
Labil 2
"KAMU BILANG APA, SAYA LAKI LAKI LABIL?" Satria mencengkram rahang Nadia.
"IYA KAMU BUKAN HANYA LAKI LAKI LABIL TAPI JUGA SANGAT MENYEDIHKAN"
"OKE KALAU GITU LIHAT SIAPA YANG PALING MENYEDIHKAN"
Satria merobek semua kain yang melekat ditubuh Nadia, tanpa rasa belas kasihan Satria menggauli isterinya dengan keadaan sangat marah.
Nadia terlihat sangat menyedihkan, dia tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti karena tenaganya kalah telak dari suaminya.
Yang dilakukan Nadia hanya pasrah saja, menerima perlakuan kasar suaminya.
Ditengah pergumulannya Satria semakin geram menahan amarah karena dia bukan laki laki bodoh yang tidak tau keadaan isterinya.
Satria merasakan ada rasa yang berbeda ketika melakukan itu.
Ada jejak yang tersisa di sana dan jejak itu bekas Dilan ayahnya, karena seharian ini mereka meyalurkan rasa rindunya.
Dan Nadia lupa sebelum pulang tidak membersihkan diri dulu, karena Dilan yang meminta jatah kembali sebelum pulang dari kantor.
Karena Nadia yakin Satria tidak akan meminta melakukan hal apapun pada dirinua akibat sering terjadinya pertengkaran hebat diantara keduanya, sehingga Nadia mengulur waktu untuk kembali pulang.
Namun naasnya rencana Nadia gagal, karena kemarahan Satria yang sudah mulai jengah dengan kelakuan Nadia malah melampiaskan kemarahannya dengan memaksanya untuk melakukan itu.
Dan akhirnya Satria tau dan mencurigai apa yang terjadi pada Nadia.
"KATAKAN KAMU SELINGKUH DENGAN SIAPA HAH?" bentak Satria sambil mencengkram sangat erat rahang Nadia.
Nadia menjadi ketakutan melihat sorot mata Satria yang merah menyala tanda kemarahan yang memuncak.
"Ma-maksud Mas?" Jawab Nadia dengan gugup.
"UDAHLAH NGAKU AJA MEMANG SAYA LAKI LAKI BODOH HAH, SAYA TAU ITU. PANTAS SAJA RASANYA BERBEDA PASTI DIKANTOR KAMU SELINGKUH DENGAN LAKI LAKI LAIN? JAWAB!" Bentak Satria.
"Eng-ga ko, beneran Mas, saya pergi untuk bekerja tidak ada waktu untuk berselingkuh, mungkin itu keputihan Mas yang sering terjadi pada perempuan" Nadia mencoba mengelak.
Sebenarnya Nadia sudah tidak peduli dengan tuduhan Satria, bahkan Nadia bisa saja mengaku bahwa dia sudah memiliki pria lain.
Karena melihat kemarahan Satria yang semakin menggila membuat nyali Nadia menciut karena memikirkan bayi yang ada dalam kandungannya takut kena imbasnya.
Menurut Nadia bayi dalam kandungannya itu merupakan anugerah yang bisa menjebak para lelaki yang sudah menidurinya, apalagi Dilan sudah berjanji akan menikahinya.
Dan sebelum rencananya tercapai Nadia tidak mau terjadi apapun terhadap kandungannya, karena masih menjadi senjata pamungkasnya.
"Oke kali ini saya percaya sama kamu, dan ingat jika suatu saat kamu berani menghianati saya, maka kamu akan merasakan akibat yang tidak pernah bisa dibayangkan sebelumnya". Satria mulai luluh dari kemarahannya karena melihat tatapan sayu Nadia membuat dirinya merasakan rasa iba.
"Tidak Mas, aku tidak akan pernah menghianati pernikahan kita, karena aku sangat mencintai kamu Mas. Maafin Nadia Mas karena selama ini belum jadi isteri yang baik" Nadia memelas sangat meyakinkan sehingga membuat Satria luluh seketika.
"Maafin Mas juga ya, tadi sudah marah marah gak jelas soalnya akhir akhir ini Mas pusing mikirin masalah kantor, para insvestor banyak yang memutuskan kontrak secara sepihak, karena mereka tidak mau bekerja sama lagi dengan perusahaan Mas, karena menurut mereka alasan mau begabung dengan perusahaan Mas karena selalu membuat inovasi dan ide cemerlang yang menguntungkan kedua belah pihak. Sedangkan ide cemerlang itu muncul sebenarnya berkat kerja keras Salma karena dia sering memberikan masukan ke Mas. Sebenarnya Salma sangat cerdas dalam mengelola perusahaan tapi dia tidak mau terjun langsung ke lapangan dengan alasan mau fokus mengurus keluarga, sekarang Salma sudah pergi jadi perusahaan terancam gulung tikar, karena Mas sekarang tidak bisa fokus, entah kenapa Mas juga tidak tau. Makanya Mas marah sama kamu yang pulang malam, padahal suami lagi ada masalah tetapi kamu kelihatan tidak peduli" papar Satria.
