Terjebak Cinta Sesaat

Terjebak Cinta Sesaat
Bab 28 Kesombongan Nadia dan Penyesalan Satria


__ADS_3

***


Setelah mencari-cari alamat perusahaan tempat Nadia bekerja, akhirnya Maya dan Nina merasa lega karena mereka bisa menemukan alamat tersebut dengan cepat.


Setelah mereka tiba dihalaman parkir perusahaan Dirlanta akhirnya mereka turun dari mobilnya.


Setelah menanyakan kepada security dimana tempat menunggu bagi tamu yang berkunjung ke perusahaan itu.


Akhirnya scurity pun mengantar Maya dan Nina ke tempat ruang tunggu yang perusahaan telah sediakan.


Setelah mengucapkan ucapan terima kasih kepada security, merekapun duduk dengan tenang.


"Nin, besar juga ya perusahaan tempat Nadia bekerja?" Gumam Maya sambil memutar matanya mengililingi ruangan perusahaan itu yang terlihat megah.


"Iya, bener banget May. Aku bangga loh punya sahabat bekerja di perusahaan sebesar seperti ini" bangga Nina.


"Apalagi aku yang dari dulu sahabatan dengan Nadia, ya sudah pasti sangatlah bangga". Ucap Maya lagi.


"Eh May kayanya tuh Nadia sahabat kita deh!" Tunjuk Nina ke arah seorang perempuan yang akan memasuki perusahaan kantornya.


Terlihat Nadia melangkah dengan anggunnya serta wajahnya yang dihiasi senyuman tiada hentinya.


"Yuk kita samperin Nin!" Ajak Maya sambil melangkah mendekati Nadia, Nina pun mengikutinya dari belakang.


Setelah mereka berhadapan, Maya pun langsung memberondong pertanyaannya.


"Alhamdulillah akhirnya kita bertemu lagi Nad, saya sudah kangen loh samak kamu, kamu kemana aja sih sudah lama tidak keliatan jangankan bertemu menghubungi kita saja kamu gak pernah?".


"Iya bener banget Nad kita kangen loh sama kamu" sambung Nina.


Maya dan Ninapun segera melangkah mendekat ke arah Nadia dan siap-siap untuk memeluknya.


Nadia yang dari tadi tercengang tak percaya dihadapannya ada dua sahabatnya hanya diam membisu.


Setelah kesadarannya sudah terkumpul, Nadia merasa jengkel melihat mereka karena takut akan merusak rencananya yang hampir sudah berhasil. Karena takut sahabatnya tau yang sudah ia lakukan terhadap rumah tangga Satria dan perselingkuhannya.


"Ah..lepas! lebay banget sih kalian, sesak tau pake peluk-peluk segala" gerutu Nadia kesal sambil membenahi penampilannya.


Maya dan Nina pun saling pandang seakan tak percaya akan sambutan Nadia yang seperti itu.


"Eh Nad ko gitu sih, kan kita sudah biasa kalau ketemu itu saling berpelukan" heran Maya.


"Itu dulu, tapi sekarang tidak lagi. Kehidupan saya sekarang sudah berubah, sudah mempunyai apapun yang saya inginkan jadi jangan so akrab deh!" Ketus Nadia.


"Ka-kamu, apakah gak salah makan obat Nad?" Nina tak percaya Nadia bisa berkata seperti itu.


Nadia menatap tajam kearah mereka sambil mengatakan dengan sombongnya "Udah ah, saya bisa terlambat masuk, kalau diganggui orang yang gak penting seperti kalian"


Setelah mengatakan itu Nadia melangkah pergi menjauh dari tempat itu.


"Eh...tunggu Nad! Kamu kenapa sih? Tanya Maya penasaran.


"Emang saya kenapa?" Nadia malah balik bertanya.

__ADS_1


"maksud kamu bicara seperti itu" geram Maya yang sudah mulai terpancing emosinya.


