
"Berapa harganya Bu?" tanya Richard setelah Intan dan pemilik butik menghampirinya.
"Seratus delapan puluh lima juta Pak," jawab si pemilik butik, yang membuat beberapa pengunjung seketika menatap ke arah mereka.
"Saya bayar pakai kartu kredit saja." Richard memberikan salah satu kartu kreditnya pada pemilik butik.
Selesai membayar, mereka pun langsung pergi meninggalkan butik. Richard melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju villa. Dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sedikitpun di antara mereka. Intan yang tadinya selalu menempel pada Richard, sedang fokus berbalas pesan dengan seseorang. Sesekali Richard melirik ke arahnya tanpa bersuara. Namun tidak berapa lama, ntan kembali mengganggu konsentrasinya, dengan berbagai pertanyaan tentang Chelsea juga masa lalunya.
"Mas, kamu dan Chelsea sedekat apa sih?"
"Kita berteman sejak berada di bangku sekolah," jawab Richard tanpa menatapnya.
"Apa kamu pernah naksir padanya?" tanya Intan.
"Nggak pernah," jawab Richard singkat.
"Terus, kamu pernah pacaran nggak Mas?" tanya Intan, yang membuat Richard mulai kesal karena merasa terganggu.
"Memangnya kenapa kalau saya pernah pacaran? Saya ini sudah dewasa, jadi tidak mungkin belum pernah pacaran. Kamu juga pasti pernah kan?" jawab Richard dengan tampang datarnya.
"Kamu kok jawabnya gitu sih Mas? Aku kan cuman nanya." Senyum diwajah Intan seketika pudar melihat ekspresi Richard.
"Saya nggak suka ditanya, ataupun diajak ngobrol saat lagi berkendara. Lagian buat apa kamu mau menanyakan hal itu?" Richard sungguh pria yang sangat membosankan bagi Intan.
Gadis cantik itu seketika terdiam, dan memilih untuk menatap ke samping jalan melalui kaca mobil yang sedikit terbuka. Tapi tidak berapa lama, terdengar suara dering ponselnya. Melihat nama Aldo tertera di layar ponsel, Intan langsung tersenyum karena saat itu juga, dia teringat dengan kata-kata Alif. Kalau pria seperti Richard harus dibuat cemburu.
__ADS_1
("Halo Al,, kok kamu baru hubungi aku? Sejak tadi pagi aku tuh menantikan kabar darimu. Kapan kamu menyusulku?") tanya Intan sembari melirik ke arah Richard yang malah tidak peduli.
("Aku sekarang dalam perjalanan ke situ. Aku diminta sama Pak Rudi untuk menghadiri acara nanti malam. Katanya ada orang dari beberapa pihak Agency yang mau bertemu kita berdua di acara nanti malam. Tapi kamu ke acara nanti sama tunangan kamu?") ujar Aldo, seorang aktor yang sering terlibat kerja sama dengan Intan.
("Iya, tapi kamu tenang saja. Tunangan aku tuh sangat sibuk. Aku dan dia pergi bersama, tapi sampai disana, kita urus urusan masing-masing.") Intan sengaja mengencangkan speaker ponsel biar Richard tahu, kalau dia sedang berbicara dengan seorang pria. Tapi si kutub utara tetap diam seperti patung, melajukan mobil tanpa peduli padanya.
("Oh iya Tan. Aku juga ingin memberikan sesuatu buat kamu. Ya sudah, nanti kita lanjutkan pembicaraan di acara nanti malam,") ucap Aldo dan langsung memutuskan sambungan telepon.
Sesampainya di villa, Intan langsung melangkah pergi tanpa menunggu Richard, yang sudah dihadang oleh Chelsea saat keluar dari dalam mobil. Wanita itu sepertinya sejak tadi menanti kedatangan mereka. Intan benar-benar kesal dengan sikap wanita tidak tahu malu itu. Dia masih saja mencoba mendekati Richard, walaupun sedang bersamanya. Sebagai sesama wanita, Intan dapat membaca niat tertentu Chelsea pada Richard. Namun Intan tak bisa berbuat apa-apa, mengingat Richard yang begitu menghargai Chelsea sebagai seorang sahabat.
