
Pagi yang begitu cerah. Seperti biasanya, Intan masih saja tertidur pules di atas ranjang yang terlihat sangat berantakan. Pancaran mentari yang masuk menembus tirai seketika menyilaukan mata. Bukannya bangun, dia malah menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya. Tapi tidak berapa lama, dia pun terkejut mendengar gedoran di pintu kamar, diringi suara Ibunya yang begitu nyarinya. Dengan tampang kesal dia beranjak turun, sembari melangkah menuju pintu.
"Apa sih Ma?? Apa Mama nggak ada kerjaan lain selain mengganggu ku??" ujarnya setelah membuka pintu.
"Ya ampun Intan,, kamu ini nggak bisa berubah ya? Tidak pernah bangun dipagi hari kalau nggak di bangunin. Dan lihat penampilanmu! Sudah berapa kali Mama bilang, kalau tidur itu pakai pakaian lengkap. Seandainya terjadi apa-apa, bisa-bisa kamu kabur dari kamar dengan hanya memakai bra dan celana pendek seperti ini. Kamu itu sudah dewasa. Kelakuanmu saja yang kayak anak kecil. Mama jadi heran, kok bisa, pria berpendidikan dan berwibawa seperti Richard mencintai wanita seperti kamu." Wulan seketika kesal melihat penampilan putrinya, juga kelakuannya yang seperti bocah.
Ekspresi Intan seketika berubah. Dia melebarkan bibir, tersenyum sambil mengangguk. Sepertinya dia mendapatkan ide saat mendengar ocehan Mamanya.
"Memangnya pria seperti Ricard itu nggak suka melihat wanita seksi ya Ma?" tanya Intan dengan tatapan mencari tahu.
"Semua pria pada umumnya menyukai wanita seksi, tapi bukan wanita ceroboh. Wanita yang punya aura seksi, akan tetap terlihat seksi walau mengenakan pakaian tertutup. Dan kamu termasuk dalam kategori wanita seksi. Tapi kamu sangat ceroboh dalam bersikap. Tidak pernah bisa diam. Dan satu lagi. Kamu itu sangat berantakan. Penampilan saja yang kamu perhatikan. Tuh lihat kamar kamu! Sudah seperti gudang." Wulan tidak henti-hentinya mengoceh.
"Ya sudah,, cepat sana mandi! Kamu mau temui Richard kan?" lanjut Wulan dan segera berlalu pergi.
Intan pun kaget mendengar ucapan Mamanya. Dia hampir saja lupa akan pembicaraan semalam bersama pria dingin itu. Buru-buru dia bergegas mandi, dan langsung bersiap-siap untuk pergi. Dia memilih mengenakan tank top berbalut jas, dipadukan dengan celana jeans. Intan melangkah menuju parkiran, sambil membaca pesan yang dikirim dari nomor yang tidak tersimpan. Dan dari isi pesan, dia sudah mengetahui siapa pengirimnya.
Dalam perjalanan Intan sudah mengenakan masker juga kaca mata berwarna hitam. Sebagai seorang artis terkenal, dia harus menutupi diri di depan umum. Apalagi saat itu dia pergi tanpa pengawalan Alif, pria gemulai yang sudah menjadi asisten pribadi saat dia mulai menjajakan kaki di dunia hiburan. Bahkan Alif asisten sekaligus sahabatnya itu, tidak mengetahui kalau hari itu dia akan menemui tunangannya yakni Richard Michelle.
"Sudah sampai Non," ujar Pak Amin supir yang selalu siap membawa Intan kemanapun.
"Oh iya Pak. Nanti Bapak pulang saja. Aku biar dijemput Alif. Tapi coba Bapak lihat penampilanku! Bisa dikenali masyarakat nggak?" Intan memastikan penampilannya, dengan menanyakan pendapat Pak Amin.
"Sempurna." Pak Amin mengacungkan jempol.
__ADS_1
Intan yang sudah berdiri di samping jalan, seketika kaget melihat gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di hadapannya. Dan saat itu juga datang seorang pria yang langsung menyapanya.
"Maaf Mbak,, apa anda ini Mbak Intan?" tanya pria berpakaian rapi, yang sudah berdiri di hadapan Intan.
"Iya Mas. Tapi jangan sebut namaku. Kalau didengar orang bisa bahaya." Intan serentak panik, karena pria itu menyebutkan namanya sedikit keras.
"Oh Iya Mbak. Perkenalkan saya Kevin, asisten Pak Richard. Sini ikut saya Mbak." Kevin pun melangkah menuju lift, diikuti Intan dari belakang.
Kevin begitu kagum melihat penampilan Intan, walau dia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, karena tertutup masker juga kaca mata hitam. Setelah keluar dari dalam lift, Kevin langsung membawa Intan menuju sebuah ruangan, tapi bukan ruang kerja Richard.