"Hahaha...aku kenapa? Hei sadar kalian itu bukan siapa-siapa aku ya, sekarang aku sudah bukan Nadia yang dulu. Saya sekarang sudah mempunyai banyak uang yang bisa membeli apapun yang saya mau, dan ingat satu lagi jangan coba-coba datang lagi ke perusahaan ini! Karena perusahaan ini tidak layak kalian injak" cibir Nadia.


Mendengar ucapan sarkas Nadia membuat amarah Maya melonjak.


"HEY NADIA JANGAN SOMBONG KAMU! BARU BEKERJA DI PERUSAHAAN INI KAMU SUDAH LUPA DARATAN, INGAT SIAPA YANG DARI DULU SELALU ADA BUAT KAMU, SIAPA YANG SELALU MEMBANTU KAMU KETIKA KAMU TERJATUH, SIAPA BAHU TEMPAT BERSANDAR KETIKA KAMU BERSEDIH, HAH? JANGAN JADI MANUSIA TIDAK TAU DIRI SUDAH DITOLONG BUKANNYA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH EH MALAH BICARA DENGAN SOMBONGNYA" bentak Maya.


Nina hanya diam terpaku tidak mengungkapkan sepatah katapun tapi hanya dengan tatapan yang masih tidak percaya akan perubahan sikap Nadia.


"OH BERARTI KAMU MEMBANTU SAYA TIDAK IKHLAS, BUKTINYA KAMU UNGKIT KEBAIKAN YANG SUDAH KAMU BERIKAN, CUIHHHHH HEI KALIAN BERDUA JANGAN USAH UNGKIT LAGI MASA LALU, YANG LALU BIARLAH BERLALU TAPI SEKARANG ADALAH MASA DIMANA AKU BERJAYA JADI JANGAN COBA-COBA MEMANFAATKAN KEADAANKU UNTUK IKUT MENIKMATI UANG SAYA, CK GAK SUDI BANGET PUNYA SAHABAT SEPERTI PARASIT. LEBIH BAIK SEKARANG KELUAR SEBELUM SAYA PANGGIL SECURITY". bentak Nadia lagi dengan angkuhnya.


"KAMU MEMANG WANITA KURANG AJAR NADIA, KAYANYA SALAH PERUSAHAAN MEMPERKERJAKAN ORANG SOMBONG SEPERTI KAMU, SEHARUSNYA KAMU ITU BEKERJA SEBAGAI WANITA PENGHIBUR BUKAN BEKERJA DI SINI. OH ATAU JANGAN-JANGAN BENAR KAMU DISINI CUMA PURA-PURA BEKERJA PADAHAL SEBENARNYA KAMU CUMA MERAYU DAN MENGGODA PARA BOS PERUSAHAAN UNTUK JUAL DIRI, IYA KAN?. CUIIIHHHH SAYA JUGA TIDAK SUDI PUNYA SAHABAT WANITA MURAHAN SEPERTI KAMU" Jawab Maya dengan lantangnya.


"APA KAMU BILANG? JAGA YA MULUT KOTORMU ITU, SAYA TIDAK SERENDAH ITU EMANG SAYA PEREMPUAN APAAN GINI-GINI JUGA SAYA MASIH PUNYA HARGA DIRI" tunjuk Nadia yang tidak terima dirinya dihina Maya.


"HARGA DIRI APAAN, CUMA MODAL ************ AJA BANGGA, CUIHHHHH SUDAHLAH MULAI DARI SEKARANG KITA BUKAN SAHABAT LAGI, INGAT KAMU AKAN MENYESAL!" geram Maya lagi.


"HAHAHA MENYESAL GAK SALAH TUH, JUSTRU KALIAN YANG AKAN MENYESAL. BUKTINYA KALIAN NYAMPERIN SAYA KESINI UNTUK NGEMIS JADI SAHABAT SAYA, EH SORRY YA SAYA SUDAH TIDAK SUDI PUNYA SAHABAT MISKIN SEPERTI KALIAN, DAN SATU LAGU KALIAN GAK PERLU REPOT-REPOT MEMUTUSKAN PERSAHABATAN KITA KARENA SAYA SUDAH MEMUTUSKANNYA TERLEBIH DAHULU BUKTINYA SAYA SUDAH TIDAK PEDULI SAMA SEKALI KEPADA KALIAN" Cibir Nadia.


