Terjebak Cinta Sesaat

Terjebak Cinta Sesaat
Bab 18 Fitnah dan Rencana Jahat


__ADS_3

Bab 18 Fitnah dan Rencana Jahat


"SALMA! SALMA KELUAR KAMU!" teriak Iriani membuat seluruh penghuni rumah Satria terganggu.


Tak lama Satria dan Salma keluar dari kamarnya kemudian mereka menatap ke arah Iriani yang diselimuti amarah.


Disampingnya juga terlihat Cindy yang merah padam dengan sorot mata kebenciannya terhadap Salma.


"Ada apa bu, teriak teriak di rumahku?" Tanya Satria yang masih bingung melihat keadaan ibunya.


"Hei Satria! kan ibu sudah bilang ceraikan perempuan kampung tak tau diri ini, kenapa dia masih ada di sini" bentak Iriani sambil menunjuk nunjuk muka Salma.


"Bu, kan sudah Satria bilang tidak akan pernah menceraikan isteriku karena aku sangat mencintainya, kenapa sih ibu masih tidak mengerti?" Bela Satria.


"Alahhhh makan tuh cinta, percuma kamu mencintai perempuan hina seperti itu sudah jelas jelas dia sudah punya suami eh malah enak enakkan pergi dengan pria lain, apakah perempuan seperti itu yang kamu bela Hah!" Geram Iriani.


"Apa maksud ibu?" Penasaran Satria.


"Tanyakan saja pada adikmu!" Jawab Iriani sambil melirik ke arah Cindy.


Tiba tiba Cindy ikut memperkeruh suasana.


"Begini bang, pada waktu itu kan kita lagi panik mencari mbak Salma, eh tidak taunya saya memergoki dia sedang berduaan dengan berondong di kamar sebuah aparteman, dan ternyata berondong itu pacar Cindy yang sangat aku cintai bang" dusta Cindy.


Setelah mendengar penjelasan Cindy, wajah Satria menggelap menahan amarah dan cemburu lalu dengan tatapan tajam melirik ke arah Salma.


"Apa itu benar mah?".


Salma tidak bisa berkutik karena memang itu faktanya bagi orang yang melihat tanpa tau kebenarannya pasti akan salah faham.


Tapi Salma juga tidak terima Cindy sudah beraninya menambahkan bumbu dustanya supaya suaminya percaya hasutan olehnya.


"JAWAB MAH!, KENAPA DIAM?" bentak Satria yang merasa kesal karena isterinya diam membisu seakan membenarkan perkataan Cindy.


Salma kembali membalas tatapan membunuh suaminya, dengan deraian air mata lalu dia berkata.


"Walaupun mamah menjelaskan apapun alasannya ke kamu Pah, tapi papah tidak akan percaya sedikitpun. Jadi percuma mamah menjelaskan banyak alasanpun karena semua itu tidak berguna, karena yang papah percayai hanya Ibumu dan Cindy, sedangkan mamah yang belasan tahun mendampingi papah tidak pernah papah percaya sedikitpun, kalau memang percaya ucapan Cindy silahkan saja karena hak papah! Kenapa mamah bicara seperti itu karena melihat kemarahana papah ke mamah bahkan berani membentak kembali padahal papah sudah janji tidak akan mengulanginya lagi, tapi sekarang mamah semakin yakin hanya papah yang harus dipercaya sedangkan sebaliknya tidak. Ternyata janji papah cuma dimulut saja sedangkan akal fikiran papah sudah terhasut oleh adikmu itu, padahal papah tau mulut siapa yang sangat pedas dan tukang hasut" bela Salma.


Tanpa menghiraukan tatapan kebencian mereka Salma pun meninggalkan mereka dengan perasaan yang hancur berkeping keping.

__ADS_1


Kemudian Salma masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.


Deg...


Setelah mendengar luapan hati Salma, Satria tersadar akan perbuatannya yang kembali membuat isterinya kecewa.


