
Rita benar-benar emosi mendengar perkataan Intan barusan. Dia begitu malu, karena ada beberapa orang yang turut mendengarnya. Sampai-sampai dia tidak fokus saat pemotretan, dan dia langsung dimarahin Tono, pria yang bertanggung jawab dalam kegiatan itu.
"Rita,, sudah berapa kali kamu buat kesalahan?? Patesan selama ini kamu hanya dijadikan figuran. Kamu benar-benar tidak ada kemajuan," pekik Tono yang sudah terlanjur kesal, karena sudah berulang kali wanita itu melakukan kesalahan.
**Emang enak dimarahin? 🤣🤣🤣**
Waktu yang ada Intan gunakan untuk mencari tahu kegiatan sang pujaan hati. Gadis cantik itu sudah tak bisa melewati hari tanpa memikirkan Richard. Serasa tak sempurna hidupnya tanpa ada bayangan pria tanpan itu.
"Mas,, kamu lagi apa sih? Rindu nggak sama aku?" tanya Intan melalui pesan singkat.
"Mas,, kok nggak jawab sih? Balas dong!" Pesan susulan karena tak ada jawaban dari Richard.
"Dasar manusia batu. Sesibuk apa sih dia?? Sampai-sampai nggak bisa ngetik pesan??" gerutu Intan sambil menatap layar ponselnya dengan alis berkerut.
"Tan, Pak Bos itu punya banyak urusan. Kamu harus mengerti itu." Alif berusaha mengingatkan Intan.
"Setidaknya dia bisa balas dong. Kan ngetiknya nggak pakai suara."
"Aku lihat nih ya, makin hari kamu makin bucin sama Pak Bos. Mana Intan yang aku kenal? Yang selalu jual mahal sama setiap pria?" Alif malah mengejeknya.
"Alif, kamu itu bukan wanita. Ya,, walaupun di dalam diri kamu setengah pria, dan setengahnya lagi wanita. Tapi kamu nggak bisa mengerti dengan perasaan ku saat berada di dekatnya. Dia itu benar-benar sempurna di mata aku. Tapi aku kadang kesal sama sikapnya yang cuek." Intan berujar panjang lebar, tanpa menyadari kalau orang di sampingnya sedang menggunakan handset.
"Benar nggak Lif, apa yang aku katakan? Dia sudah kelewatan dingin kan?" tanyanya sembari berbalik menatap Alif, yang sedang menggoyangkan kepala, mengikuti alunan lagi yang didengar.
"Dasar pria jadia-jadian. Di ajak bicara malah dengar lagu," gerutu Intan sembari bersandar pada sandaran kursi mobil.
Selama hampir dua jam Intan beristirahat. Dan kini gilirannya untuk kembali melakukan pemotretan. Beberapa orang di sana seketika sibuk mempersiapkan semuanya. Berbeda dengan beberapa figuran yang sudah selesai melakukan pemotretan. Mereka malah mempersiapkan semuanya sendirian. Dita dan Melisa semakin kesal melihat keistimewaan itu.
Intan berpose di jalanan yang memang sengaja di tutup untuk kegiatan hati itu. Dia melakukan semua dengan sangat sempurna. Para kru yang bertugas terus bertepuk tangan merasa puas dengan hasil pemotretan Intan. Dan pose terakhir, dia menggunakan dress berwarna merah dengan gaya yang luar biasa menggoda.
__ADS_1
Benar-benar Seksi👙👠💋
Tanpa Intan sadari, ternyata Richard sudah berada di lokasi pemotretan. Dari jauh pria dingin itu menatapnya dengan sangat serius. Sampai-sampai dia tidak mempedulikan apa yang sedang dibicarakan Kevin sang asisten.
Wanita manapun akan tergoda 🥰🥰🥰
Pak, Nona Chelsea mengirimkan pesan. Katanya malam ini dia mau mengajak Bapak makan malam bersama Ayahnya," ujar Kevin yang saat itu duduk tepat di samping Richard.
"Pak, apa yang harus saya jawab?" tanya Kevin dengan begitu sabar menghadapi sikap cuek sang atasan.
