
Tak ada pilihan lain bagi Richard selain menikahi intan. Sebenarnya Richard sendiri tidak ingin mengganggu fokus pencarian nya pada seseorang dengan hal apapun. Karena itulah dia tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita walaupun hanya sekedar pacaran, apalagi sampai menikah. Namun tuntutan omanya kali ini tak bisa dihindari. Mengingat keadaan wanita sepu itu sedang sakit sakitan. Richard rela melakukan apapun demi omanya, sebagaimana perjuangan oma terhadap dirinya semenjak kepergian sang ibu tercinta.
Richard terlahir dari rahim seorang wanita miskin, wanita yang datang dari jalanan. Michelle terpaksa menikahi wanita itu atas desakan mendiang sang ayah yakni Opa nya Richard. Karena wanita itulah, yang sudah menyelamatkan Nyonya Amara dari sebuah kecelakaan. Tapi setelah beberapa tahun berlalu Michelle malah menikahi Astrid janda beranak dua, dan membuang wanita bernama Manda ibu kandung Richard kembali ke tempat asalnya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Mengetahui hal itu, ayahnya Michelle langsung mengalami serangan jantung dan meninggal dunia. Itulah yang membuat Richard selalu bersikap dingin pada ayahnya sampai saat ini.
"Oma,, Itan tidur sama Oma, ya. Dia mau bermalam di sini," ujar Richard.
"Kita bertiga tidur sama-sama saja, ya. Oma ingin bercerita dengan kalian berdua tentang persiapan pernikahan." Oma malah meminta Richard untuk tidur bersama.
Pria dingin itu sebenarnya ingin menolak. Tapi belum sempat dia bersuara, Intan sudah duluan membuka suara, menerima tawaran Oma dengan begitu antusias.
"Iya Oma. Biar kita bisa bertukar pendapat."
"Ya sudah, kalau gitu kamu bantu Richard cari pakaian ganti, ya. Soalnya dia harus mandi dulu, kalau mau tidur di kamar Oma," seru Nyonya Amara.
"Tapi Mas Richard harum banget Oma. Biar nggak mandi juga tetap harum," ucap Intan memuji sang kekasih hati.
"Intan, walupun nggak harum aroma tubuhnya, kamu akan tetap nyaman. Begitulah kalau sudah di mabuk cinta. Iya kan Chat?" Oma malah menggoda kedua sejoli itu.
Richard hanya tersenyum sembari melangkah maju, menarik tangan Intan dan melangkah menuju tangga naik ke lantai atas. Rara yang masih berada di balik tembok, semakin hancur melihat Richard membawa Intan menuju kamarnya. Dia mulai membayangkan sesuatu yang membuatnya semakin sakit hati. Apalagi melihat Intan yang begitu manja terhadap Richard. Namun dia tidak berputus asa untuk mendapatkan Richard. Dia tetap yakin akan tujuannya yang didukung penuh oleh Astrid Nyonya kedua di rumah itu.
"Mas,, kamu mau pakai pakaian apa? Biar aku siapin." Intan yang sedang sibuk memilih pakaian ganti buat Richard, segera bertanya setelah mendengar suara pintu kamar mandi.
"Yang ini saja." Richard yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Intan, langsung meraih sebuah baju yang masih terlipat rapi di dalam lemari pakaian.
__ADS_1
Intan yang kaget karena terhimpit tubuh Richard seketika berbalik. Mereka saling berhadap-hadapan dengan keadaan Richard yang hanya mengenakan handuk putih untuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Mas, kamu, kamu kenapa di sini?" Intan mulai gugup melihat dada bidang Richard yang sudah seperti roti sobek.
"Memangnya kenapa? Ini kan kamar saya, dan kamu adalah calon istri saya. Bukan hal yang anehh kita berdekatan seperti ini. Apalagi ini bukan kali pertama kita dalam posisi seperti ini, kan? Kamu mengapa gugup?" tanya Richard sambil tersenyum.
