
Bab 32
***
Akhirnya Satria bernafas dengan lega, karena sekarang Ibunya sudah mulai menunjukkan naluri keibuannya.
Satria berjanji setelah menemukan Salma dan anaknya, dia akan memohon ampunan dan meminta rujuk kembali untuk membina rumah tangga yang sempat hancur berantakan.
Satria berjanji akan menjadi sosok suami sekaligus ayah yang patut dibanggakan. Dan ia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Namun sekarang Satria harus bisa menyelesaikan permasalahaannya dengan Nadia.
"Ya benar bangaimana nasib anak yang dikandung Nadia? Aku tak tega harus menelantarkan mereka, karena sekarang aku sudah mulai mencintainya".
"Arghhhhhh....harus gimana ini?, disisi lain aku menyayangi anak dan isteriku, tapi aku tidak tega harus meninggalkan Nadia dan anak yang ada dalam kandungannya, apalagi sekarang Nadia sudah mulai berubah menjadi sosok yang aku harapkan".
"Ya udah, karena Salma dan anak-anakku sudah pergi entah kemana, mungkin untuk sekarang ini aku harus menjalani dulu dengan Nadia, tapi apakah dia mau ya mendampingi aku yang sduah bangkrut karena Satria yang sekarang bukan Satria yang dulu dengan bergelimangan harta. Tapi aku yakin Nadia kayanya mau deh menemani aku dari nol seperti Salma dulu soalnya Nadia sangat mencintaiku buktinya dia selalu mengejar-ngejar aku bahkan dia rela melakukan apa saja, duh jadi kangen sama isteriku yang sexy ini".
Perasaan Satria menjadi dilema karena memikirkan hal itu, tapi ketika mengingat keadaan Nadia yang sekarang yang sudah melayaninya dengan sepuas hati membuat hati Satria lebih tertuju kepada Nadia.
Apalagi Satria tidak tega harus meninggalkan Nadia, karena dia sudah mengandung anaknya. Namun Satria juga tidak bisa melupakan Salma begitu saja tetap saja ia berharap bisa mendapatkannya kembali.
Satria tau mana ada perempuan yang mau di madu, tapi demi nafsu keserakahannya dia akan rela melakukan apa saja, termasuk membohongi Salma.
Satria akan membelikan rumah baru untuk Nadia secara terpisah dengan jarak yang sangat jauh agar kebusukannya tidak terendus. Lalu Satria akan berpura-pura menceraikan Nadia.
Setelah dilakukan rencana seperti itu, baru Satria akan mencari keberadaan Salma dan anaknya untuk dibawanya kembali ke rumah Satria.
Jadi kalau rencananya berhasil, maka Satria akan menjadi pria paling beruntung di dunia, mempunyai keluarga yang sangat disayanginya tetap berada di sampingnya tapi di luaran sana ada wanita muda yang dapat memberikan kepuasan nafsunya.
Memikirkan hal itu, Satria senyum-senyum sendiri membayangkan kenikmatan yang akan ia raih.
"Arghhhhh, kenapa dulu gak kepikiran ke situ sih, malah kacau seperti ini, tapi ya sudah nasi sudah menjadi bubur bagaimanapun tidak akan kembali lagi. Mending aku menggunakan cara yang kedua" Satria mengepalkan tinjunya simbol semangatnya, tak terasa senyumannya pun tersungging di bibirnya.
Ketika Satria sedang merenung, tiba-tiba Ibunya datang mengagetkannnya "eh Sat, kenapa ko senyum-senyum gitu? Atau jangan-jangan kesambet lagi" goda Ibunya sambil menyiapkan makanan yang sudah dipesannya untuk dibawa ke kantor suaminya.
"Hahaha, Ibu bisa aja, engga ko Satria lagi bahagia jika memikirkan aku dan keluraga kecilku bisa berkumpul lagi, terus Ibu menjadi dekat dengan Salma".
"Oh gitu, kirain ada apa. Ibu juga bakal senang jika terjadi seperti itu, dan mulai sekarang Ibu janji tidak akan membenci menantuku lagi. Dan ingat satu hal lagi Satria jangan coba-coba menduakan isterimu lagi karena kalau sampai melakukan itu lagi berarti kamu menyakiti hati ibu, soalnya sekarang ibu baru tau rasa sakitnya di hianati itu seperti apa, baru mendengar saja membuat jantung Ibu menjadi sesak, bumi seakan berhenti berputar, hati ini seakan tertusuk ribuan jarum, apalagi kalau penghianatan itu terpampang jelas di mata Ibu mungkin Ibu tak akan kuat melihatnya, tapi Ibu salut sama Salma begitu tegar dan kuat menjalani hidup ini, ketika dia mendapatkan caci maki dari keluarga suaminya tapi dia tidak pernah sedikitpun membalasnya, ketika dia melihat suaminya selingkuh pun tapi dia dengan sabar memaafkannya, namun sayang kamu sebagai suaminya tidak bisa memanfaatkan kesempatan keduanya walaupun akhirnya Salma lah yang menyerah karena tidak mau untuk dimadu".
