
Intan terus melangkah menyusuri sepanjang perjalanan di bawah teriknya mata hari, menuju tempat pemotretan nya yang baru di mulai besok.
Alif yang terus mengikutinya dari belakang sedikit kebingungan, juga khawatir dengan keadaan Intan sebagai seorang artis populer, berada di jalan raya tanpa adanya pengawalan. Walaupun Intan saat itu mengenakan masker juga kaca mata hitam untuk menutupi wajahnya.
"Tan,, ayo kita kembali ke villa Pak Bos! Lagian kan, pemotretan nya baru dimulai besok. Buat apa kita kesana sekarang? Dan kalau sampai ada masyarakat yang mengenali kamu, bisa bahaya kita. Aku nggak kau ambil resiko. Orang tuamu akan membunuhku kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu." Alif berusaha memperingati Intan.
"Lif,, kita menginap di tempat lain aja ya. Aku nggak mau nginap di villa Mas Richard." Gadis itu mulai bersuara, setelah sejak tadi terdiam.
"Tan, tapi kamu harus menemani Pak Bos di acara nanti malam. Tujuan beliau kan untuk menghadiri acara itu sama kamu. Sebenarnya ada apa sama kamu?" Alif mulai curiga dengan sikap tak biasa dari artisnya.
"Aku nggak suka lihat wanita lain mendekati Mas Richard. Dan aku nggak bisa mengatakan itu. Kamu kan tahu sendiri bagaimana hubungan aku dan dia," ucapan Intan sungguh mengejutkan Alif.
"Tan,, berarti kamu tuh cemburu. Dan cemburu itu tanda cinta. Bukannya kamu sendiri bilang, kalau kamu nggak cinta sama dia. Aku benci dia Lif, aku nggak mau punya pendamping hidup seperti dia," ucap Alif sengaja mengingatkan Intan dengan apa yang pernah dia katakan tentang Richard.
"Awalnya aku memang nggak mau sama dia. Dan aku juga nggak menyangka jadi seperti ini." Intan terlihat malu karena harus jujur tentang perasaannya.
"Tapi mengapa secepat itu kamu mencintainya? Aku mengenal kamu loh Tan. Kamu bukan wanita yang mudah jatuh cinta," ucap Alif sembari mengotak atik layar ponselnya. Dan ternyata dia sedang mengetik pesan pada Richard.
"Aku juga nggak tahu kapan mulai jatuh cinta padanya. Tapi saat kejadian kemarin malam, pikiranku langsung terganggu karena memikirkannya." Kata-kata Intan seketika memancing perhatian Alif.
"Memangnya apa yang terjadi kemarin malam? Jangan bilang kalian sudah melakukan itu," ujar Alif dengan tatapan mencari tahu.
"Kita nggak sampai melakukan itu. Dia hanya mencium ku dan itu."
__ADS_1
"Dan itu apa Tan? Kamu kalau ngomong yang jelas dong! Jangan buat aku penasaran!" Alif makin nggak sabar.
"Dia mencium ku, dan meraba beberapa bagian tubuhku. Tapi saat itu dia lagi mabuk. Mungkin dia melakukan itu karena pengaruh minuman. Tapi aku malah jatuh cinta Lif. Gimana dong?" jawab Intan dengan ekspresi terlihat sedih.
"Sudah lah Tan. Semua sudah terjadi. Walaupun dia dipengaruhi minuman, dia akan menjaga sikap kalau nggak ada rasa. Jadi sudah pasti dia punya rasa, tapi nggak tahu yang dia rasakan itu cinta, atau hanya sekedar nafsu." Ucapan Alif malah membuat Intan semakin berkecil hati.
"Kita balik yuk Tan! Berada di tempat umum tanpa penjagaan bahaya banget buat kamu," ucap Alif.
"Kita naik taksi saja ya. Aku capek jalan sejak tadi."
Mereka pun mulai menunggu taksi yang lewat. Tapi tidak berapa lama, ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan mereka. Dan kaca mobil pun terbuka, memperlihatkan sosok tampan bagaikan jelmaan Dewa. Melihat Richard yang tiba-tiba muncul, Intan langsung memalingkan pandangan dengan ekspresi wajah datar. Dia bersikap cuek, dengan harapan Richard akan keluar dan memintanya kembali ke villa. Namun apa yang diharapkan malah membuatnya menelan kekecewaan untuk kedua kalinya.
