiri mereka dan mengecup keningnya satu persatu.
"Hai Om namaku Rahma, ini adikku Zian dan yang paling kecil namanya Ucu, kami senang berkenalan dengan Om". Ucap Rahma.
Tidak bisa digambarkan lagi perasaan bahagia Arga, walaupun usianya baru 20 tahun tapi jiwa kebapaannya sudah terlihat dari cara memperlakukan anaknya Salma.
Entah kenapa setelah melihat ketiga anak itu, rasa sayang Arga semakin besar dan akan menganggap seperti darah dagingnya sendiri.
Setelah mereka berkenalan dan dirasa cukup akhirnya Arga berbalik menatap Salma, terlihat raut penasaran dari wajah Arga untuk mengetahui apa yang sudah terjadi.
"Mbak!, kenapa jam segini duduk dipinggir jalan bersama anak anak membawa koper pula?" Pura pura Arga. Soalnya Arga sudah bisa menebak apa yang telah terjadi, cuma Arga menuntut kejujuran Salma.
Air mata Salma tidak bisa terbendung, tanpa keraguan dia menubruk Arga kedalam pelukannya dan menumpahkan air mata kesedihannya.
Salma pun menceritakan semua kejadian yang terjadi tanpa ditutupi sedikitpun.
Hiks...hikss...
"Mbak mohon Ga, bantu mbak kali ini aja!".
"Emang apa yang bisa saya bantu mbak?"
"Bawa mbak dan anak anak sejauh mungkin, bahkan keluar negeri pun saya mau Ga!".
Arga merenung sejenak kemudian berkata
"Baiklah mbak saya akan membawa mbak pergi dari Negara ini, kita akan membuka lembaran baru di sana bersama anak anak".
"Tapi bagaimana perusahanmu di sini Ga?".
"Mbak jangan memikirkan masalah itu, saya sudah membuat keputusan untuk membuka perusahaan baru di Amerika, sedangkan perusahaan di sini akan saya percayakan kepada Rendy, sahabat saya".
"Mbak mau kan kita hidup di Amerika membuka lembaran baru dengan saya?" Tanya Arga lagi.
"Mbak mau Ga, mbak mau" Salma mengangguk dengan pasti tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Ya udah kalau gitu mbak dan anak anak ikut dulu ke aparteman saya, kita istirahat dulu beberapa hari baru setelah urusan di sini selesai kita akan terbang ke Amerika, tenang aja mbak masalah sekolah anak anak biar sahabat saya yang urus"
"Oke mbak percaya sama kamu Ga, makasih ya sudah menolong mbak dan anak anak!" Lirih Salma.
"Sama sama mbak, udah dong jangan bilang terima kasi terus, mulai dari sekarang kalian tanggung jawabku".
Jleb....
Kata kata itu membuat hati Salma membuncah terlihat rona pipinya memerah dan gerak tubuhnyapun menjadi salah tingkah.
Entah kenapa dari awal pertemuannya dengan Arga, Salma sudah sangat percaya kepada pemuda itu bahkan sekarang hanya pemuda itu harapan satu satunya.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun pergi menjauh dari tempat itu menuju aparteman Arga.
Bersambung...