
Richard yang belum mengetahui letak rumah Sinta mulai kebingungan karena tidak bisa menghubungi Kevin. Apalagi saat membaca pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Pesan singkat dari Kevin, yang mengatakan kalau dia dan kekasihnya sudah pergi meninggalkan Intan seorang diri, karena tidak ingin mengganggu. Richard mulai mengkhawatirkan keadaan Intan. Dia kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu, saat Intan hampir di lecehkan.
Buru-buru Richard keluar dari dalam mobil, menatap ke sekeliling dengan tampang kebingungan, sambil berusaha menghubungi Intan yang tak kunjung menjawab teleponnya. Dan tiba-tiba terdengar suara wanita itu saat Richard mau mengakhiri panggilan.
("Buat apa kamu menelpon aku?? Apa kamu mau beralasan lagi?? Aku sudah melihatmu dari dalam rumah.")
Serentak Richard mengalihkan pandangan ke arah samping, dan melihat wanita cantik itu sedang menatapnya dari balik kaca rumah.
Dari tatapan Richard, menunjukkan kalau dia mulai resah melihat ekspresi Intan yang sangat tidak bersahabat. Apalagi saat sudah berada di dalam rumah Sinta, dan duduk tepat di sofa yang ada di hadapan Intan. Wanita itu malah fokus menatap jari-jarinya yang mulus karena tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, seperti anak gadis pada umumnya.
__ADS_1
Setelah menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengendalikan diri yang masih dalam pengaruh minuman Richard mulai bersuara. "Intan."
"Hmmm" Intan tetap tidak menatap Richard.
"Aku sudah capek Mas. Capek menghadapi dinginnya sikapmu. Tidak pernah sekalipun kamu memperlakukan aku sebagai pasanganmu. Mending kita akhiri saja hubungan ini. Aku tahu kamu tidak pernah menginginkan diriku," lanjut Intan dengan suara bergetar, sambil menatap Richard dengan mata berkaca-kaca.
"Intan, saya hanya tidak mau terlalu memberikan harapan lebih, pada orang tuamu juga Oma saya. Jujur, saya sendiri tak tahu dengan perasaan saya padamu. Tapi saya siap melakukan apapun demi kebahagiaan Oma. Dan untuk sikap saya, sudah sejak lahir saya punya karakter seperti itu. Dan semua orang sudah mengetahui hubungan kita. Jadi saya tidak perlu melakukan apapun untuk menunjukkan kalau kamu adalah pasangan saya." Dengan penuh keyakinan Richard berucap.
"Ya sudah,, kalau gitu sekarang kita langsung ke rumahmu. Aku ingin bicara pada kedua orang tuamu." Richard segera menarik tangan Intan pergi meninggalkan rumah Sinta.
Hanya dalam beberapa menit mereka sudah tiba di pekarangan rumah Intan. Intan melangkah duluan masuk ke dalam rumah, diikuti Richard dari belakang. Wulan dan suaminya yang sedang bersantai di ruang keluarga menikmati dua cangkir kopi seketika kaget dengan kemunculan Richard. Rahardian yang pada dasarnya adalah sosok yang sangat ramah, segera beranjak dari tempat duduk, menyambut kedatangan calon menantunya.
"Richard,, ayo duduk Nak!" serunya sembari menyambut uluran tangan Richard yang ingin bersalaman. Di susul istrinya yang hanya terdiam tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Om,, Tante,, sebelumnya saya ingin meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Bukannya saya tidak menghargai Om dan Tante sebagai orang tua Intan. Tapi saya hanya tidak ingin, memberikan harapan sebelum membicarakan semuanya dengan Intan. Terutama pada Om dan Tante." Richard mulai mengungkapkan permintaan maaf, dan menjelaskan semuanya.
"Oh,, nggak apa-apa Nak Richard. Kalau Om sih nggak masalah. Karena pernikahan itu di lakukan oleh dua orang. Jadi harus dibicarakan oleh keduanya dulu sebelum mengambil keputusan," ujar Rahardian dengan senyum ramah.
"Tante juga nggak masalah, asalkan dijelaskan seperti ini. Jujur saja, Tante tuh sedikit kecewa saat mendengar penyampaian Ibu Nak Richard. Apalagi dia juga mengatakan, kalau Nak Richard pernah mau di jodohkan dengan seorang wanita bernama Rara. Dan wanita itu akan datang hari ini ke rumah Nak Richard. Bahkan dia akan tinggal di sana selama beberapa tahun." Wulan pun ikut bersuara, yang membuat Richard seketika geram mengetahui permainan licik Ibu tirinya.
"Terus, rencana Nak Richard gimana untuk selanjutnya?" tanya Wulan sedikit tidak sabar.
Intan serentak menatap Richard, saat mendengar pertanyaan Ibunya. Harapan besar pada pria dingin itu, semakin membuatnya merasa khawatir. Dia tidak bisa membayangkan apabila Richard mengambil keputusan, mengikuti apa yang diucapkannya tadi di rumah Sinta.
"Saya ingin melamar Intan untuk menjadi istri saya. Dan kita akan menikah dalam waktu dekat," jawab Richard setelah terdiam sesaat.
Betapa bahagianya Intan dan kedua orang tuanya, mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Richard. Sebagai orang tua, Wulan dan Rahardian sangat bersyukur putri mereka bisa memiliki pendamping hidup sesempurna Richard. Karena mereka tahu, kalau Intan yang keras kepala, hanya bisa dihadapi oleh pria seperti Richard yang begitu tegas, disiplin, juga punya wawasan luas.
__ADS_1