
Acara pun usai tepat pukul 12.30 malam. Intan yang sudah tidak sabar ingin bertemu Richard, langsung meminta Alif untuk pulang duluan. Sementara dia segera bergegas menuju sebuah ruangan tempat Richard berada, bersama beberapa klien bisnisnya. Untung saja dia sempat melihat Richard memasuki ruangan itu beberapa waktu lalu. Jadi dia tidak butuh waktu untuk mencari keberadaannya. Tanpa mengetuk pintu, Intan langsung masuk dan melihat Richard sedang duduk bersama beberapa orang pengusaha meminum anggur, ditemani beberapa wanita rekan sesama artis.
Semua mata seketika tertuju pada Intan, termasuk Richard yang duduk bersebelahan dengan Rita dan Melisa, kedua artis yang sangat tidak menyukai Intan. Wanita cantik itu sedikit kaget melihat keberadaan kedua wanita itu. Namun dia memilih untuk bersikap cuek, karena tujuannya hanya ingin bertemu Richard.
"Pak Richard, calon istri Anda sungguh wanita yang sangat sempurna." Pujian seorang pria yang duduk tepat dihadapan Richard.
"Halo Nona,, apakah Anda ingin bergabung?" tanya pria yang lainnya.
"Ada apa??" tanya Richard dengan ekspresi yang sangat tidak bersahabat.
"Aku mau bicara," jawab Intan tanpa bergeser dari tempatnya berdiri.
"Kamu pulang dulu! Nanti kita ketemu," seru Richard, yang membuat kedua wanita disamping kiri dan kanannya mengembangkan senyum sinis, sambil melirik sesaat ke arah Intan.
"Tan, lebih baik kamu pulang dulu. Ini sudah larut loh. Nanti dicari sama Mama Papa kamu. Calon suami kamu masih punya urusan lain." Rita ikut bersuara, yang membuat Intan seketika kesal.
Berusaha dia menahan emosi dan pergi meninggalkan ruangan itu. Intan benar-benar malu dicuekin Richard di hadapan Rita dan Melisa. Harga dirinya serasa terinjak-injak dengan perlakuan Richard. Dia mempercepat langkah menuju jalan, sembari mengetik pesan yang akan dikirim pada pria dingin itu.
Richard yang sudah sedikit dipengaruhi minuman, hanya terdiam mendengar pembicaraan beberapa klien bisnisnya. Namun tidak berapa lama, dia mulai tak tenang saat membaca pesan yang dikirim Intan.
"Malam ini juga, aku akan mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tuaku, kalau diantara kita berdua tidak ada apa-apa. Dan kamu juga tolong bicara sama Oma kamu, untuk tidak berharap lebih. Aku tidak mau menajdi istri dari pria brengsek seperti dirimu. Di hadapan kedua wanita itu kamu bersikap dingin padaku. Mereka pasti menertawakan aku. Terutama Rita, mantan kekasih Radit."
"Saya minta maaf, karena saya harus pergi sekarang." Richard segera beranjak dari tempat duduknya. Tapi Rita dengan begitu berani langsung meraih tangannya sembari berujar.
__ADS_1
"Tunggu dulu dong Mas. Kita kan, baru sebentar disini."
"Tidak, saya harus pergi menemui calon istri saya. Dia akan marah kalau saya terlalu lama disini," ujar Richard sembari melepaskan tangan Rita dari pergelangan nya, dan segera berlalu pergi.
Buru-buru Richard berlari menuju parkiran mencari keberadaan Intan. Namun wanita yang dia cari sudah berdiri di samping jalan seperti sedang menunggu seseorang. Tanpa menunggu lama dia segera masuk ke dalam mobil, dan menjalankannya keluar dari parkiran.
"Ayo masuk!" seru Richard setelah berada di samping Intan.
"Nggak. Aku mau naik taksi saja. Pergi saja kamu sama wanita-wanita itu!" Intan terlihat sangat kesal. Dia bahkan tidak mau menatap Richard.