"Tapi Ibu juga kalau di posisi Salma pasti lebih baik pergi jika harus berbagi suami dengan perempuan lain, karena Ibu yakin kata adil itu tidak akan pernah ada, apalagi biasanya suami lebih cenderung ke isteri kedua, faktanya isteri kedua tapi yang utama".
"Tapi semua itu bukan sepenuhnya salah kamu juga sih, tapi ada campur tangan Ibu juga yang membuat rumah tangga kalian hancur, bahkan sadisnya Ibu rela mengorbankan menantu dan cucu-cucu Ibu yang sudah jelas sah di agama dan mata hukum tapi justru lebih membela seorang pelakor yang belum tau asal usulnya".
__ADS_1
"Pokonya sekarang Ibu mau kamu segera menceraikan Nadia dan membawa kembali Salma dan cucu-cu Ibu, Ibu ingin masa tua itu dihabiskan dengan berkumpul bersama kalian cucu dan menantu" papar Iriani panjang lebar mengungkapkan semua isi hatinya, karena sekarang fikirannya mulai terbuka.
Deg...
Jantung Satria semakin berdebar karena tidak kefikiran ke arah situ, tapi mendengar penjelasan Ibunya yang panjang lebar membuat hatinya sedikit tersentuh.
Tapi untuk melepaskan Nadia, Satria tidak yakin bisa soalnya dia sudah mencintainya, tapi untuk menjaga perasaan Ibunya ia akan menyembunyikannya seperti kepada Salma.
"Baik Bu, pokonya sekarang Satria akan patuh kepada nasehat Ibu, tapi Ibu juga harus janji tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu lagi".
"Iya Sat, Ibu janji. Eh Sat! Yuk kita ke kantor Ayahmu sudah waktunya makan siang kayanya, nanti telat lagi ke buru Ayahmu mencari makan di luar".
"Hayu Bu, biar Satria aja yang bawa makanannya".
Akhirnya mereka berduapun berangkat ke kantor Dilan yang kebetulan sekarang hampir jam istirahat untuk makan siang.
***
Setelah melakukan pergumulan panasnya dengan Nadia, akhirnya mereka berdua pun menghentikan aktivitasnya terlebih dahulu di kursi dengan posisi Nadia masih dalam pangkuan Dilan.
Suasana hati Dilan yang tadi pagi emosi, kini setelah mendapatkan servis memuaskan dari Nadia menjadi hilang seketika bahkan di raut wajahnya hanya menampilkan senyuman bahagianya.
"Yang istirahat dulu ya, Om masih cape nih" ucap Dilan sambil memindahkan Nadia dari pangkuannya.
"Hehe iya sayang Om juga sebenarnya pengen nambah, tapi masih cape. Bagaimana kalau kita keluar dulu mencari sarapan nanti setelah sarapan kita sambung lagi? Pokonya hari ini kita lakukan sepuasnya oke cantik!" Bujuk Dilan sambil mengecup kilat bibir Nadia.
"Oke sayang, kebetulan aku juga sudah laper, habis dari pagi belum sempat sarapan karena terus memikirkan keadaan Om" manja Nadia sambil menyenderkan kepalanya di dada Dilan.
"Ko gitu sayang harus jaga pola makan dong, kan kamu sekarang sedang berbadan dua, Om tidak mau terjadi apa-apa sama anak Om!" Ucap Dilan penuh kekhawatiran takut anak dalam kandungan Nadia terjadi masalah.
Dilan pun mengelus perut rata Nadia sambil berkata manja "hallo sayang!, Baik-baik di sana ya jangan merepotkan Bunda!" Dilan pun mengecup perut Nadia yang masih rata.
Melihat perlakuan Dilan terhadap janin yang ada di perutnya membuat perasaan Nadia menghangat bercampur bahagia, karena sekarang dia sudah mendapatkan sosok yang sangat mencintainya.
Nadia yakin Dilan akan memperlakukannya dengan baik, tapi Nadia juga tidak mau melepaskan Satria karena bagaimanapun sekarang Satria adalah suami siri nya.
Nadia akan terus menutupi kebohongannya dengan cara apapun, dan mulai sekarang Nadia akan lebih berhati-hati dalam menjalankan perselingkuhannya.
"Makasih Om! Memang Om yang terbaik pokonya. Nadia makin cinta deh sama Om, muah" Nadia memeluk erat Dilan.
