Terjebak Cinta Sesaat

Terjebak Cinta Sesaat
Bab 33 Murkanya Satria


__ADS_3

"Em-iya pa, eh bu, iya saya anu Neni pa, bu sekretaris Pak Dilan" gugup Neni.


"Ngapain kamu pake gugup segala? Pasti nyembunyiin sesuatu ya?" Tanya Satria tanpa aling-aling sehingga membuat Neni semakin panik.


Melihat tempramen Satria yang terkadang tidak tau situasi dan kondisi, membuat Iriani pun angkat bicara.


"Loh kenapa kamu gugup Nen, Bapak ada kan di ruangannya?" Tanya Iriani sambil menatap tajam Neni yang masih tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.


"Em anu Bu, itu Bapa tadi, eh iya Bapa tadi keluar Bu, keluar iya keluar" panik Neni.


"Udah ah Bu, mending langsung kita masuk aja ke ruangan Ayah, percuma nanya ke Neni jawabannya gak jelas banget masa cuma eh anu itu" cibir Satria.


Iriani pun melirik ke arah Neni sebentar sambil menggelengkan kepalanya, tanpa banyak basa-basi Iriani pun masuk ke ruangan suaminya.


Ceklek..


Pintu ruangan Dilan terbuka lebar, setelah mereka masuk kemudian Satria menutup kembali.


Namun ketika mereka hampir masuk ke dalam ruangan, mata mereka membelalak kaget melihat penampakan ruangan Dilan yang berantakan.


Terlihat banyak sekali tisu bekas berserakan, kursi kebesaran Dilan di berada ditempat semestinya.


Dokumen di atas meja kerja Dilan berantakan tak tentu arah.


Dan yang paling membuat mereka tercengang ketika matanya tertuju ke atas kursi yang terdapat di ruangan tersebut terlihat kotor dan di atasnya terpampang nyata sepasang dalaman pria dan wanita yang berserakan dalam keadaan kotor.


Melihat keadaan seperti itu membuat mereka mual dan jijik, terutama Iriani dengan wajah yang memerah saking menahan amarah memejamkan matanya namun setelah matanya terbuka kembali Iriani terus mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kantor suaminya, siapa tau ada hal-hal yang aneh dan mencurigakan.


Satria pun tak kalah telak menahan emosinya, karena Satria pria dewasa yang tau makna dari semua yang terlihat di hadapannya. Sebrengsek-brengseknya dirinya, dia tidak berani harus berbuat mesum di kantornya apalagi sampai di ketahui para karyawannya. Walau pun sempat dirinya juga tergoda rayuan Nadia namun beruntung isterinya datang tepat waktu sehingga perbuatan mesumnya tidak terjadi.


"Dasar ya sudah tua bukannya lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, eh malah berbuat mesum di kantor, pantas saja keberkahan perusahaan sekarang terus berkurang. Ternyata ini biang keladinya" geram Satria sambil mengepalkan tangannya.


Hiks...


Hiks...


Tiba-tiba Iriani terduduk lesu sambil menangis melihat keadaan ruangan kantor suaminya yang berantakan. Iriani pun tau maksudnya seperti ini, namu Iriani tidak menyangka bahwa suaminya akan sebrengsek ini kelakuannya.


Pantas saja sekretaris suaminya menjadi gugup dan bingung ketika melihat isterinya berada di hadapannya.


"Sat, ternyata selama ini Ibu yang bodoh, tidak tau sama sekali kelakuan Ayahmu, kalau tau akan kejadian seperti ini waktu itu Ibu lebih baik mendampingi Ayahmu dari pada tinggal di rumah kamu" sesal Iriani.


"Udah lah bu, semua sudah terjadi dan tidak mungkin akan kembali seperti semula, lebih baik kita tunggu saja Ayah sekarang balik ke ruangan ini, dan kita introgasi dia kenapa bisa nekad berbuat mesum di kantor ini" Satria mencoba menenangkan Ibunya yang terus menangis sambil menyesali yang sudah terjadi.


Mendengar ucapan Satria yang ingin menunggu kedatangan suaminya, membuat Iriani berdiri dengan lesunya kemudian ia pun berkata.


"Sat, Ibu akan menenangkankan pikiran dulu di kamar pribadi ruangan Ayahmu ya, Ibu akan istirahat dulu nanti kalau Ayahmu datang bangunkan Ibu!" Ucap Iriani sambil ngeloyor pergi ke dalam kamar pribadi ruangan kantor suaminya.


"Iya bu, nanti Satria bangunin kalau Ayah sudah ada, mudah-mudahan kita bisa nahan emosi kita" jawab Satria lesu.


Sepeninggalan Ibunya, Satria pun lebih memilih duduk di kursi dengan menyandarkan punggungnya, Satria merasa lelah karena akhir-akhir ini merasakan beberapa kejadian yang menguras emosinya.


Matanya dibuat terpejam, namun sama sekali Satria tidak bisa memejamkan matanya, di benaknya terdapat kilasan balik tentang rumah tangganya dengan Salma.

