
Richard membuka pintu ruangan, tanpa mengetuk ataupun mengucapkan salam. Kedua bola matanya menangkap keberadaan seorang wanita cantik, yang berpenampilan seperti seorang buronan. Dialah Intan, wanita yang telah membawa masalah besar dalam hidupnya. Dengan tampang datarnya, Richard duduk tepat di hadapannya. Dia sedikit semakin tak sanggup, menghadapi sikap Intan yang terlihat sangat tidak sopan. Wanita itu duduk dengan kedua tangan di buka lebar, juga kaki dinaikan sambil menatapnya tajam.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Intan yang membuat si beruang kutub seketika menarik nafas dan membuangnya kasar.
"Apa kamu tidak pernah diajarkan untuk bersikap sopan?" Richard malah bertanya balik dengan alis berkerut. Menggambarkan kekesalan akan apa yang dilihatnya saat itu.
"Sifatku memang sudah seperti ini. Kalau kamu nggak suka, tinggal umumkan saja, kalau hubungan kita sudah berakhir, karena kamu sudah punya wanita lain, yang lebih cantik dari aku. Ya, walaupun aku yakin, kalau tidak ada wanita secantik dan seseksi aku." Ucapan Intan berhasil membuat Richard membaca pikirannya.
Intan yang belum mengenal seperti apa pria dihadapannya, langsung berseru tanpa berpikir panjang. Dia pun tak menyadari, kalau pria dingin itu bahkan bisa membaca jalan pikiran orang, hanya dengan melihat ekspresi, juga mendengar kata-kata. Dari tatapan Richard, menunjukkan kalau dia sedang memikirkan sesuatu. Dan tidak berapa lama dia mulai mengutarakan tujuannya ingin bertemu wanita ceroboh itu.
"Saya sudah terjebak dalam permainanmu. Mau dan tidak mau, kita harus tetap menjalani hubungan konyol ini. Kalau kamu ingin mengakhiri semuanya, silahkan umumkan saja. Tapi jangan pernah merusak nama baik saya. Lagian semua orang tahu, kalau saya bukan tipe pria yang suka mempermainkan wanita. Dan saya tidak pernah terlibat masalah sebesar ini dengan seorang wanita."
"Apa kamu bilang?? Menjalaninya?? Terus kalau kita diminta untuk menikah bagaimana?? Aku tidak mau memberikan harapan palsu pada kedua orang tuaku, juga Oma kamu." Intan pun panik mendengar ucapan Richard.
"Siapa suruh kamu mau memulainya?? Kalaupun harus menikah, saya tidak keberatan. Tapi kamu harus bersiap-siap untuk menjadi janda. Karena saya tidak akan mungkin menghabiskan waktu saya dengan wanita sepertimu," ujar Richard dengan tatapan tajam.
'Dasar,, laki-laki sialan. Aku yakin dia hanya mau mengambil keuntungan dariku. Dia pasti punya rencana tertentu pada Radit, dengan semua ini.' Intan hanya bisa berkata-kata di dalam hati, sembari melirik sesaat ke arah Richard yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Sekarang kamu boleh pergi! Dan ingat, jangan pernah bertindak ceroboh untuk masalah ini, kalau kamu masih mau hidup tenang." Richard mengutarakan ancaman, sebelum keluar dari ruangan itu.
Baru beberapa langkah dia berjalan menuju lift, tiba-tiba muncul seorang pria gemulai dari arah tangga, bersama Ria yang sedang berusaha menahannya. Terjadilah adu mulut antara Ria dan pria tersebut. Sebagai seorang atasan, Richard tidak hanya bisa tinggal diam melihat keributan di kantornya. Di saat dia mau mendekat, Intan yang baru saja keluar langsung menabraknya dari arah belakng. Dan saat itu juga mereka pun terjatuh, dengan posisi Richard tengkurap, dan Intan berada di atasnya.
"Ya ampun Baby,, sakit nggak??" Pria itu langsung berlari menghampiri Intan, dan membantunya untuk berdiri dari atas tubuh Richard.
"Sakit banget," jawab Intan manja, merengek pada pria yang tidak lain adalah Alif asistennya.
