Terjebak Ciuman Pertama.

Terjebak Ciuman Pertama.
16. Terluka Karena Cinta.


__ADS_3

"Tan, ada apa sama Pak Richard? Apa ada masalah?" tanya Alif yang seketika kaget melihat Richard tiba-tiba pergi tanpa berucap satu kata pun.


"Aku juga nggak tahu. Dia pergi tanpa bicara," jawab Intan sembari menundukkan kepala, mantap layar ponselnya.


Berpura-pura dia membersihkan kukunya yang hampir tak pernah terdapat kotoran, sambil memikirkan kejadian barusan. Intan benar-benar tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Richard. Dalam diam dia pun mulai bertanya-tanya.


'Apa yang terjadi sama Mas Richard? Kalau dia tidak menginginkan wanita sepertiku, mengapa juga dia harus terpancing. Hmmm,, aku yakin dia pasti sudah mulai tergoda dengan kecantikan juga keseksian ku. Aku harus membuatnya bertekuk lutut.' 


Gadis cantik itu semakin bersemangat untuk mendekati si beruang kutub. Logikanya mulai bekerja melihat keanehan Richard, saat kejadian yang tak terduga barusan. Perlahan dia pun beranjak dari tempat tidur Alif, melangkah pergi setelah merapikan rambut juga pakainya.


"Tan,, kamu mau kemana?" tanya Sinta.


"Aku mau ke kamar aku dulu. Tunggu sebentar ya," jawab Intan dan langsung berlalu pergi.


Saat itu juga Kevin berpamitan pergi ke kamarnya karena ingin mengambil sesuatu. Sinta pun segera mendekati Alif, menanyakan ponsel yang tadi digunakan untuk menghubungi seseorang.


"Lif, ponsel yang tadi aku pakai mana? Pinjam dong." Wanita itu menjulurkan tangan ke arah Alif.


"Sudah di ambil sama Intan. Soalnya itu ponsel milik dia," jawab Alif yang membuat Sinta terdiam dengan tampang yang terlihat aneh.


"Kamu kenapa? Apa ada sesuatu di ponsel itu?" tanya Alif penasaran.


"Tadi aku berbalas pesan sama pacar aku yang satunya. Dan belum sempat di hapus. Takutnya di ketahui Kevin," jawab Sinta dengan begitu santai, yang membuat Alif jadi kebingungan. Namun dia memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan orang.


"Oh,, tenang saja. Intan bisa jaga rahasia, walaupun sifatnya terkadang seperti bocah," ujar Alif.

__ADS_1


Richard yang sudah berada di dalam sedang duduk pada sofa di sudut kamar, sambil menopang kepala dengan kedua tangan. Dia tak menyangka bisa bereaksi secepat itu. Dan di saat dia hendak membaringkan tubuh, tiba-tiba terdengar hunyi bunyi, diiringi getaran dari dalam saku celananya. Barulah dia tersadar, kalau ponsel Intan masih ada padanya. Perlahan dia mengeluarkan ponsel, dan melihat pesan masuk tanpa mau membukanya. Namun sepenggal kata yang terlihat, membuatnya jadi penasaran.


"Sayang, kita bisa bertemu nanti malam kan? Aku rindu banget sama kamu. Aku jauh-jauh datang ke sini hanya karena ingin bertemu kamu." Isi pesan yang baru saja masuk di ponsel Intan, dari nomor yang tidak tersimpan.


"Nanti kamu cari alasan, biar bisa pergi tanpa dicurigai pria itu. Karena kalau sampai dia tidak membiarkanmu pergi, aku akan menghajarnya." Pesan susulan kembali masuk, mungkin karena tidak ada balasan.


'Dasar wanita munafik.. Apa mungkin karena pria ini dia menolak pertunangannya dengan Radit? Saya sudah dijadikan kambing hitam. Mau bermain-main kamu ternyata. Nanti kita lihat saja, siapa yang lebih cerdas,' gumam Richard di dalam hati dengan tatapan tajam ke arah pintu yang sedang diketok seseorang.


"Siapa??" tanyanya tanpa beranjak dari tempat duduknya.


"Aku Mas.." Terdengar suara Intan.


Tanpa menunggu lama, Richard langsung menghapus pesan yang baru saja dibaca. Setelah itu dia beranjak pergi menuju pintu dan membukanya.


"Ada apa?" tanya Richard.