"Sama-sama sayang, eh hayu katanya sudah laper. Kalau ngobrol terus kapan kita makannya, hehe".
"Oke hayu juga Om sayang, tapi ********** gak usah dipake aja ya biar nanti kalau mau lagi gampang..ups" goda Nadia.
__ADS_1
"Hehe...Ya udah kita tinggalin aja di Sopa, punya Om juga ga akan di pake ah biar gampang hehe, apalagi sudah kotor nih, nanti setelah keluar makan sekalian kita mampir ke mall dulu beli yang baru, oke sayang".
"Siap sayang, eh tapi aman kan?" Khawatir Nadia.
"Tenang aja pasti aman soalnya tidak akan berani ada yang masuk ke ruangan ini kecuali atas izin Om, apalagi Om akan memberikan perintah kepada sekretaris Om yang berjaga di luar untuk melarangnya masuk, oke sayang berarti kamu tidak usah khawatir".
"Oke deh sayang, Nadia percaya sama Om sepenuhnya" ucap Nadia sambil menggandeng tangan Dilan.
Tanpa membersihkan diri dan tempat melakukan pergumulan merekapun keluar dengan santainya.
Dilan pun tidak merasa khawatir akan posisi Nadia, karena sebagian besar karyawannya sudah tau posisi Nadia, namu n mereka memilih bungkam karena takut akan kemarahan bosnya.
Sehingga perselingkuhan yang sering dilakukan di kantornya selama ini aman-aman saja. Dan itu membuat Dilan bernafas lega.
Yang disesali Dilan adalah kenapa dia harus jujur atas perselingkuhannya, padahal kalau tidak jujur mungkin dia tidak akan bertengkar hebat dengan isteri dan anaknya.
Gara-gara terpancing amarahnya oleh Iriani membuat Dilan jujur mengungkapkan sesuatu yang disembunyikannya selama ini.
Namun Dilan juga sekarang tidak merasa bersalah karena sudah mengungkapkan kebenarannya, dan seandainya Iriani tidak mau dimadu maka dengan terpaksa ia akan menceraikannya, karena sekarang Dilan sudah mempunyai wanita idaman lain yang lebih muda dan sexy yang bisa memuaskan nafsunya setiap saat, apalagi wanita itu sedang mengandung buah hatinya, itulah yang membuat Dilan yakin akan keputusannya.
Setelah mereka pergi keluar untuk mencari makanan dengan bergandengan tangan manja, membuat para karyawan yang melihatnya merasa jijik apalagi terhadap sosok Nadia yang dengan tidak tau malunya gelendotan di tangan bosnya.
Apalagi Neni sekretaris Dilan yang dari dulu sudah menaruh hati pada bosnya itu, namun dia tidak bisa mendapatkannya walau sudah menggodanya berkali-kali.
Tapi dengan anak baru itu yaitu Nadia, bosnya itu langsung bertekuk lutut dan tidak risih memamerkan kemesraannya di kantor hampir di setiap ada kesempatan.
"Cuihhh, dasar perempuan ganjen, ga ada urat malunya kali, sudah berani jadi pelakor terang-terangan, manja-manjaan pula lagi, jijik aku melihatnya. Kalau ketauan Ibu bos baru tau rasa. Ibu bos lagi kenapa sih pake kecolongan segala sudah tau lakinya ada yang embat eh malah gak pernah nongol lagi, zaman sekarang tuh pelakor ada dimana-mana jadi harus lebih waspada". Gerutu Neni geram melihat tingkah laku keduanya.
Padahal Neni geram itu bukan membenci bosnya, tapi karena merasa cemburu berat terhadap Nadia, karena sudah berani merebut incarannya.
"Awas ya kalian, kalau Ibu bos ke sini saya tidak akan menuruti perintah bos untuk melarang masuk ke dalam ruangannya sekalipun yang masuk isteri dan anaknnya. Haha pokonya saya akan menyuruhnya langsung masuk. Huh dasar pasangan mesum pasti ada apa-apanya di dalam makanya melarang masuk sekalipun keluarganya. Biar tau rasa kalian pasangan mesum!" Geram Neni sambil mempermainkan pulpen yang ada di tangannya, tanpa dia ketahui di depan ada orang yang sedang menegurnya.
"Kamu Neni kan? sekretaris Pak Dilan?" Tanya Iriani yang sudah ada di hadapan Neni yang sedang cemberut.
"Hei, Ibu saya nanya sama kamu, kamu tidak dengar ya?" Teriak Satria geram karena Neni mengabaikan teguran Ibunya.
Mendengar ada yang berteriak, membuat Neni hampir terjungkal ke belakang saking kagetnya, Neni pun mencari ke arah sumber suara.
Deg...
Jantungnya hampir copot, karena baru saja memikirkannya tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
Bersambung...
__ADS_1