Arghhhhh...


"Kenapa sih kalian suka banget mengganggu keharmonisan rumah tanggaku, KENAPA HAH KENAPA? Apa salah saya kepadamu bu, Cin? Coba katakan, penahkah Salma menyakiti hati kalian, pernahkah Salma merugikan kalian?" Raung Satria yang semakin frustasi.


"DASAR KAMU BANG! SUDAH DI KASIH TAU KEBENARANNYA MASIH TETAP SAJA MEMBELANYA, SAYA YAKIN KAMU ITU SUDAH DIRACUNI FIKIRANNYA OLEH MBAK SALMA, APA HEBATNYA DIA SIH BANG SUDAH TUA, MISKIN, TIDAK BERPENDIDIKAN, MURAHAN, TUKANG SELINGKUH LAGI, BUKA MATA ABANG! CINDY YAKIN DI LUARAN SANA MASIH BANYAK PEREMPUAN YANG MAU SAMA ABANG KARENA LAKI LAKI ITU BEBAS MEMILIH SIAPA SAJA YANG MAU MENDAMPINGINYA, JANGAN SAMPAI KAMU MENYESAL BANG MENYIMPAN BESI KARATAN TAPI MENGABAIKAN BERLIAN YANG SUDAH JELAS SANGAT BERHARGANYA DI LUARAN SANA" bentak Cindy tidak terima.


Plakkkk....


"DASAR KAMU ADIK KURANG AJAR, BUKANNYA SADAR DENGAN PERKATAANMU MALAH MENJADI JADI, INGAT JIKA KAMU PUNYA SEORANG YANG KAMU SAYANGI TERUS DIPERLAKUKAN BURUK OLEH KELUARGAMU GIMANA HAH? APAKAH KAMU MASIH BISA MEMBUKA MULUTMU YANG TIDAK TAU SOPAN SANTUN ITU" tunjuk Satria.


"DASAR ANAK DURHAKA KAMU SATRIA! BERANI MARAH MARAH KE KELUARGAMU SENDIRI DEMI MEMBELA PEREMPUAN ASING, DIMANA PENGABDIANMU KEPADA KELUARGA HAH? BUKANNYA MEMBALAS BUDI KEPADA KELUARGA MALAH KAMU IKUTAN TIDAK TAU DIRI" bentak Iriani.


"Bukan begitu bu, Satria ngerti dan faham maksud ibu, bukannya Satria menjadi anak durhaka, tapi tolonglah hargai keluarga Satria walau sedikitpun, jangan usah ikut campur lagi urusan keluargaku, biarkan kami hidup tenang, apakah ibu merasa tenang selalu merongrong keluargaku, kan ibu juga punya keluarga sendiri yang harus diperhatikan lebih baik ibu fokus kepada bapak urus dia dengan baik supaya kehidupan kalian harmonis".


"Dan kamu Cindy, stop ikut campur mengurusi keluargaku, lebih baik fokus urus dirimu sendiri karena kamu belum tentu lebih baik dari isteriku!" Luluh Satria sambil menatap penuh harap kepada mereka berdua.


"MEMANG YA KAMU SUDAH MENJADI ANAK DURHAKA SEKARANG, BUKANNYA MENDENGARKAN NASIHAT IBU MALAH BERANI MENCERAMAHI IBU DASAR ANAK KURANG AJAR TIDAK TAU BALAS BUDI, INGAT YA SATRIA BAGAIMANPUN CARANYA IBU TIDAK SUDI PUNYA MENANTU BENALU SEPERTI SALMA SAMPAI KAPANPUN, DAN SATU LAGI IBU AKAN MEMISAHKAN KALIAN DENGAN CARA APAPUN, CAMKAN ITU!" Teriak Iriani semakin berapi api.


Argghhhh...


Satria semakin kesal karena keras kepala ibu dan adiknya yang tidak mau mengerti sedikitpun kepadanya.