"Dia benar-benar cantik." Tanpa sadar Richard malah memuji kecantikan Intan sambil terus menatapnya tanpa berkedip.
**Pertanda mulai bucin. Yeee**😍😍😍😍
Mendengar ucapan Richard, Kevin seketika memalingkan muka menatap ke arah Intan, dan langsung tersenyum tanpa suara. Sementara Richard yang tidak menyadari reaksi Kevin, malah tersenyum sambil mengambil gambar Intan menggunakan kamera ponselnya.
"Mbak Intan, terimakasih banyak. Mbak Intan sungguh luar biasa. Dan sepertinya Anda sudah ditunggu seseorang di sana," ucap Tono setelah selesai pemotretan.
"Sayang,, ternyata kamu datang juga. Aku rindu banget loh sama kamu." Intan mulai mengeluarkan rayuan maut.
"Jangan berlebihan. Ini di tempat umum, ada banyak pasang mata yang melihat kita." Lagi-lagi Richard bersikap dingin.
"Nggak masalah sayang, kita aja pernah ciuman di tempat umum. Bahkan ciuman kita jadi berita yang paling heboh," ujar Intan sembari mengusap keringat di bagian dada dan lehernya, yang membuat jantung Richard seketika berdetak tak menentu.
"Ayo kita pergi. Saya belum sempat makan siang." Buru-buru Richard beranjak dari tempat duduknya.
"Ya ampun sayang,, sebegitu inginnya kamu bertemu denganku, sampai lupa makan siang." Intan melingkarkan tangan di lengan Richard, melangkah bersamanya menuju mobil melewati Rita dan Melisa yang sedang berdiri menunggu jemputan di samping jalan.
"Iih,, kecentilan banget sih?? Dia pasti sengaja ingin memamerkan kemesraan dengan Pak Richard di hadapan kita." Rita semakin kesal melihat Intan bersama Richard.
__ADS_1
"Siapapun wanita yang berada di sisi pria sesempurna itu, akan merasa bangga dan sangat beruntung. Aku malah kesal dengan takdir Intan yang selalu mujur. Dia mendapatkan semua yang terbaik. Dari karir, keluarga, bahkan pasangan hidup." Melisa ikut bersuara.
Richard dan Intan kembali ke villa setelah makan siang bersama di sebuah restoran dekat lokasi pemotretan. Baru saja keluar dari dalam mobil, Richard sudah di samperin Chelsea bersama Ayahnya yakni Pak Santo.
"Nak Richard, tadi Oma ada kirim pesan buat Kevin. Soalnya nomor kamu nggak aktif," ujar Pak Santo.
Mendengar itu, Intan yang baru saja kelaur dari dalam mobil langsung gercep mengotak-atik layar ponselnya. Entah apa yang dia lakukan.
"Maaf Om, aku nggak tahu. Kevin juga belum sempat memberitahukan aku," jawab Richard sambil menatap Kevin yang sudah berdiri di belakang Chelsea.
'Belum sempat apaan? Bukannya Anda tidak merespon?' gumam Kevin dalam hati.
"Iya kan Vin?" tanya Richard memastikan.
"I,, iya Pak. Saya belum sempat memberitahukan Anda, karena Anda begitu sibuk dengan calon istri Anda." Sontak Kevin menjawab, yang malah menimbulkan kerutan di dahi sang atasan.
"Begini Nak Richard. Om mau mengakal Nak Richard untuk makan malam bersama sebentar nanti. Bisa nggak?" lanjut Pak Santo.
Belum sempat Richard menjawab, Intan sudah memanggilnya, mengatakan kalau Oma nya sedang menelpon.
"Mas,, Oma nelepon."
"Sebentar ya Pak, saya terima telepon dulu."
("Iya Oma.")
("Richard, kamu langsung pulang sore ini ya! Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Dan tidak bisa di tunda,") seru Oma nya, yang di dengar langsung oleh Chelsea dan Pak Santo, karena Intan sengaja menghidupkan speaker ponsel.
__ADS_1
**Gagal lagi rencana Chelsea 😅😅😅**