Terjebak Ciuman Pertama.

Terjebak Ciuman Pertama.
14. Mendapat Pujian.


__ADS_3

"Loh, kok aku dipakaikan jaket sih Mas? Gerah tahu nggak?" Intan malah protes saat dipakaikan jaket oleh Richard.



"Sudah saya bilang. Kalau saya tidak suka menjadi perhatian orang. Coba kamu lihat, semua orang menatap ke arah kita," jawab Richard, dan Intan langsung menatap ke sekeliling.



Saat melihat Chelsea di depan villa, gadis cantik itu mulai berpikir untuk melakukan sesuatu, yang bisa membuat wanita itu yakin kalau Richard hanya miliknya seorang. Tanpa berpikir panjang, dia pun berbalik menatap Richard, kemudian berjinjit dan segera mencium pipinya.



"Terserah kamu saja Mas," ucapnya setelah mencium pria dingin itu, sembari melangkah masuk ke dalam mobil.



Richard yang memang sangat pemalu, seketika salah tingkah dengan apa yang baru saja dilakukan Intan. Namun dia pun tak dapat melakukan apapun. Karena pada kenyataan, Intan adalah calon istrinya, walaupun semua itu masih dianggapnya sebagai sandiwara. Buru-buru dia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk tepat disamping Intan, tanpa mau menatap orang-orang yang masih saja memperhatikannya.



Mobil dilajukan dengan kecepatan tinggi. Intan yang sedikit khawatir akan keselamatan mereka, mulai bersuara mengingatkan Richard yang hanya fokus menatap jalan.



"Mas,, jangan terlalu ngebut dong. Aku takut." Intan berucap dengan nada suara, yang membuat pria dingin itu makin gelisah.



"Mengapa kamu mencium saya di depan banyak orang seperti tadi? Apa kamu tidak malu melakukan itu?" tanya Richard tanpa menatap Intan.



"Kenapa harus malu? Memangnya kamu suami orang? Kamu kan tunangan aku. Jadi terserah aku, mau cium di depan umum atau di tempat sepi nggak ada salahnya." Intan semakin berani menunjukkan sikap.



"Semestinya, jadi wanita itu hanya diam dan menunggu, bukan melakukan," ujar Richard.



"Menunggu apa? Menunggu kamu mabuk, dan mencium ku juga meraba ku?? Itu yang kamu maksud?" Pertanyaan Intan yang seketika menimbulkan kerutan di dahi Richard.



Pria dingin itu langsung terdiam, dan fokus menyertir karena malu mengingat perbuatannya malam itu. Sementara Intan yang merasa gerah, segera melepaskan jaket dari pundaknya, dan mulai menyemprotkan parfum yang selalu dibawa kemanapun. Aroma wangi parfum Intan, serentak memancing perhatian Richard. Apalagi Intan yang tidak bisa diam, malah mengangkat kedua tangannya, untuk mengikat rambutnya yang terurai, sehingga memperlihatkan bagian ketiak, juga sebagian bukit kembarnya dari celah-celah bajunya yang kekurangan bahan.



"Apa yang kamu lakukan?" tanya Richard sembari melirik sesaat ke arah Intan.

__ADS_1



"Kenapa emang? Kamu nggak suka wangi parfum aku? Kamu aja pakai parfum yang malah lebih tajam baunya." Intan pun mendekat, dan menempelkan hidung di dada Richard, menghirup aroma tubuhnya.



"Apa-apaan sih kamu?? Jadi cewek jangan terlalu ganjen. Kamu mau menggoda saya?" Richard mendorong kepala Intan dengan sebelah tangannya. Tapi wanita centil itu malah memeluk tubuhnya erat sambil berkata.



"Ya ampun Mas,, kamu kok wangi banget."



"Intan,, jangan ganggu konsentrasi saya. Saya tuh lagi nyetir." Richard mulai tak bisa berkonsentrasi, karena sebelah tangan Intan tanpa sengaja diletakan di bagian perut, hampir mengenai rudalnya.