__ADS_1


Awal rumah tangganya yang harmonis, dan akhirnya hancur berantakan oleh orang ke tiga dan ke empat.


Satria mengusap mukanya dengan kasar, kenapa sekarang menjadi orang yang labil kadang menyesal terkadang biasa aja. Padahal dulu Satria sangat setia kepada isterinya walau pun banyak para penggoda yang datang menawarkan belaiannya.


Namun entah kenapa setelah Nadia dan Ibunya datang merongrong rumah tangganya, pertahanan Satria pun rapuh tak tersisa malah sudah berani berbuat kejam.


Satria berfikir lebih baik membasuh mukanya supaya emosinya mereda karena melihat kelakuan Ayahnya.


Akhirnya Satria pun bangkit dan menuju kamar mandi yang kebetulan ada di ruangan Ayahnya.


Ceklek pintu kamar mandi di tutup, sambil memandang dirinya di cermin Satria lun berguman.


"Wajah ini dulu adalah orang yang bijaksana, baik hati, ramah, punya prinsip, penuh kasih sayang, setia tapi entah iblis mana yang membawamu menjadi manusia seperti sekaranga ini".


Arghhhh...


Satria mengusap wajahnya secara kasar, kemudian Satria pun membasuh mukanya beberapa kali.


***


Ceklek...


pintu ruangan Dilan terbuka dan menampilkan pasangan yang sedang dilanda cinta bergandengan tangan dengan mesranya sambil saling menggoda.


Di tangan sang wanita menenteng banyak sekali belanjaan yang isinya barang-barang mewah.


Tidak kalah jauh dengan wanitanya, di tangan sang pria juga ada barang belanjaan yang sedang di bawanya.


Brukk...


"Makasih ya Om sayang sudah belanjain aku dan anaknya" ucap Nadia dengan manja.


"Sama-sama sayang apa sih yang engga buat Ibu dari calon anakku" goda Dilan sambil mencolek dagu Nadia.


"Ih Om nakal deh, geli tau" rengek Nadia.


"Soalnya Om ga bisa jauh dari kamu, kayanya kamu candunya Om deh. Om ga bisa sehari pun tanpa nyentuh kamu sayang" goda Dilan lagi.


"Iya Om, Nadia juga ngerti. Karena yang dirasakan Om sama dengan yang Nadia rasakan, emang sekarang masih kuat ya?" Goda Nadia sambil mengelus-elus jas yang Dilan pakai.


"Kuat dong sayang, walau pun Om sudah berumur tapi masalah memuaskan Om ahlinya" kekeh Dilan sambil tangannya mengelus-elus bibir Nadia.


Karena suasana hati mereka sedang bahagia, sehingga kesempatan yang baik itu mereka pergunakan kembali untuk berbuat mesum di ruangan Dilan.


Tak sadar pakaian mereka sudah berserakan kecuali bawahannya yang masih melekat di badan keduanya.


Bibir mereka menempel saling bertautan memberikan gairah yang tiada tara, nafas keduanya sudah memburu melebir menjadi satu laksana nada dalam sebuah lagu.


Tangan mereka saling bertautan erat laksana lem dan perangko, tubuh mereka berhimpitan laksana kumbang yang sedang merasakan rasa manisnya bunga, sedangkan bunga yang akan mekar merasa bahagia karena sentuhan kumbang menyemburkan keindahan dunia sehingga bunga pun mekar karena bisa berbuah.


Tubuh Dilan menindih Nadia dengan mesranya, namun mereka tidak melepaskan tautan bibirnya sama sekali, pemikiran keduanya melambung tinggi ke luar angkasa, tanpa memikirkan perbuatan mesum mereka akan berdampak sangat fatal.


Tanpa mereka sadari, salah satu pintu ruangan di ruangan itu terbuka.

__ADS_1


Ceklek...


Pintu terbuka dan munculah sosok lelaki muda yang mukanya sudah berseri tanda emosinya sudah mereda.


Ketika matanya lurus ke arah kursi, mata itu pun terbelalak kaget melihat adegan di hadapannya yang dapat merusak matanya.


Ya pria itu adalah Satria yang masih shock melihat adegan di depannya, seakan tak percaya apa yang dilihatnya sekarang.


Nafas Satria memburu karena amarah, tangannya terkepal erat sampai buku-bukunya pun ikut memutih.


Telinganya merah pekat, sorot matanya merah darah, raut wajahnya penuh dengan api amarah yang belum pernah Satria rasakan sebelumnya.


Yang membuat Satria murka karena di hadapannya terdapat dua sosok makhluk yang sangat Satria kenal.


Yang di atasnya adalah Dilan Ayahnya yang seharusnya memberikan tauladan kepada anaknya, dan yang membuat Dilan lebih murka lagi adalah sosok yang ada di bawah kungkungan ayahnya seorang perempuan yang akhir-akhir ini mencuri perhatiannya bahkan dia sudah mulai merasakan jatuh cinta dan merencanakan ingin membangun mahligai rumah tangga.


Namun kenyataan pahit telah ada di hadapannya, seorang yang sudah mengahncurkan rumah tangganya ternyata berpotensi menghancurkan rumah tangga orang tuanya.