"Ya sudah. Nih ambil," ucap Richard sembari menyerahkan ponsel di tangannya.


Gadis cantik itu segera melangkah pergi, dengan harapan Richard akan menahannya. Tapi tiba-tiba dia pun kesal saat mendengar suara pintu yang sudah ditutup oleh Richard.


'Dasar pria aneh.. Apa sebenarnya yang dia mau?? Di sentuh sedikit menegang. Tapi saat didatangi, dinginnya minta ampun.' ujar Nadira dalam hati, sambil menghentakkan kedua kakinya seperti bocah yang sedang merajuk.


Melihat waktu masih menunjukkan pukul 04.00 sore, Richard memutuskan untuk beristirahat sebentar. Dia membaringkan tubuh setelah melepaskan kemejanya. Hanya dalam waktu beberapa menit dia pun terlelap dalam keadaan terlentang. Betapa sempurnanya Richard. Dalam keadaan tidur saja dia terlihat begitu tampan.


Richard benar-benar nyaman menikmati alam mimpinya. Sudah hampir satu jam dia tertidur dengan posisi terlentang. Sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan seseorang, yang langsung duduk di sampingnya. Namun saat merasakan sentuhan di bagian dadanya, dia pun terbangun, dan seketika kaget melihat keberadaan Chelsea.

__ADS_1


"Chelsea,, ngapain kamu disini??" tanya Richard dengan tampang kaget bercampur bingung.


"Chard,, aku kesini karena mau bilang sesuatu sama kamu. Ada hal penting yang harus kamu tahu," jawab Chelsea sambil meletakan tangannya di bagian perut Richard.


"Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan? Lebih baik kamu..." Kata-kata Richard seketika tertahan, saat melihat Intan masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu ataupun bersuara.


Intan benar-benar terpukul melihat semua itu. Dia sampai tak tahu harus berekspresi seperti apa. Gadis cantik itu hanya terdiam dengan tatapan tertuju pada tanggal Chelsea yang masih berada di bagian perut Richard.


"Ma,, maaf.. Aku,, aku nggak tahu kalau kalian sedang berduaan." Dia malah meminta maaf dan segera keluar dari dalam kamar Richard.


Bukannya mengejar Intan, Richard malah bangkit dari tempat tidur dan meminta Chelsea untuk keluar, karena dia mau bersiap-siap. Chelsea yang sudah berhasil menjalankan rencananya, langsung pergi meninggalkan kamar Richard sambil tersenyum penuh kemenangan.


Bayangan buruk pun menguasai pikiran Intan, yang membuatnya sangat terluka. Dia terduduk lesu di tepian ranjang dengan berlinang air mata. Kesakitan hati yang dirasakan, hanya bisa dicurahkan dengan butiran bening meluncur deras membasahi wajah. Dia sungguh tak mampu mengendalikan emosi dan kesedihannya. Karena selama hidupnya, dia tak pernah dikecewakan seperti saat itu.


Setelah beberapa menit meluapkan semuanya melalui tangisan, gadis cantik itu segera beranjak menuju kamar mandi. Buru-buru dia membersihkan badan, dan keluar melangkah menuju lemari berukuran sedang, untuk mengambil gaun pesta pemberian Richard. Walaupun kecewa dengan apa yang tadi dilihatnya, dia tetap berusaha menjalani semuanya sesuai apa yang sudah di rencanakan.


"Alif,, Intan dimana?" tanya Richard yang sudah berada di luar villa, saat melihat Alif melangkah menuju mobilnya.


"Aku pikir Intan sama Pak Bos," jawab Alif.


"Nggak ada. Mungkin dia masih di kamar."


"Lebih baik Pak Bos telepon dia biar cepat keluar. Karena dia itu sering lupa waktu kalau sedang berdandan," seru Alif sembari bersandar pada pintu mobilnya.


Tanpa berkata-kata Richard langsung menghubungi nomor Intan, tapi sama sekali tidak dijawab. Dia terus menelpon sambil menatap  ke arah pintu keluar.

__ADS_1



Intan tetap tidak menjawab. Tapi tidak berapa lama, dia pun muncul dari dalam villa dengan penampilan yang luar biasa cantik dan elegan. Dia melangkah sambil tersenyum manis, seperti tidak ada masalah yang mengganggu. Namun dari pancaran mata, terlihat jelas ada amarah juga kekecewaan yang berusaha disembunyikan


__ADS_2