
Pagi masih begitu ranum. Fajar belum juga menampakkan cahaya. Bintang Timur terlihat bercahaya di langit luas. Dengan penuh semangat, Intan yang baru saja terbangun setelah mendengar suara alarm, langsung bergegas menuju kamar mandi. Dia menyikat gigi dan membersihkan muka hanya dalam hitungan menit. Entah apa yang akan dilakukannya di pagi buta sampai begitu bersemangat.
Buru-buru dia menggantikan piyama tidur dengan baju berwarna hitam tanpa lengan sebatas paha, juga sepatu berwarna putih. Dia pergi meninggalkan rumah menggunakan sepeda tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya. Bagaimana mau berpamitan, sementara orang tuanya masih tertidur pules. Jangankan manusia, suara ayam pun belum terdengar.
Dengan penuh semangat dia mengayunkan sepeda menuju rumah mewah kediaman sang pujaan hati. Dalam perjalanan, dia menyambungkan earphone dan melakukan panggilan pada Richard. Berulang kali dia melakukan panggilan, dan pada panggilan ke sepuluh baru di jawab oleh si beruang kutub.
("Halo,, mengapa kamu menelpon sepagi ini? Saya tuh masih ngantuk.") Terdengar suara parau Richard dari balik telepon.
("Mas,, ayo cepat bangun! Ayo dong sayang!") Intan mulai merayu.
("Buat apa? Ini masih jam berapa?? Kamu ini tidur nggak sih?? Bisa nggak kamu nggak mengganggu ketenangan saya dalam sehari??") Richard mulai kesal.
("Aku tidur lah Mas. Tapi tadi aku tiba-tiba terbangun karena memimpikan dirimu. Dan sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah kamu.") Ucapan Intan yang membuat Richard seketika bangkit dari tempat tidur.
("Dengan siapa kamu ke sini?")
("Sendiri lah Mas. Siapa yang mau nemanin di pagi buta seperti ini? Aku tuh mau ajak kamu lari pagi.") Intan menjawab tanpa menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya.
("Kamu gila ya?? Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana??") Richard segera beranjak turun dari tempat tidur berlari memasuki kamar mandi, tanpa menghiraukan Intan yang masih terus berbicara.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Richard mempersiapkan diri. Dia berlari keluar rumah sambil berusaha menghubungi Intan yang sudah mengakhiri sambungan telepon saat dia masih berada di dalam kamar mandi beberapa menit lalu. Intan tidak menjawab panggilan telepon. Dan itu benar-benar membuat Richard jadi panik. Walaupun tak berucap satu kata pun, tapi terlihat jelas dari raut wajahnya, kalau dia begitu mengkhawatirkan keadaan Intan. Apalagi saat dia berada di luar pagar rumah, Intan masih belum terlihat.
Wanita centil itu ternyata sedang bersembunyi di balik dinding pagar rumahnya. Dan Richard baru menyadarinya, saat dia melakukan panggilan telepon dan mendengar nada panggil yang terlambat di matikan oleh Intan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di situ? Kamu pikir saya ini bocah yang suka main petak umpet?" tanya Richard sembari berdiri tegak dengan kedua tangan berada dalam saku celana, menatap Intan yang sedang berjongkok di hadapannya.
"Ternyata kamu bisa juga menemukan aku Mas. Aku cantik nggak berpenampilan seperti ini?" tanya Intan buru-buru melepaskan sepedanya, dan berdiri di tengah jalan memperlihatkan penampilannya.
"Penampilan kamu aneh. Mana ada orang berolahraga berdandan seperti itu? Kamu mau olahraga, apa mau ke kafe?" tanya Richard sembari memalingkan muka.
"Mau ke clubbing. Puas kamu??" Intan yang kesal segera melangkah pergi dengan wajah ditekuk seperti bocah yang tidak di kasih jajan.
"Intan,, ada yang mau saya bicarakan," ujar Richard yang sudah melangkah mengikutinya dari belakang.