"KA-KAMU" geram Maya.


"SECURITY USIR GEMBEL INI DARI KANTOR INI DAN LAIN KALI PASTIKAN JANGAN SAMPAI MEREKA MASUK, FAHAM!" perintah Nadia yang kebetulan security menghampiri mereka karena mendengar keributan diantara mereka.


Kesempatan itu digunakan Nadia untuk mempermalukan sahabatnya, supaya mereka jera tidak datang lagi ke perusahaannya.


Nadia sengaja melakukan itu supaya kedoknya tidak terbongkar.


"Gak perlu pak, kami bisa keluar sendiri ko. Maaf ya pak kami sudah membuat keributan di sini saya janji tidak akan kami lakukan lagi di masa yang akan datang" tutur Nina yang dari tadi diam membisu menyaksikan pertengkaran dua sahabatnya.


Namu sebelum benar-benar keluar dari kantor itu Nina berbalik dan menatap dingin ke arah Nadia sambil berkata.


"Makasih Nad selama ini sudah menjadi sahabat terbaik kita, tapi itu dulu sekarang sesuai keinginanmu kami tidak akan mengganggu kamu lagi, dan satu lagi jika suatu saat kita bertemu dimanapun berada anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, PERMISI" ucap Nina sambil melangkah dengan pasti keluar dari kantor itu tanpa menoleh sedikitpun kepada Nadia.


Jleb....


Kata-kata Nina tidak sekasar Maya tapi cukup menusuk dada Nadia sehingga menjadi sesak.


***


Di ruangan kantor Satalma group terlihat Satria memeriksa berkas-berkas yang menumpuk.


Tok..


Tok..


"Masuk!"


Setelah diperintah masuk, sekretaris Satria masuk ke ruangan bos nya dalam keadaan panik.


"Ada pa Cel? Ko keliatan panik?" Tanya Satria penuh heran.


Tanpa duduk kemudian Cela berkata "Begini pak!, ada kabar buruk tentang perusahan kita, karena hampir 70 persen investor menarik kembali sahamnya maka, perusahan kita akan mengalami pailit keuangan Pak, bahkan perusahaan yang lainnya juga sudah berencana menarik sahamnya, mereka tidak peduli dengan projek yang sedang kita jalankan, menurut mereka lebih baik menelan kerugian sekarang dari pada nantinya mereka semakin rugi jika terus mempertahankan kerjasama dengan perusahaan kita. Dan jika semua investor menarik semua sahamnya maka dipastikan perusahaan Satalma group tidak bisa beroperasi lagi" Cela mencoba menjelaskan dengan pegetahuannya, namun wajah Cela juga terlihat ketakutan, takut bos nya akan marah.

__ADS_1


"APA?, KO BISA? JANGAN-JANGAN KALIAN SEMUA TIDAK BECUS BEKERJA HAH!" bentak Satria sambil membanting berkas yang sedang diperiksanya.


Cela semakin bergetar ketakutan tapi dia mencoba untuk memberikan alasannya.


"P-pak menurut mereka kenapa memutuskan kerjasama dengan perusahaan ini dikarenakan akhir-akhir ini tidak ada ide cemerlang yang dapat membuat terobosan baru dalam projek-projek yang sedang dijalani, bahkan setiap kali meeting dengan klien sudah beberapa kali Bapak gak hadir, dan satu lagi tapi mohon maaf sebelumnya Pak jika kata-kata saya sangat lancang. Akhir-akhir ini Bapak sering mangkir dari meeting dan tidak fokus dalam menghandle semua projek yang sedang berjalan bahkan selalu mengabaikannya, kalau menurut saya jangan campur adukkan masalah pribadi dengan masalah perusahaan!" walapun gemetaran Cela akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan alasannya.