Semua orang di dalam kantor itu benar-benar kaget melihat seorang wanita keluar dari ruangan yang sama dengan Richard sang atasan. Namun mereka sama sekali tidak menyadari, kalau wanita yang mengenakan masker juga kaca mata hitam itu adalah Intan. Artis bertalenta yang jago dalam berakting, bernyanyi, juga bergaya di atas catwalk saat mempertunjukkan busana-busana perancangan desainer ternama.
"Makanya, kamu itu harus hati-hati dong. Dan laki-laki ini siapa??" Alif menatap Richard hendak mengomelinya. Tapi di saat melihat wajah pria tampan itu, sikapnya seketika berubah. Dia malah menyapa dan menundukkan kepala memberi hormat pada Richard.
"Siapa Anda??" tanya Richard kebingungan.
"Perkenalan, saya Alif Pak. Orang yang dihubungi asisten Bapak sebulan lalu, atas perintah Bapak. Dan ini Intan, Artis, penyanyi, juga model yang akan mempertunjukkan gaun hasil rancangan dari perusahaan Bapak nanti malam."
Mendengar nama yang di sebut Alif, para pegawai di kantor itu seketika heboh termasuk Ria asisten Richard. Tanpa menunggu lama, mereka semua langsung merapat, ingin melihat Intan dalam jarak dekat. Dan ada beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel hendak memotret Intan yang berdiri tepat di belakang Richard. Menyadari akan hal itu, Intan segera menyembunyikan wajahnya di punggung Richard.
"Apa yang mau kalian lakukan??" tanya Richard dengan tampang khasnya.
__ADS_1
"Kami mau mengabadikan momen langkah ini Pak. Ini satu keajaiban kita bisa bertemu secara langsung dengan artis sepopuler Mbak Intan." Ria yang duluan bersuara. Wanita itu lagi-lagi memancing emosi atasannya.
"Kembali ke tempat kalian masing-masing! Ini waktunya kerja," seru Richard.
"Tolonglah Pak. Kita hanya ingin berfoto." Ria dan beberapa orang lainnya malah memaksa.
"Saya tidak mengizinkan kalian berfoto sama calon istri saya. Kembali ke tempat kalian sekarang juga!!" Richard sedikit berteriak.
Bukannya menuruti perintah, para pegawai malah mematung menatap Richard dan Intan secara bergantian, seperti monyet yang sedang melihat buah pisang. Apalagi di saat Intan melepas masker juga kaca mata yang sejak tadi menutupi wajahnya.
"Ya Tuhan.. Cantiknya dia.." Ria pun histeris kencang, melihat sang idola di depan mata.
"Ria.. Masih mau kerja nggak kamu..??" teriak Richard penuh kekesalan.
Richard seperti itu bukan karena ingin melindungi Intan dari beberapa pegawai yang sangat mengidolakannya. Tapi dia khawatir Intan akan mengatakan semuanya saat ditanyakan nanti oleh Ria dan yang lain. Karena beberapa pegawainya terutama Ria, selalu ingin tahu apapun tentang wanita yang datang ke sana. Cukuplah mereka mengetahui, kalau artis cantik itu adalah calon istrinya. Calon istri yang hadir bagaikan mimpi buruk.
Para pegawai langsung berlari menuju tempat masing-masing. Mereka sangat ketakutan melihat ekspresi Richard sang atasan. Terutama Ria si biang kerok. Namun rasa penasaran masih saja mengganggu konsentrasi para pegawai. Mereka tak pernah menduga, atasan mereka yang sudah seperti seekor beruang kutub, bisa memiliki wanita sepopuler itu.
"Saya pergi dulu. Sebentar malam kita bertemu di acara. Ada urusan penting yang harus diselesaikan." Buru-buru Richard melangkah menuju lift.
__ADS_1
Dia memutuskan untuk pulang ke rumah, setelah menerima pesan dari seorang asisten rumah tangga, yang mengatakan kalau ada sedikit masalah. Richard sudah bisa memastikan, kalau masalah yang terjadi di rumah, pasti karena ulah Ibu tirinya. Wanita itu memang suka mengganggu ketenangan orang lain.