Terjebak Ciuman Pertama.

Terjebak Ciuman Pertama.
12. Terbakar Api Cemburu.


__ADS_3

Tak ada satupun yang kurang dari seorang Richard. Wajah tampan, juga tubuh suspeknya, selalu menyihir para kaum wanita. Tak mungkin ada wanita mampu bertahan saat di tatapannya. Sorot matanya sudah seperti seekor Elang yang siap menerkam mangsa. Namun dia bukanlah pria bajingan seperti kebanyakan pria tampan diluar sana. Salah satunya David sepupunya sendiri. Dia bahkan tak suka berurusan dengan seorang wanita. Hanya Chelsea satu-satunya wanita yang dekat dengannya semenjak masih berada di bangku sekolah.


"Richard, nanti malam kamu ke acara dengan siapa?" tanya Chelsea di saat Richard hendak memasuki Villa.


"Saya pergi ditemani calon istri saya," jawaban Richard sontak mengagetkan Chelsea.


"Calon istri?? Kapan kamu bertunangan??" tanya Chelsea dengan alis berkerut.


"Belum lama. Ya sudah, saya duluan ya." Richard pun berlalu pergi meninggalkan Chelsea yang sedang kebingungan.


Buru-buru dia menghampiri seorang pria yang kira-kira berusia 55 tahun, dan langsung menanyakan tentang Richard.


"Ayah, sejak kapan Richard bertunangan?"


"Belum lama kok. Memangnya kenapa sayang? Apa kamu masih suka sama dia?" tanya pria yang bernama Pak Santo. Beliau adalah Ayahnya Chelsea, juga klien bisnis Richard.


"Aku bisa apa walaupun masih suka padanya? Lagian sejak dulu, dia selalu bersikap dingin dan menghindari ku." Chelsea terlihat lesu tak bertenaga, mengetahui pria yang sejak dulu dia idam-idamkan kini telah menjadi milik orang lain.


"Sayang, selama belum ada pernikahan, kamu masih punya kesempatan untuk memilikinya. Dan Ayah pun menginginkan dia menjadi pendamping hidupmu. Karena dengan begitu, perusahaan kita akan semakin maju." Pak Santo malah mendukung putrinya untuk memiliki Richard, yang nyatanya sudah memiliki calon istri.


Senyum pun terpancar di wajah Chelsea mendengar ucapan Ayahnya. Dia yakin akan memiliki Richard dengan bantuan Ayahnya. Karena di antara semua pengusaha, hanya Ayahnya yang paling dekat dengan Richard.


"Tolong antarkan makan siang untuk dua orang ke kamar saya," seru Richard setelah berpapasan dengan seorang pelayan.


"Baik Pak."


Richard menaiki tangga menuju kamarnya, sambil menghubungi Kevin. Dia ingin tahu kemana asistennya itu pergi. Karena sejak tiba di villa, Kevin langsung pergi dan belum juga kembali sampai saat itu.

__ADS_1


("Kamu dimana? Sampai kapan mau menggoda wanita diluar sana?") tanya Richard setelah Kevin menjawab telpon.


("Ya, sampai dia tergoda lah Pak. Sebentar kan kita mau ke acara. Aku juga butuh pasangan untuk kesana Pak. Walaupun nggak secantik dan sepopuler pasangan Bapak,") jawab Kevin dengan begitu santai.


("Jangan lama! Sore kita sudah harus pergi,") seru Richard yang baru memasuki kamarnya.


("Iya Pak. Sebentar lagi aku kembali dengan seorang wanita,") jawab Kevin, dan Richard yang tidak suka berbasa-basi segera memutuskan sambungan telepon.


Tanpa menunggu lama, Richard langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan tidak berapa lama, datang pelayan membawakan makan siang ke dalam kamar. Setelah menyajikannya di atas meja yang ada di sudut kamar, pelayan itu segera keluar dan kembali ke lantai bawah.


Siang itu cuaca begitu panas bagaikan suasana hati Intan. Di depan cermin dia berdiri menatap bayangannya, sambil menyesali diri sendiri. Dia merasa sangatlah bodoh karena begitu muda mencintai pria yang baru saja dikenalnya. Padahal dia sendiri tahu, kalau hubungan mereka hanyalah sandiwara semata.


