Terjebak Ciuman Pertama.

Terjebak Ciuman Pertama.
25. Rencana Pernikahan.


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan tempat pertemuan, Intan sedang dilema dalam mengambil keputusan. Dia ditawarkan untuk menjadi pemeran utama beberapa film layar lebar, yang akan dibuat di negara luar. Dan tawaran itu malah membuatnya galau karena tidak ingin berpisah jauh dari kekasih hatinya. Cinta yang telah bersemayam di dalam hati, membuatnya ingin selalu ada didekat Richard.


"Bagaimana Mbak Intan? Apa Anda menerima penawaran menjadi pemeran utama di beberapa film kita?" tanya seorang produser film yang begitu terkenal karena telah menciptakan karya-karya luar biasa, dari sinetron sampai film layar lebar.


"Nanti saya pikiran dulu," jawaban Intan yang membuat Alif seketika menatapnya bingung.


Sebagai seorang asisten yang sudah beberapa tahun selalu bersama Intan, Alif tahu betul kalau kesuksesan dalam berkarir adalah tujuan Intan. Tapi kini dia malah menolak kesempatan baik itu tanpa ada alasan yang pasti. Namun Alif juga tidak bisa melakukan apapun, mengingat disekeliling mereka ada begitu banyak orang.


"Baik Mbak, kita tunggu jawabannya besok. Sebab kita harus berangkat untuk segera melakukan proses syuting." Sang produsen memberikan waktu untuk Intan berpikir hanya sampai esok harinya.


"Baik Pak. Makasih atas pengertiannya." Intan segera menjabat tangan satu persatu beberapa Oea di sekitarnya, dan langsung melangkah keluar dari dalam ruangan.


Alif pun mengikutinya menuju parkiran. Mereka berdua segera meninggalkan gedung itu tanpa mau membicarakan apapun. Melihat keberadaan beberapa wartawan, yang sepertinya ingin mencari kesempatan mewawancarai Intan langsung menarik tangan Intan masuk ke dalam mobil, dan segera menjalankan mobilnya.


"Tan, mengapa kamu tidak menerimanya? Bukankah ini kesempatan bagus untukmu?" tanya Alif setelah mobilnya sudah melintasi jalan raya.


"Aku tidak bisa jauh dari Mas Richard. Aku ingin selalu bersamanya," jawab Intan apa adanya.


"Tan, kontrak hanya satu tahun. Kamu bisa meminta Pak Richard untuk mengunjungi kamu di Swiss. Beliau bukan orang susah. Bolak-balik luar negri sudah menjadi kebiasaannya." Alif berusaha merayu Intan, dengan harapan dia bisa berpikir luas. Tapi Intan yang sudah terlena dengan cinta sepihak tetap pada pendiriannya.


"Belum tentu dia mau mengunjungi ku ke luar negri. Disini saja dia sudah bersikap dingin sama aku." Wajah Intan seketika berubah sendu, saat mengatakan hal itu.


"Terus apa yang kamu harapkan dari dia? Kamu masih punya masa depan Tan. Kalian pasti akan bersatu bila memang jodoh." Alif mulai kebingungan melihat Intan yang begitu tergila-gila pada Richard.

__ADS_1


"Lif,, aku nggak nolak tawaran itu. Aku hanya minta waktu untuk berpikir. Nanti malam aku akan bicarakan sama Mas Richard," ucap Intan dan Alif hanya mengangguk dengan raut wajah terlihat pasrah.


Tepat pukul 02.30 siang, Intan baru saja tiba dirumah setelah diantar Alif. Dia melangkah menaiki tangga, sembari melantunkan lagu Katy Perry dengan suara yang begitu mengganggu pendengaran. Namun tidak ada satupun orang berani mengomentari nya. Bi Asmi, orang yang sudah bekerja sejak Intan masih berusia lima hari, hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat anak majikannya itu.


Karena merasa gerah seharian beraktifitas di luar rumah, dia langsung memilih untuk membersihkan badan. Tidak henti-hentinya dia bernyanyi. Sampai-sampai dia tidak mendengar panggilan telepon dari Oma nya Richard. Hampir satu jam di dalam kamar mandi, Intan pun keluar dengan mengenakan handuk untuk menutupi sebagaian tubuhnya. Dan handuk yang lain melingkar di kepalanya.


