
Dengan tatapan yang sangat tajam dengan penuh amarah Satria menunjuk muka Nadia yang pucat pasi. Jika sorot mata yang sangat tajam bisa membuat nyawa melayang mungkin itu akan terjadi pada Nadia.
"DAN KAMU, MEMANG BENAR-BENAR WANITA MURAHAN YANG SUDAH MENGGODA SEMUA LELAKI DENGAN MODAL SELANGKANGANMU ITU, CUIH SEKARANG SAYA BARU TAU KELAKUAN KAMU DI BELAKANG TERNYATA PENUH DENGAN KEMAKSIATAN, PELAKOR MEMANG TETAP PELAKOR TAK AKAN PERNAH ADA YANG SETIA, JIJIK AKU LIHAT MUKAMU YANG SO LUGU ITU, CUIH" Satria meludah di depan Nadia saking jijiknya.
"CUKUP! MEMANG KAMU SUDAH KETERLALUAN SATRIA. JANGAN PERNAH BERKATA KOTOR TENTANG DIA BAGAIMANA PUN DIA CALON ISTERI AYAH YANG SEDANG MENGANDUNG DARAH DAGING AYAH, JADI STOP KAMU MENGHINA DAN MERENDAHKAN DIA. KARENA BAGAIMANA PUN SAYA AKAN MEMBELANYA SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN" bentak Dilan yang tak terima selingkuhannya di hina Satria.
Satria mengepalkan tangan dengan erat sampai buku jarinya ikut memutih, dengan kemarahan level maksimal dia berbalik arah menatap Dilan ayahnya.
"APA? AYAH LEBIH MEMBELA PEREMPUAN MODEL GINIAN. AYAH TIDAK TAU SIAPA DIA SEBENARANYA, DIA...."
Tidak sempat Satria menuntasakan ucapannya, tiba-tiba Nadia berdiri dan lari ke pelukan Dilan sambil menangis tersedu-sedu.
Hiks..
Hiks...
"Sayang, saya takut dengan anakmu sepertinya dia tidak suka dengan keberadaanku, tolong lindungi aku sayang, walau pun saya baru ketemu dia tapi aku sudah punya firasat bahwa anakmu itu membenci aku"
Dilan melihat Nadia ketakutan pun menjadi sangat iba, dia memeluk dengan erat dan mencium kening Nadia sambil berkata.
"Tenang sayang, tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti kamu termasuk anakku sekalipun" ucap Dilan sambil menatap tajam ke arah Satria.
"DAN KAMU SATRIA JANGAN PERNAH LAGI MEMBENCI DAN MARAH-MARAH KEPADA KESAYANGAN AYAH INI, KAMU HARUS MENGERTI BAHWA AYAH AKAN MENIKAH LAGI WALAU PUN TANPA PERSETUJUAN KALIAN, JADI JANGAN COBA-COBA MENGUSIK KETENANGAN KAMI" bentak Dilan Murka sambil menunjuk muka Satria yang memerah padam.
Tanpa basa-basi Satria mendekati Nadia, lalu menariknya secara kasar setelah mereka berhadapan.
Plak...
Plak...
Suara tamparan menggema di semua sudut ruangan, dua tamparan melayang di pipi kiri dan kanan Nadia. Tidak hanya dua buah tamparan saja yang Satria berikan karena kemarahannya sudah di luar batas kewajaran sehingga dengan sekuat tenaga Satria mendorong Nadia.
Brukkk....
Pranggg...
Nadia menubruk meja yang di atasnya terdapat beberapa belanjaan yang sempat di simpan di atasnya.
Semua belanjaan berhamburan terbentur tubuh Nadia, bahkan Nadia terjerembab ke samping meja tersebut.
Brukkk...
Nadia terjatuh dengan posisi telungkup di atas lantai, darah pun terlihat merembas dari ************ Nadia dan mengalir ke pahanya.
