
Richard yang sedang berada dalam perjalanan pulang, tiba-tiba dikejutkan dengan isi pesan masuk yang dikirimkan Intan. Dia pun sedikit bingung dengan wanita cantik itu, yang seketika mengambil keputusan sepihak untuk mengakhiri hubungan mereka. Dan itu diberitahukan hanya melalui sebuah pesan singkat. Tanpa berpikir panjang dia langsung menelpon Intan.
("Kamu dimana?") tanya Richard setelah teleponnya tersambung.
("Dirumah..") jawab Intan dengan nada ketus.
("Kita perlu bicara. Tapi aku nggak bisa kerumahmu.")
("Kenapa kamu nggak bisa kesini? Apa kamu takut ada orang yang melihat kedatanganmu?") tanya Intan sembari melangkah pergi meninggalkan teras rumah, karena takut kedua orang tuanya mendengar pembicaraannya bersama Richard.
("Intan,, apa yang kamu bicarakan? Perasaan, kita nggak ada masalah.") Richard semakin kebingungan menghadapi Intan, yang tiba-tiba marah tanpa sebab.
__ADS_1
("Bagi kamu memang nggak ada masalah. Karena kamu tidak pernah memikirkan aku. Dan aku sudah seperti wanita bodoh, yang setiap saat memikirkan dirimu. Aku malu dipandang sebagai wanita pengemis cinta. Kalau kamu tidak bisa memperlakukan aku layaknya tunangan kamu, kita akhiri saja hubungan ini,") ujar Intan panjang lebar.
("Aku terlalu bodoh sampai bisa terhanyut oleh cinta sepihak. Aku tahu kamu tidak mencintaiku, karena hubungan kita hanyalah sebuah sandiwara. Tapi setidaknya kamu bisa menghargai kedua orang tuaku, dalam sandiwara yang sedang kita jalani," lanjut Intan dengan suara bergetar, dan langsung memutuskan sambungan telepon.
Menyadari kalau sambungan telpon telah terputus, Richard langsung melempar ponselnya ke bangku bagian samping saking kesalnya. Dia mulai pusing memikirkan tuntutan Oma nya, juga sikap Intan yang masih sangat kekanak-kanakan. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melintasi jalanan di bawah langit senja.
Tanpa diketahui Richard, ternyata di rumah ada tiga orang keluarga Astrid yang baru saja tiba dari luar kota. Mereka adalah Pak Sigit seorang Kontraktor, Hilda istri Sigit seorang Dokter gigi, dan satu lagi bernama Rara puteri semata wayang sepasang suami-istri itu. Astrid menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Dia bahkan tidak merasa sungkan, walaupun tidak memberitahukan kedatangan keluarganya pada Amara, Ibu mertuanya yakni Nyonya di rumah itu. Tapi Amara juga tidak mempertahankan kedatangan mereka. Wanita paru baya itu memang selalu bersikap rama pada siapapun tanpa memandang bulu. Hanya Astrid saja yang sedikit tidak tahu diri sebagai menantu.
"Selamat sore Den.." Pak Mamat buru-buru membukakan pagar, sambil menyapa Richard yang baru memasuki pekarangan rumahnya. Pria dingin itu hanya mengangguk tanpa menjawab sapaan pria berseragam sekuriti itu. Dia langsung melangkah memasuki rumah, setelah keluar dari dalam mobil. Keadaan Richard saat itu benar-benar kacau. Baik dari penampilan, ekspresi wajah, pikiran bahkan perasaannya.
"Chat,, kamu baru pulang? Sini duduk dulu sebentar! Papi mau memperkenalkan tamu Papi sama kamu." Michael segera meminta Richard untuk bergabung. Dan Richard pun menurutinya.
__ADS_1
Walaupun hubungan dia dan Michael tidak begitu baik layaknya hubungan anak dan Ayahnya, tapi Richard selalu berusaha menghargainya di depan para tamu seperti saat itu. Dia berusaha mengendalikan diri, karena sudah dipengaruhi minuman yang di konsumsinya bersama Evan. Richard memilih untuk duduk di sofa terpisah tanpa bersuara juga tanpa ekspresi.
"Chat,, ini Om Sigit, kalau ini Tante Hilda istri Om Sigit, Dan yang cantik ini namanya Rara, dia putri semata wayang mereka. Mulai hari ini, Rara akan tinggal di rumah ini bersama kita. Dia mau melanjutkan kuliahnya di sini." Michael segera memperkenalkan ketiga tamunya.
"Halo Om, Tante, Rara, saya Richard," ujar Richard memperkenalkan diri, sambil tersenyum sesaat.
"Tante,, ternyata benar apa yang dikatakan Tante, kalau Mas Richard adalah laki-laki yang sangat tampan dan gagah." Tanpa malu wanita bernama Rara langsung memuji Richard, sambil tersenyum nmenatap Ibu tiri Richard yang dipanggil dengan sebutan tante.
"Ya iyalah. Tante tuh kalau bicara sesuatu pasti benar," jawab Astrid yang membuat Richard semakin tidak betah berada di antara mereka.
Selain tidak ingin dipuji, Richard juga tidak suka berurusan dengan Ibu tirinya. Sampai saat itu, dia masih belum bisa melupakan penderitaan Ibu kandungnya karena wanita iblish itu. Dan itulah penyebab, dia tak pernah bersikap manis pada Astrid juga kedua putrinya yakni Rina dan Rani. Walaupun sudah dua puluh tahun berlalu, Richard tidak pernah lupa, kalau Astrid lah orang yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya.
__ADS_1
"Pi,, saya mau temui Oma dulu," ujar Richard sembari beranjak dari tempat duduk, dan melangkah pergi tanpa mempedulikan beberapa orang yang lain.
Rara yang begitu kagum dengan sosok Richard, sampai tak berkedip menatapnya sejak tadi. Dia terus memperhatikan pria dingin itu, tanpa ada rasa malu, pada beberapa orang disekelilingnya. Dan Astrid yang menyadari akan hal itu, malah memancarkan senyum licik.