Terjebak Ciuman Pertama.

Terjebak Ciuman Pertama.
8. Rencana Pernikahan.


__ADS_3

"Apa yang terjadi Bi?" tanya Richard yang baru memasuki pintu rumah, pada Bi Ayu salah satu asisten rumah tangga.


"Itu Den, Ibu Astrid dan Nyonya lagi meributkan masalah rencana pernikahan Den Richard, dan calonnya," jawab Bi Ayu, yang membuat Richard seketika mengerutkan kening, sembari melangkah menuju ruang tengah.


"Sayang,, syukurlah kamu datang," ucap Nyonya Amara, saat melihat kedatangan cucunya.


Astrid Ibu tiri Richard, juga Rani dan Rina kedua putrinya hanya menatap satu sama lain tanpa bersuara. Mereka selalu seperti itu, karena tidak berani mencari masalah disaat ada Richard.


"Ada apa ini?" tanya Richard sembari duduk di samping Oma nya.


"Gini sayang, Oma tuh berencana ingin mempercepat pernikahan kamu dan Intan. Tapi Ibu tiri kamu malah mempermasalahkan nya." Nyonya Amara mulai menjelaskan semuanya.


"Oma, itu biar jadi urusan saya. Lagian saya akhir-akhir ini sibuk banget dengan urusan perusahaan. Terlalu banyak pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting. Jadi saya belum bisa memikirkan tentang pernikahan." Richard sepertinya sengaja menyinggung ketiga wanita di hadapannya.


"Saya pergi dulu ya Oma. Takutnya kalau nggak ada saya, pengeluaran semakin bertambah." Segera dia meninggalkan rumah, tanpa mempedulikan Astrid dan kedua putrinya.


Sejak meninggalkan kantor Richard sampai ke tempat tujuan, Intan memilih untuk mendiami Alif asistennya. Dia benar-benar kesal dengan Alif yang tidak memberitahukan tentang Richard. Dan Alif pun bersikap cuek, karena dia tahu Intan tak akan bisa lama mendiami nya.


"Alif,, kok kamu diam saja??" Intan semakin kesal melihat Alif yang tidak peduli saat dirinya sedang kesal.


"Terus aku harus ngapain? Dan buat apa juga kamu harus marah? Semestinya kamu itu bersyukur, model yang dipilih perusahaan Pak Richard itu kamu, calon istrinya. Dan yang harus marah itu aku. Kamu sudah punya kekasih, bahkan calon suami, tapi aku nggak pernah tahu. Aku ini asisten kamu loh. Sebegitunya, aku nggak dianggap," ujar Alif panjang lebar, dengan gaya gemulai nya.

__ADS_1


"Aku nggak pernah berpacaran dengannya. Aku malah terjebak karena kebodohanku." Jawaban Intan yang membuat Alif kaget.


"Apa?? Kalian nggak pernah berpacaran?? Maksud kamu apa?? Bagaimana bisa kamu menciumnya di depan umum, tanpa ada status hubungan?? Kamu ini arti terkenal Intan. Mengapa kamu melakukan hal memalukan seperti itu??" Alif benar-benar tak menyangka atas apa yang telah dilakukan Intan.


"Halo Tan,, kalian lagi bahas apa sih?? Sepertinya sangat serius." Rita dan Melisa yang baru saja datang, langsung menghampiri Intan dan Alif di ruang tunggu.


"Kita lagi bahas tentang perusahaan yang memakai jasa Intan, untuk memperlihatkan gaun rancangan terbaru mereka nanti malam." Alif yang sepertinya tidak menyukai kedua wanita itu, seketika bersuara.


"Oh ya? Memangnya itu gaun rancangan siapa?" tanya Rita dengan tatapan sinis.


"Rancangan desainer luar. Yang hanya ada di perusahaan calon suami Intan." Lagi-lagi Alif menjawab.


"Beruntung banget kamu Intan. Jadi artis terkenal, dan punya calon suami yang sangat berpengaruh seperti Pak Richard." Dengan hati tak rela, Melisa terpaksa memuji Intan.