*Awww, aduh sakitttttt* teriak Nadia sambil meringis menahan sakit yang luar biasa.
Melihat kejadian yang begitu cepat di hadapannya membuat Dilan tidak bisa berbuat apa-apa bahkan sekedar untuk menolong pun sudah tidak ada kesempatan.
Dengan tangan yang terkepal, sorot mata yang tajam dengan aura kebencian yang sangat dalam Dilan menuju ke arah Satria.
Dengan membabi buta dia menghajar anaknya dengan sekeras-kerasnya.
Bugh...
Bugh...
Suara pukulan mendarat tidak hanya di tubuh Satria tapi juga di wajah Satria. Satria yang tidak menyadari akan mendapatkan serangan brutal dari ayahnya tidak sempat membela diri.
__ADS_1
Tubuh Satria terjungkal ke belakang.
Brukk...
Tangan Satria mencoba melindungi wajahnya dari serangan brutal ayahnya.
"DASAR ANAK KURANG AJAR, SUDAH SAYA BILANG HAH JANG MENYAKITI CALON ISTERIKU, MALAH KAMU MENYAKITINYA. AWAS YA JIKA TERJADI APA-APA TERHADAP ANAK DAN NADIA KAMU AKAN MENYESAL SUDAH MENJADI ANAKKU, KAMU AKAN SAYA CORET DARI DAFTAR NAMA DIRLANTA" masih dengan kemarahannya Dilan terus membabi buta melayangkan pukulannya terhadap Satria.
Dengan kekuatan seadanya Satria pun sekarang mencoba melayangkan sebuah pukulan ke arah wajah ayahnya.
Bugh...
Satu pukulan mendarat di wajah Dilan, dengan teriakan histeris Satria berkata.
"SAYA GA PEDULU WALAU PUN TIDAK DIAKUI SEBAGAI ANAK DARI PRIA MACAM DIRIMU, JADI GAK USAH PAKE ANCAMAN SEGALA. SAYA JUGA MUAK MELIHAT TINGKAH LAKUMU YANG BEJAT INI, KAMU LEBIH MEMBELA PELAKOR ITU DARI PADA ANAKMU SENDIRI, DASAR NAFSUMU SUDAH MENGHILANGKAN AKAL SEHATMU"
Ketika mereka saling pukul dan berteriak saling membela diri, terdengar suara rintihan Nadia yang memanggil Dilan.
"Sayang,,aku sudah gak kuat. Sakitttt, aduhhhhh" rintih Nadia sambil memegang perutnya.
Dilan yang mendengar rintahan Nadia pun cepat menoleh ke arahnya, raut wajahnya nampak panik.
"Sayang bertahanlah, Om akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga" panik Dilan sambil beringsut menghampiri Nadia.
Karena sangat menghawatirkan kondisi Nadia, tanpa berfikir panjang Dilang membopong Nadia keluar dari ruangan kantornya menuju rumah sakit terdekat dengan keadaan panik.
"AYAH, AYAH JANGAN GILA KAMU, KAMU MALAH MAU MENYELAMATKAN WANITA SEPERTI DIA, AYAH AKAN MENYESAL" teriak Satria mencoba menghalangi usaha ayahnya yang akan menyelamatkan Nadia.
Dilan pun sudah tidak peduli akn teriakan anaknya, dengan tergesa-gesa dia berlari sambil membopong Nadia.
Tanpa banyak kata Satria, membanting semua benda yang ada di dalam ruangan itu.
Arghhhh...
Arghhhh...
"KALIAN MEMANG BRENGSEK TIDAK TAU MALU,"
Prang...
Prang...
Suara benda berjatuhan dan terpecah belah, keadaan ruangan tersebut seperti kapal pecah sudah tidak terbentuk lagi.
Bahkan dokumen dan arsif penting yang terdapat di ruangan itu tak luput menjadi sasaran kemarahan Satria.
***
Di bilik ruangan lain, Iriani merasa terganggu dengan suara kegaduahan di luar ruangannya.
