Terjebak Ciuman Pertama.

Terjebak Ciuman Pertama.
26. Akhirnya Goyah.


__ADS_3

Sepeninggal Richard, Intan langsung heboh mempersiapkan segalanya. Dia sampai mengeluarkan semua isi lemari untuk memilih pakaian buat nanti malam. Wulan yang baru saja pulang seketika kaget melihat kekacauan di dalam kamar putrinya. Sementara Intan sudah duduk di tepian ranjang dengan raut wajah lesu, menatap Mamanya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya tanpa bersuara.


"Intan,, ada apa ini? Mengapa kamar kamu begitu berantakan?" tanya Wulan sambil mengangkat satu persatu pakaian dari atas tempat tidur putrinya.


"Tolong aku Ma. Aku sangat kelelahan," jawab Intan dengan tatapan memohon.


"Tolong apa?? Apa yang terjadi??" Wulan seketika cemas mendengar permintaan tolong dari putrinya.


"Ma, sebentar nanti aku mau ke rumah Mas Richard. Aku tuh bingung mau pakai baju yang mana? Capek banget aku pilih sejak tadi," jawab Intan dengan wajah terlihat lesu.


"Ya ampun sayang, Mama kira ada apa? Makanya, kamu itu jangan dikit-dikit Bi Asmi. Kapan kamu mandirinya? Tan, nggak selamanya kita berada di atas. Jadi kita harus belajar untuk bisa melakukan apa-apa sendiri." Wulan mulai menasehati putrinya dengan raut wajah yang terlihat sedikit aneh.


"Mama baik-baik saja kan?" tanya Intan yang sedikit cemas melihat ekspresi Mamanya.


"Mama baik-baik saja. Memangnya kenapa?" tanya balik Wulan sambil tersenyum, menangkup wajah putri kesayangannya.


"Nggak apa-apa. Aku hanya merasa aneh saja dengan kata-kata Mama tadi. Karena nggak biasa Mama ngomong seperti itu," jawab Intan sembari memeluk Ibunya.


Selesai membantu Intan menyiapkan segala yang dibutuhkan, Wulan langsung pergi bersama suaminya tanpa sepengetahuan Intan. Mereka menuju sebuah restoran menggunakan mobil berwarna hitam pemberian Intan di hari ulang tahun Papanya setahun lalu. Walaupun usianya masih sangat muda, tapi Intan sudah mampu membeli segala yang diinginkan. Bahkan dia memanjakan kedua orang tuanya, dengan hasil kerja kerasnya. Dibalik sikapnya yang ceroboh, dia adalah anak yang mengutamakan orang tua.


"Silahkan duduk Pak, Bu! Kita akan membicarakan hal penting. Semua yang akan kita bicarakan demi kebaikan bersama," ujar Astrid Ibu tirinya Richard, orang yang ingin ditemui kedua orang tua Intan.


Apa sebenarnya yang ingin mereka bicarakan? Apakah mungkin mereka akan membahas tentang pernikahan Intan dan Richard?

__ADS_1


Hanya Author yang mengetahuinya ☺☺☺


Di lain tempat, Richard yang sudah meninggalkan kantor sedang duduk bersama Kevin di apartemennya. Mereka berdua sedang menikmati beberapa botol minuman, sambil membahas masalah pekerjaan. Pembahasan itu benar-benar membosankan bagi Kevin. Entah itu di kantor atau dimanapun, hanya pekerjaan yang dibicarakan oleh pria dingin itu.


"Pak,, ini kan bukan jam kerja. Bagaimana kalau kita membicarakan hal yang sedikit menarik," ujar Kevin sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Menurut kamu, pembahasan seperti apa yang paling menarik untuk seorang pria?" tanya Richard dengan wajah yang mulai memerah pengaruh minuman.


"Apa lagi kalau bukan wanita?" Kevin pun menjawab tanpa ragu.


"Wanita tidak akan menyukaimu, apabila dirimu tidak memiliki pekerjaan dan pendapatan yang menjamin," ujar Richard sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Mau kemana Pak. Kita kan lagi ngobrol." Kevin segera bertanya sebelum Richard melangkah.


