
Bab 20 Pelakor Mulai Beraksi
***
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka nampak Dilan keluar hanya melilitkan handuk dipinggangnya.
Dilan pun menghampiri Nadia yang sedang menerima telepon, setelah berada dibelakang Nadia.
Grep...
Tangan Dilan memeluk Nadia dari belakang sambil mengecup pundak Nadia.
Nadia yang kaget langsung memberi isyarat untuk tidak berisik dia menyimpan telunjuknya di bibir Dilan.
Dilan sangat faham akan isyarat Nadia, dan langsung mengambil alih ponselnya dari tangan Nadia.
"Iya hallo ma, ada apa?" Tanya Dilan dengan sangat tenang.
"PAH SIAPA PEREMPUAN YANG LANCANG MEMEGANG PONSEL PAPAH?" bentak Iriani.
"Oh, yang tadi ngangkat telepon papah tuh sekretaris papah, kebetulan kita habis meeting dengan klien untuk projek baru. Mungkin ketika papah ke toilet sekretaris mengangkatnya takutnya ada hal penting. Dan papah juga sudah memberi izin ke sekretaris papah jika ada telepon masuk dari keluarga supaya cepat diangkat walaupun papah tidak berada ditempat itu misalnya lagi ke kotilet. Gitu mah! Emang ada apa tidak biasanya menghubungi papah di jam kerja?" Tanya Dilan.
"Gitu ya pah ceritanya, maaf deh kalau mamah sudah suudzon sama papah! Tapi papah tidak bohongkan?"
"Ya ampun kapan sih papah bohong sama mamah"
"Iya iya deh mamah percaya, tapi papah harus hati hati musim pelakor di luaran sana!" Cemas Iriani.
"Tenang saja mah, oke! Eh mamah belum menjelaskan kenapa menghungi papah di jam kerja"
"Udah ah pah ga jadi, nanti aja di rumah!"
"Sip kalau gitu, udah dulu ya mah? Papah lagi sibuk banget. Assalamualaikum!"
Setelah sambungan telepon terputus. Dilan menyimpan ponselnya di atas nakas.
Tangannya nakal memeluk Nadia tanpa mau melepaskannya, bibirnyapu tak luput digunakan untuk mengecup pindak Nadia.
"Udah dong pak, geli" manja Nadia.
"Mulai dari sekarang jangan panggil pak ya, panggil aja Om, mau panggil sayang juga boleh" goda Dilan.
"Iya Om sayang, terus hadiah buat kesayangannya apaan tuh?"
"Pokonya sayang hari ini kamu mau apa aja bebas"
"Beneran sayang, Om gak bohong kan?"
__ADS_1
"Apa sih yang enggak buat sayangku"
"Ya udah nanti sore antar Nadia belanja ya, soalnya banyak sekali kebutuhan Nadia yang ingin dibeli"
"Oke sayang"
Cup...
Bibir merekapun berpagutan seakan tidak akan ada hari esok lagi.
"Eh Om sayang, sekarang kan Nadia sudah tidak bekerja lagi boleh dong kalau aku jadi sekretaris beneran Om?"
"Em..gimana ya sepertinya ga bisa sayang kan Om masih punya sekretaris"
"Ih Om ga sayang Nadia, gampang Om tinggal pecat aja, kan ada Nadia. Nadia bisa ko bekerja profesional dengan Om, dan satu lagi kalau aku jadi Sekretaris Om, Nadia bisa melayani kapan pun Om mau kan di kantor bebas apalagi biasanya ruangan bos dan sekretaris selalu berdampingan. Gimana Om ide Nadia".
Dilan berfikir sejenak,
"Bener juga kata Nadia, kalau dia jadi sekretaris saya pasti bebas melayani setiap saat jika dibutuhkan, beda kalau di luaran sana pasti sulit untuk mendapatkan kepuasan dari Nadia soalnya pergerakannya terbatas. Dan saya akan mengatur ruangan Nadia supaya lebih dekat dengan ruangan saya" guman Dilam dalam hati.
"Oke sayang semua bisa diatur, tapi janji ya selalu siap jika Om butuhkan?"
"Siap sayang".
Nadia merasa di atas awan, selain bisa menaklukan pria dewasa yang gagah perkasa tapi juga bisa mendapatkan pundi pundi rupiahnya dari Dilan dan pekerjaan sebagai sekretarisnya.