Yang membuat hati Satria pedih mengiris hati bak tertusuk sembilu karena gara-gara orang seperti dia, Satria rela membuang isteri dan anaknya demi wanita murahan di hadapanya.


Ternyata seorang pelakor itu tetap saja pelakor tidak mungkin akan puas atas hasilnya, tetap saja masih mengincar sasaran lain.


Dengan langkah kaki penuh amarah, Satria menghampiri mereka berdua yang hampir tenggelam ke dalam buaian kenikmatan.


Tanpa aba-aba, Satria langsung mendorong Ayahnya yang sedang berada di atas tubuh isterinya dengan kekuatan penuh sehingga..


Brukkkk....


Pranggg...


Suara benturan antara tubuh Dilan dengan benda yang ada di sekitarnya. Sehingga membuat kedua sejoli itu merasakan kaget yang luar biasa.


Apalagi melihat sosok yang menyebabkan keributan itu, bagi dua sosok yang berbuat mesum itu tau siapa orang itu.


Mata Dilan memerah murka menatap tajam ke arah Satria karena nafsunya yang sudah di ubun-ubun di jegal oleh anaknya.


Sedangan raut wajah Nadia memucat karena kegiatannya di ketahui oleh suaminya.


"DASAR YA KALIAN SUDAH TIDAK PUNYA OTAK, KANTOR TEMPAT MENCARI NAFKAH MALAH DIPERGUNAKAN UNTUK BERBUAT HAL YANG MENJIJIKAN, PERBUATAN TERKUTUK YANG SANGAT DIBENCI TUHAN, PERBUATAN YANG MENIMBULKAN MALA PETAKA" murka Satria dengan wajah yang merah padam.


"HAHAHA, SATRIA SATRIA EMANG AYAH SAJA YANG BERBUAT MESUM, APA KABARNYA DENGAN KAMU SAT? DAN SATU LAGI JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN AYAH KARENA AYAH JUGA TIDAK PERNAH IKUT CAMPUR URUSAN KAMU, CAM KAN ITU" teriak Dilan tidak terima di maki-maki oleh anaknya.


"IYA MEMANG AKU AKUI SAYA SUDAH PERNAH BERHIANAT TAPI ITU SEMUA TIDAK SERENDAH YANG AYAH LAKUKAN, AYAH HARUS TAU WAKTU ITU SAYA DI JEBAK OLEH PEREMPUAN ULAR BERMUKA DUA, DENGAN DALIH MAU BEKERJA EH MALAH PEREMPUAN ITU SIBUK MENGGODAKU, BAHKAN WANITA ITU SUDAH BERANI MEMPERKOSAKU MENGAJAK BERBUAT MESUM, KARENA SAYA SUAMI SETIA MAKA KU TOLAK MENTAH-MENTAH AJAKANNYA, DAN..ORANG ITU ADALAH..." emosi Satria makin memuncak karena Ayahnya selalu mengungkit masa lalu.


"HAHAHA...KAMU JANGAN MUNAFIK SATRIA, MANA ADA WANITA MEMPERKOSA PRIA. YANG ADA JUGA PASTI KAMU YANG PERKOSA DIA, BILANG NYA SUAMI SETIA. CUIHHH MANA ADA SUAMI SETIA BERSELINGKUH, KATANYA SUAMI BAIK, MANA ADA SUAMI BAIK MEMBUANG ANAK DAN ISTERINYA DEMI WANITA LAIN, SEBENARNYA YANG TIDAK PUNYA OTAK ITU KAMU SATRIA" bentak Dilan lagi sambil menunjuk-nunjuk muka Satria.


"OH JADI KAMU ITU SOSOK AYAH YANG BAIK GITU? MANA ADA SOSOK AYAH YANG BAIK BERANI MEMBAWA WANITA MURAHAN KE KANTORNYA DAN BERBUAT MESUM DI DEPAN ANAKNYA. APAKAH AYAH TIDAK BERFIKIR HAH, RUANGAN INI HASIL JERIH PAYAH AYAH DIPERGUNAKAN UNTUK PERBUATAN TERKUTUK? APAKAH AYAH SADAR BAGAIMANA JIKA AZAB ITU DATANG KEPADA AYAH? APAKAH AYAH TIDAK MALU DENGAN PARA KARYAWAN DI PERUSAHAAN INI YANG MELIHAT AKSI ATASANNYA BERBUAT MESUM? APA.."


"CUKUP SATRIA, TIDAK USAH CERAMAHIN AYAH KARENA AYAH TAU APA YANG HARUS AYAH LAKUKAN. JADI STOP MENJADI ORANG SO SUCI. SO SOAN NASEHATIN ORANG EH TERNYATA DIRINYA LEBIH BRENGSEK DARI SAYA" teriak Dilan yang langsung memotong kata-kata kasar dari anaknya.


Satria tidak mengindahkan teriakan ayahnya yang selalu memojokannya, dengan kemarahan penuh Satria menatap tajam ke arah wanita yang wajahnya kian memucat.


Dengan tangan terkepal Satria menunjuk muka Nadia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2