
Richard memutuskan untuk meninggalkan acara tanpa berpamitan pada beberapa klien bisnisnya. Dia menarik tangan Intan menuju parkiran mobil tanpa ada pembicaraan. Intan masih saja menangis, menyesali apa yang terjadi. Tapi tiba-tiba dia pun kaget, saat menatap Richard yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Mas,, kamu terluka." Intan berujar sembari mengangkat tangan, ingin menyentuh bagian bibir Richard yang berdarah. Namun pria berperawakan tegas itu seketika menghindar sembari berujar.
"Hanya luka kecil. Ayo cepat masuk!" serunya tanpa menatap Intan.
Setelah masuk dan duduk di balik kemudi, barulah Richard menatap ke arah Intan. Tapi dia menatapnya bukan untuk menanyakan keadaannya. Melainkan menegurnya karena tidak menggunakan tali pengaman.
"Mengapa nggak pakai tali pengaman?" tanya Richard tanpa ekspresi.
"Tangan aku sakit loh Mas. Laki-laki tua bangka itu meremas nya sangat kencang. Ini sakit banget. Hiks,, hiks,, hiks,," ujar Intan sambil terisak. Dia benar-benar nggak sanggup membayangkan kejadian beberapa menit lalu.
Sebesar apapun keangkuhan dan keegoisan seorang pria, dia akan lemah saat melihat air mata seorang wanita. Itulah yang terjadi pada Richard, pria yang begitu sempurna dalam pandangan setiap wanita. Perlahan dia meraih tali pengaman dan memasangnya. Dan di saat dia ingin kembali pada posisi awal, Intan langsung memeluknya erat sembari mengucapkan kata terimakasih dengan bercucuran air mata.
"Makasih Mas,, kamu sudah menyelamatkan aku dari laki-laki keparat itu. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah di,,"
"Sudahlah,, jangan bicara sembarangan. Saya tetap akan datang tepat waktu. Tidak mungkin tidak." Richard sepertinya sengaja menghalangi kata-kata Intan.
'Kalau tadi sampai terjadi apa-apa sama kamu, mereka akan saya habisi dengan tangan saya sendiri,' gumam Richard dalam hati.
Intan semakin tenang dan nyaman berada dalam pelukan Richard. Apalagi mendengar ucapan Richard barusan. Pria dingin itu terlihat sangat berbeda. Walau tak banyak bicara, dia dapat mengatasi semuanya dengan sikap dan tindakan. Dan itulah yang diharapkan semua wanita, saat berada di dalam posisi Intan saat itu. Perlahan Intan melepaskan pelukannya. Wajah mereka saling berhadapan dalam jarak begitu dekat. Seketika Intan pun terdiam menatap bibir Richard tanpa berkata-kata. Richard cukup paham untuk hal itu. Dia menangkup wajah Intan dan mulai memejamkan mata. Tapi suara Sinta tiba-tiba terdengar, yang seketika menggagalkan semuanya.
"Kevin... Tunggu aku..," suara teriakan Sinta yang membuat Richard terkejut, dan segera menghentikan serangannya.
Dia pun menjalankan mobil sembari mengusap bibirnya yang terlihat basah, menggunakan jari telunjuk. Sementara Intan memilih untuk memalingkan muka ke arah samping tanpa berucap satu kata pun.
__ADS_1
Sesampainya di depan villa, Richard langsung buru-buru turun dan membukakan pintu untuk Intan. Alif, Sinta, dan Kevin yang juga baru tiba, segera menghampiri mereka. Keadaan Intan terlihat baik-baik saja. Tapi saat melihat keberadaan Chelsea, dia malah berpura-pura kalau kepalanya terasa pusing.
"Mas,, kepalaku tiba-tiba pusing. Sepertinya aku nggak bisa berjalan sendiri."
Alif yang menyadari kalau Intan hanya beralasan, seketika memalingkan muka dan tersenyum sinis ke arah Chelsea. Wanita itu terlihat kesal melihat Intan begitu dekat dengan Richard.
"Saya harus pergi bersama Kevin. Kamu nanti dibantu sama Alif dan Sinta saja," ujar Richard yang kembali bersikap dingin.
b"Tapi aku maunya digendong Mas. Kepala aku benar-benar pusing." Intan malah merengek.
Karena merasa kasihan sama Intan, Kevin yang tidak tegaan langsung menawarkan diri untuk menggendong gadis cantik itu. "Ya sudah,, biar saya gendong ke dalam," ujar Kevin, hendak mendekati Intan.