"Indah banget hidupku, sudah mendapatkan kepuasan lahir bathin dari Om Dilan, eh mendapatkan pekerjaan pula, nikmat mana lagi yang kau dustakan" guman Nadia dalam hatinya, Nadia pun tersenyum culas.
Setelah kesepakatan antara Nadia dan Dilan terpenuhi, akhirnya giliran Nadi yang masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah Dilan sudah mengganti pakaiannya lalu dia duduk di tepi ranjang sambil berguman.
"Maafkan papah mah, awalnya tidak ada niatan untuk menghianati mamah, tetapi papah juga tidak munafik butuh belaian kasih sayang dari pasangan terbukti kepuasan yang diberikan Nadia membuat jiwa muda papah berkobar kembali".
"Papah seakan menjadi pria sejati dengan usia yang tidak muda lagi tapi mampu mengimbangi cewek yang masih muda" bangga Dilan.
"Memang selingkuh itu tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun tapi papah sebagai manusia biasa merasa kecewa dengan sifat mamah yang keras kepala tidak pernah mendengarkan nasihat papah, bukannya sibuk ngurusin papah justru malah sibuk ikut campur urusan Satria dan Salma. Padahal mereka pasangan terbaik menurut papah, cuma karena keegoisan mamah yang lebih mementingkan harga diri sehingga bisa menghancurkan keluarga Satria. Mudah mudahan mamah cepat sadar!" Rutuk Dilan.
***
Setelah mengantar Nadia belanja sepuasnya Dilan pun kembali pulang ke rumahnya dengan raut wajah yang berseri seri.
"Waduh ayah, tumben tumbenan tuh muka ceria amat, mendapatkan jackpot?" Goda Danu.
"Hehehe inimah lebih dari jackpot Nu, tapi mulai sekarang kayanya papah orang yang paling bahagia di dunia" kekeh Dilan.
"Widih, sudah mulai bucin kayanya yah!"
"Ya gitu lah, namanya orang lagi seneng pasti senyum senyum".
__ADS_1
"Emang seneng kenapa sih yah?"
"Ada deh, biar ayah saja yang tau"
"Sudah main rahasia rahasiahan nih"
"Hehe nanti kalau sudah saatnya pasti Nu tau, eh ibumu sudah pulang belum? Katanya tadi nyuruh ayah cepat pulang katanya ada yang penting".
"Oh iya, tadi ibu berpesan katanya jika ayah pulang langsung aja masuk ke kamar ada masalah yang sangat penting untuk dibahas"
"Oh, kalau gitu ayah ke kamar dulu ya Nu".
"Siap bos!"
Dilan pun akhirnya berlalu meninggalkan Danu untuk memasuki kamarnya, dia merasa penasaran ada hal penting apa yang membuat suaminya harus cepat pulang kantor.
Ceklek...
Pintu dibuka Dilan.
"Pah sudah pulang?"
"Iya mah, ada apa sih ko kayanya penting banget?"
"Udah nanti aja, sekarang papah mandi dulu terus kita makan, nah setelah makan baru kita bicarakan masalah itu"
"Ya udah papah mandi dulu mah".
Tak lama Dilan pun tanpa sadar membuka pakaiannya dan melilitkan handuk di pinggangnya.
Terlihat didada bidang Dilan banyak sekali bekas kissmark warna keunguan yang hampir memudar.
"Tunggu-tunggu pah!"
Tiba tiba Iriani menghampiri Dilan yang sudah bertelanjang dada.
"Pah! Ini bekas apaan ko bentol bentol gitu?" Tanya Iriani sambil mengelus elus bekas kissmark itu.
Deg....
"Ah sial bodoh banget, tanpa sadar membuka aib sendiri, gimana nih jawabnya pasti isteriku curiga" rutuk Dilan.
"Eh tunggu tunggu kayanya ini bukan bentol bentol deh, tapi bekas....kira kita bekas gigitan apa ya?" Iriani tanpak berfikir sejenak.
"Waduh...gawat gimana ini, kalau isteriku nanya nanya dan menyudutkan saya gimana jawabnya, apalagi watak isteriku itu keras kepala dan tak mau mengalah pasti langsung berfikiran negatif walaupun memang iya saya melakukan itu" guman Dilan dalam hati.
"PAPAH! MAMAH TAU BEKAS APAAN ITU, KAMU TEGA PAH!" Teriak Iriani penuh rasa kecewa.
Deg...
__ADS_1
"Tamat riwayatku"
Bersambung...