Sore itu cuaca terlihat begitu indah dan damai, bagaikan suasana hati Intan yang sedang diselimuti kebahagiaan. Di depan meja rias dia mempercantik wajahnya sambil bernyanyi seperti biasa. Tidak membutuhkan waktu lama untuk dia berdandan. Setelah merasa puas dengan penampilannya, dia langsung meraih tas dan melangkah keluar dari dalam kamar.


Perlahan dia mengayunkan langkah menuruni tangga, sambil membawakan lagu yang tadi di nyanyikan saat sedang berdandan beberapa menit lalu.


"Non Intan mau kemana? Kok cantik banget?" tanya Bi Asmi memuji Intan.


Pujian yang dilontarkan Bi Asmi semakin membuat gadis cantik itu kepedean. Dia langsung tersenyum lebar, melangkah menghampiri Bi Asmi kemudian berujar.


"Aku memang harus tampil cantik di malam ini Bi. Biar calon suamiku semakin yakin untuk menikah denganku."

__ADS_1


"Tapi ini kan masih sore Non. Bukannya Non di undang untuk acara nanti malam? Sepertinya Non sudah tidak sabar ingin bertemu Den Richard." Ucapan Bi Asmi seketika membuat senyuman di wajah Intan meredup.


"Bibi,, aku tuh lagi bersemangat. Mengapa Bibi malah berkata seperti itu? Apa hanya aku yang selalu ingin dekat dengannya?" Intan mulai mengeluh dengan ucapan Bi Asmi.


"Kelihatannya memang seperti itu Non. Dan menurut Bibi, Non itu harusnya punya prinsip. Non tidak boleh terlalu menunjukkan kalau Non sangat tergila-gila sama Den Richard. Karena pria seperti itu, akan semakin dingin bila terus didekati. Biarlah dia yang datang menjemput Non untuk pergi. Dia kan cowok." Masukan Bi Asmi yang tidak dapat di tanggapi oleh Intan.


"Benar apa yang dikatakan sama Bibi. Kamu jangan terlalu menunjukkan rasa sayang kamu sama calon suamimu. Belum tentu dia punya rasa sayang seperti yang kamu miliki." Terdengar suara Wulan dari arah depan. Ekspresi wanita itu terlihat sangat aneh.


Intan pun kebingungan melihat sikap Mamanya. Dialah orang yang memperlakukan Richard dengan sangat baik, saat datang ke rumah itu. Tapi kini dia malah menujukan sikap yang tak biasa. Terlihat jelas ada raut kekecewaan di wajahnya, saat melontarkan kata-kata barusan.


Perlahan Wulan dan suaminya yakni Rahardian, melangkah menuju sofa di ruang keluarga. Intan juga ikut bergabung, karena ingin mempertanyakan sikap Mamanya.


"Ma,, apa yang terjadi? Nggak biasa Mama seperti ini," tanya Intan setelah duduk di hadapan kedua orang tuanya.


"Mama seperti ini karena Mama baru menyadari apa yang terjadi. Kamu di undang ke rumah calon suamimu untuk membicarakan pernikahan tanpa sepengetahuan Mama dan Papa. Kami ini orang tuamu, yang akan memberikan restu, juga wali saat pernikahan nanti. Apa maksud mereka melakukan semua ini?" ujar Wulan dengan tampang penuh kekecewaan.


"Mama tahu dari mana? Aku kan belum bicara apa-apa." Intan semakin kebingungan mendengar ucapan Ibunya.


"Tadi Mama bertemu sama calon Ibu mertua kamu. Dia yang memberitahukan semuanya pada Mama dan Papa. Sebagai orang tua, kita sangat kecewa dengan keputusan Richard juga Oma nya. Mereka sangat tidak menghargai Papa dan Mama sebagai orang tua kamu," jawab Wulan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kamu nggak usah ke sana! Biar Richard yang datang ke sini kalau dia benar-benar ingin menjadikanmu istri. Kalau dia tidak mau ke sini, batalkan saja pertunangan kalian," lanjut Wulan. Sementara Intan dan Papanya hanya terdiam mendengar ucapan Mamanya.


Intan pun turut kecewa dengan tindakan Richard, setelah mendengar keluhan Mamanya. Pemikirannya mulai terbuka, menyadari sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Dengan wajah terlihat sendu, dia duduk seorang diri di teras rumah, sambil mengetik pesan untuk dikirimkan pada sang calon suami.

__ADS_1


__ADS_2