"Ayo masuk! Kamu jangan seperti anak kecil." Richard yang sudah keluar, segera menarik tangan Intan masuk ke dalam mobilnya.
Karena tidak ingin dilihat orang dan menjadi bahan gosip, Intan terpaksa masuk dan duduk di samping Richard. Tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulutnya. Dia hanya terdiam, dengan pandangan tertuju ke arah jalan, melewati kaca mobil yang sedikit terbuka. Tapi tidak berapa lama dia pun kaget saat melihat arah jalan yang dilalui Richard.
"Kamu mau membawaku kemana?? Ini bukan jalan menuju ke rumahku."
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah jelas di pesan yang aku kirim tadi." Intan tetap bersikap jutek.
"Kamu jangan mencari masalah. Sudah cukup masalah yang kamu buat. Dan sekarang kamu harus mempertanggungjawabkan semuanya. Bukan malah menghindar."
"Apa maksud kamu?? Bukannya kamu yang menghindar?? Kamu lebih memilih pergi berasama kedua wanita itu. Apa lebihnya mereka dibandingkan denganku??" Sikap Intan malah membingungkan Richard.
"Ada apa sama kamu?? Jangan-jangan kamu cemburu, melihat saya bersama wanita lain," tanggapan Richard seketika membuat Intan jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Jangan sembarangan kamu kalau bicara. Memangnya kamu siapanya aku? Sampai aku harus cemburu?" ucapan Intan yang membuat Richard langsung menginjak rem dengan tiba-tiba.
"Apa-apaan sih kamu?? Kepalaku hampir kejedot tahu nggak??" Intan benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan Richard.
"Aku..." Kata-kata Intan pun terhenti, karena Richard dengan seketika membungkam mulutnya dengan ciuman penuh gairah.
Berusaha Intan mendorongnya untuk menjauh. Namun Richard malah mengangkat kedua tangannya di atas kepala, dan semakin menggila menyerangnya, memaksa bibirnya untuk terbuka. Dan akhirnya Intan pun terhanyut dalam permainannya. Mereka saling beradu bibir di dalam mobil selama beberapa menit. Dan semua terhenti karena suara dering ponsel Richard.
Intan yang begitu malu dengan apa yang baru saja terjadi, serentak memalingkan muka ke arah samping, berusaha menghindari tatapan Richard, yang sedang menjawab panggilan telepon dari Oma nya.
("Halo Oma.")
("Richard,, kamu dimana? Kok belum pulang juga?") tanya Oma nya, yang sepertinya khawatir karena dia belum juga pulang.
("Saya lagi dijalan sama Intan,") jawab Richard sambil menghidupkan mobil dan menjalankannya.
("Ya sudah, kamu cepat antarkan dia pulang. Ini sudah larut, tidak baik kamu membawa anak gadis orang sampai selarut ini.")
("Iya Oma.")
Richard benar-benar pria yang sangat aneh. Tidak ada satupun kata yang dia ucapkan, setelah apa yang baru saja terjadi. Begitupun dengan Intan. Wanita itu sudah seperti patung menatap ke arah jalan, sampai mobil berhenti di depan rumahnya.
"Sampaikan salam saya pada orang tuamu. Saya mau langsung pulang," ujar Richard setelah Intan keluar dari dalam mobil. Dan dia langsung menancap gas pergi meninggalkan Intan yang malah kebingungan melihat sikapnya.
__ADS_1
"Dasar pria aneh. Bisa-bisanya dia pergi begitu saja, setelah melakukan itu padaku. Dan apa yang terjadi padaku? Mengapa aku malah berharap lebih saat dia mencium ku tadi?" Intan berkata-kata sendirian, sambil melangkah menuju pintu rumah.
Perasaan Intan mulai tak menentu dengan apa yang dia rasakan. Di satu sisi dia ingin mengakhiri hubungannya dengan Richard. Tapi di sisi lain, dia malah menginginkan sesuatu yang lebih, dan tidak bisa menghindar saat diperlakukan seperti tadi oleh Richard. Bahkan wajah Richard terus terbayang dalam ingatan, yang membuatnya sulit untuk tertidur.