"SUDAH JANGAN IKUT CAMPUR KAMU, KAMU CUMA BAWAHAN TIDAK BERHAK MEMBERIKAN SAYA CERAMAH, KELUARRRR!". bentak Satria murka.


Perusahaan yang dibangun dari nol dengan susah payah, bahkan untuk mencapai kesuksesan seperti sekarang butuh waktu hampir 10 tahun.


Namun semua kerja keras itu sekarang hanya menjadi sebuah kenangan, perusahaannya hampir gulung tikar.


Satria tidak mungkin meminta bantuan kepada ayahnya Dilan untuk menanamkan modal di perusahaannya, karena perusahaan ayahnya juga hampir sama sedang berada di ujung tanduk.


"Arghhhhh......


Sial...


Sial...


Brengsek..."


Satria membanting semua benda yang ada dihadapannya sampai terdengar pecahannya ke luar ruangannya.


Prang...


Prakk...


Suara gaduh benda berjatuhan diruang Satria. Satria memukul kepalanya dengan amarahnya.


"ARGHHHHH...KENAPA BISA JADI BEGINI? TUHANNNNN KENAPA PERUSAHANKU HANCURRRRRR KENAPA? ARGHHH..SIAL..BRENGSEK...APA SALAH SAYA?" Satria meraung-raung seperti kesurupan.


Degh...


Satria mengingat sesuatu. Terdapat beberapa kilasan awal perjuangannya mulai melamar Salma, terus menikah, walaupun Salma selalu mendapatkan hinaan dari ibunya tapi dia selalu sabar, dianugerahi anak-anak yang lucu, membangun perusahaan, bahagia ketika bersama, canda tawa di ruang makan, setiap pulang selalu menyambutnya, tak pernah menuntut apapun, selalu sabar, selalu memberikan ide dalam kemajuan perusahaannya, selalu memberi semangat dan kilasan terakhir yang membuat dada Satria bergemuruh sesak yaitu sebuah penghianatan terhadap isterinya tapi Salma masih memaafkannya, hinaan ibunya yang bertubi-tubi membuat Salma menangis putus asa, Satria lebih membela ibunya, dan yang lebih fatal lagi Satria lebih memilih pelakor Nadia karena rayuannya, bahkan Satria tega mentalak isterinya dengan kemarahan dan dengan tega mengusir anak isterinya yang selama ini bersamanya belasan tahun tanpa penyesalan. Semua kilasan itu memenuhi ingatan Satria.


"Arghhh, Sayangku Salma , Rehan, Zian, Ucu,,ya benar mungkin ini semua gara-gara aka suami dan ayah yang dzolim, tidak bisa menjaga kalian dengan baik bahkan tega menendang kalian demi seorang wanita pelakor yang baru sebentar hadir dalam kehidupanku,,sayangku! Maafkan semua kesalahn papah" Satria meraung dengan tangisan yang memilukan.


Deg...


Satria mengingat kilas balik ketika tatapan dua anaknya dengan sorot mata kebencian dan mengatakan sesuatu yang membuat dadanya semakin sesak.


Hiks..


Hiks...


"Sayang maafin papah, papah sekarang sudah sadar menyesal telah mencampakkan kalian, maafin papah sayang"


"Oh iya sekarang mungkin belum terlambat, pokonya saya harus menemukan kalian semuanya dan kita bisa berkumpul seperti dulu lagi, tunggu papah sayang!".


Dengan suasan hati kacau Satria pergi berlari akan menjemput kembali anak isterinya, yang mana Satria sekarang tidak tau keberadaanya.


Bersambung...

__ADS_1


Note:


Maaf ya readers, semua hanya cerita kahayalan semata, jika ada deskripsi alur cerita tidak jelas dan diluar pengetahuan yang sebenarnya.


__ADS_2