Tepat pukul 04.30 sore, Intan tiba di rumahnya. Dia melangkah memasuki rumah, sambil mengingat kembali pembicaraan antara dia dan Richard siang tadi. Sebagai seorang wanita, dia menginginkan hubungan yang serius, bukan hanya bersandiwara demi menjaga nama. Dan dia pun tidak bisa membayangkan menjadi seorang janda, seperti yang dikatakan Richard.


"Sayang,, kamu baru pulang ya?"


"Iya Ma. Mama kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Intan dan langsung duduk di samping Papanya.


"Mama lagi bahagia sayang. Soalnya Mama tadi dihubungi sama Nyonya Amara." Jawaban Wulan malah membuat Intan khawatir.

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan?" Intan mulai curiga.


"Apa lagi yang mau dibicarakan kalau bukan tentang kamu dan cucunya. Keluarga Richard ternyata sudah merencanakan pernikahan kalian." Wulan semakin melebarkan senyum saat mengatakan hal itu.


"Apa Ma?? Pernikahan?? Mama,, aku dan Mas Richard saja belum merencanakan apapun. Bagaimana bisa mereka melakukan itu??" Intan benar-benar syok mendengar apa yang disampaikan Mamanya.


"Sayang,, sebagai anak, kalian nggak usah memikirkan apapun. Kalian berdua tinggal jalani saja. Toh, kalian berdua kan saling cinta." Ucapan Wulan yang seketika membungkam mulut putrinya.


"Ya sudah Ma, kalau gitu aku ke kamar dulu. Mau istirahat." Dengan raut wajah lesu Intan melangkah pergi menuju lantai atas.


Buru-buru dia menuju kamarnya, sambil berusaha menghubungi Richard. Namun tak ada jawaban dari pria dingin itu. Hati dan pikiran Intan semakin kacau memikirkan semuanya. Dia benar-benar merasa terjebak karena kebodohannya sendiri.


"Dasar laki-laki sialan..." Intan yang begitu kesal, segera membuang ponselnya ke atas tempat tidur.


Intan tidak henti-hentinya menghubungi Richard sampai malam tiba. Selesai beriap-siap, dia segera turun dari lantai atas, menemui Alif yang sudah menunggu di ruang tamu, di temani kedua orang tuanya. Bahkan pada Alif, Wulan Ibunya Intan menyampaikannya apa yang sudah dibicarakan dengan Nyonya Amara. Hal itu sungguh mengejutkan Alif. Dia tak menduga Intan bisa mengambil keputusan tanpa ada perundingan dengannya terlebih dulu. Namun dia juga tak berani mengajukan pertanyaan, ataupun rasa keberatan tentang rencana pernikahan Intan pada kedua orang tuanya. Alif berusaha menjaga batasannya, yang hanya sebagai asisten Intan.


"Lif, ayo kita pergi! Pa, Ma, aku pergi dulu ya," ujar Intan, sembari menyalami tangan kedua orang tuanya.


"Tan,, kita perlu bicara tentang rencana pernikahan kamu dan Pak Richard. Apa kamu bersedia untuk segera menikah?" Alif mulai bersuara setelah berada di dalam mobil.


"Lif, tolong jangan ganggu konsetrasi aku dengan pertanyaan itu. Aku sudah hampir gila memikirkan hal itu. Richard yang harus bertanggung jawab untuk hal ini. Karena aku yakin, pasti dia yang sudah mengatur semuanya. Dia pasti ingin terkenal dengan memanfaatkan keadaan. Jadi aku harus bicara sama dia," ujar Intan, dengan raut wajah terlihat penuh beban.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu. Aku siap membantumu, kalau kamu butuh bantuanku."


Acara dimalam itu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan berbagai pihak. Semua orang bertepuk tangan saat Intan mempertunjukkan beberapa brand ternama, dengan harga fantastis dari perusahaan Richard. Beberapa model yang sudah duluan berlenggak lenggok di atas catwalk, seketika terkalahkan dengan kehadiran Intan. Intan terlihat begitu sempurna. Dari penampilan, gaya berjalan, dan kesempurnaan fisik, tak ada satupun yang bisa menyaingi nya. Apalagi dia begitu profesional dalam menjalankan tugas. Dia tatap tersenyum semanis mungkin, berusaha menutupi kekacauan hati dan pikirannya saat itu.


__ADS_2