"Ugh...akhirnya aku bisa beristirahat juga dengan tenang" ucap Iriani sambil merenggangkan otot-otonya yang sedang kaku.
"Tunggu-tunggu tapi itu seperti teriakan Satria, apakah suamiku mungkin sudah kembali ya? dan Satria marah-marah kepada ayahnya. Tidak-tidak saya tidak akan membiarkan Satria melawan ayahnya" gumam Iriani sambil melangkah keluar dari ruangan kamar pribadi suaminya.
Ceklek..
Pintu pun terbuka, dan mata Iriani terbelalak melihat kondisi ruangan suaminya.
__ADS_1
"Astagfirulloh Satria! Apa-apaan sih kamu? Kenapa kamu merusak ruangan ayahmu Satria? Apa kamu masih sadar?" teriak Iriani panik karena melihat benda-benda yang ada di ruangan tersebut hancur berantakan.
Satria yang mendapat teriakan ibunya seketika berbalik menatap tajam ke arah Ibunya sambil berkata.
"INI SEMUA GARA-GARA IBU, KALAU DULU IBU TIDAK MENDUKUNG PELAKOR ITU MENGUSIK RUMAH TANGGAKU, KEJADIAN SEPERTI INI TIDAK AKAN TERJADI. SATRIA SUDAH HANCUR BU, HATI SATRIA SAKIT SAKITTTTT, AYAH SOSOK YANG MENJADI HARAPAN SATRIA UNTUK MENJADI ORANG YANG LEBIH BAIK LAGI TERNYATA KELAKUANNYA LEBIH BRENGSEK DARI PADA AKU BU, SEKARANG IBU SUDAH PUAS KAN MELIHAT SATRIA HANCUR?" teriak Satria menggila sambil diselingi tertawa terbahak-bahak merutuki kebodohannya sendiri.
"SATRIA JAGA MULUT KAMU, JANGAN MENGHINA AYAH KAMU, BAGAIMANA PUN DIA ADALAH SOSOK YANG HARUS KAMU HORMATI" bela Iriani.
"HAHAHA...APA YANG HARUS DI HORMARI DARI KELAKUAN AYAH BU, AYAH YANG SUDAH BERSELINGKUH DENGAN YANG LEBIH MUDA DAN MILIH MEMBELANYA DARI PADA MEMBELA ANAKNYA SENDIRI, TEGA MENGHIANATI KELUARGA YANG SUDAH DI BINA PULUHAN TAHUN, GITU? SOSOK SEPERTI ITU YANG HARUS SATRIA HORMATI?"
"CUKUP SATRIA, KAMU JANGAN JADI ANAK DURHAKA! KAMU TAU KAN SELAMA INI AYAH SELALU MEMBELA KAMU BAHKAN MENYAYANGI KELUARGA KAMU, JADI GA USAH JADI MANUSIA SO SUCI YANG TIDAK BERDOSA, POKONYA KAMU HARUS MEMINTA MAAF KEPADA AYAHMU!" teriak Iriani.
"APA? GAK SALAH TUH SAYA HARUS MEMINTA MAAF KEPADA AYAH? YANG ADA AYAH HARUS MEMINTA MAAF KEPADA SATRIA. YA MEMANG SATRIA AKUI DULU AYAH SELALU MENYAYANGI KELUARGAKU DENGAN TULUS, TAPU UNTUK SEKARANG MAAF SATRIA GA SUDI MEMAAFKAN AYAH" bela Satria sambil memalingkan wajahnya.
Melihat Satria yang keras kepala, membuat Iriani pun tak kuasa menahan amarahnya. Tanpa banyak kata Iriani mendekat ke arah Satria dan mendaratkan satu tamparan di wajahnya.
Plak...