Sebenarnya Nadia geram, ketika Satria memuji mantan isterinya. Tapi rasa geram itu dia tahan karena tidak mau memancing kemarahan suaminya lagi.
"Kamu yang sabar Mas!, Sudah biasa ko perusahaan itu adakalnya menurun tapi aku yakin kamu bisa mengembalikan kejayaan perusahanmu lagi Mas!" Nadia mencoba memberi dukungan untuk mengalihkan permasalahannya.
Setelah kemarahan yang mengakibatkan pertengkaran hebat itu mereda, mereka pun melakukan pergulatan dengan begitu panasnya.
__ADS_1
***
Pagipun telah tiba, cakrawala telah menampakkan sinarnya untuk memberikan cahayanya kepada umat manusia yang akan bekerja.
Maya dan Nina yang terus mencoba menghubungi sahabatnya Nadia dari tadi belum ada tanda tanda untuk diangkatnya.
"Kenapa sih akhir akhir ini Nadia sulit dihubungi?" Geram Maya.
"Mungkin lagi sibuk kali May, udahlah jangan diganggu!" Jawab Nina.
"Bukan mau ganggu Nin, cuma aku penasaran aja kemana sih ko kayanya dia ga butuh kita lagi, setiap dihibubungi selalu ditolaknya". Maya masih menampakkan kekesalannya.
"Ya udah kita samperin aja ke tempat kerjanya gimana?"Ajak Nina.
"Oh bener juga ya, boleh tuh!" Sambung Maya.
Akhirnya merekapun bersiap untuk mengunjungi tempat kerjanya Nadia, kebetulan mereka sudah tau tempatnya karena sebelumnya Nadia pernah memberitahukannya.
***
Dipagi yang cerah ini membuat suasana hati Satria menghangat karena setelah bangun dari tidurnya Nadia menyediakan pakaian kerjanya yang diletakkan di atas ranjangnya seperti yang biasa Salma lakukan.
Senyum cerah terlukis di wajah Satria, apalagi setelah mengingat pertempurannya semalam dengan isterinya yang luar biasa.
Dengan siulan kecilnya Satria menuruni anak tangga untuk menuju meja makan mengambil sarapan paginya.
Di samping meja makan terlihat Nadia dengan pakaian kerjanya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka walaupun hanya nasi goreng alakadarnya.
Namun bagi Satria itu sebuah kemajuan yang luar biasa karena Nadia sekarang sudah mulai berubah.
Satria memeluk Nadia dari belakang
"Pagi sayang!" Bisik Satria ditelinga Nadia yang membuat Nadia kegelian
"Pagi juga sayang!, Udah dong sayang jangan peluk dulu kan kita mau sarapan, emang semalam gak puas ya?" Goda Nadia sambil melepaskan rengkuhan tangan suaminya.
"Kalau seperti semalam pasti gak akan pernah puas sayang, malahan sekarang mau nambah lagi" goda Satria sambil mencolek dagu Nadia.
"Ih apaan sih Mas, mesum deh!" Nadia pura pura ngambek padahalmah dia khawatir nanti kalau kecapaian akan mengecewakan Dilan selingkuhannya.
"Mas bercanda sayang, udah ah jangan cemberut gitu, nanti cantiknya hilang loh. Pokonya Mas sekarang bahagia banget serasa dunia ini milik Mas. Semalam kamu sudah melayani Mas dengan baik eh paginya Mas dilayani juga dengan nasi gorengnya, gak sia sia Mas pilih kamu sayang" ucap Satria sambil mengecup kening Nadia.
Wajah Nadia memerah tersipu malu karena godaan suaminya.
"Eh ngomong ngomong Ibu dan Cindy pada kemana ya ko gak ikut sarapan bareng kita?" Tanya Satria karena heran Ibunya tidal terlihat dari semalaman.
"Oh aku juga ga tau Mas, tapi kayanya pulang ke rumah deh Mas, kan sudah seminggu lebih Ibu gak pulang ke rumah mungkin kangen sama papah kali" canda Nadia.
"Iya juga sih, syukur deh kalau sudah pulang ke rumah, soalnya kasihan ayah sudah tua tapi ga ada yang ngurusin, apalagi sekarang kita tidak perlu dikawal Ibu lagi karena kita sudah menjadi keluarga bahagia" senyum terbit di bibir Satria.
"Ya udah yuk kita sarapan dulu, nanti terlambat lagi kerjanya kalau ngobrol mulu" ajak Nadia.
"Eh sayang boleh ga Mas nganter kamu berangkat ke kantor? Kan sekarang kita sudah baikkan nih, soalnya kemarin kemarin kamu ga mau di antar Mas, malah setiap mau berangkat kerja kamu malah pergi gitu aja tanpa pamit lagi".