"Tan, apa yang terjadi?" tanya Alif yang lagi-lagi berpapasan dengan Intan.
"Aku lagi kesal. Ingin menghajar seseorang," jawab Intan sembari melirik ke arah Richard dan Chelsea, yang masih berbincang di halaman villa.
"Siapa sih yang mau bertemu denganku?" tanya Intan saat mereka hendak memasuki kamar.
"Nanti kamu akan tahu sendiri."
"Intan..," teriak seorang wanita yang sedang duduk di sofa dalam kamar Alif bersama Kevin asisten Richard.
"Sinta.. Kok kamu bisa disini?" Intan benar-benar kaget melihat salah seorang teman baiknya di kampus.
"Aku disini untuk menemani pacarku di acara nanti malam." Sinta pun beranjak dari tempat duduknya, dan langsung memeluk Intan.
"Oh,, ternyata pria yang pernah kamu ceritakan itu Mas Kevin?"
__ADS_1
"Iya Tan. Kita pacaran sudah lama. Tapi kita putus selama beberapa bulan karena Kevin berselingkuh," jawab Sinta sembari melirik kesal ke arah Kevin, yang hanya tersenyum malu-malu.
"Kalau gitu kita sama-sama ke acara nanti malam. Tapi aku mau berbaring sebentar ya," ucap Intan dan Sinta hanya mengangguk sambil tersenyum.
Mendengar ucapan sahabatnya, Intan memilih untuk tidak bertanya banyak. Dia tidak ingin menyinggung tentang luka hati sahabatnya yang sudah membaik. Perlahan dia melangkah menuju tempat tidur Alif, dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sementara Alif sedang mengobrol bersama Sinta dan Kevin. Di saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Sepertinya Pak Richard yang datang. Soalnya dia baru saja menanyakan keberadaanku melalui pesan," ujar Alif yang seketika memancing perhatian Intan.
"Kalau gitu biar aku yang buka pintunya." Alif langsung berdiri untuk membuka pintu.
"Silahkan masuk Pak bos! Di dalam ada Kevin, kekasihnya, juga Intan."
"Halo,," Richard menyapa Sinta karena mereka ternyata pernah bertemu beberapa bulan yang lalu, sebelum hubungan Kevin dan Sinta berakhir.
"Holo Pak." Sinta sedikit salah tingkah, disapa pria tampan dan berpengaruh seperti Richard.
"Ya ampun Pak. Sofa nya sudah nggak muat. Sebaiknya Bapak duduk di tempat tidur saja sama Intan," ucap Alif, sembari menatap Intan yang lagi fokus menonton drama Korea romantis kesukaannya.
Tanpa menjawab apapun, Richard melangkah menuju tempat tidur duduk di samping Intan yang sama sekali tidak memperdulikan nya. Intan benar-benar terbawa suasana dengan keromantisan pasangan di dalam drama yang sedang ditonton nya. Dan tidak berapa lama, dia pun kaget karena Richard menarik ponsel dari tangannya, saat ada adegan ranjang dalam drama tersebut.
"Apa-apaan sih kamu Mas? Lagi seru tahu nggak?" ujar Intan dengan suara rendah, sambil berusaha mengambil ponselnya dari tangan Richard.
"Kamu yang apa-apaan? Di saat ada orang lain, kamu bisa-bisanya menonton drama seperti itu," ujar Richard dan langsung memasukan ponsel Intan ke dalam saku celananya. Tapi Intan tidak hanya tinggal diam.
Dia malah menarik saku celana Richard, dan tanpa sengaja, sebelah tangannya diletakkan tepat di depan celana Richard. Sentuhan tangan Intan serentak membangkitkan hasrat pria tampan itu. Rudalnya dalam sekejap bangkit, dan menonjol dari balik celana. Intan yang kaget langsung mengangkat tangan dan bergeser sedikit menjauh. Sementara Richard segera beranjak pergi tanpa berucap satu kata pun.
__ADS_1