"Mengapa aku jadi sebodoh ini? Begitu banyak pria yang kecewa karena ku tolak. Bahkan ada yang bermohon untuk kucintai. Apakah ini karma? Kini aku malah tersiksa dengan perasaanku sendiri." Intan berkata-kata sambil menopang wajah dengan kedua tangannya.


Dia semakin tenggelam dalam lamunan, akan cinta sepihak yang harus dihadapinya. Tapi tidak berapa lama, dia pun dikagetkan dengan suara dering ponsel yang ada di atas pangkuannya.


("Ke kamar saya sekarang!") seru Richard dan langsung memutuskan sambungan telepon, tanpa menunggu jawaban Intan.


"Enak saja dia main perintah. Aku nggak akan pergi." Intan semakin dibuat kesal.


Dia malah beranjak dari tempat duduknya hendak beranjak naik ke atas tempat tidur. Namun bayangan wanita tadi tiba-tiba terlintas dalam ingatan, yang membuatnya segera pergi meninggalkan kamar.


'Aku harus mencari tahu dengan siapa dia di sana, biar aku bisa mengambil keputusan.' Intan berkata-kata di dalam hati sambil melangkah menuju kamar Richard.


Dia makin terbakar api cemburu karena sudah dikuasai pemikiran buruk terhadap Richard. Tanpa bersuara dia menggedor pintu berulang-ulang. Dan tiba-tiba muncul Richard dari balik pintu dengan penampilan, yang membuat jantung intan bedebar tak menentu.


__ADS_1


"Dasar laki-laki bajingan. Aku nggak menyangka, seorang pria terhormat sepertimu, bisa berduaan dengan wanita lain di dalam kamar, saat ada aku calon istrimu. Apa kamu nggak memikirkan tanggapan orang kalau mengetahui ini??" ujar Intan yang sudah tak bisa mengendalikan diri.


"Apa maksud kamu?? Kalau bicara jangan sembarangan!" Richard malah kaget mendengar ucapan Intan barusan.


"Dengan siapa kamu di dalam kamar? Dan mengapa penampilanmu seperti ini?? Apa yang kalian lakukan??" tanya Intan dengan tatapan penuh amarah.


"Lihat saja sendiri!" seru Richard sembari menarik tangan Intan masuk ke dalam kamarnya.


"Pasti dia sudah bersembunyi di kamar mandi." Intan masih saja curiga, walaupun tidak melihat orang lain selain Richard.


Gadis itu melangkah menuju kamar mandi. Dia langsung membuka pintu kamar mandi dan mengecek keadaan di dalamnya. Karena tidak menemukan siapapun, dia kembali keluar menemui Richard tanpa bersuara.


"Ada apa sama kamu? Mengapa kamu malah menuduh saya yang bukan-bukan?" tanya Richard sambil melepaskan kemejanya, dan mengenakan pakaian yang diambilnya dari dalam lemari.


Seketika wajah Intan berubah merah saking malunya. Buru-buru dia berbalik dan duduk pada bangku menghadapi meja makan, yang sudah terdapat beberapa menu makanan untuk makan siang mereka. Untung saja Richard sangat tidak peka dengan perasaan wanita. Dia malah duduk di hadapan Intan, dan mengajaknya untuk makan bersama.


"Ayo makan!" ujarnya tanpa menatap Intan.


"Aku nggak berselera makan. Makan saja sendiri! Atau kalau mau ditemanin, panggil saja wanita yang bersamamu tadi!" jawab Intan dengan tampang yang sangat datar seperti tembok di belakangnya.



"Mengapa kamu malah membawa-bawa Chelsea? Tahu apa kamu tentang dia? Dia itu satu-satunya wanita yang dekat dengan saya sejak dulu. Dan kamu tidak pantas membicarakannya seperti itu." Richard berkata-kata sambil menatap Intan dengan wajah tidak kalah datar.



Tanpa menunggu lama, Intan langsung berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Richard. Hatinya semakin sakit mendengar apa yang baru saja dikatakan Richard tentang wanita itu. Sementara pria dingin itu makin kebingungan menghadapinya yang tiba-tiba berubah aneh. Intan melangkahkan kaki menuju lantai bawah, dan terus berlalu keluar dari villa tanpa sepengetahuan Richard maupun Alif asistennya.

__ADS_1


__ADS_2