Tapi Staria tidak bisa berbuat apapun, karena semakin mendebat ibu dan adiknya, bukannya mereda malah situasi akan semakan memanas.


Satria tidak mau lagi membentak ibunya karena ketidak sengajaan akibat kepancing emosinya.


Satria tidak mau menyakiti ibunya lagi karena itu perbuatan dosa, walaupun perbuatan ibunya sangat di luar batas.


Jadi yang bisa dilakukan Satria hanya bisa menahan ego dan emosinya supaya tidak terpancing lagi oleh ibunya.


"Kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, Satria mohon tinggalin Satria sendiri karena mau istirahat, please Satria mohon dengan sangat!" Iba Satria.


Iriani semakin mendelik akibat amarahnya masih memuncak tapi melihat Satria yang memohon dengan mengiba sehingga Iriani pun luluh seketika.

__ADS_1


"Yuk, Sayang kita pulang dulu, tapi ingat Satria apa yang ibu ucapkan tadi tidak main main" ancam Iriani.


Iriani dan Cindypun dengan mengehentakkan kakinya melangkah ke luar dari rumah Satria.


"Bu, apa sebaiknya ibu telepon ayah! Kita racuni fikiran ayah supaya percaya sama kita, karena kekuatan ayah sangat berpengaruh juga bagi mbak Salma bisa bertahan, jika ayah ikut membenci menantunya itu otomatis salah satu kekuatan mbak Salma akan melemah, kalau soal bang Satria nanti belakangan kita urus, seandainya tidak ada kekuatan lagi bagi mbak Salma otomatis kita akan mudah menyingkirkannya" hasut Cindy.


"Pintar juga kamu sayang, bener banget apa yang kamu katakan, sekarang ibu akan mencoba menelepon ayahmu dan sekaligus meracuni fikirannya" seringai Iriani.


Merekapun tertawa terbahak bahak seakan akan kemenangan berpihak kepada mereka.


Tut...


Tut...


"Terhubung tapi tidak diangkat sayang"


"Coba lagi terus bu barangkali ayah sedang sibuk!"


"Bener juga kamu sayang, tapi tidak biasanya ayahmu tidak mengangkat telepon dari ibu sesibuk apapun, apalagi sekarang jam istirhat ayahmu" heran Iriani.


"Jangan menyerah bu, coba lagi ini kesempatan bagus buat menghasut ayah" rengek Cindy.


"Iya, ibu coba lagi telepon ayah siapa tau sekarang diangkat" yakin Iriani.


"Eh diangkat sayang sebentar mamah bicara dulu ya dengan papah!"


Setelah sambungan telephon terhubung Iriani memulai percakapannya.


"Assalamualaikum pah! Kamu kemana aja sih? dari tadi mamah menghubungi papah tapi selalu diabaikan, lagi ngapain sih pah?, kayanya sibuk banget tidak bisa diganggu, pah ngomong dong kenapa diam aja!" Cerocos Iriani.


"Iya hallo bu, maaf ponsel bapak lagi saya pegang karena bapak masih di toilet" terdengar suara halus perempuan yang menjawab pertanyaan Iriani.


Duarrr.....


Seakan terdengar suara guntur disiang bolong, nafas Iriani semakin memburu karena merasakan api cemburu.


Wajah Iriani semakin merah padam mendengar suara lembut perempuan itu, yang ada dalam bayangannya suaminya pergi berdua dengan perempuan itu dan melakukan hal hal yang tidak senonoh.


"SIAPA KAMU? NGAPAIN KAMU LANCANG PEGANG PONSEL SUAMI SAYA? KALIAN LAGI NGAPAIN AWAS YA KALAU KAMU MACAM MACAM SAMA SUAMI SAYA, SAYA AKAN BUAT PERHITUNGAN DENGAN KAMU!" ancam Iriani.

__ADS_1


"Saya-saya em anu bu". Terdengar kegugupan dari suara perempuan itu.


Bersambung....


__ADS_2