"Bicara saja sama tiang lampu. Bila perlu sama aspal yang datarnya sudah seperti wajah kamu." Intan berujar tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau bicara." Bukannya merayu Intan yang sedang merajuk, Richard malah berlari meninggalkannya.
"Mas... Mas... Aaaa... Mas..."
Serentak perhatian semua orang tertuju kearahnya, termasuk Richard yang begitu kaget melihatnya sedang menggesekkan kedua kaki di tengah jalan seperti bocah. Barulah orang-orang yang sedang melakukan olahraga pagi menyadari keberadaan Intan sang artis ternama.
"Mas.. Mas..." Dia terus berteriak, yang membuat Richard terpaksa harus mengalah, kembali menghampirinya sambil menahan malu karena di lihatin oleh semua orang.
"Intan,, apa kamu nggak malu jadi tontonan orang banyak? Ayo berdiri!" seru Richard sembari menarik kedua tangannya untuk berdiri.
__ADS_1
"Ya ampun,, cantik banget dia dilihat secara langsung," ujar seorang Ibu Ibu yang berdiri tidak terlalu jauh dari arah mereka.
"Aku pikir ini mimpi, bisa kebetulan bertemu sama artis idolaku." Sekelompok gadis remaja seketika heboh melihat Intan.
"Ayo kita pergi sekarang! Kamu bikin malu saja." Richard yang begitu malu hanya menatap Intan yang sedang tersenyum menatap orang-orang di sekelilingnya tanpa ada rasa malu.
"Mbak Intan,, bisa nggak kita minta foto?" Satu persatu orang-orang mulai mendekat ingin berfoto dengan sang artis idola. Baik itu anak muda maupun orang tua.
"Boleh kok, boleh. Tapi sebentar saja ya. Soalnya saya harus berolahraga sama calon suami saya," jawab Intan yang membuat Richard tak bisa berbuat apa-apa.
Intan memang dikenal begitu ramah dengan siapa saja. Dia berbeda dari kebanyakan artis yang tidak mudah untuk mau berfoto sama orang-orang saat berada di jalanan umum seperti saat itu. Hampir setengah jam Richard menunggu di samping jalan. Dan selesai berfoto, Intan segera menghampirinya, memeluk lengannya dan melangkah pergi sambil melambaikan tangan pada semua orang yang sedang menatapnya tanpa berhenti memuji dia dan Richard.
Richard memang sangat menyukai olahraga. Dia terus berlari mengelilingi taman dari hari masih remang, sampai munculnya mentari pagi. Sementara Intan yang baru dua kali memutar taman, sudah menyerah duduk pada sebuah bangku taman menatapnya dengan nafas terengah-engah.
Intan benar-benar tak sanggup melakukan olahraga seperti orang-orang di taman itu. Jangankan untuk berlari, berjalan kaki saja dia tak mampu untuk melakukannya. Dia hanya memantau sekeliling taman dengan menggunakan kaca mata berwarna hitam. Tapi tidak berapa lama, dia pun dibuat kesal oleh dua orang wanita, yang tiba-tiba datang dan langsung mengobrol dengan Richard. Kelihatannya mereka begitu akrab. Bahkan ada salah satu di antara kedua wanita itu meraih bagian lengan Richard.
'Siapa mereka? Dan mengapa Mas Richard terlihat begitu tenang? Dia sangat tidak menghargai aku yang ada di sini,' geritu Intan dalam hati, sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Mas.. Ayo kita pergi! Aku sudah lapar," teriak Intan dengan tampang kesalnya.
"Ada apa sama kamu?" tanya Richard setelah berdiri di hadapannya.
"Siapa wanita-wanita tadi? Kelihatannya kalian kok akrab banget ya?" Intan tak dapat menutupi perasaan cemburunya.
__ADS_1
"Mengapa? Kamu cemburu sama mereka? Kedua wanita itu saudara saya. Anak kembar dari Tante saya, keponakan Oma," jawab Richard sambil menatap Intan dengan tatapan serius.