"Mbak, tunggu dulu disini. Soalnya Pak Richard sedang berada di ruang meeting. Sebentar lagi sudah selesai meeting. Saya mau kesana. Karena ada yang harus dikerjakan," ucap Kevin setelah Intan duduk pada sofa dalam ruangan itu.
Saat itu Richard sedang menjelaskan berbagai macam hal tentang kerjasamanya, bersama beberapa klien bisnisnya yang hanya terdiam memperhatikannya. Di antara beberapa klien bisnisnya, ada seseorang wanita bernama Kalina, yang datang untuk mewakili Ayahnya. Wanita itu adalah salah satu orang yang tergila-gila pada Richard. Dan dia pun belum mengetahui tentang pertunangan Richard, karena dia baru saja tiba dari luar negri kemarin sore. Dia bahkan belum sempat melihat pemberitaan tentang Richard.
"Seharusnya aku tidak perlu mengenakan jas ini," ucapnya sembari melepaskan jas yang sedang dia kenakan.
"Tapi bagaimana kalau dia malah bertindak nekat melihatku yang begitu seksi? Karena tidak secara langsung aku sudah mengundang naluri kelaki-lakiannya." Timbul kecemasan di dalam hatinya. Dan dia segera memakai kembali jas untuk menutupi tubuhnya.
Sudah hampir setengah jam dia menunggu, tapi Richard belum juga menampakkan diri. Sesekali dia berdiri menatap ke arah pintu, memastikan keberadaan Richard.
"Dasar laki-laki brengsek. Bisa-bisa nya dia membuat artis cantik terpopuler sepertiku menunggu samapai selama ini. Apa saja yang mereka bicarakan di ruang meeting? Kalau seperti ini, aku bisa terlambat ke tempat latihan." Intan mulai mengeluh, dan kembali duduk.
__ADS_1
"Richard, nanti malam kamu mau ke acara kan?" tanya Kalina setelah meeting berakhir.
"Iya, saya harus kesana. Karena ada seorang model yang akan mempertunjukkan hasil rancangan dari perusahaan saya," jawab Richard.
"Oh iya. Aku juga mau kesana sama Papa aku. Tapi kamu punya waktu nggak siang ini? Aku mau ajak kamu makan siang bersama dengan beberapa teman kita yang lain."
"Maaf ya Lin. Saya nggak bisa. Saya sedang di tunggu seseorang. Nanti lain kali saja," jawab Richard dan Kalina hanya bisa tersenyum, menahan kecewa karena selalu ditolak sejak dulu.
Richard melangkah pergi menuju ruangan khusus, tempat pertemuannya dengan anggota keluarga apabila datang ke kantor. Dan di saat dia hendak meraih pegangan pintu, tiba-tiba muncul Ria sekretari nya.
b"Ada apa??" Richard langsung bertanya sebelum Ria sempat bersuara.
"Pak,, tadi ada dua orang wanita yang ingin bertemu anda. Mereka datang diwaktu yang berbeda. Saya sampai kesal menghadapi mereka, karena mereka terus memaksa, biarpun sudah saya bilang kalau Bapak tidak bisa diganggu. Akhirnya saya tanya, ada hubungan apa mereka sama Bapak? Apa sahabat, pacar, atau penagih hutang?" Ria berujar tanpa berpikir panjang. Dia sepertinya lupa seperti apa sosok yang berdiri di hadapannya.
Bola mata Richard seketika melotot, yang membuat Ria tersadar akan musibah yang sedang dihadapinya. Dengan suara terbata-bata dia pun meminta maaf, sebelum dimarahi oleh pria dingin itu.
"Ma, maaf Pak. Saya, saya bertanya seperti itu, karena terlalu kesal."
"Kalau kamu tidak punya Ibu yang sedang menderita penyakit, dan tidak terlilit hutang, sudah saya pecat kamu saat ini juga. Kamu pikir saya seperti kamu? Yang suka berhutang tanpa memikirkan bayarnya?" ucapan Richard benar-benar membuat Ria malu. Untung saja tidak ada orang disekitar situ.
"Sudah sana kerja! Siapkan beberapa berkas yang saya butuhkan hari ini juga! Kalau tidak, saya tida akan memberimu pinjaman." Richard lagi-lagi mengancam Ria, akan membatalkan pinjaman yang dia ajukan.
"Ba, baik Pak. Saya segera melaksanakan tugas." Buru-buru Ria berlari kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Semua pegawai di kantor itu selalu gugup saat berhadapan dengan Richard. Tapi di balik sikapnya yang dingin dan sangat tegas, dia punya simpati yang jauh lebih besar. Setiap pengajuan pinjaman dari pegawai selalu diterimanya. Itulah yang membuat semua pegawai termasuk Ria dan Kevin, sangat menghargai dan menghormatinya.