"Aku hanya ingin mencium aroma tubuhmu." Gadis cantik itu tetap menempel seperti prangko.



"Jauhkan tangan kamu. Saya nggak suka disentuh seperti itu." Ucapan Richard yang membuat Intan tersadar akan keberadaan sebelah tangannya.



"Ma, maaf Mas. Aku nggak sengaja." Intan kembali pada posisi semula. Gadis itu terlihat malu, karena hampir memegang bagian sensitif Richard.




"Ya Tuhan,, ternyata Mbaknya lebih cantik dilihat secara langsung. Putih, mulus, punya bentuk tubuh yang indah, pokoknya sempurna," ujar pemilik butik memuji sang artis.



"Makasih Bu," balas Intan sambil tersenyum manis.



"Calonnya juga tampan dan sangat terkenal sebagai penguasa muda yang sukses." Wanita itu balik memuji Richard, yang hanya tersenyum tanpa bisa berkata-kata.



"Apa Mbak mau melihat baju?" tanya pemilik butik.



"Iya Bu," jawab Richard sebelum Intan sempat bersuara.

__ADS_1



"Baju buat siapa Mas. Ini kan butik khusus wanita. Apa kamu mau membeli baju buat wanita itu?" Intan kembali berpikir buruk. Tapi dia bertanya dengan cara berbisik.



"Kalau buat dia, nggak mungkin kamu yang saya ajak." Richard menjawab juga dengan berbisik.



"Terus mau beli baju buat siapa?" tanya Intan dengan tatapan mencari tahu.



"Ya buat kamu. Nggak mungkin buat saya." Jawaban Richard seketika membuat gadis cantik itu tersenyum bahagia, dan kembali memeluknya erat, tanpa mempedulikan tatapan orang disekeliling.



"Ya ampun,, mesra banget." Pemilik butik dan beberapa orang lainnya malah kegirangan melihat apa yang terjadi.



Intan membalas senyum. Dia semakin bahagia karena bisa memperlihatkan kemesraan berasama calon suaminya di depan umum. Karena selain sudah terlanjur cinta, dia juga ingin menunjukkan pada beberapa orang, kalau dia dan Richard adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Diantaranya pada Chelsea, Radit, dan beberapa rekan sesama artis.



Satu persatu gaun dicoba oleh Intan. Beberapa gaun tidak disukainya. Dan saat mencoba gaun yang ke empat, dia langsung keluar dan memperlihatkannya pada Richard yang sedang menunggu, duduk pada sebuah bangku di sudut ruangan. Richard yang tadinya mulai bosan karena tidak suka menunggu lama, seketika terhipnotis dengan penampilan Intan.



"Cantik nggak Mas gaun ini?" tanya Intan tapi Richard hanya terdiam, menatapnya tanpa berkedip.



"Mas,, cantik nggak? Kok malah bengong sih?" Intan malah kesal karena tidak dijawab.



"Cantik," jawab Richard singkat, sembari memalingkan muka, berusaha menyembunyikan rasa kagumnya.



"Ya sudah, yang ini saja Mbak," ujar Intan pada pemilik butik.



"Iya Mbak, menurutku ini sangat cocok dipakai Mbak Intan. Dada Mbak Intan kan lumayan besar dan padat, jadi nggak akan melorot bila dipakai tanpa bra." Ucapan pemilik butik yang seketika memancing perhatian Richard.


__ADS_1


Pria dingin itu langsung menatap Intan namun tidak bisa berkata apa-apa. Dia sepertinya bingung mendengar ucapan si pemilik butik. Karena setahu dia, wanita dewasa akan selalu mengenakan bra saat bepergian. Dan saat itu juga, pikirannya mulai dikuasai bayangan akan kejadian dimalam itu. Saat dia menyentuh bagian dada Intan dalam keadaan mabuk. Seketika sekujur tubuhnya menegang, karena memikirkan kedua benda kenyal yang pernah disentuh bahkan diremas nya.


__ADS_2