Sepertinya dia mulai tertarik dengan sifat wanita cantik itu. Mata mereka saling beradu pandang dalam beberapa saat. Dan di saat Richard ingin mencium Intan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Siapa…" Richard bertanya tapi tak ada yang bersuara.
Perlahan Richard melangkah menuju pintu di ikuti Intan dari belakang. Setelah berada di depan pintu, dia langsung membuka benda kayu tersebut.
"Chat,, Papi bilang, kamu sama wanita ini nggak boleh tidur sekamar," jawab Astrid sambil tersenyum semanis mungkin.
"Bilang sama Papi, jangan pernah ikut campur dengan urusan saya. Wanita ini calon istri saya. Tapi saya tahu diri sebagai seorang pria. Saya bukan pria bajingan yang bisa melakukan apapun sesuka hati. Lagian apapun yang terjadi antara saya dan Intan, bukan urusan Papi atau siapapun." Richard berkata-kata dengan tampang yang semakin datar.
"Iya Chat, tapi di dalam rumah ini kan ada tamu. Apa kata mereka nanti?" Astrid tetap bersikeras.
"Mereka tamu Anda. Bukan tamu saya. Sudah ya, saya mau berpakaian dan ingin beristirahat." Richard kembali menutup pintu, sebelum Astrid dan para sekutunya melangkah pergi.
Intan yang juga hanya tamu di rumah itu sangat tidak enak hati dengan situasi saat itu. Buru-buru dia meraih gagang pintu hendak menariknya. Tapi Richard langsung menahannya sembari bertanya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke kamar Oma. Aku kan, akan tidur di sana," jawab Intan seadanya.
"Tidak. Kita tidur di sini saja. Saya ingin berduaan denganmu." Richard sengaja menaikan nada bicaranya, biar terdengar sampai ke luar kamar. Walaupun tak dapat melihat situasi di luar, dia sangat yakin, kalau beberapa orang wanita tadi masih berada di depan pintu.
"Tapi Mas,, aku kan.." Suara Intan serentak tertahan, karena Richard langsung membungkam mulutnya dengan ciuman penuh gairah.
Ciuman Richard kali ini benar-benar menggila. Sampai-sampai suara hisapan dan ******* nya di dengar oleh Astrid dan para sekutunya. Rara yang sangat tidak tahan segera berlari menuju tangga, disusul Astrid dan kedua putrinya, yakni Rani dan Rina.
"Mas,, kamu mengapa seperti ini? Pasti mereka mengetahui apa yang kita lakukan barusan." Protes Intan setelah Richard menghentikan serangannya.
"Saya memang ingin mereka tahu. Orang seperti Astrid dan Rara, tidak boleh dikasih celah. Apa kamu mau, hubungan kita berantakan karena mereka? Mereka harus tahu, kalau hanya kamu satu-satunya wanita yang saya mau," ucap Richard sembari melangkah menuju lemari.
Dia berpakaian tanpa melepaskan handuk yang melingkar di pinggangnya. Intan yang berdiri di samping tempat tidur makin tersenyum lebar, merasa tersanjung dengan ucapan Richard barusan. Dia benar-benar bahagia, karena baru kali ini pria dingin itu mengatakan sesuatu, yang membuatnya merasa sangat berarti. Dalam diam, Intan mulai membayangi apa yang terjadi nanti. Tidur berdua sambil mendekap satu sama lain, tanpa harus mengkhawatirkan apapun.
"Ayo kita ke kamar Oma!" seru Richard setelah selesai menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya.
"Loh,, bukannya Mas bilang kita berdua tidur di sini?" tanya Intan bingung.
"Saya hanya bersandiwara, biar kedua wanita tadi tahu, kalau saya bukanlah orang yang mudah mengikuti perintah," jawab Richard sembari menarik tangan Intan pergi meninggalkan kamar.
Intan sedikit kecewa mengetahui itu. Tapi itu hanya sebentar saja. Saat menuruni tangga dia kembali tersenyum bahagia, karena akan menghabiskan malam bersama pria yang sangat dia cintai.
__ADS_1