"Nggak usah. Biar saya saja," ucap Richard dan langsung menggendong Intan, melangkah menasuki villa.
"Pria yang mana Mas?" tanya balik Intan sambil menatapnya bingung.
"Pria yang membuatmu pergi dari acara, sampai terjadi kejadian tadi."
"Dia salah satu aktor yang sering dipasangkan denganku. Kita nggak punya hubungan spesial," jawab Intan apa adanya.
"Kalau nggak ada hubungan spesial, bagaimana bisa kalian saling mengirim pesan seperti itu?" tanya Richard sembari menurunkan Intan di depan pintu kamar.
"Pesan apa Mas?" Intan jadi kebingungan mendengar ucapan Richard.
__ADS_1
"Saya harus pergi." Richard berlalu pergi, meninggalkan Intan yang sedang menatapnya bingung.
'Pesan apa yang dia maksud?' Intan mulai bertanya-tanya di dalam hati, sambil terus menatap pria bertubuh kekar itu hilang di pandang mata.
Kevin melajukan mobil menuju kantor polisi sesuai permintaan Richard. Sesekali dia melirik ke arah kaca spion, memperhatikan ekspresi sang atasan. Pria dingin itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang membebankan pikiran. Namun Kevin tidak berani untuk bertanya, mengingat Richard yang mudah marah kalau merasa terganggu saat tidak ingin bicara. Kevin adalah salah satu orang yang mengenal baik karakter sang atasan, selama lima tahun menjadi asisten. Dia mendampingi Richard sejak pertama pria itu menjabat sebagai wakil direktur pada usia 22 tahun. Sampai kini usia Richard sudah memasuki 27 tahun.
Sesampainya di kantor polisi, Kevin dibuat kaget dengan tindakan Richard yang langsung menghajar Aldo di hadapan para anggota polisi. Ternyata Aldo dan beberapa pria yang ingin melecehkan Intan sudah ditahan karena dilaporkan Richard, melalui pesan singkat pada seorang anggota polisi, yang ternyata adalah sahabat Richard sejak berada di bangku sekolah menengah pertama. Dia benar-benar marah saat sahabatnya itu mengatakan, kalau Aldo yang sudah merencanakan semuanya.
"Apa maksud kamu melakukan ini?? Dia itu calon istri saya. Kamu juga yang sudah mengirim pesan padanya tadi siang kan?? Dan asal kamu tahu, saya yang sudah membaca pesan itu. Intan tidak pernah membacanya." Richard berkata-kata dengan tatapan yang sangat tajam.
"Tidak Pak,, saya tidak pernah mengirim pesan pada Intan siang tadi. Dan saya benar-benar menyesal telah melakukan ini. Saya di ancam sama Pak Dani. Kalau saya tidak membawa Intan ke ruangan itu, karier saya akan hancur." Aldo langsung bersimpuh di hadapan Richard, dengan wajah yang sudah babak belur.
"Siapa Pak Dani??" tanya Sarif sahabat Richard yang berseragam kepolisian.
"Itu Pak. Beliau yang sudah mengancam saya." Aldo menunjuk pria yang tadi ingin melakukan perbuatan tak senonoh pada Intan.
"Mengapa kamu berani melakukan itu pada calon istri saya?? Jawab..!!!" teriak Richard yang sudah dikuasai emosi.
"Saya, saya benar-benar nggak tahu, kalau dia calon istri Anda Pak." Pak Dani memberi jawaban, yang membuat Richard semakin tak bisa mengendalikan diri.
Dengan penuh amarah, Richard kembali memukuli pria bernama Dani. Dia menghajarnya tanpa ada yang berani menghalanginya. Dan tiba-tiba Intan masuk ke dalam ruangan sambil berteriak kencang, memeluk Richard dari arah belakang.
"Sudah Mas!! Hentikan Mas!! Mereka akan menjalani hukuman sesuai hukum yang ada. Kamu jangan seperti ini Mas!!" ujar Intan semakin mengencangkan pelukannya.
__ADS_1
Semua anggota polisi seketika kaget melihat kehadiran Intan, termasuk Sarif sahabat Richard. Selain kaget melihat artis terkenal itu, mereka juga kaget melihatnya memeluk Richard. Karena ternyata, berita tentang kejadian di hari pertunangan Intan sudah dihapus dari semua media atas perintah Richard. Dan Sarif sendiri belum sempat melihatnya.