
Intan memutuskan untuk menyendiri di halaman villa bagian samping. Dia duduk pada sebuah kursi dan memikirkan dirinya, yang semakin tak dapat mengendalikan perasaannya pada Richard. Dia sendiri mulai kebingungan dengan cinta yang telah menguasai hati juga pikirannya, dalam waktu yang begitu singkat. Padahal skenario akan hubungan mereka dirancang olehnya sendiri, kalau semua hanyalah sandiwara semata.
'Apa yang harus aku lakukan kalau sudah seperti ini? Aku bukanlah wanita yang mudah mencintai seorang pria. Dan pria yang kuinginkan bukan seperti dirinya. Tapi sekarang, perasaan ini sudah tak dapat ku kendalikan.' Intan berkata-kata di dalam hati, sambil meremas jari-jarinya penuh kekesalan.
Tanpa disadarinya, ternyata Chelsea sedang memperhatikannya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Wanita itu langsung tertarik untuk mendekatinya. Tapi entah dengan alasan apa. Mungkinkah dia ingin berkenalan? Ataukah dia ingin mencari tahu tentang hubungan Intan dan Richard, biar bisa menjalankan rencananya.
"Halo,, ini Intan tunangan Richard kan? Anda sungguh populer di kalangan masyarakat. Bahkan sampai ke luar negeri nama dan wajah Anda sangat familiar." Chelsea mulai berbasa-basi, memuji Intan yang malah kesal melihat kehadirannya.
"Iya Mbak. Aku Intan." Intan berusaha tersenyum semanis mungkin, demi menutupi rasa kesal di dalam hati.
"Perkenalkan Aku Chelsea. Aku dan Richard sudah dekat sejak masih berada di bangku sekolah menengah pertama. Kita juga sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan keluarga kita pun saling kenal," ucap Chelsea sambil tersenyum sinis.
"Oh iya. Aku nggak pernah tahu itu," jawab Intan tanpa mau menatap wanita yang sedang berdiri disampingnya.
"Aku yakin, nggak mudah buat kamu menjalin hubungan dengan pria dingin, dan tidak peka seperti Richard. Karena setahu aku, dia itu sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan ataupun dirasakan seorang wanita. Apa-apa harus kita yang ngomong duluan. Kalau aku selalu mengatakan apa yang aku mau. Jadi dia tahu semua tentang aku." Chelsea mulai menceritakan apa yang diketahuinya tentang Richard.
Dalam diam pikiran Intan mulai berputar. Apa yang baru saja dikatakan Chelsea tentang Richard, dapat membuka mata hati dan pikirannya. Serentak dia beranjak dari tempat duduknya, sembari berujar.
"Oh iya Mbak,, aku duluan ke atas ya. Soalnya aku mau beristirahat. Biar lebih segar ke acara nanti sore," uajar Intan dengan gayanya yang dapat melumpuhkan keyakinan Chelsea sebagai lawan.
Gadis cantik bertubuh indah itu melangkah pergi meninggalkan Chelsea, yang semakin kesal melihat tingkahnya. Kecantikan dan kesempurnaan tubuh Intan, makin membuatnya resah. Karena dia tidak ada apa-apa nya dibandingkan Intan dalam segi apapun.
__ADS_1
"Intan,, kamu dari mana saja? Aku cari sejak tadi, sampai pusing kepalaku." Alif yang tidak sengaja berpapasan dengan Intan langsung bersuara.
"Dari taman, menenangkan pikiran. Aku tuh kesal banget sama Mas Richard. Dia nggak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Dia sudah mencium ku, bahkan meraba ku. Tapi nggak pernah memperlakukan ku sebagai seorang yang spesial dalam hidupnya." Intan yang dikenal cerewet kembali mengoceh yang membuat Alif makin pusing.
"Intan, kamu yang salah. Hubungan kalian nggak didasari cinta. Semua yang terjadi karena ulahmu. Dan kamu sudah masuk kedalam perangkap kamu sendiri. Makanya, kalau mau melakukan sesuatu, dipikirkan dulu. Pria setampan dan semenarik Pak Richard itu, memiliki pesona yang dapat menjerat wanita manapun." Alif tak hanya tinggal diam.