"Em gak usah Mas biar aku naik taksi aja, lagian arah kantor kita kan tidak sama. Kasihan kalau Mas bulak balik naik mobil nanti terlambat tiba di kantornya, walaupun Mas seorang pemimpin. Kan seorang pemimpin itu harus memberi contoh ke anak buahnya" Nadia mencoba memberikan pengertian kepada suaminya, padahalmah ada maksud lain dibalik semua itu.
"Duh bijak sekali sayangnya Mas ini, jadi makin cinta deh. Ya udah tapi kamu harus hati hati ya jaga anak kita dengan baik!" Kata Satria sambil mengelus perut datar Nadia.
__ADS_1
"Siap laksanakan!".
***
Setelah semua urusan di Indonesia sudah selesai, Arga memboyong Salma beserta anak-anaknya ke luar negeri tepatnya ke Negara dengan julukan Paman Sam sesuai yang Arga janjikan.
Di Negeri super power itu, Arga dan Salma sudah membuat sebuah rencana yaitu membuka lembaran baru dengan dimulainya mendirikan sebuah perusahaan resto khas masakan Indonesia.
Setibanya di Amerika, Arga langsung membawa mereka ke sebuah hunian mewah di kota New York.
Karena sebelumnya Arga sudah meminta bantuan kepada sahabatnya Rendy untuk mencari hunian mewah di kota New York supaya ketika Arga tiba di sana langsung menempatinya tanpa perlu berkeliling lagi untuk mencarinya.
"Anak-anak gimana suka ngga dengan tempatnya?" Tanya Arga.
"Suka banget Om, kayanya kita bakal betah deh tinggal disini apalagi kumpul bersama Bunda dan Om Arga yang baik" Jawab Rahma berterus terang mengungkapkan isi hatinya.
"Ya udah kalau kalian senang kita akan tinggal di sini sesuai yang kalian mau. Kalau menurut Mbak gimana?" Arga melirik ke arah Salma yang masih diam terpaku.
"Em bagus ko Ga, apa gak terlalu mewah rumah ini?"
"Hehe...ya enggalah mbak apa sih yang engga buat kalian, kalian itu sudah ku anggap keluarga sendiri, kan Mbak juga tau Arga sudah gak punya siapa-siap sama seperti Mbak. Dan sengaja Arga mencari hunian yang seperti ini biar kalian nyaman menempatinya. Karena kenyamanan kalian yang utama" tutur Arga dengan penuh ketulusannya.
Mata Salma berkaca-kaca mendengar ucapan Arga yang menyentuh hatinya. Walaupun mereka bertemu baru beberpa kali sebagai orang asing tapi Arga sudah membuag Salma tidak bisa berkata-kata.
Salma berjanji suatu saat nanti pasti akan membalas semua kebaikan Arga.
"Ya udah, simpan dulu sedihnya Mbak, sekarang kalian pilih kamar yang kalian suka, oke anak-anak" ucap Arga sambil memandang anak Salma satu persatu.
"Oke Om makasih!, yuk Kak kita pilih kamar kita masing-masing lalu kita istirahat" antusias Zian yang tiba tiba mengingkapkan kebahagiaannya.
Rahma pun menatap adiknya Zian dan Ucu .
"Oke, hayu Dek!" Rahma tidak kalah cerianya.
Akhirnya mereka bertiga berlalu dari hadapan Salma dan Arga. Rahma memilih satu kamar denga Ucu yang bertepatan depan ruang tamu, karena Zian satu satunya cowok anak Salma maka memilih kamarnya bersebelahan dengan kamar kakaknya Rahma.
Kebetulan di rumah itu terdapat banyak kamar, walaupun hanya satu lantai. Tapi cuku bagi mereka untuk menempati rumah itu dengan keadaan nyaman.
Setelah kepergian mereka, Salma menghadap kepada Arga dengan tatapan sendu.
"Ga, makasih ya sudah sudi membantu Mbak! Semoga suatu saat kamu mendapatkan pasangan baik yang bisa menjagam kamu sampai usia senja!".
"Sama-sama Mbak, gak usah difikirin. Tenang saja aku ikhlas membantu kalian semua, entah sudah berapa kali Arga bilang entah kenapa pas pertama kali kita ketemu dalam fikiran Arga tuh selalu ada Mbak, apakah kita jodoh?" Goda Arga.
Blush...
Raut wajah Salma bersemu merah, dan entah kenapa hatinya merasakan detak jantung yang semakin kencang tanpa tau apa penyebabnya.
"Em...sekali lagi ma-makasih Ga?" Ucap Salma dalam keadaan gugup.
"Hehe sama-sama sayang! Ups maaf lupa. Kita kan belum jadian. Mbak kalau merona gitu tambah cantik tau!" Goda Arga lagi.
Mendengar gombalan Arga, membuat Salma semakin tersipu malu seperti gadis yang baru mengenal jatuh cinta. Tapi karena Salma bukan gadis lagi, sehingga mampu menyembunyikan perasaannya.
"Ih dasar bocah tukang gombal"
Bersambung...
__ADS_1