
Richard masih saja berlari mengelilingi taman, sambil sesekali memperhatikan Intan yang malah sedang asyik berfoto ria menggunakan kamera ponselnya. Semua gaya dilakukan Intan demi mendapatkan gambar yang bagus. Dan karena tidak memperhatikan jalan, Richard hampir saja menabrak seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan santai bersama suaminya.
"Maaf ya Bu, saya tidak sengaja." Buru-buru Richard meminta maaf.
"Nggak apa-apa Nak. Lagian kamu tidak menabrak Ibu. Sepertinya kamu terlalu mencemaskan istri kamu sampai tidak memperhatikan jalan. Gadis cantik itu istri kamu kan?" Wanita itu malah mengira kalau Intan adalah istri Richard.
Intan yang mendengar percakapan antara Richard dan wanita paruh baya itu, hanya terdiam sambil memasang telinga ingin mendengar jawban Richard.
"Dia tunangan saya."
"Serasi banget kalian. Yang satu tampan, dan satunya lagi cantik." Wanita itu malah memberi pujian.
"Makasih Bu,," dengan tingkah centilnya Intan bersuara, sambil tersenyum manis menatap wanita di hadapan Richard.
"Sama-sama cantik," jawab wanita itu sembari menggandeng tangan suaminya pergi dari hadapan Richard.
__ADS_1
Perlahan Intan pun beranjak menghampiri Richard sambil tersenyum lebar. Dia semakin kepedean sata tahu kalau sejak tadi diperhatikan oleh pria tampan itu.
"Ya ampun Mas, sampai sebegitunya kamu mengkhawatirkan aku? Untung saja kamu tidak menabrak Ibu tadi. Aku nggak akan kemana-mana sayang," ucap Intan sembari melingkarkan tangan pada lengan Intan.
"Apa-apaan sih kamu?? Jadi cewek itu jangan terlalu ganjen. Lepaskan tangan kamu! Malu dilihat orang," ujar Richard berharap Intan akan melepaskan tangan dari lengannya.
Intan pun melepaskan tangannya tapi bukan untuk menjauh. Dia malah memeluk erat tubuh kekar Richard, sambil tersenyum menatapnya yang begitu malu karena dilihatin orang-orang di sekeliling mereka.
"Intan,, apa yang kamu lakukan?? Semua orang menatap kita. Lepaskan pelukanmu!" seru Richard dengan kepala tertunduk berusaha menghindari tatapan orang-orang.
Pagi itu sikap Intan sangat membingungkan semua orang. Terutama asisten rumah tangga yang selalu menjadi korban kecerobohan Intan. Dia tidak diperintahkan untuk mencari ini dan itu. Dengan penampilan yang sudah sangat cantik, Intan melangkah melewatinya tanpa ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.
"Bu,, ada apa sama Non Intan? Kok tumben dia bisa menyiarkan semua sendiri? Biasanya kan aku yang disuruh untuk menyiapkan semua keperluannya," tanya asisten rumah tangga kepada Wulan Nyonya di rumah itu.
"Saya juga nggak tahu Bi. Tapi baguslah kalau dia sudah bisa hidup mandiri. Karena dia itu bukan anak kecil lagi, yang semuanya harus di perhatian orang." Wulan malah bersyukur dengan perubahan sikap putrinya.
__ADS_1
"Halo Aliiif... Kamu keren banget hari ini." Intan langsung menyapa sang asisten yang baru saja datang untuk menjemputnya.
"Ada apa sama kamu? Salah minum obat atau gimana?" tanya Alif dengan tampang kebingungan.
"Sejak kapan aku mau minum obat dalam keadaan sehat seperti ini. Aku tuh sangat bersemangat karena tadi berolahraga sama Mas Richard." Jawaban Intan yang membuat Alif serentak menarik nafas dan membuangnya kasar, dengan bibir melebar.
Perlahan Alif berbalik melangkah masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan nya. Pria gemulai itu sudah bisa memastikan, kalau Intan begitu bersemangat bukan karena berolah raga, melainkan karena sudah menghabiskan waktu bersama Richard. Dia juga tahu betul, Intan tidak terlalu suka berolahraga di waktu pagi. Jadi olahraga hanyalah alasan untuk bisa menemui anak laki-laki orang.
"Kok tumben kamu mau berolahraga di pagi hari? Aku tahu betul seperti apa dirimu? Selalu bangun telat, dan tidak pernah berolahraga di pagi hari. Dan aku yakin, olahraga hanyalah satu alasan, biar kamu bisa menemui Pak Richard. Jadi cewek kok ganjen banget sih kamu?" Alif malah mengomentari Intan saat sudah dalam perjalanan.
"Kamu ya, apapun tentang aku pasti kamu tahu. Aku memang beralasan ingin berolahraga. Lagian tadi aku juga hanya berfoto di taman. Sementara Mas Richard berlari tanpa mempedulikan aku. Tapi kamu tahu nggak Lif? Dia tuh hampir saja menabrak seorang Ibu-Ibu karena tidak bisa memalingkan pandangan dari aku. Sampai sebegitunya dia mengkhawatirkan aku loh." Intan semakin percaya diri.
"Bagus dong Say,, itu berarti dia sudah punya rasa sama kamu. Jadi kamu nggak usah khawatir lagi. Fokus saja sama pekerjaan kamu." Alif berusaha untuk meyakinkannya, biar dia bisa berkonsentrasi dengan kegiatan di hari itu.
"Pria manapun pasti akan jatuh hati padaku. Dan aku tidak boleh lengah, karena nggak mudah untuk aku mencairkan hati pria dingin itu. Sepertinya dia sudah menyadari, betapa cantik dan istimewanya aku." Lagi-lagi Intan membanggakan dirinya.
__ADS_1
Alif hanya terdiam melihat semangat Intan. Dia memilih untuk menjadi pendengar setia, asalkan dapat menenangkan dan menyenangkan hati wanita cantik itu.