"Ayo masuk!" seru Richard tanpa keluar dari dalam mobil.
Mereka duduk bersebelahan tanpa ada yang mau memulai pembicaraan. Richard hanya fokus menatap jalan, sementara Intan malah menatap ke arah luar melalui kaca mobil. Alif yang berada di antara mereka juga hanya terdiam duduk di bangku bagian belakang.
"Alif,, kalian langsung masuk saja kedalam, dan tanyakan letak kamar kalian masing-masing pada pelayan. Saya masih ada urusan," ujar Richard dan kembali melangkah menemui beberapa orang yang sedang duduk di halaman villa.
Melihat keberadaan wanita yang tadi dekat dengan Richard, Intan langsung melangkah memasuki villa tanpa menunggu Alif. Dia bahkan tidak menanyakan letak kamar yang akan ditempatinya. Mengerti keadaan sahabatnya, Alif hanya menggelengkan kepala, sembari mendekati dua orang wanita yang berada tidak jauh dari pintu utama.
"Siang Mbak, saya Alif asisten pribadi calon istrinya Pak Richard. Saya mau tanya letak kamar saya dan Mbak Intan," tanya Alif dengan gaya gemulai nya.
"Oh iya Mas. Kamar Mas ada di lantai dua nomor tiga. Dan kamar Mbak Intan ada di lantai paling atas. Sini biar saya antar." Seorang wanita langsung beranjak dan pergi bersama Alif, menyusul Intan yang sudah duluan menaiki tangga.
__ADS_1
Wanita itu benar-benar kagum melihat kesempurnaan Intan, artis yang sangat dia idolakan sejak lama. Karena setelah berada di lantai atas, Intan segera melepaskan kaca mata hitam, juga masker yang menutupi wajahnya. Ingin sekali wanita itu meminta foto. Tapi saat melihat raut wajahnya, dia pun seketika ragu.
"Ini kamar Mas. Kalau Mbak Intan di lantai atas." Wanita itu pun menunjuk kamar nomor tiga yang akan ditempati Alif.
"Lif, aku keatas ya. Mau istirahat," ucap Intan tanpa menghentikan langkah kakinya.
Wanita yang mengikuti Intan terus menggelengkan kepala melihat bentuk tubuhnya yang begitu indah. Dia hanya bisa mengagumi idolanya itu dalam diam. Tapi tiba-tiba diapun kaget, saat Intan berbalik dan mengajaknya untuk berbicara.
"Mbak, aku boleh nanya nggak?" tanya Intan sambil tersenyum.
"Bo,, boleh kok Mbak." Wanita itu seketika gugup saking kagetnya.
"Selama ini, Pak Richard pernah nggak menginap di sini sama wanita lain?" tanya Intan, dengan perasaan yang semakin gelisah.
"Pernah Mbak. Malah sering."
'Apa.. Sering?? Berarti benar apa yang dikatakan Radit lewat pesan watsapp kemarin, kalau dia itu laki-laki bajingan.' gumam Intan dalam hati.
Hatinya semakin sakit mendengar jawaban wanita itu. Dia semakin yakin kalau semua sama. Suka mempermainkan, dan menyakiti perasaan wanita. Rasa penyesalan akan cinta yang datang tanpa diduga baru dirasakannya. Dia merasa paling bodoh sebagai seorang wanita. Ingin sekali dia pergi meninggalkan villa itu. Namun dia tak dapat melakukannya, sebelum ada pembicaraan dan kepastian tentang hubungan mereka. Dalam hati dia bertekad akan membatalkan semuanya sebelum terlambat.
"Mbak, saya pergi dulu ya. Nanti kalau perlu sesuatu bisa hubungi saya, melewati telepon yang ada di dalam kamar." Wanita itu pun pergi, setelah mengantarkan Intan ke depan pintu kamar.
Buru-buru Intan masuk ke dalam kamar, melangkah menuju balkon karena ingin memantau keadaan di halaman villa. Saat itu juga matanya pun berkaca-kaca, karena sakit hati melihat kedekatan Richard dengan wanita bernama Chelsea. Wanita itu sedang tersenyum sambil menatap Richard dalam jarak yang sangat dekat. Dan sebelah tangannya menyentuh bagian dada Richard. Apa yang dilihat Intan, semakin meyakinkannya kalau Richard sama saja dengan Radit sepupunya.
__ADS_1