"Kamu ya semakin ke sini semakin kurang ajar terhadap orang tua Satria, kamu jangan coba-coba menghakimi ayah mu sendiri dengan perbuatannya. Memang Ibu akui sakit melihat ayahmu berselingkuh di belakang Ibu bahkan dia sudah berani membawa pelakor itu ke ruangan ini, tapi Ibu sadar semua itu berawal dari kesalahan Ibu sendiri. Ibu akan mencoba berbesar hati untuk memaafkannya, kita akan mencoba memperbaiki rumah tangga Ibu yang sempat hancur jadi kamu jangan keras kepala seperti itu" papar Iriani sambil mencoba menahan egonya.
"Hahaha...terserah ibu mau bilang apa yang terpenting Satria tidak akan memaafkan ayah dan Ibu sampai kapan pun, dan ini semua salah Ibu karena ulah Ibu kehidupan Satria menjadi hancur. Semoga Ibu dan Ayah tidak menyesal di kemudian hari, maafkan Satria jika selama ini banyak salah pada kalian. Satria akan pergi sejauh mungkin karena tidak mau melihat wajah kalian yang sudah membuat hidupku hancur lebur tak tersisa".
Setelah berkata seperti itu Satria berlalu dari hadapan Ibunya, sedikitnya hati Satria menjadi lega karena dilema selama ini sudah ada jawabannya.
Sekarang Satria sudah tau kebusukan Nadia, jadi Satria hanya berharap secepatnya menemukan keluarganya dan berkumpul bersamanya.
Ada pun untuk Nadia biarlah Tuhan yang akan menghukumnya, Satria pergi dengan melajukan kendaraannya secara ugal-ugalan karena masih dalam keadaan emosi.
Arghh....
"Gara-gara perempuan seperti itu hidupku hancur berantakan, sial sial.....padahal saya sudah mempunyak rencana untuk memperbaikinya tapi dia beraninya nipu saya, mengaku hamil anak saya tapi ternyata hamil oleh ayahku sendiri".
"Jijik banget cuih... jadi selama ini saya dan ayah menggilir perempuan yang sama itu secara bergantian. Sial sial..kenapa sih kamu Satria bodoh sekali tidak bisa membedakan mana perempuan baik-baik dan perempuan berhati busuk, sudah tau Nadia itu perempuan busuk eh malah di belanya bahkan di depan Salma yang sudah jelas sholehahnya. Ah sial sial..Satria bodoh, brengsek" geram Satria sambil memukul-mukul setir mobilnya.
***
Setelah kepergian anaknya Iriani ambruk ke atas lantai sambil merutuki kebodohannya.
"Emang benar Sat, ini semua salah Ibu sehingga ayahmu berselingkuh. Tapi Ibu akan mencoba belajar ikhlas untuk menerima semuanya, sebenarnya Ibu gak mau kalau harus berbagi cinta dengan wanita lain apalagi yang lebih dari segalanya dari Ibu, tapi Ibu juga gak mau jika harus menjadi janda tua. Bagaimana pun ayahmu sebenarnya orang baik sama seperti kamu nak, cuma karena keegoisan Ibu kalian menjadi berubah seperti sekarang ini"
Hiks...
Hiks...
"Jadi kalau ada yang harus disalahkan yaitu Ibu jangan ayahmu. Ibu menyesal telah melakukan perbuatan dosa itu nak, Ibu menyesal dan Ibu sudah mendapatkan balasannya, keluarga Ibu juga hancur. Maafkan Ibu nak" gumam Iriani.
"Sekarang Ibu akan menebus kesalahan Ibu dengan berbakti kepada ayahmu, dan Ibu yakin ayahmu hanya khilaf dan akan kembali seperti dulu lagi" harap Iriani sambil terduduk lesu.
Ceklek...
Pintu ruangan kantor Dilan terbuka, dan terlihat sosok perempuan di balik pintu itu yang sedang mengamati kondisi ruangan bos nya denga tatapan terkejutnya.
"Ibu!"
"Neni!"
Bersambung...
__ADS_1