Terjebak Ciuman Pertama.

Terjebak Ciuman Pertama.
31. Tertangkap Basah.


__ADS_3

Mobil Richard memasuki pekarangan rumah. Sekuriti yang masih berjaga segera berlari hendak membukakan pintu majikannya. Tapi Richard serentak keluar dari dalam mobil sembari berujar.


"Nggak usah repot-repot Pak!" ujarnya sambil melangkah memutar ke pintu mobil sebelahnya.


"Ayo keluar!" serunya setelah membukakan pintu mobil untuk Intan.


"Mas,, mengapa kamu nggak mau dibukakan pintu sama sekuriti? Apa itu artinya, kamu nggak mau ada laki-laki lain yang mendekatiku?" Sikap centil Intan lagi-lagi kambuh.


Dia melingkarkan tangan pada lengan Richard, sembari mencondongkan bibir ke arah pria dingin itu. Richard tidak merespon, entah karena tidak bersalera, atau karena ada keberadaan orang yakni Pak sekuriti.


"Mas,, kok kamu malah diam? Mmmm,," Protes Intan dan kembali mendekat wajah ke arah Richard.


"Apa kamu nggak malu berciuman di hadapan orang? Ayo kita masuk! Saya sudah sangat capek, dan ingin beristirahat." Richard malah menarik tangannya melangkah menuju pintu rumah.


Baru saja mereka memasuki rumah, sudah terdengar obrolan diiringi suara tawa dari arah ruang tengah. Intan menyipitkan mata, menatap Richard penuh tanda tanya.


"Itu Papi saya bersama beberapa tamu." Richard sepertinya mengerti arti dari tatapan Intan.

__ADS_1


"Wanita itu? Dia ada juga? Mereka pasti sangat nggak senang dengan kedatangan ku. Terutama wanita itu juga Ibu kamu." Perlahan Intan menarik tangannya dari lengan Richard.


"Dia bukan Ibu saya. Jadi kamu nggak usah peduli dengan apapun. Kamu disini sebagai calon istri saya, juga calon cucu mantu Oma. Ayo cepat, Oma sudah menunggumu sejak tadi," ujar Richard sembari menggenggam tangan Intan, melangkah masuk semakin ke dalam.


Semua orang yang sedang mengobrol di ruang tengah, seketika menambatkan pandangan pada kedua orang yang baru saja memasuki rumah. Raut wajah Astrid serentak berubah. Dia menatap ke arah Michael seperti ingin memerintah. Namun pria berwajah bule itu malah memalingkan muka sengaja menghindar.


"Richard,, ini kan sudah malam, kok kamu malah mengajak dia ke sini? Apalagi di rumah kita sedang ada tamu penting." Wanita iblish itu akhirnya bersuara, karena tak enak hati dengan Rara juga kedua orang tuanya yang sudah terlanjur berharap lebih.


Intan menundukkan kepala, sepertinya malu menanggapi sikap dingin orang rumah itu. Tapi tidak berapa lama, dia pun terkejut mendengar ucapan wanita di samping Astrid, yakni Rara.


"Kalau aku sih, selalu diingatkan sama kedua orang tuaku, untuk tidak ke rumah laki-laki yang belum punya ikatan resmi dengan kita."



"Aku mau pulang," ucap Intan setelah mereka sudah berada jauh.


"Memangnya kenapa? Kita baru saja sampai, dan saya tuh capek. Tadi kan saya sudah melarang kamu untuk ikut. Tapi kamu tetap bersikeras." Richard melepaskan tangan Intan dan memalingkan pandangan.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Nanti aku minta supir untuk menjemputku. Aku memang datang di waktu yang salah." Intan berbalik hendak melangkah pergi. Tapi Richard kembali menarik tangannya dengan tiba-tiba, sampai tubuh mereka saling menepel tanpa ada sedikitpun celah.


Intan terdiam dengan tatapan kaget. Wajah pria tampan itu berada tepat di depan matanya dalam jarak yang begitu dekat. Hembusan nafasnya yang sedikit beraroma alkohol menyeruak di hidungnya. Entah mengapa, tapi wanita cantik itu selalu gugup saat berada dalam situasi seperti itu. Sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang begitu centil.


"Mas,, lepaskan aku. Kalau di lihat kedua orang tuamu bagaimana?" Intan berujar sambil berusaha mendorong dada bidang Richard.


"Mengapa kamu malah ingin pergi? Jangan coba-coba permainkan saya!" ujar Richard sambil melangkah maju, membawa Intan ke arah dinding.


"Mas, kamu mau apa? Nanti ada yang lihat Mas." Intan berusaha melepaskan diri, tapi Richard malah menghimpit tubuhnya ke dinding, dan langsung mendaratkan ciuman di bibirnya.


Richard begitu lihai dalam permainan bibir. Dia menjulurkan lidah, memaksa mulut Intan untuk terbuka. Dan Intan pun tak dapat menolak itu. Karena dia memang sangat merindukan saat-saat seperti itu. Mereka saling beradu bibir dalam gairah yang mulai menguasai diri. Dari jarak beberapa meter, ada sepasang mata yang menyaksikan semuanya. Dan sepertinya Richard menyadarinya. Itulah sehingga dia langsung mencium Intan tanpa peduli dimana mereka berada. Richard terus melahap dan menyesap bibir Intan, sembari meremas kedua bukit kembarnya secara bergantian. Dan tidak berapa lama, terdengar suara seseorang yang membuat Intan serentak memalingkan muka.


"Richard... Apa yang kamu lakukan..?" Nyonya Amara melangkah mendekat, dengan ekspresi yang tak dapat di tebak. Saat itu Intan hanya tertunduk malu, seperti maling tertangkap basah. Sementara Richard malah bersikap begitu santai.


"Oma belum tidur?" tanya Richard sembari memberikan melirik sesaat ke arah pojok tempat berdirinya seseorang. Dan Nyonya Amara pun dapat mengerti hal itu.


"Ya ampun sayang,, kamu ini benar-benar anak yang nakal. Kalau sudah seperti ini, kamu harus cepat-cepat menikahi tunangan kamu ini. Oma tidak mau terjadi sesuatu yang bisa menjadi masalah besar. Karena Oma lihat, kamu sepertinya sudah ingin memiliki pendamping hidup." Nyonya Amara sengaja menaikan volume suaranya.

__ADS_1


"Iya Oma. Jadi kapan kita akan mempersiapkan semuanya. Saya sudah melamar Intan di hadapan kedua orang tuanya tadi. Jadi tinggal persiapan saja yang harus dilakukan." Richard berujar sambil merangkul pundak Intan, yang mulai tersenyum malu-malu.


Betapa hancurnya Rara mendengar obrolan antara Richard dan Omanya. Apalagi melihat adegan panas yang baru saja terjadi. Ternyata wanita itu sama sekali belum mengetahui pertunangan antara Richard dan Intan. Karena Astrid tidak pernah menyinggung tentang hal itu.


__ADS_2