Perlahan dia duduk di depan meja rias, dan mulai mengoleskan lotion di sekujur tubuh seperti biasa. Tapi tidak berapa lama ponselnya kembali berdering. Melihat nama yang tertera di layar ponsel, buru-buru dia langsung menjawab panggilan yang ternyata dari Richard.


("Halo sayang,, kamu rindu ya sama aku?") tanya Intan tanpa menunggu lama.


("Nanti sore bisa nggak kamu ke rumah? Ada yang mau Oma bicarakan sama kamu,") tanya Richard yang membuat Intan makin bersemangat untuk menggodanya.


("Sudahlah Mas, jangan beralasan. Bilang saja kalau kamu yang mau bertemu denganku.")


"Dasar laki-laki sialaaan.. Dosa apa sampai aku bisa bertemu dengan orang seperti dia?" Intan berkata-kata sendirian, sambil mengenakan pakaian yang diambil dari dalam lemari.


Wanita mana pun pasti geram dan terkadang kecewa menghadapi laki-laki seperti Richard. Dia tidak pernah menunjukkan sikap sebagai seorang pria penyayang, walaupun Intan sudah memperlihatkan rasa sukanya secara terang-terangan. Tapi Intan bukanlah wanita yang mudah untuk menyerah, saat menginginkan sesuatu. Dia akan tetap memperjuangkan cinta pertamanya itu.


Selesai berpakaian, Intan segera beranjak naik ke atas tempat tidur. Dia memutuskan untuk tidur sebentar, karena lelah bekerja, juga menghadapi Richard yang selalu dingin kepadanya. Tapi baru saja dia memejamkan mata, terdengar ketukan pintu tanpa ada suara orang.


"Siapa??" tanya Intan yang sedang berbaring dengan sebelah kaki terangkat memeluk guling.


"Non,, Mas Richard datang." Tiba-tiba muncul Bi Asmi bersama Richard dari balik pintu.

__ADS_1


'Ternyata dia. Aku harus berpura-pura cuek. Memangnya hanya dia yang bisa bersikap dingin?' gumam Richard dalam hati, sambil melirik ke arah Richard.


"Silahkan masuk Mas! Bibi mau kembali ke dapur," ucap Bi Asmi.


"Iya Bi. Makasih ya Bi." Sikap Richard malah lebih ramah pada pembantu dibandingkan pada Intan.


Perlahan pria itu mendekat dan berdiri di samping tempat tidur. Intan hanya terdiam berpura-pura cuek. Dia bersikap seperti apa yang sudah direncanakan, berharap pria dingin itu akan merayunya dan meminta maaf. Tapi yang terjadi tidak sesuai ekspetasi. Karena tidak dipedulikan, Richard pun berbalik kemudian melangkah menuju pintu sembari berujar.


"Mungkin saya sudah mengganggu waktu istirahat kamu. Nanti saja kita bicara kalau punya waktu."


"Kamu nggak ganggu kok." Intan langsung bersuara, sengaja menahan Richard untuk tidak pergi.


"Tapi mengapa kamu hanya diam? Saya sangat tidak suka dicuekin." Richard berbicara tanpa menyadari diri sendiri.


"Kamu pikir aku suka dicuekin? Apa kamu nggak sadar dengan sikapmu terhadapku?" tanya Intan sembari bangkit dari tempat duduk.


"Memang sikap saya sudah seperti itu. Berbeda denganmu yang tidak pernah bisa diam." Richard kembali mendekat ke arah Intan.


"Memangnya apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Intan dengan tatapan serius.


"Oma mau kita menikah. Jadi nanti malam kamu harus ke sana biar kita bicara," jawab Richard tanpa ekspresi.


Betapa terkejutnya Intan mendengar ucapan Richard barusan. Keyakinannya untuk menolak tawaran dari produser beberapa waktu lalu semakin bulat. Dia yang selalu bermimpi menjadi pemain film layar lebar seketika berbalik haluan. Saat itu yang ada di dalam hati juga pikirannya hanyalah Richard. Dia tidak ingin membuang kesempatan langkah itu. Hatinya semakin berbunga-bunga, menghayalkan hidup bersama Richard tanpa adanya jarak seperti saat itu.

__ADS_1


__ADS_2