"Loh,, kok kamu malah memarahiku sih?? Kamu itu harusnya cari jalan keluar. Apa kamu mau, aku kepikiran, terus nggak fokus saat menjalankan pemotretan besok. Karena banyak pikiran itu, bisa mempengaruhi kecantikanku," ucap Intan dengan wajah cemberut.
"Iya Tuan putri , kamu harus tenang. Kamu harus terlihat cantik dan menggoda setiap saat. Maka dari itu, kamu cepat bersiap-siap! Pak Richard mau mengajakmu keluar."
"Apa?? Mengajakku keluar?? Kemana??" Senyum sumringah seketika terpancar di wajah Intan.
'Aku buat salah nggak ya? Dengan berbicara jujur pada Pak Richard, kalau Intan mencintainya. Semoga saja tidak terjadi masalah,' gumam Alif dalam hati, sambil berbalik menatap Intan yang sudah berlari menuju lantai atas.
Buru-buru Intan mandi dan berpakaian. Di depan meja rias, dia memoles kan make up ke wajah sambil terus membayangi wajah tampan Richard. Senyum terus terpancar, menggambarkan suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga. Dan tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Melihat nama yang tertera di layar ponsel, dia langsung menjawabnya.
("Halo.. Ada apa??") tanyanya dengan nada suara yang dibuat terpaksa.
("Kamu dimana? Saya mau mengajakmu keluar.")
("Di kamar. Lagi siap-siap.") Dia kembali tersenyum penuh kebahagiaan, mendengar ajakan Richard.
__ADS_1
("Ya sudah, saya mau ke kamarmu.") Sambungan telepon seketika terputus.
Tanpa menunggu lama, Intan meraih tas dan melangkah menuju pintu. Saat pintu terbuka, muncul Richard yang begitu gagah mengenakan pakaian santai. Dia benar-benar terlihat menarik di mata Intan yang lagi kasmaran. Namun dari ekspresi wajahnya, terlihat kalau dia tidak senang dengan cara berpakaian Intan yang begitu seksi. Saat itu Intan hanya mengenakan tank top berwarna putih, tanpa dilapisi apapun. Dia tersenyum menatap Richard yang hanya terdiam seperti patung dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. Antara marah ataupun bingung.
"Ayo Mas!" ujar Intan tersenyum manis.
"Ganti pakaianmu! Apa kamu nggak sadar, kalau separuh dada kamu terlihat sangat nyata?" seru Richard sembari memalingkan muka.
"Aku sudah biasa kok Mas, memakai pakaian seperti ini," jawab Intan.
"Tapi sekarang kamu mau keluar sama saya. Saya nggak suka diperhatikan orang karena penampilanmu. Cepat ganti dan susul saya diparkiran." Richard langsung berbalik dan melangkah pergi.
"Dasar pria aneh. Nggak mau diperhatikan, hidup saja di dalam hutan rimba. Bila perlu di gurun salju. Biar bertemu kembarannya." Gadis cantik itu kembali mengomel, sambil melepaskan pakaiannya.
Selesai menggantikan pakaiannya, dia langsung buru-buru keluar dari dalam kamar menuju lantai bawah. Semua mata seketika tertuju padanya. Termasuk Chelsea yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Kecantikan dan bentuk tubuh gadis cantik itu selalu menghipnotis semua orang. Dia melangkah keluar dari villa, sambil tersenyum menatap Richard yang sedang menatapnya dengan tampang khasnya.
Intan yang ditatap malah semakin bangga dengan penampilannya. Dengan kedua tangan memperbaiki rambut, dia tersenyum sembari melirik pria dingin itu.
Semua pria maupun wanita, termasuk beberapa orang yang dikenal Richard, menatapnya penuh kekaguman. Sementara Intan malah bersikap cuek. Perhatiannya hanya fokus pada Richard. Dan setelah berdiri di hadapan Richard, dia malah mempertanyakan penampilannya, sambil menyentuh dada bidang pria tampan itu.
"Bagaiman dengan penampilanku, aku cantik kan Mas?"
Alih-alih menjawab. Richard malah membuka pintu mobil, mengambil jaket kulitnya dan menutupi bagian pundak Intan. Dan itu dilihat langsung oleh semua orang. Termasuk Chelsea, Alif, dan Kevin asisten Richard, yang baru saja datang bersama seorang wanita.
__ADS_1